Dimana Allah

Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang didasarkan pada adanya ruang (tempat). Kalau saya di kamar maka tidak mungkin saya di ruang tamu pada saat (waktu) yang sama. Dan ini adalah sifat makhluk yang kecil jika dibandingkan dengan ruangan (yang juga makhluk) yang lebih besar darinya.

Makhluk selalu terikat ruang dan waktu. Sedangkan Allah pencipta ruang dan waktu. Jadi sudah pasti Dia tidak memerlukan ruang dan waktu seperti makhlukNya. Sifat terikat oleh ruang dan waktu adalah suatu kekurangan (ketidaksempurnaan) yang melekat pada makhluk namun pasti tidak mengikat Allah sebagai penciptaNya, dimana Dia hanya memiliki sifat yang Maha Sempurna. 

Jika kita men-declare bahwa Allah Maha besar tentu Dia akan lebih besar dari ciptaanNya yang paling besar sekalipun seperti langit. Dan kebalikannya Dia pasti bukan Dzat yang kecil sebagai kebalikan dari sifat ke-Maha Besar-annya. Jika semua sifat maha sempurna itu melekat pada Allah maka pasti Dia tidak membutuhkan siapapun atau apapun. Dia tidak membutuhkan kursi atau singgasana sebagaimana seorang raja membutuhkan duduk. 

Dia menggambarkan adanya kursiNya yang terletak di atas arsy dan arsy Nya berada diatas air adalah semata-mata untuk mendeskripsikan ke-Maha Kuasa-annya kepada manusia seperti layaknya raja diraja yang duduk di singgasananya. Demikian pula Dia tidak membutuhkan tempat (arsy) yang berada diatas air, yang mana arsy dan air itu adalah makhluk. Dia tidak membutuhkan semua itu, tempat (arsy) dan benda (air) itu. Bahwa air adalah benda yang menjadi penyebab kehidupan manusia sebagaimana firmanNya dalam al qur'an yang artinya "dan Kami jadikan dari air segala sesuatu itu bisa menjadi hidup" (al anbiya 30). Karena jika hanya dengan tanah maka manusia tidak ubahnya seperti mayat. Sebagaimana firmanNya "darinya kamu diciptakan, kepadanya kamu dikembalikan dan darinya pula kamu akan dibangkitkan (dihidupkan lagi) di kesempatan berikutnya (bangkit dari kubur)" (thoha 55). 

Pantaslah jika ketika seorang hamba bertanya dimana Allah, maka al qur'an menjawab bahwa Dia dekat, bahkan lebih dekat dari urat leher orang itu sendiri. Bisa bermakna hakiki bahwa Allah secara Dzat memang lebih dekat kepada hambaNya dari pada urat lehernya sendiri. Bisa juga bermakna pengawasan dan ilmuNya meliputi bahkan semua organ tubuh manusia yang tidak terlihat sekalipun.

Namun di kesempatan lain ketika seorang badui (arab gurun, untuk mengidentikkan dengan orang desa atau awam) bertanya dimana Allah, maka rasul saw. menjawab Allah di langit. Untuk memberikan gambaran kepada badui ini bahwa Allah itu Maha Tinggi, Maha melihat dan mengawasi hambaNya, ilmu dan pengetahuanNya meliputi semua yang berada di bawahNya. Bahwa kekuasaan dan kedudukanNya tidak bisa dijangkau oleh makhlukNya. 

Wallaahu a'lam.

Link : dimana-allah-jawaban-menurut-al-quran-dan-sunnah


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Utsman bin Affan r.a. dan para istrinya

Kontroversi hadits puasa dan sedekah

Pembahasan tentang Nur Muhammad