CTW jun ➡️ jan '24

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Renungan Ahad, Manfaatkan Umur Sebelum Dikubur. oleh FIM, 3170-PWI/WU/DP/2012 narahsascom Ahad 30 Juni 2024

Pemimpin Mati Rasa

Imam al Barzanji memberi pujian kepada Rasulallah Shalallahu Alayhi Wasallam dalam kitabnya. “Rasulallah Shalallahu Alayhi Wasallam adalah oarang yang mencintai orang- orang fakir dan miskin. Beliau selalu duduk bersama mereka, menjenguk mereka yang sakit, mengantarkan jenazahnya dan tidak pernah menghina mereka karena kemiskinannya.”

Rasulallah adalah teladan terbaik dalam memperhatikan anak- anak yatim. Beliau  menyantuni, mengasihi dan menyayangi anak yatim, terlebih atas anak-anak yatim yang belum dewasa (baligh). Begitu cintanya Rasulallah terhadap anak yatim sehingga beliau dijuluki sebagai “Abul Yatama”, yang artinya Bapaknya Anak Yatim.

Sebagai pemimpin, perasaan Rasulallah begitu halus sehingga begitu mencintai orang-orang miskin dan anak yatim. Rasulallah adalah pemimpin yang memiliki kepekaan perasaan atas kondisi umatnya, tanpa pandang bulu. Rasulallah adalah pemimpin yang memiliki kepakaan tinggi sebagaimana diperintahkan oleh Allah. Perasaan Rasulallah sebagai seorang pemimpin begitu hidup.

Hidupnya rasa seorang pemimpin negara adalah pertanda tanggungjawab besar atas kondisi rakyatnya. Pemimpin negara adalah orang yang diberikan amanah untuk mengurus urusan umat atau rakyat yang dipimpinnya. Dalam hal kepekaan rasa dalam menjaga jiwa rakyat. 

Saat dibaiat menjadi seorang khalifah, Umar Bin khathab berpidato : Saudara-saudara ! Aku hanya salah seorang dari kalian. Kalau tidak karena segan menolak tawaran Khalifah Rasulullah (Abu Bakar) aku enggan memikul tanggung jawab ini. Ya Allah, aku ini sungguh keras, kasar, maka lunakkanlah hatiku. Ya Allah aku sangat lemah, maka berikanlah kekuatan. Ya Allah aku ini kikir, jadikanlah aku dermawan bermurah hati."

"Bacalah Alquran, dalami, dan bekerjalah dengannya. Jadilah salah satu umatnya. Timbang dirimu sebelum menimbang, hiasi dirimu untuk persembahan terbesar pada hari ketika kamu akan dipersembahkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Bukan aku menurunkan diriku dari kekayaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam status sebagai wali yatim piatu. Jika kalian puas, maka akan diampuni, jika kalian miskin, maka akan makan enak." Selanjutnya, Umar bin Khattab menyampaikan:

"Allah telah menguji kalian dengan diriku dan menguji diriku lewat kalian. Sepeninggal sahabat-sahabatku, sekarang aku ada di tengah-tengah kalian. Tidak ada persoalan kalian yang harus aku hadapi lalu diwakilkan kepada orang lain kecuali kepadaku. Dan tak ada yang tak hadir disini lalu meninggalkan perbuatan terpuji dan amanat. Kalau berbuat baik, akan kubalas dengan kebaikan, tetapi kalau berbuat jahat, terimalah bencana yang akan kutimpakan."

Rasulullah, Abu Bakar Asy Syiddiq dan Umar Bin Khatab adalah tiga pemimpin agung yang bisa dijadikan teladan dalam halusnya perasaan atas kondisi rakyatnya, teladan dalam tanggungjawab dan teladan dalam kerendahan hati. 

Tentu saja para khalifah yang lainnya juga layak dijadikan teladan. Mereka adalah para pemimpin yang tidak mati rasa. Pemimpin mati rasa adalah pemimpin yang abai, tak peduli, tak perhatian atas kondisi rakyatnya.

Pemimpin mati rasa adalah pemimpin yang tidak peduli atas kondisi dan nasib rakyat yang miskin dan terzolimi. Pemimpin mati rasa adalah yang tak memihak kepada kepentingan rakyatnya sendiri. Pemimpin mati rasa adalah pemimpin yang tidak memiliki kepekaan atas penderitaan rakyatnya. 

Pemimpin mati rasa adalah pemimpin yang terbahak berebut kekuasaan diatas air mata rakyatnya. Pemimpin mati rasa adalah pemimpin yang hidupnya berfoya-foya, sementara rakyatnya susah makan dan tak memiliki pekerjaan. Pemimpin mati rasa adalah pemimpin yang membuang- buang uang untuk pekerjaan sia-sia, sementara rakyatnya mati kelaparan. Pemimpin mati rasa adalah pemimpin yang berpesta pora di tengah penderitaan rakyat yang kiat menyayat. 

Pemimpin mati rasa adalah pemimpin yang hatinya gelap gulita karena penyakit hatinya. Pemimpin mati rasa adalah pemimpin yang menjadikan rakyatnya sebagai musuh yang dibenci dan dicurigai. Pemimpin mati rasa adalah pemimpin yang menipu dan membohongi rakyatnya sendiri. Pemimpin mati rasa adalah pemimpin yang hidupnya hanya dikendalikan oleh nafsu duniawi semata. 

Pemimpin mati rasa adalah pemimpin yang tidak dekat dengan Tuhannya. Pemimpin mati rasa adalah pemimpin yang kerjanya hanya membesarkan perutnya dengan makanan haram hasil mencuri uang rakyat. Pemimpin mati rasa adalah pemimpin yang hanya memperkaya diri, menumpuk-numpuk harta dari menipu rakyat dan mengkhianati rakyat. Pemimpin mati rasa adalah pemimpin yang hanya berebut harta dan kuasa, sementara rakyat dibiarkan semakin sengsara.

Pemimpin mati rasa  adakah di negeri kita ? "Adaaaaaaaaaa," jawaban serentak dua ratus juta lebih suara anak bangsa NKRI dari Sabang sampai Merauke hingga Miangas ke Pulau Rote #apakatadunia. In sya Allah bermanfaat. fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH ZULHIJJAH, Manfaatkan Umur Sebelum Dikubur. oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Ahad 23 Zulhijjah 1445 H, 30 Juni 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuh 

Hukum Tajassus (Berburuk Sangka dan Mencari-Cari Kesalahan)

Allah Ta’ala berfirman. “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” (QS. Al-Hujurat : 12)

Dalam ayat ini terkandung perintah untuk menjauhi kebanyakan berprasangka, karena sebagian tindakan berprasangka ada yang merupakan perbuatan dosa. Dalam ayat ini juga terdapat larangan berbuat tajassus. Tajassus ialah mencari-cari kesalahan-kesalahan atau kejelekan- kejelekan orang lain, yang biasanya merupakan efek dari prasangka yang buruk.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda ; “Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata- matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba- hamba Allah yang bersaudara”

Amirul Mukminin Umar bin Khathab berkata, “Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang mukmin kecuali dengan persangkaan yang baik. Dan hendaknya engkau selalu membawa perkataannya itu kepada prasangka- prasangka yang baik”. Ibnu Katsir menyebutkan perkataan Umar di atas ketika menafsirkan sebuah ayat dalam surat Al-Hujurat.

Bakar bin Abdullah Al-Muzani dalam kitab Tahdzib At-Tahdzib berkata : “Hati-hatilah kalian terhadap perkataan yang sekalipun benar kalian tidak diberi pahala, namun apabila kalian salah kalian berdosa. Perkataan tersebut adalah berprasangka buruk terhadap saudaramu”.

Abu Hatim bin Hibban Al-Busti bekata dalam kitab Raudhah Al-‘Uqala (hal.131) ”Orang yang berakal wajib mencari keselamatan untuk dirinya dengan meninggalkan perbuatan Tajassus dan senantiasa sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri. Sesungguhnya orang yang sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri dan melupakan kejelekan orang lain, maka hatinya akan tenteram dan tidak akan merasa capai. Setiap kali dia melihat kejelekan yang ada pada dirinya, maka dia akan merasa hina tatkala melihat kejelekan yang serupa ada pada saudaranya. Sementara orang yang senantiasa sibuk memperhatikan kejelekan orang lain dan melupakan kejelekannya sendiri, maka hatinya akan buta, badannya akan merasa letih dan akan sulit baginya meninggalkan kejelekan dirinya”.

“Tajassus adalah cabang dari kemunafikan, sebagaimana sebaliknya prasangka yang baik merupakan cabang dari keimanan. Orang yang berakal akan berprasangka baik kepada saudaranya, dan tidak mau membuatnya sedih dan berduka. Sedangkan orang yang bodoh akan selalu berprasangka buruk kepada saudaranya dan tidak segan-segan berbuat jahat dan membuatnya menderita”. In sya Allah bermanfaat fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳


#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH ZULHIJJAH, "Manfaatkan Umur Sebelum Dikubur", oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran alhadits, Sabtu 22 Zulhijjah 1445 H, 29 Juni 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuh 

Tiga DO’A agar Kita Taat

Pemikiran manusia di zaman moderen dan milenial ini sudah terbalik. Yang baik dibilang jelek dan yang jelek dibilang baik. Semisal, setiap orang yang menjalankan ajaran Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pasti akan mendapatkan cemoohan. Sedangkan orang yang bergelimang dengan kemaksiatan dan bid’ah sering mendapatkan pujian.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam terus berdo’a agar diteguhkan hati dalam keta’atan. Maka kita sebagai ummatnya harus lebih sering lagi berdo’a kepada Allah memohon keteguhan hati, istiqamah dalam keta’atan. Ada 3 DO’A yang penting untuk dibaca dalam keseharian kita :

Allah berfirman : “Robbanaa Laa Tuzigh Quluubanaa Ba’da Idz-hadaytanaa Wa Hablanaa Mil-ladunka Rohmah, Innaka Antal Wahhaab“ artinya “Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Aali Imran: 8)

Do’a yang paling sering Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam panjatkan adalah : “Yaa Muqollibal Quluub Tsabbit Qolbii ‘Alaa Diinik“ artinya “Wahai Dzat yang Maha membolak balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agamaMu” (HR. at-Tirmidzi 3522, Ahmad 4/302, al Hakim 1/525, Shohih Sunan Tirmidzi III no.2792)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya hati semua manusia itu berada di antara dua jari dari sekian jari Allah Yang Maha Pemurah. Allah Subhanahhu Wa Ta’ala akan memalingkan hati manusia menurut kehendakNya.” 

Setelah itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berdoa; “Allahumma Mushorrifal Quluub Shorrif Quluubanaa ‘Alaa Thoo’atik” artinya : Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepadaMu.(HR.Muslim 2654). In sya Allah kita semua saban hari setiap saat bisa sering-sering membaca do’a-do’a diatas. Aamiin....... In sya Allah bermanfaat fimdalimunthe55@gmail.com 

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH ZULHIJJAH, Manfaatkan Umur Sebelum Dikubur, oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Jumat 21 Zulhijjah 1445 H, 28 Juni 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi wabarrakatuh

Indahnya Mentadabburi Alquran

JUMAH MUBARAK. Allah Ta’ala telah mengabarkan bahwa Dia telah menurunkan Al-Quran agar bisa ditadaburi ayat-ayatnya. Allah Ta’ala berfirman, “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan keberkahan, supaya mereka memperhatikan (mentadaburi) ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran mendapatkan pelajaran.” (QS. Sad: 29)

Terdapat banyak dalil yang sangat jelas tentang pentingnya memberikan perhatian terhadap Al-Quran dan bahwa Al-Quran merupakan perkara yang paling agung yang bisa memperbaiki kondisi hati. Lebih-lebih jika membaca Al-Quran bersamaan dengan tadabur dan perenungan serta kesungguhan untuk memahami makna-maknanya.

Siapa saja yang mentadaburi ayat-ayat Al-Quran, niscaya dia akan lebih mengenal Rabbnya. Dia mengetahui besarnya nikmat dan anugerah yang Allah berikan kepada orang-orang yang beriman. Seseorang akan mengetahui ibadah yang diwajibkan kepadanya. Ia pun bersemangat melaksanakan kewajiban dan meninggalkan semua larangan Rabbnya. Siapa saja yang mempunyai karakter seperti ini ketika membaca Al-Quran dan ketika mendengarkannya dari orang lain, niscaya Al-Quran akan menjadi penyembuh baginya. Ia akan menjadi kaya tanpa harta dan menjadi mulia tanpa bersandar kepada manusia. Cita-citanya adalah bisa memahami firman Allah Ta’ala, terselamatkan dari ancaman, dan mengambil pelajaran dari bacaan Al-Quran. Hal ini karena membaca Al-Quran merupakan ibadah, dan ibadah tidak bisa dilakukan dengan hati yang lalai. Sedangkan Allah-lah yang memberikan taufik atas hal tersebut.

Oleh karena itulah, Allah Ta’ala senantiasa memerintahkan hamba-hamba-Nya dan mendorong mereka untuk mentadaburi isi (kandungan) Al-Quran. Allah Ta’ala berfirman “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran? Kalau sekiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisa’: 82). Allah Ta’ala kabarkan bahwa orang-orang yang tidak ingin mentadaburi Al-Quran itu hatinya telah terkunci, tidak bisa terbuka menerima petunjuk. 

Allah Ta’ala berfirman, “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran, ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24) Allah Ta’ala menjelaskan bahwa lalai dari tadabur Al-Quran adalah sebab tidak adanya hidayah bagi orang-orang yang melenceng dari jalan yang lurus, juga karena kesombongan mereka dari mendengarkan Al-Quran. 

Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya ayat-ayat-Ku (Al-Quran) selalu dibacakan kepada kamu sekalian, maka kamu selalu berpaling ke belakang, dengan menyombongkan diri terhadap Al-Quran itu dan mengucapkan perkataan-perkataan keji terhadapnya di waktu kamu bercakap-cakap di malam hari. Maka apakah mereka tidak memperhatikan perkataan (Kami), atau apakah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada nenek moyang mereka dahulu?” (QS. Al-Mu’minun: 66-68)

Allah Ta’ala menceritakan tentang kondisi orang-orang saleh dari kalangan ahli kitab bahwasanya jika Al-Quran dibacakan kepada mereka, mereka pun tersungkur di atas dahi mereka dalam kondisi bersujud dan menangis. Hal tersebut menambahkan kepada mereka kekhusyukan, iman, dan kepasrahan kepada Allah. 

Allah Ta’ala berfirman “Katakanlah, “Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya, apabila Al-Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur di atas muka mereka sambil bersujud. Mereka berkata, “Maha suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi.” Dan mereka tersungkur di atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.” (QS. Al-Isra’: 107-109)

Allah Ta’ala telah mensifati Al-Quran sebagai perkataan yang paling baik. Allah Ta’ala mengulang-ulang ayat di dalam Al-Quran dan menyampaikan firmanNya berkali-kali agar ia bisa dipahami dengan baik. Kulit dari hamba hambaNya yang baik akan bergetar karena takut kepada Allah. Kulit dan hati mereka pun menjadi tenang kembali di waktu mengingat Allah. 

Allah Ta’ala berfirman, “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Quran, yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang. Gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendakiNya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seorang pemberi petunjuk.” (QS. Az-Zumar: 23)

Allah Ta’ala pun mencela orang-orang beriman yang tidak khusyuk ketika mendengarkan Al-Quran dan memperingatkan mereka agar jangan menyerupai orang- orang kafir dalam hal ini. Allah Ta’ala berfirman, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)? Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang- orang yang fasik.” (QS. Al-Hadid: 16)

Oleh karena itu, tadabbur Al-Quran merupakan perkara yang paling berguna bagi hati seroang hamba. Tadabbur Al-Quran merupakan kedudukan yang agung dari orang-orang yang berjalan menuju Allah. Tadabbur Al-Quran akan menyebabkan hidupnya hati, berupa timbulnya rasa cinta, kerinduan, takut, rasa harap, tobat, tawakal, rida, syukur, sabar, dan sifat-sifat lain yang mengindikasikan sempurnanya keadaan hatinya. Membaca dengan tadabur ini juga akan menjauhkan seseorang dari semua sifat dan perbuatan tercela yang merusak dan mencelakakan hati.

Al-Quran adalah pembelamu dan menjadi penambah imanmu, jika engkau mengamalkannya. Ia menjadi musuh bagimu dan melemahkan imanmu, jika engkau menyepelekannya dan melalaikan batasan-batasannya.

In sya Allah, Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang gemar tadabbur Al-Quran dan mengamalkan isi kandungan Al-Quran. In sya Allah bermanfaat. fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH ZULHIJJAH Manfaatkan Umur Sebelum Dikubur, oleh Ferry Is Mirza (fim), refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Kamis 20 Zulhijjah 1445 H, 27 Juni 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuh

JANGAN MERASA DIRI SUCI

Setan sebagai musuh yang nyata bagi manusia, tidak pernah kehabisan cara untuk menjerumuskan manusia dalam keburukan. Tipu dayanya membuat sesuatu yang sejatinya salah, seolah terlihat menjadi benar. Diantara tipu daya tersebut ialah dengan membuat manusia merasa dirinya suci dan merasa aman dari dosa. Allah ta’ala berfirman, "Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Diaah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa” (QS. An Najm:32)

Mengenai ayat ini, Syaikh Abdurrahman As-Si’di menerangkan bahwa terlarangnya orang-orang beriman untuk mengabarkan kepada orang-orang akan dirinya yang merasa suci dengan bentuk suka memuji-memuji dirinya sendiri" (Tafsir Karimir Rahman)

Kebiasaan merasa diri suci merupakan perbuatan yahudi dan nasrani yang jelas-jelas dicela oleh Allah ta’ala, "Dan mereka berkata, ‘kami sekali-kali tidak akan disentuh api neraka kecuali selama beberapa hari saja” (QS. Al Baqarah: 80)

Bahkan, saking merasa sucinya, mereka merasa bahwa hanya merekalah yang paling layak masuk surga. "Dan mereka berkata,’Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang yahudi dan nasrani” (QS. Al Baqarah: 111)

Sehingga Allah ta’ala cela kebiasaan mereka ini, "Apakah kami tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih. Sebenarnya Allah mensucikan siapa yang dikehendakiNya dan mereka tidak dianiaya sedikit pun”. (QS. An-Nisa: 49) Rasulullah Shalallahu Alayhi Wasallam pernah bersabda, "Janganlah kalian merasa diri kalian suci, Allah lebih tahu akan orang-orang yang berbuat baik diantara kalian”. (HR. Muslim)

Rasulullah dan para Salaf pun tidak menganggap diri suci

Adakah keraguan pada diri kita, bahwa Nabi Shalallahu Alayhi Wasallam adalah manusia yang paling sempurna keimanannya? Sekali-kali tidak. Kita amat meyakini kesempurnaan iman beliau. Akan tetapi, kesempurnaan iman beliau tidak membuat beliau merasa dirinya suci dan bosan dalam beribadah. Meski telah dijamin surga, akan tetapi beliau tetap shalat malam hingga bengkak kakinya. Lalu bagaimana dengan kita..?! Masih layakkah menganggap diri kita suci..?!

Belum sampaikah ke telinga kita, cerita tentang Hasan al Bashri rahimahullah yang tiba-tiba bangun dari tidur malam dan menangis sejadi-jadinya. Setelah ditanya apa sebab ia menangis, ia menjawab, "Aku menangis karena tiba-tiba aku teringat akan satu dosa.” (Al-Buka’ min Khasyatillah, Asbabuhu wa Mawani’uhu wa Thuruq Tahshilih)

Masya Allah, seorang Hasan al Bashri rahimahullah yang begitu banyak ilmu dan amalnya, ternyata tidak membuat beliau merasa dirinya suci. Justru beliau menangis karena teringat akan satu dosa. Begitulah sejatinya seorang mu’min, menganggap kerdil dirinya karena dosa-dosanya, sebagaimana Hasan al Bashri rahimahullah yang menangis karena teringat akan satu dosa. Lalu bagaimana dengan kita, yang dosanya tidak dapat lagi dihitung dengan jari tangan dan jari kaki..?! Masih layakkah menganggap diri kita suci..?!

Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata, "Barangsiapa diberikan musibah berupa sikap berbangga diri, maka pikirkanlah aib dirinya sendiri. Jika semua aibnya tidak terlihat sehingga ia menyangka tidak memiliki aib sama sekali dan merasa suci, maka ketahuilah sesungguhnya musibah dirinya tersebut akan menimpa dirinya selamanya. Sesungguhnya ia adalah orang yang paling lemah, paling lengkap kekurangannya dan paling besar kecacatannya.” Semoga Allah ta’ala menghindarkan kita dari sikap merasa suci dan memudahkan kita dalam menggapai surgaNya. Aamiin. In sya Allah bermanfaat fimdalimunthe55@gmail.com 

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy.  Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH ZULHIJJAH, Manfaatkan Umur Sebelum Dikubur, oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Rabu 19 Zulhijjah 1445 H, 26 Juni 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuh

Amalan Menjauhkan Diri dari Neraka

Allah Ta’ala berfirman, "Barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh dia telah beruntung". (QS. Ali ‘Imran : 185)

Sungguh ancaman neraka sangatlah menakutkan apalagi. "Dan tidak ada seorangpun daripadamu, melainkan mendatangi neraka itu, hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan, kemudian Kami akan menyelamatkan orang orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut” (QS. Maryam : 71-72)

Tidak ada yang selamat dari neraka kecuali orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang melaksanakan segala yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala dan menjauhi segala yang dilarang oleh Allah Ta’ala dengan penuh rasa takut dan rasa harap.

Wajib bagi kita untuk memperhatikan hal ini, yaitu dengan menempuh sebab sebab yang menyelamatkan kita dari neraka. 

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  bersabda, "Wahai orang-orang Quraisy  selamatkanlah dirimu. Aku tidak bisa melindungimu (dari siksa Allah) sedikitpun. Wahai Bani Abdi Manaf, aku tidak bisa melindungimu (dari siksa Allah) sedikitpun.

Wahai ‘Abbas bin Abdil Muthallib, aku tidak bisa melindungimu (dari siksa Allah) sedikitpun.

Wahai Shafiyah, bibi Rasulallah, aku tidak bisa melindungimu (dari siksa Allah) sedikit pun.

Wahai Fatimah, anak perempuan Muhammad, mintalah kepadaku dari hartaku yang Engkau kehendaki, (akan tetapi) aku tidak bisa melindungimu (dari siksa Allah) sedikit pun” (HR. Bukhari no. 4771 dan Muslim no. 525)

Kewajiban atas setiap muslim untuk menyelamatkan diri mereka dari neraka, masing masing kita harus menyelamatkan diri kita sendiri, tidak ada orang lain yang bisa membantu, baik itu ayah, anak, saudara kandung atau kerabat dekat yang lain. 

Jika di dunia kita masih bisa saling menolong dalam kesusahan dan musibah, namun tidak demikian saat di akhirat kelak.

Allah Ta’ala berfirman, "(Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikit pun untuk menolong orang lain” (QS. Al-Infithaar: 19)

Setiap orang bertanggung jawab atas dirinya masing masing, apakah dia hendak menyelamatkan dirinya dari neraka atau justru menjerumuskan dirinya ke dalamnya. In sya Allah bermanfaat. fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH ZULHIJJAH, Manfaatkan Umur Sebelum Dikubur, oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Selasa 18 Zulhijjah 1445 H, 25 Juni 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuh 

Buruksangka kepada Allah Dosa Besar

"Dari Ibnu Abbas RA –secara marfu’- dengan lafadz : “Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam ditanya tentang dosa besar ? Beliau menjawab : “syirik kepada Allah, merasa aman dari Makar Allah, dan berputus asa dari rahmat Allah”. (HR. Abu Hatim)

Pelajaran yang terdapat di dalam hadits : Hadist diatas memberi petunjuk bahwa termasuk dosa besar, menyekutukan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, merasa aman dari makar Allah dan putus asa dari rahmat Allah. 

Syirik termasuk dosa besar karena aniaya kepada Allah. Putus asa dari rahmat Allah termasuk dosa besar karena buruk sangka kepada Allah dan jahil akan luas rahmat dan ampuanNya. 

Merasa aman dari makar Allah termasuk dosa besar karena jahil akan Allah dan kuasaNya dan 'ujub serta terlalu percaya diri. 

Tema hadist yang berkaitan dengan al Quran : Yakni perbuatan mempersekutukan Allah adalah perbuatan aniaya yang paling besar.

"Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar- benar kezaliman yang besar". (QS. Luqman: 13)

Al-Hasan Al Basri rahimahullah  mengatakan bahwa orang mukmin mengerjakan amal-amal ketaatan, sedangkan hatinya dalam keadaan takut, bergetar, dan khawatir; sementara orang yang durhaka mengerjakan perbuatan-perbuatan maksiat dengan penuh rasa aman. 

"Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi". (QS. Al A'raf : 99)

Allah Subhanahu Wa Ta'ala melarang hambaNya yang banyak dosanya dan besar kejahatannya yang menjadikan ia putus asa dari rahmat Allah dan meninggalkan taubat

"Katakanlah, "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa- dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepadaNya sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)". (QS. Az Zumar: 53-54)

Janganlah kalian putus harapan dari rahmat Allah dalam menghadapi tantangan dan meraih cita-cita yang dituju. Karena sesungguhnya tiada yang berputus harapan dari rahmat Allah kecuali hanyalah orang-orang kafir.

"Jangan kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir".(QS. Yusuf : 87). In sya Allah bermanfaat. fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH DZULHIJJAH, "Manfaatkan Umur Sebelum Dikubur" oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Senin 17 Dzulhijjah 1445 H, 24 Juni 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuh

Seperti Apa Manusia di Padang Mahsyar

Setiap Muslim wajib mempercayai adanya hari akhirat di mana dunia akan hancur luluh dan semua manusia bahkan semua makhluk di atas dunia akan mati dan hancur pula. Kemudian pada suatu waktu pula akan dibunyikan terompet sehingga seluruh makhluk yang mati akan bangkit kembali, berkumpul di Padang Mahsyar.

Di tempat itu, akan diadakan hisab, yaitu perhitungan dosa dan pahala. Di Padang Mahsyar juga akan ada syafaat (pertolongan) dari Nabi Muhammad Shalallahu Alayhi Wasallam dengan seizin Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dalam Alquran disebutkan keadaan manusia saat dibangkitkan dan dikumpulkan di alam Mahsyar.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman : "Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka". (QS. Al Zalzalah : 6)

Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan, mereka kembali dari mauqif hisab (tempat penghisaban) dalam keadaan bercerai-berait dan bermacam macam, ada yang celaka dan ada yang berbahagia. Para malaikat diperintahkan untuk membawa mereka yang berbahagia ke dalam surga, dan membawa mereka yang celaka ke dalam neraka. Menurut Ibnu Juraij, mereka cerai berai terpisah-pisah dan tidak dapat berkumpul sama sekali.

"Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." (QS. Az-Zalzalah: 7-8) Dalam surat lain digambarkan hati manusia saat dikumpulkan di alam mahsyar. "Hati manusia pada waktu itu sangat takut" (QS. An Naziat : 8)

Makna yang dimaksud ialah mereka tampak hina dan rendah karena menyaksikan huru- hara yang mengerikan lagi sangat menakutkan di hari (kiamat) itu (Orang-orang kafir) berkata, "Apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula ?" (QS. An-Naziat : 10)

Yaitu orang-orang musyrik Quraisy dan orang-orang yang sependapat dengan mereka yang mengingkari adanya hari berbangkit dan tidak percaya bahwa mereka akan dihidupkan kembali sesudah mereka dimasukkan ke dalam Liang kuburnya. Mereka tidak percaya bahwa mereka akan dihidupkan kembali, padahal tubuh mereka telah hancur dan tulang belulang mereka sudah berantakan. In sya Allah bermanfaat fimdalimunthe55@gmail.com 

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrah. EPCDH ZULHIJJAH oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Ahad 16 Zulhijjah 1445H, 23 Juni 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi wabarrakatuh

Ingat Allah, Shalat, Tadabur, Doa dan  Istighfar, Penghilang Kegalauan

PROBLEM kehidupan merupakan sesuatu yang niscaya terjadi bagi setiap insan. Masalah hidup sering membuat seseorang gundah gulana. Mulai dari persoalan ekonomi, seperti: kemiskinan, kelaparan, kekurangan harta, hingga persoalan sosial, seperti: konflik antar sesama, retaknya hubungan kekerabatan/keluarga, serta terkucilkan dari lingkungan pergaulan.

Apabila kita coba merenungi lebih dalam tentang hakikat kehidupan yang telah Allah ciptakan secara paripurna ini, maka kita dapati bahwa memang segala persoalan yang dihadapi oleh setiap insan merupakan  skenario dan atas kehendak serta kuasa Allah Ta’ala untuk menguji siapa di antara hamba hambaNya yang terbaik amalannya. 

Allah Ta’ala berfirman, “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)

Begitu pula halnya dengan segala bentuk ujian kehidupan. Bagaimana mungkin kita memperoleh predikat sebagai hamba Allah yang bersabar jika tidak ada bukti dari kesabaran tersebut melalui cobaan yang diberikan oleh Allah Ta’ala sebagaimana firmanNya,

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah- buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Namun, apabila kita benar-benar bersandar pada prinsip-prinsip Islam dalam menjalani kehidupan ini, maka insyaAllah terasa ringanlah segala persoalan itu, seberat apapun bebannya.

Ketahuilah, bahwa tidak seorang pun manusia yang terlepas dari ujian dan cobaan. 

Renungkanlah kisah- kisah yang dapat diambil dari sirah nabawiyah. Bagaimana kesedihan yang menimpa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika istrinya Khadijah radhiyallahu ‘anha wafat yang kemudian disusul pamannya Abu Thalib. 

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga mendapatkan ujian berupa kehilangan semua putra-putranya diusia mereka yang masih belia, dan berbagai ujian yang menimpa beliau. Namun, beliau mampu mencontohkan kepada kita bagaimana menghadapi semua persoalan kehidupan tersebut dengan penuh kebijaksanaan.

Kembali kepada Allah

Lihatlah kembali sejarah Islam sebagai ibrah. Kaum muslimin mengalami guncangan batin yang cukup berat tatkala Allah Ta’ala mentakdirkan mereka kalah di perang Uhud. Sebanyak 700 pasukan muslimin berhadapan dengan lebih dari 3.000 pasukan kuffar. Padahal, hampir saja kaum muslimin memenangkan peperangan. Namun, karena 40an pemanah  lalai atas tugasnya karena tergiur ghonimah.

Maka, sadarilah bahwa ketika ujian sedang menimpa diri kita. Lihat dan muhasabahlah diri, lalu tanyakan, “Adakah perintah Allah dan RasulNya yang telah aku langgar ?” Atau, “Apakah diri ini terlalu berlebihan cinta terhadap perkara duniawi ?” Kalau jawaban dari salah satu atau kedua pertanyaan tersebut adalah “Ya”, maka kembalilah kepada Allah Ta’ala. Segera bertobat, beristigfar, dan paksakan diri untuk menjadi hamba Allah Ta’ala yang tunduk dan patuh terhadap perintahNya dan menjauh dari segala laranganNya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda dalam sebuah hadits qudsi, bahwa Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika ia (hamba Allah) mendekat kepadaKu sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepadaKu sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepadaKu dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR. Bukhari 6970 Muslim 2675 dari Abu Hurairah RA)

Istiqamah shalat

Shalat merupakan ibadah mulia setelah tauhid. Perhatikan rukun Islam, perkara kedua setelah syahadat adalah shalat. Karenanya, meninggalkan shalat merupakan dosa besar setelah dosa syirik. 

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Pemisah antara seorang hamba dengan kekufuran dan keimanan adalah shalat. Apabila dia meninggalkannya, maka dia melakukan kesyirikan.” 

(HR. Ath-Thabari sahih dari Tsauban RA, Syekh Al Albani mengatakan, “Hadits ini sahih.” Lihat Shahih At-Targib wa At-Tarhib no. 566)

Sungguh kedudukan shalat begitu agung dalam Islam. Lantas, bagaimana kita sebaiknya memperlakukan ibadah shalat dalam kehidupan sehari- hari ?

Ketahuilah, bahwa salat merupakan bagian dari zikir (mengingat Allah). Dan hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.

Allah Ta’ala berfirman, “(Yaitu), orang-orang yang beriman dan hati mereka tenang dengan mengingat Allâh. Ketahuilah, dengan mengingat Allâh, hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Ingatlah kegundahan yang dialami karena abainya kita terhadap shalat. Karena, orang yang memprioritaskan shalat dalam hidupnya, seberat apapun ujian dan cobaan yang mungkin dapat membuat hatinya galau dan cemas, maka sesegera mungkin ia mampu tenang dan bijak dalam menyikapinya.

Tadabur Al-Qur’an

Penghilang kegalauan selanjutnya adalah Al-Qur’an. Seseorang yang mengalihkan kegundahan hati dari cobaan yang sedang menimpanya kepada Al-Qur’an dengan membaca dan mentadaburi maknanya akan memperoleh ketenangan dan kebijaksanaan. Karena Al-Qur’an merupakan penawar dari segala macam penyakit, tidak terkecuali penyakit yang menyerang batin berupa kegalauan dan kegundahan. 

Allah Ta’ala berfirman, “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al-Isra: 82)

Namun, tidak jarang pula, kita merasa cukup dengan sedikit membaca dan mentadaburi Al-Qur’an. Padahal, seseorang yang senantiasa mampu menikmati bacaan Al-Qur’an adalah orang yang hatinya bersih. 

Maka dari itu, bersihkanlah hati. Mungkin masih banyak dosa yang biasa kita remehkan. Bersihkan hati dengan tobat dan tidak mengulanginya, sekecil apa pun dosa tersebut. Mulailah membaca Al-Qur’an sekarang juga. Sebab Al-Qur’an akan mendatangkan kebahagiaan dan menghilangkan kesedihan. InsyaAllah.

Doa

Orang yang beriman akan selalu menggantungkan segala urusannya kepada Allah Ta’ala. Hal yang pertama yang dilakukan apabila ditimpa musibah adalah berdoa dan mengadu kepada Allah. Karena keyakinan bahwa Allah yang mengizinkan segala hal untuk terjadi dan Allahlah yang mentakdirkan semuanya, akan membawa seseorang kepada kebijaksanaan dalam menghadapi segala ujian kehidupan.

Karenanya, adukanlah segala kegalauan dan kegundahan itu kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana doa Nabi Zakaria ‘alaihis salam yang dengan haqqul yaqin pada doanya kepada Allah dari kegundahan yang ia rasakan bertahun- tahun sebab ujian yang diberikan Allah karena belum mendapatkan keturunan.

Allah Ta’ala berfirman tentang doa Nabi Zakaria yang mengadu kepada Allah tentang kegundahannya yang kemudian Allah jawab dengan karunia seorang anak lelaki saleh, yaitu Nabi Yahya ‘alaihis salam

“Ia berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku.”

Oleh sebab itu, yakinlah bahwa Allah Ta’ala mengabulkan segala permohonan hamba-hamba-Nya. Termasuk di antaranya adalah permohonan agar diberi kekuatan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan di dunia dan mendapatkan pahala yang berlipat ganda dari Allah atas kesabarannya.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan apabila hamba- hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepadaKu. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)Ku dan beriman kepadaKu, agar mereka memperoleh kebenaran.”

Istigfar

Ketahuilah bahwa musibah dan cobaan yang ditimpakan kepada manusia merupakan akibat dari dosa yang ia lakukan. Adapun upaya agar musibah tersebut diangkat oleh Allah Ta’ala adalah dengan melakukan tobat. 

Allah Ta’ala berfirman, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dalam Kitab Al-Jawabul Kafi (hal. 87) mengatakan ; “Tidaklah musibah tersebut turun, melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan tobat.”

Maka, bertobatlah kepada Allah Ta’ala agar musibah yang menimpa segera diangkat. Di antara kalimat tobat yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah “istigfar”, yaitu memohon ampunan dari Allah Ta’ala. Mudah-mudahan, dengan banyak beristigfar, Allah Ta’ala juga akan memberikan karunia yang berlimpah sebagai ganti dari musibah sebelumnya. 

Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Maka, aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai- sungai.” (QS. Nuh: 10-12)

In sya Allah bermanfaat. fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy.  Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH ZULHIJJAH oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Sabtu 15  Zulhijjah 1445 H, 22 Juni 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuh 

Meski Kaya Tetap Bersyukur

Dari Abu Dzar RA berkata, bersabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam: “Sesungguhnya orang yang banyak harta adalah yang miskin pahala pada hari kiamat kecuali orang yang Allah berikan kebaikan (harta) lalu ia membagikannya ke kanan, kiri, ke arah depan dan belakangnya, serta berbuat yang baik dengannya.” (HR. Bukhari - Musim)

Pelajaran yang terdapat di dalam hadist: Yang dimaksudkan dengan ‘memperbanyak’ adalah dengan harta, dan ‘menyedikitkan’ adalah dengan pahala akhirat. Ini (terjadi) pada diri orang yang memperbanyak harta, akan tetapi dia tidak memenuhi sifat dengan yang ditunjukkan oleh pengecualian setelahnya, yaitu berinfaq”.  (Fathul Bari 18/261)

Dari hadits yang mulia ini, kita mengetahui bahwa mayoritas orang kaya itu lupa bersyukur kepada Pemberi nikmat hakiki, yaitu Allâh Azza Wa Jalla .

Mereka hanya sibuk dalam urusan harta dan dunia, melalaikan urusan akhirat dan amalan yang mulia. Akibatnya, mereka sedikit sekali mendapatkan kebaikan di sisi Rabbnya. Kecuali orang yang banyak berinfak untuk meraih keridhoan Allâh Azza Wa Jalla dengan memberikan harta kepada orang-orang yang membutuhkan di mana saja mereka berada.

Ini adalah tentang keutamaan orang kaya yang bersyukur kepada Allâh Azza Wa Jalla , karena kebanyakan orang kaya lupa terhadap nikmatNya.

Tema hadist yang berkaitan dengan Al Qur'an : Dalam riwayat Muslim, “Kaum Fuqara’ Muhajirin datang kembali kepada Rasulullah  Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Mereka berkata, ‘Saudara-saudara kami yang kaya mendengar apa yang telah kami kerjakan, lalu mereka juga melakukan amalan serupa ?” 

Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  membaca firman Allah, “Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Maidah: 54)

Namun di sisi lain hati-hati banyak ayat yang menyebutkan tentang bahaya dunia. Banyak orang yang tergelincir karenanya. Oleh sebab itu Allah sering sekali mengingatkan agar jangan sampai terpedaya dengannya.

“Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (menaati) Allah.” (QS. Luqman: 33)

Imam al-Bukhari dalam Shahihnya membuat bab “Al-Muktsiruun Hum al-Muqilluun” (Orang-orang yang banyak harta adalah mereka yang akan miskin pahala pada hari kiamat). Lalu beliau menyebutkan firman Allah Ta’ala ;

“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan?” (QS. Huud: 15-16). In sya Allah bermanfaat. fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH ZULHIJJAH oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Jumat 14 Zulhijjah 1445 H, 21 Juni 2024

Assalamu'alaikum Warrahmatallahi Wabarrakaatuh

Al Quran Pedoman dalam Kehidupan

Al Quran adalah Kalam Allah Subhanahu Wa Ta'ala adalah pedoman dalam kehidupan kita sebagai hambaNYA. Dalam Al Quran sabda Allah terinci detail tentang Ketaqwaan, Keimanan, perihal Yang Diperbolehkan dan LaranganNYA. Semisal, Iman yang terkait langsung dengan kehidupan sehari hari diantaranya :

Menjaga perkataan : Tidak ada sembarang perkataan yang dilafazkannya (atau perbuatan yang dilakukannya) melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang sentiasa sedia (menerima dan menulisnya)". (QS. Qaf : 18)

Berhubungan baik dengan tetangga : "Dan hendaklah kamu beribadat kepada Allah dan janganlah kamu sekutukan Dia dengan sesuatu apa juga; dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua ibu bapak, dan kaum kerabat, dan anak anak yatim, dan orang orang miskin, dan tetangga yang dekat, dan tetangga yang jauh, dan rekan sejawat, dan orang musafir yang terlantar, dan juga hamba yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang orang yang sombong takabur dan membangga banggakan diri". (QS. An-Nisa' : 36)

Dan bersikap mulia terhadap tamu : "Sudahkah sampai kepadamu (wahai Muhammad) perihal tetamu Nabi Ibrahim yang dimuliakan?Ketika mereka masuk mendapatkannya lalu memberi salam dengan berkata : "Salam sejahtera kepadamu!" Ia menjawab: Salam sejahtera kepada kamu! ......" (QS. Adz-Dzariyat : 24-25-26-27)

Al Quran diturunkan melalui malaikat Jibril yang dihimpun dalam MUSHAF merupakan MUKJIZAT Nabi Muhammad Shalallahu Alayhi Wasallam ... Fungsi Al quran : (1) Petunjuk bagi Manusia. Al Quran sebagai RAHMAT dan PETUNJUK bagi manusia yang beriman dan bertaqwa... "Sungguh, Kami telah mendatangkan kitab (Al Quran) kepada mereka, yang Kami jelaskan atas dasar pengetahuan, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang- orang yang beriman". (QS. Al A'raf : 52)

(2) Sumber Pokok Ajaran Islam. Al Quran menjadi syariat dan dalil-dalil syar'i yang mencakup seluruh aspek hukum bagi manusia dalam menjalani hidup di dunia dan akhirat...

"Sungguh, Kami telah menurunkan Kitab (Al Quran) kepadamu (Muhammad) membawa kebenaran, agar engkau mengadili antara manusia dengan apa yang telah diajarkan Allah kepadamu, dan janganlah engkau menjadi penentang (orang yang tidak salah), karena (membela) orang yang berkhianat". (QS. An Nisa : 105 )

Jelas sekali dalam  firman-firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam Al Quran menunjukkan tentang tatacara hidup yang baik dan benar sesuai yang dikehendakiNYA. In sya Allah bermanfaat fimdalimunthe55@gmail.com 

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH  ZULHIJJAH, oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Rabu 12 Zulhijjah 1445 H, 19 Juni 2024

Assalammualaykum warrahmatullahi wabarrakatuh

Istiqamah Shalat Subuh, Jangan Pernah Tinggalkan

Allah telah menyediakan bagi mereka yang menjaga ketaatan kepadanya dengan jaminan surga. Diantara amalan yang mudah dan mampu dilakukan setiap muslim untuk meraih kemuliaan itu dengan menjaga (istiqamah) shalat subuh. 

Mengapa shalat subuh lebih diistimewakan oleh Allah dari shalat- shalat yang lainnya ?Inilah rahasianya…!  

SHALAT SUBUH MENJADI TAMENG DARI NERAKA

Rasulallah Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda : "Tidaklah akan masuk neraka orang yang melaksanakan shalat sebelum terbitnya matahari (yaitu shalat subuh) dan shalat sebelum tenggelamnya matahari (yaitu shalat ashar)." (HR. Muslim no. 634)

 SHALAT SUBUH JAMINAN MASUK SURGA

Rasulallah Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda : "Barangsiapa yang mengerjakan shalat bardain (yaitu shalat subuh dan ashar) maka dia akan masuk surga." (HR. Bukhari, 574 - Muslim, 635) 

 SHALAT SUBUH DAPAT PAHALA SEPERTI SHALAT SEMALAMAN

Rasulallah Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda : “Barangsiapa yang shalat isya' berjamaah maka seolah-olah dia telah shalat malam selama separuh malam. Dan barangsiapa yang shalat subuh berjamaah maka seolah-olah dia telah shalat seluruh malamnya." (HR. Muslim. 656) 

SHALAT SUBUH MENDAPAT JAMINAN KESELAMATAN

Rasulallah Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda : "Barangsiapa yang shalat subuh maka dia berada dalam jaminan Allah. Oleh karena itu jangan sampai Allah menuntut sesuatu kepada kalian dari jaminanNya. Karena siapa yang Allah menuntutnya dengan sesuatu dari jaminanNya, maka Allah pasti akan menemukannya, dan akan menelungkupkannya di atas wajahnya dalam neraka jahanam." (HR. Muslim, 163) 

 BERCAHAYA DI HARI KIAMAT

Rasulallah Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda : “Barangsiapa menuju masjid pada waktu pagi hari atau sore hari maka Allah akan memberikan jamuan hidangan baginya di surga pada setiap pagi dan sore.” (HR. Al-Bukhari, 148 dan Muslim, 669)

 QABLIYAH SHALAT SUBUH LEBIH BAIK DARI DUNIA DAN ISINYA

Hal ini berdasarkan keutamaan shalat sunnah rowatib yang mengiringi shalat subuh adalah lebih baik dari dunia dan seisinya, apalagi shalat subuh yang fardhu, maka lebih utama lagi darinya. 

Rasulallah Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda : "Dua rakaat shalat subuh itu lebih baik dari dunia beserta isinya." (HR Muslim - Ahmad)

 SAAT KITA SHALAT SUBUH PARA MALAIKAT MENYAKSIKAN

Allah berfirman ; "Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Subuh. Sesungguhnya shalat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat)." (QS. Al-Isra' : 78) 

Rasulullah Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda : "Dan para malaikat malam dan malaikat siang berkumpul pada shalat fajar (subuh)." (HR. Bukhary, 137; Muslim, 632)   

SHALAT SUBUH TOLOK UKUR KEIMANAN

Untuk mengukur kadar keimanan seseorang tidak perlu sulit-sulit, cukup mengukurnya dengan shalat subuh untuk mengetahui apakah dirinya termasuk jujur dalam beriman ataukah berdusta, apakah ia beriman di atas keikhlashan ataukah riya. 

Rasulallah Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda ; “Shalat terberat bagi orang-orang munafik adalah shalat isya’ dan subuh. Padahal seandainya mereka mengetahui pahala pada kedua shalat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walaupun harus merangkak.” (HR. Ahmad, disahihkan Al-Albany dalam Al-Irwa’ 2/246) 

Shalat shubuh akan mendatangkan nikmat berupa bisa melihat wajah Allah yang mulia. 

Dari Jarir bin Abdullah berkata, “Kami pernah duduk duduk di samping Rasulullah. Tatkala beliau melihat rembulan pada malam purnama, lalu beliau bersabda, ”Kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat rembulan ini. Yaitu kalian tidak berdesak-desakan melihatnya." In sya Allah bermanfaat. fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH ZULHIJJAH oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir alQuran dan alHadits, Selasa 11 Zulhijjah 1445 H, 18 Juni 2024

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakaatuh

Berubah Lebih Baik

Jika kita tahu apa yang ingin kita capai dalam hidup, maka kita akan lebih terinspirasi untuk berubah menjadi lebih baik. Kehidupan sosial senantiasa bersifat dinamis, karena itu selalu berubah dan berganti.

Agar perubahan dan pergantian itu sesuai dengan tuntunan al-Qur'an, maka setiap diri orang muslim harus berusaha mengarahkannya pada perubahan yang terpuji. "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri" (QS. Ar Ra'du : 11)

Islam juga agama yang menghendaki perubahan, mengeluarkan umat manusia dari zaman kegelapan dan kedzaliman menuju kehidupan yang terang-benerang. Alif Lam Ra (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang- benderang dengan izin Tuhan, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa, Maha Terpuji" (QS. Ibrahim : 1)

Marilah kita sekarang iberdoa dan bertobat. untuk menjalani hidup ini dengan lebih berarti. In sya Allah dengan doa kita ini Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberikan kelancaran dalam segala urusan kita... Keberkahan dalam rezeki kita... Dijaga dari segala marabahaya...  Dijaga aqidah kita beserta keluarga. Aamiin....yaa rabb. In sya Allah bermanfaat fimdalimunthe55@gmail.com 

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH IDUL ADHA, oleh Ferry Is Mirza (fim) Senin 10 Dzulhijjah 1445 H, 17 Juni 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuh

I K H L A S

Mengapa suaminya meninggalkan dia dan anaknya yang masih kecil di padang pasir yang tak ada siapapun dan tak ada apapun ?

Siti Hajar yang mengendong Ismail anaknya mengejar Ibrahim AS suaminya, dan bertanya : Mengapa kau tega meninggalkan kami di sini, bagaimana kami bisa bertahan hidup?

Ibrahim Alaihissalam terus melangkah meninggalkan keduanya. Perasaannya terjepit antara pengabdian dan pembiaran.

Siti Hajar masih terus mengejar sambil terus menggendong Ismail. Kali ini Siti Hajar setengah menjerit, dan jeritannya menembus langit.

Wahai suamiku, ayahanda Ismail, Apakah ini perintah Tuhanmu ? Kali ini Ibrahim AS, Sang Khalilullah, berhenti melangkah. Dunia seolah berhenti berputar. Butir pasir seolah terpaku. Angin seolah berhenti mendesah.

Pertanyaan atau lebih tepatnya gugatan Siti Hajar membuat Ibrahim Alaihissalam terkesiap membalik dan dengan  tegas berkata: Ya, ini perintah Tuhanku ! Siti Hajar berhenti mengejar, dan dia terdiam.

Lantas meluncurlah kata-kata dari bibirnya, yang mengagetkan para Malaikat yang menyaksikan.

"Jika ini perintah Tuhanmu, pergilah wahai suamiku. Tinggalkan kami di sini. Jangan khawatir, Allah akan menjaga kami." Ibrahim alaihissalam pun beranjak pergi.

Dilema itu sirna sudah. Ini sebuah pengabdian, atas nama perintah Allah, bukan pembiaran. Itulah IKHLAS.

Ikhlas adalah wujud sebuah keyakinan mutlak, pada Sang Maha Mutlak. Ikhlas adalah kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah.

Ikhlas itu adalah ketika engkau sanggup untuk berlari, mampu untuk melawan dan kuat untuk mengejar, namun engkau memilih untuk tunduk dan patuh.

Ikhlas adalah kekuatan untuk menundukkan diri sendiri dan semua yang engkau cintai. Ikhlas adalah memilih jalanNya, bukan karena engkau terpojok tak punya jalan lain.

Ikhlas bukan lari dari kenyataan, bukan karena terpaksa, bukan merasionalisasi tindakan, bukan mengkalkulasi hasil akhir.

Ikhlas tak pernah berhitung, tak pernah pula menepuk dada. Ikhlas itu tangga menuju Allah. Mendengar PerintahNya dan MenaatiNya.

IKHLAS adalah IKHLAS itu sendiri. Murni tanpa embel embel kepamrihan apapun. Suci bersih sejuta persen, hanya karena Allah dan mengikuti Kehendak Allah, tidak yang lain.

IKHLAS adalah karunia Allah yang diberikan kepada hamba yang dicintaiNYA. Setelah ditinggal suaminya, Ibrahim AS, Siti Hajar menggendong putranya Ismail. Menahan lapar dan haus.

Siti Hajar terduduk setelah perjuangannya mencari air dari Shafa ke Marwa dan dari Marwa ke Shafa sampai 7x.

Setelah itu kaki Ismail mengepak- ngepak ke pasir dan keluarlah air...

Air zamzam dan di situlah Siti Hajar dan Ismail hidup selama belasan tahun. Setelah lsmail remaja datanglah Ibrahim AS dengan perintah Allah untuk menyembelih Ismail anak semata wayang yang sangat dicintainya, yang lama dia harapkan, yang dikaruniai Allah setelah ia berumur 100 tahun, anak yang sangat sholeh.

Ibrahim Alaihissalam dan Ismail, ikhlas, patuh dan sabar akan perintah Allah. Ketika Ismail sudah dibaringkan dan siap disembelih, ternyata Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengganti Ismail dengan domba yang besar.

Sekarang... Setiap kita adalah IBRAHIM AS' dan setiap Ibrahim punya 'ISMAIL'. Ismailmu mungkin 'HARTAMU', Ismailmu mungkin 'JABATANMU', Ismailmu mungkin 'GELARMU', Ismailmu mungkin 'EGOMU'.

Ismailmu adalah sesuatu yang kau 'SAYANGI' dan kau 'PERTAHANKAN' di dunia ini ....

Ibrahim Alaihissalam tidak diperintah Allah untuk membunuh Ismail, Ibrahim AS hanya diminta Allah untuk membunuh rasa 'KEPEMILIKAN' terhadap Ismail.

Karena hakekatnya semua adalah milik Allah. In sya Allah, Allah Subhanahu Wa Ta'ala menganugerahkan kesalihan dan Keikhlasan Nabi Ibrahim AS serta keihlasan  dan kesabaran Nabi Ismail kepada kita semua. Karena di hadapan Allah hanya ketaqwaan kita yang diterimaNya.

In sya Allah kita termasuk ke dalam orang yang bertaqwa dan senantiasa dirahmati ALLAH Subhanahu Wa Ta'alaAamiin... In sya Allah bermanfaat.  fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH DZULHIJJAH, oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Ahad 9 Dzulhijjah 1445 H, 16 Juni 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi wabarrakatuh

Hati Manusia Tergambar dalam Al Quran

Al Quran melukiskan hati manusia dengan berbagai cara atau perumpamaan. Misalnya, hati yang tenteram, yakni lantaran orang itu beriman dan selalu mengingat Allah Subhanahu Wa Ta'ala. "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram". (QS. ar-Ra'd : 28)

"Ada pula hati yang bersih karena seseorang selalu beribadah dengan niat tulus mencari ridha Allah". (QS. asy-Syu'ara' :89)

Selanjutnya, hati yang berpenyakit, ini disebabkan kebiasaan berdusta dari orang yang memilikinya. 

Mereka adalah orang- orang munafik, yang menampakkan kesalehan dihadapan orang beriman dan menyembunyikan kekafiran dalam hatinya. Siksaan yang pedih merupakan balasan bagi mereka (QS. al-Baqarah : 10)

Ya Allah Ya Rabb, Ya Rahman Ya Rahim, ampuni salah dan dosa kami, jadikanlah kami sebagai hamba yang istiqamah menjalankan perintahMu dan menjauhi laranganMu,  dan tetapkan kami sebagai hamba yang beriman, islam, sehat serta selalu dalam limpahan hidayah, rahmat dan lindunganMu di dunia dan di akhirat.

Ya Allah, berilah kami ilmu yang bermanfaat, rezeki yang barakah dan amalan yang Kau terima. Ya Allah, terimalah dan kabulkanlah doa doa kami.

'Rabbana atina fiddunya hasanah wafil akhirati hasanah waqina adzabannar'. Aamiin.... In sya Allah bermanfaat. fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy.  Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH DZULHIJJAH, oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir alhadits, Sabtu 8 Dzulhijjah 1445 H, 15 Juni 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuh 

Puasa Arafah Saat Wukuf atau Ikut Pemerintah ?

Puasa Arafah yang dilakukan tahun ini apakah ikut wukuf di Arafah ataukah ikut ketetapan pemerintah ? Karena kalau ikut ketetapan pemerintah, maka puasa Arafah akan berbeda dengan waktu Jamaah haji wukuf di Arafah. 

Hal ini terjadi sama seperti 10 tahun lalu waktu wukuf di Arafah pada hari Jumat, 3 Oktober 2014. Sedangkan untuk 9 Dzulhijjah di Indonesia jatuh pada 4 Oktober 2014. Kalau Begitu Puasa Arafah Ikut Siapa ?

Yang jelas hal  semacam ini sudah ada sejak masa silam. Kita semestinya bersikap legowo dan lapang dada, menghargai perbedaan yang terjadi.

Namun mengedepankan persatuan dalam masalah ini, itu lebih baik. Landasannya adalah sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,

“Puasa kalian ditetapkan tatkala mayoritas kalian berpuasa, hari raya Idul Fithri ditetapkan tatkala mayoritas kalian berhari raya, dan Idul Adha ditetapkan tatkala mayoritas kalian berIdul Adha.” (HR. Tirmidzi no. 697 hadits ini shahih kata Syaikh Al Albani)

Imam Tirmidzi ketika menyebutkan hadits ini berkata, “Para ulama menafsirkan bahwa hadits ini yang dimaksud adalah berpuasa dan berhari raya bersama al jama’ah dan mayoritas manusia”. Yang dimaksud Abu ‘Isa At Tirmidzi adalah berpuasa dengan pemerintah (ulil amri), bukan dengan ormas atau golongan tertentu.

Hadits di atas menunjukkan bahwa berpuasalah dan berhari rayalah bersama pemerintah. Kalau ketetapan pemerintah berbeda dengan wukuf di Arafah, tetap ketetapan pemerintah yang diikuti. Ikuti Hilal di Negeri Masing-masing.

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

“Jika kalian melihat hilal, maka berpuasalah. Jika kalian melihatnya lagi, maka berhari rayalah. Jika hilal tertutup, maka genapkanlah (bulan Sya’ban menjadi 30 hari).” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no 1906 dan Muslim no 1080)

Hilal di negeri masing masinglah yang jadi patokan, itulah maksud perintah hadits. Tidak Masalah Puasa Beda dengan Hari Wukuf di Arafah. 

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin juga mendapat pertanyaan sebagai berikut, “Jika terdapat perbedaan tentang penetapan hari Arafah disebabkan perbedaan mathla’ 

(tempat terbit bulan) hilal karena pengaruh perbedaan daerah. Apakah kami berpuasa mengikuti ru’yah negeri yang kami tinggali ataukah mengikuti ru’yah Haromain (dua tanah suci) ?”

Syaikh rahimahullah menjawab, “Permasalahan ini adalah turunan dari perselisihan ulama apakah hilal untuk seluruh dunia itu satu ataukah berbeda- beda mengikuti perbedaan daerah. Pendapat yang benar, hilal itu berbeda-beda mengikuti perbedaan daerah".

Misalnya di Makkah terlihat hilal sehingga hari ini adalah tanggal 9 Dzulhijjah. Sedangkan di negara lain, hilal Dzulhijjah telah terlihat sehari sebelum ru’yah Makkah sehingga tanggal 9 Dzulhijjah di Makkah adalah tanggal 10 Dzulhijjah di negara tersebut. Tidak boleh bagi penduduk Negara tersebut untuk berpuasa Arafah pada hari ini karena hari ini adalah hari Idul Adha di negara mereka.

Demikian pula, jika kemunculan hilal Dzulhijjah di negara itu selang satu hari setelah ru’yah di Makkah sehingga tanggal 9 Dzulhijjah di Makkah itu baru tanggal 8 Dzulhijjah di negara tersebut. Penduduk negara tersebut berpuasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah menurut mereka meski hari tersebut bertepatan dengan tanggal 10 Dzulhijjah di Mekkah.

Inilah pendapat yang paling kuat dalam masalah ini karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Jika kalian melihat hilal Ramadhan hendaklah kalian berpuasa dan jika kalian melihat hilal Syawal hendaknya kalian berhari raya” (HR. Bukhari-Muslim)

Orang-orang yang di daerah mereka hilal tidak terlihat maka mereka tidak termasuk orang yang melihatnya.

Sebagaimana manusia bersepakat bahwa terbitnya fajar serta tenggelamnya matahari itu mengikuti daerahnya masing-masing, demikian pula penetapan bulan itu sebagaimana penetapan waktu harian (yaitu mengikuti daerahnya masing-masing)”. (Majmu’ Fatawa wa Rosa-il Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, 20/47-48, Darul Wathon – Darul Tsaroya, cetakan tahun 1413 H)

Kesimpulan dari Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, puasa Arafah mengikuti penanggalan atau penglihatan di negeri masing-masing dan tidak mesti mengikuti wukuf di Arafah. Wallahu a’lam, wallahu waliyyut taufiq. In sya Allah bermanfaat fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH ZULHIJJAH, oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Jumat 7 Zulhijjah 1445 H, 14 Juni 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuh 

Selalu Bersyukur atas Nikmat ALLAH

Jumah Mubarak. (Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmatKu), sesungguhnya azabKu benar-benar sangat keras.” (QS. Ibrahim: 7)

Merasa lemah dan kurang seringkali membuat kita sukar untuk bersyukur. Ketidakpuasan yang muncul hanya akan menyisakan rasa perih bagi diri sendiri, sebuah kesia-siaan karena kita gagal menikmati kebesaran dan kelimpahan rahmat yang dianugerahkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Syukur memiliki tiga dimensi:

1. Syukur dengan hati, yaitu dengan senantiasa mengingat nikmat yang telah diterima.

2. Syukur dengan lisan, yaitu dengan memuji Allah yang telah menganugerahkan nikmat.

3. Syukur dengan anggota tubuh, yaitu dengan menggunakan nikmat tersebut secara pantas.

Sesungguhnya, bersyukur adalah hal yang sangat berat. Dalam Al-Quran, hanya ada dua sosok selain Nabi Nuh yang disebut Allah karena keahlian mereka dalam bersyukur, yaitu Nabi Ibrahim.

Para Nabi dengan derajat Ulul Azmi, meskipun dihujani ribuan cobaan, tetap mampu menunjukkan rasa syukur mereka.

Dan Al-Quran adalah nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada kita, melebihi segala kenikmatan duniawi yang bisa kita rasakan. Betapa merugilah kita jika sampai meninggalkan dan menjauh dari Al-Quran.

Jangan menunggu waktu, selagi punya waktu marilah kita mengaji dan mentadaburi Al Quran. In sya Allah bermanfaat. fimdalimunthe55@gmsil.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy.  Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH ZULHIJJAH, oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Kamis 6 Zulhijjah 1445 H, 13 Juni 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuh 

Bahaya Riba = Memerangi Allah

Bolehkah kita untuk membeli rumah dengan uang pinjaman dari bank ribawi ? Dijawab oleh Asy Syaikh Rabi' bin Hady Al Madkhaly hafizhahullah : Seandainya saja kamu membutuhkan sepotong roti untuk dimakan demi menyelamatkan dirimu dari kematian maka JANGAN mengambil sedikitpun dari bank, APALAGI untuk membangun rumah atau membeli mobil.

Allah menghalalkan untukmu bangkai, daging babi, hewan yang dipukul, hewan yang jatuh, Allah MENGHALALKAN untukmu pada kondisi darurat. Dan Allah TIDAK MENGHALALKAN riba untukmu. Riba SANGAT BERBAHAYA, sangat berbahaya.

Maka JANGANLAH bermu'amalah dengan riba, dan BERSABARLAH. Karena sesungguhnya Allah berfirman :

"Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka- sangkanya." (QS. Ath-Thalaq: 2-3)

Riba itu dosa besar dan perkara yang berbahaya, orang yang menghalalkannya dia dikafirkan.

Apabila kamu membutuhkan sebuah rumah maka bersabarlah hingga Allah memberimu rizki. Pasrahkanlah kepada Allah dan lakukanlah sebab (usaha) sampai Allah siapkan untukmu sebuah rumah. Jika tidak (tercapai) maka kamu akan meninggal dalam keadaan SELAMAT DARI PEPERANGAN ALLAH.

Karena pelaku riba itu orang yang memerangi Allah -wal'iyadzu billah- sebagaimana Allah 'Azza waJalla berfirman :

"Jika kamu tidak melaksanakannya, maka umumkanlah perang dari Allah dan RasulNya. Tetapi jika kamu bertobat, maka kamu berhak atas pokok hartamu. Kamu tidak berbuat zalim (merugikan) dan tidak dizalimi (dirugikan)." (QS. Al-Baqarah : 279)

Allah mengumumkan perang kepada pelaku riba. Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melaknat pemakan riba, wakilnya, pencatatnya, dan dua saksinya.

Apa yang kamu inginkan setelah adanya laknat ini..? Apakah sebuah rumah itu bisa memberimu manfaat, sementara di hadapanmu neraka Jahannam..?

Seorang mukmin hendaknya bertakwa kepada Allah dan bersabar atas kefaqirannya dan kebutuhannya, karena sesungguhnya Allah berfirman :

"Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah- buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar," (QS. Al-Baqarah : 155)

Bersabarlah niscaya Allah akan memberimu balasan pahala besar ini, sebagai ganti atas dihadapkannya dirimu dengan laknat Allah, murkaNya, kemarahanNya dan siksaNya. In sya Allah bermanfaat. fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH ZULHIJJAH, oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Rabu 5 Zulhijah 1445 H, 12 Juni 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuh 

Memahami Takdir dan RahmatNYA

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

"Ketika Allah Ta’ala menetapkan takdir para makhluk, Allah Ta’ala menulis dalam kitabNya (Lauhul Mahfuzh). Yang kitab tersebut ada disisiNya, di atas Arsy. Allah menuliskan, ‘sesungguhnya rahmatKu mengalahkan murkaKu” (HR. Bukhari)

Allah menciptakan makhluk dengan kehendakNya, bukan karena Allah butuh pada makhluk.

Imam Al-Muzani rahimahullah mengatakan, “Makhluk tidak mempunyai kekuasaan untuk mendapat manfaat dalam berbuat ketaatan, juga tidak mampu untuk menolak hal-hal yang bisa memalingkannya dari maksiat.”

Maksudnya adalah manusia tidak bisa melakukan ketaatan dan meraih manfaat melainkan dengan pertolongan Allah. Begitu pula tidak ada yang bisa selamat dari maksiat kecuali dengan pertolongan Allah.

Allah Ta’ala berfirman, “Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba- hambaNya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus: 107)

“Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya.” (QS. Ar-Ra’du: 11)

Bahasan inilah yang dimaksud dalam kalimat hawqalah “laa hawla wa laa quwwata illa billah”. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata tentang maksud kalimat tersebut yaitu,

“Tidak ada daya untuk menghindarkan diri dari maksiat selain dengan perlindugan dari Allah. Tidak ada kekuatan untuk melaksanakan ketaatan selain dengan pertolongan Allah.” (Syarh Shahih Muslim, 17:27)

Tentang takdir, pada kalimat terakhir, Imam Al-Muzani rahimahullah mengatakan, “Allah menciptakan makhluk dengan kehendakNya, bukan karena Allah butuh pada makhluk.”

Ini yang seperti Allah maksudkan dalam ayat, “Katakanlah : ‘Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dialah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa’.” (QS. Ar-Ra’du: 16)

Allah menciptakan makhluk bukanlah butuh pada mereka. Allah Ta’ala berfirman : “Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15)

“Dan Rabbmu Maha Kaya lagi mempunyai rahmat. Jika Dia menghendaki niscaya Dia memusnahkan kamu dan menggantimu dengan siapa yang dikehendakiNya setelah kamu (musnah), sebagaimana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan orang-orang lain.” (QS. Al-An’am: 133)

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-58)

Begitu juga dalam hadits menunjukkan bahwa Allah itu tidak butuh pada keimanan makhluk, dan juga kekuasannya tidak berkurang karena maksiat yang diperbuat manusia. 

Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah Ta’ala berfirman, 

“Wahai hambaKu, sesungguhnya kalian tidak akan dapat membinasakan-Ku dan kalian tak akan dapat memberikan manfaat kepadaKu. Wahai hambaKu, kalau orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu bertaqwa seperti orang yang paling bertaqwa di antara kalian, tidak akan menambah kekuasaanKu sedikit pun. Jika orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu berhati jahat seperti orang yang paling jahat di antara kalian, tidak akan mengurangi kekuasaanKu sedikit pun juga. Wahai hambaKu, jika orang- orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin yang tinggal di bumi ini meminta kepadaKu, lalu Aku memenuhi seluruh permintaan mereka, tidaklah hal itu mengurangi apa yang ada padaKu, kecuali sebagaimana sebatang jarum yang dimasukkan ke laut.” (HR. Muslim,  6737)

Pahami Dua Macam Iradah, Jadilah Benar dalam Memahami Takdir. Iradah (kehendak) ada dua macam yaitu iradah kauniyyah dan iradah syar’iyyah.

Iradah kauniyyah sama dengan masyiah (kehendak). Iradah syar’iyyah sama dengan mahabbah (kecintaan Allah).

Iradah kauniyyah itu pasti terjadi namun belum tentu Allah cintai. Adapun iradah syar’iyyah itu belum tentu terjadi, namun jika terjadi pasti Allah cintai. Dapat kita katakan bahwa iradah syar’iyyah itu diharap oleh Allah, Allah ridha dan mencintai ketika terjadi.

Dalil adanya iradah kauniyyah adalah firman Allah “Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit.” (QS. Ar-An’am: 125)

Dalil adanya iradah syar’iyyah adalah firman Allah, “Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh- jauhnya (dari kebenaran).” (QS. An-Nisaa’: 27)

Perbedaan iradah kauniyyah dan iradah syar’iyyah yaitu: 1. Iradah kauniyyah bisa jadi Allah cintai dan tidak Allah cintai, sedangkan iradah syar’iyyah pasti Allah cintai. 

2. Iradah kauniyyah itu ada karena maksud lain. Seperti iblis dan setan diciptakan untuk menggoda manusia. Ketika tersesat, maka ada yang dapat petunjuk sehingga bertaubat dan banyak beristighfar kepada Allah. Sedangkan iradah syar’iyyah itu ada karena maksud dzatnya. Allah menginginkannya ada karena Allah mencintainya dan meridhainya. 

3. Iradah kauniyyah pasti terjadi, sedangkan iradah syar’iyyah belum tentu terjadi. 

4. Iradah kauniyyah berkaitan dengan sifat rububiyah dan penciptaan, sedangkan iradah syar’iyyah berkaitan dengan sifat uluhiyah dan syariat Allah.

Contoh penerapan : 1. Seseorang yang akhirnya taat atau masuk Islam terkumpul padanya iradah kauniyyah dan iradah syar’iyyah, seperti Umar bin Al-Khaththab itu masuk Islam. Terkumpul pada Umar bin Al-Khaththab dua iradah sekaligus. Sesuai kenyataan Umar masuk Islam dan Allah ridha dengan keislamannya. 

2. Seseorang yang akhirnya terus kafir terkumpul padanya iradah kauniyyah saja, seperti kafirnya Fir’aun. Pada kenyataan Fir’aun itu kafir, maka ada padanya iradah kauniyyah. Namun kekafirannya tidak dicintai oleh Allah. Berarti ada pada Fir’aun ada iradah kauniyyah dan tidak ada iradah syar’iyyah

3. Orang kafir yang diharapkan Islamnya seperti diharapkan Islamnya Abu Lahab. Andai Abu Lahab itu masuk Islam, tentu akan disukai oleh Allah. Namun kenyataannya tidak terjadi. Berarti iradah syar’iyyah ada pada Abu Lahab. Namun sekadar harapan, dan itu tidak terjadi sehingga tidak ada iradah kauniyyah.

In sya Allah, Allah memudahkan kita memahami takdir dengan benar. Yaa  Allah, berilah pertolongan dan kemudahan. In sya Allah bermanfaat. fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillshirrahmanirrahim. EPCDH ZULHIJJAH, oleh Ferry Is Mirza (fim), refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Selasa 4 Zulhijjah 1445 H, 11 Juni 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuh 

ALLAH Maha Melihat Apa yang Kita Kerjakan

QS. Al-Baqarah : 96 yang artinya “...., Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan..” 

“Allah itu melihat apa yang manusia kerjakan, tidak ada yang samar dalam ilmu Allah. Allah mengetahui semuanya dari segala sisi. Allah yang menjaga dan mengingat amalan mereka, sampai nantinya akan memberikan hukuman..

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman yang artinya ; “...., Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan..” (QS. Al-Baqarah : 233)

“...., Dan Allah Maha Melihat akan hamba hambaNya..” (QS. Ali Imran: 15, 20) “...., Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada, dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan..” (QS. Al-Hadid : 4)

“Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu..” (QS. Al-Mulk : 19)

Ada satu ungkapan : Sesungguhnya diantara cara Allah untuk mengangkat kedudukan seorang hamba ke tingkatan yang tinggi di hari kiamat kelak, adalah dengan mengujinya dengan kesabaran.

Bisa jadi seorang hamba itu kurang amalannya pada suatu bagian dari ibadahnya.

Alasannya, karena jika kita melihat amalan ibadah seperti shalat, bisa jadi kita kurang khusyu', puasa bisa jadi kurang ikhlas, sedekah bisa jadi ada rasa riya', menuntut ilmu ada kalanya muncul ujub, dan seterusnya.

Tapi ketika seseorang mampu bersabar, kemungkinan besar ia akan ikhlas, maka balasannya pun tak terhingga, sebagaimana firman Allah "Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Zumar : 10)

Ketahuilah, sabar itu ada 3 : 1) sabar dalam melakukan kebaikan, 2) sabar dalam menjauhi keburukan, dan 3) sabar terhadap takdir dari Allah. In sya Allah bermanfaat.  fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH ZULHIJJAH, oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Senin 3 Zulhijjah 1445 H, 10 Juni 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuh 

Konsisten Berbuat Kebaikkan

Konsisten dalam kebaikan sangat penting untuk menuju akhir hidup yang baik dan setiap diri sangat bergantung kepada amal kebaikannya.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: "Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. An-Naml : 97)

Allah Azza Wa Jalla senantiasa memberikan segalanya yang terbaik untuk kita sesuai dengan takaranNya...

Imam Syafi'i mengatakan, "Hatiku merasa lega mengetahui bahwa apa yang telah ditakdirkan untukku tidak akan pernah luput dariku, dan apa yang telah luput dariku berarti memang tidak pernah ditakdirkan untukku."

Wahai diri, berhati hatilah terhadap kehidupan di dunia, karena sesungguhnya dunia seisinya dilaknati oleh Allah Azza Wa Jalla, 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Dunia dan seluruh isinya dilaknati, kecuali dzikir mengingat Allah, taat padaNya (mau mengikuti tuntunan), orang yang berilmu (seorang alim) atau orang yang belajar ilmu agama.” (HR. Ibnu Majah 4112; Tirmidzi 2322)

Berdasarkan  Hadits di atas seakan-akan maksudnya adalah dunia itu dicela, kecuali bagi yang rajin berdzikir, yang beribadah pada Allah Azza Wa Jalla, seorang alim, atau yang mau belajar atau mendalami agama...

Dari Al-Hasan Al-Bashri, dari Abu Ad-Darda’, ia berkata, “Jadilah seorang alim atau seorang yang mau belajar, atau seorang yang sekedar mau dengar, atau seorang yang sekedar suka, janganlah jadi yang kelima.” Humaid berkata pada Al-Hasan Al-Bashri, yang kelima itu apa. Jawab Hasan, “Janganlah jadi ahli bid’ah yang beramal asal-asalan tanpa panduan ilmu." (Al-Ibanah Al-Kubra karya Ibnu Batthah)

Sesungguhnya barangsiapa yang berendah diri, tunduk dan taat terhadap perintah Allah Azza Wa Jalla, niscaya Allah Azza Wa Jalla akan meninggikan kedudukannya dan mengharumkan namanya. 

"Niscaya Allah akan meninggikan orang orang yang beriman di antaramu dan orang- orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Mujadilah: 11)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah meridhai tiga hal dan membenci tiga hal bagi kalian. Dia meridhai kalian untuk menyembahNya, dan tidak menyekutukan sesuatu pun denganNya, serta berpegang teguhlah kalian dengan tali Allah dan tidak berpecah belah. 

Dia pun membenci tiga hal bagi kalian, menceritakan sesuatu yang tidak jelas sumbernya ( _qiila wa qaal_), banyak bertanya, dan membuang-buang harta.” (HR. Muslim, no 1715)

Jangan mudah hanyut terlena oleh kenikmatan dan kemegahan di dunia, karena pasti akan dimintai pertanggung jawabannya,

“Kemudian kamu pasti akan ditanya tentang kenikmatan yang kamu bermegah megahan di dunia itu.” (QS. At Takaatsur : 8). In sya Allah bermanfaat. fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH ZULHIJJAH, oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Ahad 2 Zulhijjah 1445 H, 9 Juni 2024

Assallammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuh 

Taqwa kepada Allah dan Istiqamah Ikuti Al-Qur’an As-Sunnah

Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kita kepada taqwa. "Dan kita diperintahkan untuk bertaqwa kepadaNya sebagaimana disebutkan dalam ayat, : “Hai orang- orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepadaNya; dan janganlah sekali- kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran : 102)

Pentingnya istiqamah yaitu berada terus di atas jalan yang lurus, mengikuti ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Ada beberapa ayat yang membicarakan tentang istiqamah , antara lain : Allah berfirman : “Sesungguhnya orang orang yang mengatakan: Tuhan kami ialah Allah, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada pula berduka cita.” (QS. Al-Ahqaf : 13) 

Allah berfirman : “Sesungguhnya orang orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS. Fushshilat : 30)

Allah juga berfirman : “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan juga orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hud: 112)

Juga dalam hadits disebutkan, dari Abu ‘Amr ia berkata : “Aku berkata : Wahai Rasulallah katakanlah kepadaku suatu perkataan dalam Islam yang aku tidak perlu bertanya tentangnya kepada seorang pun selainmu.” 

Beliau bersabda, : “Katakanlah : aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim, 38)

Bagaimana cara istiqamah ? Ada tiga kiat utama yang bisa diamalkan agar kita bisa istiqamah di jalan yang lurus, antara lain yaitu : 

Bergaul dengan orang yang sholeh

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Seseorang yang duduk berteman dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. 

Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. 

Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari : 2101)

Rajin hadiri majelis ilmu

Karena orang yang punya banyak dosa saja bisa banyak terpengaruh. Dalam hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda ketika itu para malaikat berkata :

“Wahai Rabbku, di kalangan mereka ada seorang hamba yang banyak sekali kesalahannya. Ia hanya melewati saja majelis ilmu lalu ikut duduk bersama mereka.” 

Lalu Allah berfirman : “Aku pun mengampuninya, mereka adalah satu kaum yang tidak akan sengsara orang yang duduk bersama mereka.”

Memperbanyak doa kepada Allah

Allah Ta’ala berfirman, “Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi karunia.” (QS. Ali Imran: 8). In sya Allah bermanfaat. fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy.  Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH DZULHIJJAH, oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Sabtu 2 Dzulhijjah 1445 H, 8 Juni 2024

Assallammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuh 

Hakikat Taqwa kepada Allah

Rasulullah bersabda : “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim) 

Sesungguhnya kenikmatan Allah kepada kita sangat banyak. Oleh karena itu, kita wajib bersyukur dengan sebenar benarnya atas semua kenikmatan itu. Yaitu bersyukur dengan hati, lisan dan anggota badan.

Bersyukur dengan dengan hati, yaitu dengan mengakui bahwa kenikmatan itu datang dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bersyukur dengan lisan, yaitu dengan memuji Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan menyebut-nyebut kenikmatan tersebut, jika tidak dikhawatirkan hasad.  Dan bersyukur dengan anggota badan, yaitu menggunakan anggota badan kita ini untuk taat kepadaNya, dengan bertaqwa kepadaNya secara sebenar  benarnya. Taqwa ini merupakan perintah Allah kepada seluruh manusia. 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : "Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabbmu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang  biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan mempergunakan namaNya, kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu". (QS. an Nisaa : 1)

Taqwa adalah, engkau mengamalkan ketaatan kepada Allah, di atas cahaya dari Allah, engkau mengharapkan rahmat Allah. 

Engkau meninggalkan kemaksiatan kepada Allah, di atas cahaya dari Allah, engkau takut siksa Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 

Keutamaan taqwa sangat sering kita dengar, antara lain firman Allah : "Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar". (QS. ath Thalaq : 2)

Juga firmanNya, "Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya". (QS. ath Thalaq : 4)

Dan firmanNya, "Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan menutupi kesalahan kesalahannya, dan akan melipatgandakan pahala baginya". (QS. ath Thalaq : 5)

Kita berharap, semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala membersihkan jiwa kita dan memberikan ketaqwaan pada hati kita, yang ketaqwaan itu muncul pada lisan dan perbuatan kita semua.

Diatas adalah  sebagian diantara keutamaan keutamaan taqwa, tidakkah kita ingin meraihnya ? Kalau kita ingin meraihnya, maka kita harus mengetahui, apakah taqwa itu, dan bagaimana jalan menempuhnya.

Taqwa, secara bahasa artinya melindungi diri. Yaitu seseorang melakukan sesuatu untuk melindungi dirinya dari perkara yang dia takuti dan dia khawatirkan.

Adapun taqwa hamba kepada Rabbnya adalah, hamba itu melindungi dirinya dari kemurkaan dan siksa Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 

Yakni dengan cara beribadah, yaitu melaksanakan ketaatan kepadaNya dan menjauhi kemaksiatan kepadaNya.

Thalq bin Habib rahimahullah berkata : Taqwa adalah, engkau mengamalkan ketaatan kepada Allah, di atas cahaya dari Allah, engkau mengharapkan rahmat Allah . 

Engkau meninggalkan kemaksiatan kepada Allah, di atas cahaya dari Allah, engkau takut siksa Allah. 

Perkataan Thalq bin Habib ini menjelaskan hakikat taqwa. Bahwa di dalam taqwa harus ada amal, iman, serta ikhlas.

Adapun untuk bisa meraih amal, iman dan ikhlas tersebut membutuhkan ilmu , penjelasan ketiganya adalah sebagai berikut:

Amal

Amal adalah perbuatan. Yaitu dengan melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. 

Amal akan diterima, jika mengikuti syariat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. 

Dan sudah pasti, seseorang tidak dapat mengetahui syariat Islam, kecuali dengan ilmu.

Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Pondasi taqwa adalah, seorang hamba mengetahui apa yang harus dijaga, kemudian dia menjaga diri darinya”.

Barangsiapa meninggalkan amal, maka dia akan menyesal. Allah berfirman : Dan orang-orang kafir, bagi mereka neraka Jahanam. Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati, dan tidak pula diringankan dari mereka adzab nya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir. 

Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, “Ya Rabb kami, keluarkanlah kami, niscaya kami akan mengerjakan amal shalih berlainan dengan yang telah kami kerjakan”. 

Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan apakah tidak datang kepada kamu pemberi peringatan, maka rasakanlah adzab Kami dan tidak ada bagi orang-orang yang dzalim seorang penolongpun. (QS. Fathir : 36-37)

Iman

Imam Ibnul Qayyim rahimahulalh menyatakan, : “Perkataan Thalq bin Habib) di atas cahaya dari Allah sebagai isyarat kepada iman, yang merupakan sumber amalan, dan yang menjadi pendorongnya".

Seseorang yang melaksanakan perintah Allah dan menjauhi laranganNya, jika tanpa landasan iman, maka amalan itu tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Allah berfirman : "Dan orang-orang yang kafir, amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu, dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. 

Dan didapatinya ketetapan Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal- amalnya dengan cukup, dan Allah sangat cepat perhitunganNya". (QS. an Nuur : 39)

Sebagaimana syarat amal adalah ilmu, maka demikian juga untuk mengetahui iman, juga diperlukan ilmu.

Ikhlas

Perkataan Thalq bin Habib “mengharapkan rahmat Allah” ketika mengamalkan ketaatan, dan “takut siksa Allah” ketika meninggalkan kemaksiatan, merupakan isyarat terhadap ikhlas. Kita mengetahui, bahwa amalan yang tidak ikhlas, juga akan ditolak oleh Allah.

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda,: “Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :  ‘Aku dipersekutukan, padahal Aku tidak membutuhkan persekutuan. Barangsiapa beramal dengan amalan untukKu, dia menyekutukan selain Aku di dalam amalan itu, maka Aku berlepas diri darinya, dan amalan itu untuk yang telah dia sekutukan."(HR.Ibnu Majah 4202)

In sya Allah hal tersebut diatas dapat mendorong kita untuk giat menuntut ilmu agama, kemudian istiqamah mengamalkannya. Dan semoga kita selalu bertaqwa kepada Allah Ta’ala sampai kita menghadapNya dalam keadaan Islam.

In sya Allah bermanfaat dan membawa berkah bagi kita semua, serta bisa menjadi penyebab kita untuk meningkatkan ibadah, ketaqwaan, keimanan, dan menjauhi segala larangan. In sya Allah bermanfaat.  fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH DZULHIJAH oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Jum'at 01 Dzulhijah 1445 H, 07 Juni 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi wabarrakatuh

Jangan Merasa Lebih Baik

JUMAH MUBARAK, hari ini telah masuk bulan DZULHIJAH. In sya Allah di salahsatu bulan suci nan mulia ini kita sekeluarga mendapatkan barakahnya, aamiin... Adab seorang muslim itu tidak merasa dirinya paling baik dari saudaranya.

Allah Ta’ala berfirman, "Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa." (QS. An Najm : 32). Mengenai ayat ini, Syaikh Abdurrahman As-Si’di  menerangkan bahwa terlarangnya orang- orang beriman untuk mengabarkan kepada orang-orang akan dirinya yang merasa suci dengan bentuk suka memuji- memuji dirinya sendiri. (Tafsir Karimir Rahman)

Kebiasaan merasa diri suci merupakan perbuatan yahudi dan nasrani yang jelas- jelas dicela oleh Allah Ta’ala "Dan mereka berkata, kami sekali- kali tidak akan disentuh api neraka kecuali selama beberapa hari saja.” (QS. Al Baqarah: 80)

Bahkan, saking merasa sucinya, mereka merasa bahwa hanya merekalah yang paling layak masuk surga. "Dan mereka berkata, Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang yahudi dan nasrani.” (QS. Al Baqarah: 111)

Sehingga Allah Ta’ala cela kebiasaan mereka ini: "Apakah kami tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih. Sebenarnya Allah mensucikan siapa yang dikehendakiNya dan mereka tidak dianiaya sedikit pun.” (QS. An-Nisa: 49)

Rasulullah Shalallahu ‘Allaihi Wasallam bersabda: "Janganlah kalian merasa diri kalian suci, Allah lebih tahu akan orang-orang yang berbuat baik di antara kalian.” (HR. Muslim). In sya Allah kita semua selalu dalam keadaan sehat, sabar, ikhlas, bersyukur serta istiqamah dalam ketaatan. Aamiin Yaa Rabbal Alamiin. In sya Allah bermanfaat fimdalimunthe55@gmail.com 

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH DZULQA'DAH oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Kamis 29 Dzulqa'dah 1445 H,  6 Juni 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuh 

Menjaga Iman dan Ukhuwah serta Peduli Sesama Muslim

Marilah kita sekalian selalu berusaha meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah dengan terus berusaha menjalankan seluruh perintahNya dan menjauhi semua laranganNya. In sya Allah, Allah selalu memberikan bimbingan dan kekuatan kepada kita sehingga kita selau dalam keimanan dan ketaqwaan kepadaNya. Aamiin.

Iman adalah pengakuan yang kuat dan mendalam dengan hati yang diucapkan dengan lisan dan diwujudkan dalam perbuatan. Jadi ketika kita beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka kita menyakini betul tentang adanya Allah dan hari akhir serta melakukan sebagaimana seharusnya manusia menjadi hambaNya Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Akan tetapi orang yang tidak beriman dia tidak peduli dengan tanggung jawab orang beriman. Di sisi lain, orang yang lemah imannya dia tidak maksimal dalam mengaktualisasikan keimananya dalam kehidupan sehari-hari seperti tidak menyesal berbuat dosa, beribadah tidak dengan hati, hatinya keras dan beku sehingga tak peduli, tidak terpengaruh dengan ayat-ayat Al-Qur’an, tidak sabaran dan sulit memaafkan, serta serakah. Bentuk usaha menguatkan iman yang dapat kita lakukan antara lain adalah sebagai berikut :

Memperbaiki ibadah shalat. Shalat adalah wahana komunikasi hamba dengan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dan kesempatan bagi hamba untuk banyak mengadu dan bercengkerama dengan Allah Subhanahu Wa Ta'ala Tuhan kita. 

Jika manusia sebagai seorang hamba dapat membuat ibadah sholatnya untuk bisa berkomunikasi tentang banyak hal dengan Allah, maka kita akan menjadi hamba yang baik yang dapat menjalani hidup dengan baik pula.

Di sisi lain ternyata kita sebagai manusia ciptaanNYA terkadang juga tidak pandai menjadikan sholatnya menjadi wahana untuk berkomunikasi yang baik dengan Allah Subhanahu Wa Ta'ala Tuhan kita. 

Dengan berbagai gangguan dan godaan dan mungkin juga konsentrasi atau kefokusannya. Untuk itu perlulah kiranya belajar dan mencari tahu agar kiranya bisa menjalani ibadah shalat dengan khusyuk dan benar mengingat sholat dapat mencegah perbuatan yang keji dan mungkar. 

Allah berfirman: ’’Bacalah Kitab Al-Qur'an yang telah diwahyukan kepadamu Muhammad dan laksanakanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan ketahuilah mengingat Allah Subhanahu Wa Ta'ala dengan shalat itu lebih besar keutamaannya dari ibadah yang lain. Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Ankabut : 45)

Sesama Muslim peduli dan menjaga ukhuwah. Menjaga ukhuwah Islamiyah dan memupuk rasa peduli kepada sesama muslim menjadi hal penting dalam rangka menjaga kedamaian dan kenyamanan persaudaraan. Sejatinya, muslim satu dengan muslim lainnya ibarat satu tubuh, bagian satu dengan bagian lainnya saling membutuhkan dan saling melengkapi.

Ketika manusia hidupnya nyaman dan damai serta penuh dengan kasih sayang akan lebih mudah dan baik dalam beribadah sehingga imannya lebih terjaga bahkan lebih kuat lagi. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

“Orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga tidak bisa tidur dan panas turut merasakan sakitnya.” (HR. Muslim)

Perbanyak intropeksi dan mengoreksi diri. Banyak manusia merasa bahwa dirinya telah banyak berbuat baik, bahkan berasa menjadi ahli surga, karena cenderung yang diingat adalah amal baik yang telah dilakukan, melupakan hal buruk yang telah dilakukan. 

Oleh karenanya sangat perlu untuk sering melakukan hisap diri dan koreksi diri dengan baik dan maksimal agar lebih mengetahui seberapa besar kebaikan- kebaikan yang dilakukan dikomparasi atau dikurangi dengan keburukan yang sudah dilakukan sebelum mendapat sampai pada hisabnya Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Jika kita sering menghisap diri, maka akan lebih mengontrol terhadap perbuatan- perbutan kita di masa datang jika kebaikan dan rahmat Allah yang kita inginkan. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman : ’’Wahai orang-orang yang beriman ! Bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok atau akhirat, dan bertaqwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hasyr : 18)

Bergaul dengan orang yang sholeh. Manusia adalah mahluk sosial, karenanya manusia membutuhkan teman, dan semakin banyak teman dia semakin baik dalam sosialisasinya. Teman yang baik akan memengaruhi kebaikan teman lainya, begitu juga sebaliknya. 

Agar kita menjadi baik, khususnya dalam akhlak atau perilaku, maka kita harus mencari dan berteman dengan orang sholeh agar mudah menjadi orang yang sholeh. Jangan sebaliknya banyak bergaul dengan orang yang sering mengajak kepada maksiat dan mungkarat. 

Rasulullah bersabda: ’’Seseorang yang duduk berteman dengan orang sholeh dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. 

Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari 2101)

Memperbanyak doa kebaikan iman kepada Allah. Doa merupakan harapan mahluk kepada Tuhan agar memperoleh seperti apa yang di cita- citakan. Kebaikan- kebaikan disampaikan agar terwujud yang diharapkan. 

Semakin sering doa disampaikan pada watu dan tempat yang mustajabah menjadi penting, karenanya perlulah mengetahui waktu-waktu dan tempat yang mustajabah. Doa yang disampaikan kepada Allah pasti Allah akan kabulkan. 

Soal kapan dan bagaimana pengabulannya itu menjadi hak prerogatif Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Jika belum terkabul itu artinya belum waktunya yang pas untuk dikabulkan doanya oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala sehingga yang berdoa agar berdoa di waktu dan tepat yang benar serta diulang-ulang karena keseriusannya. Sepenggal doa yang Allah ajarkan dalam Al-Qur’an:

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi karunia.” (QS. Ali Imran: 8)

"Dan barangsiapa mengerjakan amal- amal yang saleh dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya. Dan demikianlah Kami menurunkan Al Quran dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali, di dalamnya sebahagian dari ancaman, agar mereka bertakwa atau (agar) Al Quran itu menimbulkan pengajaran bagi mereka." (QS.Thahaa 112-113). In sya Allah bermanfaat fimdalimunthe55@ gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH DZULQA'DAH oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Rabu 28 Dzulaqa'dah 1445 H, 5 Juni 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuh 

Suasana SURGA yang Digambarkan dalam AL-QUR'AN   

Keistimewaan surga dan kenikmatan yang ada di dalamnya digambarkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam hadits qudsi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, "Aku (Allah) telah menyediakan untuk hamba-hambaKu yang saleh suatu balasan (surga) yang belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas di dalam hati.” (HR. Bukhari)

Setelah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam menggambarkan surga, Beliau kemudian membaca ayat Alquran, “Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. as-Sajadah : 17)

Kenikmatan yang diberikan Allah Subhanahu Wa Ta'ala di dalam surga bersifat kekal, tidak pernah habis, dan banyaknya tak terhitung. Dari semua kenikmatan tersebut, nikmat yang paling tinggi yang akan dirasakan penghuni surga ialah menyaksikan Allah Subhannahu Wa Ta'ala. Seperti diterangkan dalam firmanNya, "Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Memandang Tuhannya." (QS al-Qiyamah,22-23)

Luas surga digambarkan seluas langit dan bumi. Seperti diterangkan Alquran, "Bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang orang yang bertakwa. (QS. Ali Imran : 133)

Disebutkan pula, di dalamnya mengalir sungai-sungai yang bermacam-macam dan diberi nama sesuai dengan keadaan dan sifat airnya. Ada sungai air jernih, yaitu airnya selalu dalam keadaan jernih, tidak berubah rasa dan baunya. 

Ada pula sungai susu karena airnya terdiri atas air susu yang juga tidak berubah rasanya. Kemudian, ada juga sungai arak (khamar), yaitu airnya terdiri atas khamar yang sangat lezat rasanya, tapi tidak memabukkan. 

Selanjutnya, ada pula sungai madu, yang airnya terdiri atas KAmadu yang disaring. (QS. Muhammad : 15). Perhiasan yang diberikan kepada penghuni surga terdiri atas emas, mutiara, serta pakaian yang terbuat dari sutra. (QS. Fathir : 33). "baik sutra yang halus tipis maupun tebal". (QS. ad-Dukhan : 53). In sya Allah bermanfaat fimdalimunthe55@gmail.com 

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy.  Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH DZULQA'DAH, oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Selasa 27 Dzulqa'dah 1445 H, 4 Juni 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuh 

Pertanyaan Orang yang Tersesat

Di era moderen dan milenial ini banyak kalangan yang mempermasalahkan hikmah yang Allah kehendaki dari perbuatanNya, dan mengorek-ngorek masalah tanpa arahan nash yang shohih. Hal ini adalah sumber kesesatan !!

Dan ini bukanlah hal baru, tapi sudah sejak dahulu dikatakan oleh Syaikhul Islam -rohimahullah-, beliau mengatakan ;

“Sumber kesesatan makhluk Allah dari semua kelompok adalah mencari-cari sebab Allah melakukan perbuatanNya” (Qosidah Ta’iyyah fil Qodar no 6, hal: 116)

Dan inilah yang sekarang banyak digunakan oleh sebagian musuh Islam dalam usahanya menyesatkan kaum muslimin. Maka jangan heran dengan perkataan-perkataan seperti,

- Mengapa Allah menyuruh Iblis untuk bersujud kepada Adam padahal Dia tahu Iblis tidak akan mau melakukannya ?!

- Mengapa wahyu pertama turun di Gua Hira, bukan di Masjid ?! Mengapa Allah menciptakan babi, lalu mengharamkannya ?!

- Mengapa Allah tidak menjadikan manusia masuk surga semuanya ?! Mengapa Allah tidak menjadikan manusia tanpa nafsu, biar selalu taat kepada-Nya ?!

Dan masih banyak contoh-contoh lainnya.. setiap orang akan sangat mudah membuat pertanyaan-pertanyaan seperti itu.. sehingga hanya orang yang jahil saja, yang beranggapan bahwa jika dirinya bisa membuat pertanyaan seperti itu, berarti sudah tinggi ilmunya.. sama sekali tidak, bahkan itu MENUNJUKKAN KEJAHILAN DIA dan KEDANGKALAN PIKIRANNYA.

Ada beberapa kaidah yang bisa menjadi jawaban bagi varian pertanyaan seperti di atas, diantaranya:

1. Bahwa Allah adalah maha tinggi hikmah dan kebijaksanaanNya, sehingga tidak pantas ditanya lagi mengapa melakukan ini dan itu. Pertanyaan seperti itu hanya pantas ditujukan kepada makhlukNya yang lemah kemampuannya dan dangkal pikirannya. (QS. Al-Anbiya: 23)

Cobalah kita masuk ke ruang kokpit pilot, di sana akan kita temukan banyak sekali tombol yang kita tidak tahu fungsinya, apakah kita akan mempermasalahkannya ?! Tentunya tidak, karena kita yakin bahwa tidak ada satupun tombol dibuat kecuali ada hikmah dan tujuannya !

Jika ini pada perbuatan manusia yang ilmunya terbatas, bagaimana dengan perbuatan Allah yang ilmunya tanpa batas !

2. Bahwa semua perbuatan Allah pasti memiliki hikmah yang tinggi di baliknya, karena “Dia adalah Al-Hakiim dan Al-Aliim” (maha tinggi hikmah dan ilmuNya). (QS. Azzukhruf : 84)

Adapun ketidak-tahuan kita akan hikmah yang Allah inginkan dalam melakukan sesuatu, maka itu bukan berarti hikmah itu tidak ada.. tapi karena AKAL KITA YANG LEMAH INI TDAK MAMPU MENJANGKAUNYA. “Sungguh manusia sangat zholim dan sangat bodoh” (QS. Al-Ahzab: 72)

Hal ini sebagaimana akal manusia seringkali tidak bisa menjangkau fungsi organ pada makhluk ciptaan Allah.. di saat itu mereka akan mengatakan organ ini tidak ada fungsinya.. tapi setelah berjalannya waktu, ternyata mereka menemukan fungsi organ tersebut.. Ingat, sebabnya adalah karena kejahilan manusia, bukan karena ada yang kurang pada perbuatan Allah ta’ala.

Lihatlah, betapa banyak ayat dan hadits yang baru bisa dibuktikan keilmiahannya di zaman modern ini, padahal dahulunya mereka mengolok-oloknya !

3. Allah telah menjelaskan banyak hikmah yang Dia inginkan dari perbuatannya, baik dalam Al Qur’an maupun melalui lisan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam maka terimalah penjelasan itu dengan apa adanya.

Adapun yang tidak dijelaskan olehNya, maka jika akal kita bisa menjangkaunya, alhamdulillah itulah yang diharapkan. Jika akal kita tidak bisa menjangkaunya, maka katakanlah bahwa :

Allah itu maha tinggi hikmahNya, maha mengetahui segalanya, maha luas rahmatNya, dan maha tinggi keadilanNya.. Tidak ada satupun perbuatanNya yang luput dari hikmahNya.

Jika kita tidak tahu hikmah dari perbuatanNya, maka itu karena keterbatasan akal kita Bisa jadi ada orang lain yang mengetahuinya.. dan bisa jadi hanya Allah yang mengetahuinya.

Jadi, saudaraku kaum muslimin, jangan lagi dibuat bingung oleh perkataan mereka yang sedang bingung.. semuanya hanyalah barang usang yang mereka pungut lagi dari sampah masa lalu. In sya Allah bermanfaat. fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH DZULQA'DAH oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Senin 26 Dzulqa'dah 1445 H, 03 Juni 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuh 

Bagaimana Kita Menyikapi Ujian ?

Permasalahan memang tidak bisa kita hindari di dunia ini, karena Allah menciptakan dunia, yaitu sebagai tempat ujian bagi manusia. Bahkan para Nabi, manusia terbaikpun tidak luput darinya. Memang, kehidupan tidak mudah bagi siapapun, baik yang muda maupun yang tua. Kita mungkin merasakan bahagia pada suatu waktu, kemudian merasakan sedih setelahnya, tetapi inilah kehidupan di dunia. Lalu bagaimana sikap kita sebagai muslim dalam menghadapi ujian ?

Ujian merupakan hal yang Allah berikan kepada umatNya untuk menaikkan derajat mereka apabila mereka bersabar. Apa yang Allah ta’ala berikan kepada kaum Muslim itu baik bagi kita. Dari Shuhaib, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim,  2999)

Tidak ada yang tidak merasakan duka karena cobaan yang terjadi. Tetapi ketika kesedihan dan kesepian terus menerus ada dan mencegah kita untuk menjalani kehidupan normal, maka pada titik tersebut kesedihan berubah menjadi suatu penyakit yang perlu kita sembuhkan.

Tidak ada obat yang lebih baik daripada bersabar dan takut kepada Allah, serta berpikir positif atau huznudzan kepada Allah ‘Azza Wa Jalla, Tuhan yang menciptakan bumi ini. Taruhlah rasa percaya kepada Allah, mintalah bantuan kepada Allah. 

Ujian terkadang menjadi indikasi bahwa hubungan kita dengan Allah yang kurang baik. Semakin percayanya kita dengan Allah, maka semakin nyaman dan tenang hati kita. Begitu pula sebaiknya. Perasaan stres maupun sedih bisa timbul karena dosa yang kita lakukan. 

Allah ‘azza wa jalla berfirman :“Dan barangsiapa berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha:124)

Maka dari itu, perbaikilah hubungan kita dengan Allah. Semakin dekatnya hamba dengan Allah Sang Pencipta, maka semakin tenang hatinya. Hendaknya kita menghadap kepada Allah dengan ikhlas serta memperbanyak doa agar dihindarkan dari perasaan was- was dari setan, karena setan membisiki manusia untuk membuat kebingungan dan ketakutan.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengajarkan kita doa untuk melindungi diri dari kecemasan. “Wahai Allah ! Sesungguhnya saya adalah hambaMu, dan anak lelaki dari hambaMu yang lelaki dan anak lelaki dari hambaMu yang perempuan, nasib saya di tanganMu, hukumMu berlaku pada saya, ketetapanMu adil pada saya. Saya memohon kepadaMu dengan semua namaMu, yang Engkau telah menamai diriMu dengannya atau yang telah Engkau turunkan di dalam KitabMu, atau yang telah Engkau ajarkan kepada salah seorang dari makhlukMu atau yang telah Engkau sembunyikan di dalam ilmu gaib milikMu. Jadikanlah al-Qur’an sebagai penyejuk hati saya, cahaya dada saya dan penghilang kesedihan saya dan pelenyap rasa resah saya.”

Apabila kondisi semakin memburuk yang dapat mengindikasikan ke level depresi, maka selain cara-cara di atas, kita dapat menemui bantuan profesional seperti psikolog maupun psikiater. Berkonsultasi dengan pihak profesional dapat membantu kita dalam mengenal permasalahan dasar dan mengatasinya sedikit demi sedikit.

Perlu diingat, bukan suatu aib bagi kita untuk meminta tolong orang lain. Meminta tolong ke psikolog maupun psikiater merupakan salahsatu usaha kita untuk menjadi mukmin yang lebih kuat. Karena sesungguhnya Allah mencintai mukmin yang kuat, sebagaimana hadits yang dibawakan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, di mana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah Azza Wa Jalla daripada mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah. Apabila tertimpa musibah, janganlah engkau berkata, ‘Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini dan begitu’, tetapi katakanlah, ‘Ini telah ditakdirkan Allah, dan Allah berbuat apa saja yang Dia kehendaki’, karena ucapan seandainya akan membuka (pintu) perbuatan setan.” (HR. Muslim  2664)

Selain itu, hendaknya kita jangan menyendiri karena itu dapat memunculkan pemikiran-pemikiran negatif yang dapat membahayakan diri. Carilah kegiatan- kegiatan positif yang baru serta ubahlah kebiasaan. Berkumpullah dengan orang-orang saleh, hadiri majelis-majelis ilmu walaupun terasa berat. In Sya Allah bermanfaat fimdalimunthe55@gmail.com - pendopokabsdjo antarjamhaji83-84

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH DZULQA'DAH oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir alquran dan alhadits, Ahad 25 Dzulqa'dah 1445 H, 02 Juni 2024

Assalammualaikum warrahmatallahi wabarrakatuhu

Meraih Hidayah di Setiap Waktu 

Rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala sungguh tak terbilang. DIA jadikan waktu dan musim yang penuh fadhilah, penuh hidayah, penuh rahmat bagi siapa yang mau mencarinya. Antara waktu sholat dengan sholat lainnya merupakan kesempatan penghapusan dosa. Begitulah tiap harinya. Sepertiga malam terakhir merupakan puncaknya. Dalam bilangan minggu, Allah jadikan hari Jum’at sebagai hari yang mulia, terkhususnya ada satu saat yakni --ba'da Ashr hingga jelang Maghrib-- dimana doa tidak tertolak pada hari tersebut. 

Dalam bilangan bulan dan tahun, Allah jadikan satu bulan yang fadhilahnya tiada ditemui pada bulan yang lain. Begitulah pada tiap tahunnya. “…Wahai hamba- hambaKu, kalian semua tersesat, kecuali orang yang Aku beri hidayah, maka mintalah hidayah itu kepadaKu, niscaya kuberikan hidayah itu kepadamu…”

Potongan hadits Qudsy riwayat Muslim diatas ini mengajak kita untuk senantiasa memohon hidayah kepada Allah. Ia mengingatkan kepada kita tentang sebuah hakikat manusia, bahwa manusia hakekatnya yaitu tersesat kecuali siapa yang Allah kehendaki.

Berdoa dan memohon hidayah dan keteguhan selalu kepada Allah mutlak diperlukan. Betapa mahal sebuah hidayah. Bagaimana tidak mahal, ia hanya akan datang pada orang-orang yang Allah kehendaki karena hikmahNya bahwa memang orang tersebut benar- benar menginginkan hingga semua usaha telah ia coba, usaha untuk mendapatkan sebuah hidayah yang teramat mahal. 

Tetapi bagi mereka yang tiada mencoba meraihnya, tentu termasuk dalam golongan “dan Allah menyesatkan bagi siapa saja yang Dia kehendaki”. Sungguh benar Firman Allah dalam surat Al Ankabut: 69, “Dan orang-orang yang bersungguh berupaya di jalanKu, niscaya Aku tunjuki jalannya”.

Apakah tanggung jawab kita terhadap hidayah ini ? Akankah kita jaga selalu dan menyiraminya dengan doa dan amalan sholih sebagaimana Rasulallah yang selalu mengajari kita untuk berdoa memohon hidayah kepada Allah. 

Bukankah dalam tiap sholat fardhu dengan jumlah 17 rakaat setiap hari kita mengucapkan “Ihdinas shiraatal Mustaqiim”, sebuah doa dan permohonan yang berarti, “Tunjuki kami ke jalan yang lurus”, doa yang diucapkan oleh seorang muslim sebanyak 17 kali minimal dalam tiap harinya, belum lagi jika ditambah rakaat sunnah yang lain, tentunya akan menjadi lebih dari 17 kali kita memohon sebuah hidayah dalam kehidupan kita. Teguhkanlah kami padanya, yaitu pada jalan yang lurus, ialah agama Allah, ialah Al Qur’an dan As sunnah, ialah Islam, Iman dan ketakwaan.

Doa yang termaktub dalam surat Ali Imran: 8, juga tak kalah pentingnya untuk “Ya Tuhan kami, janganlah Kau condongkan hati kami setelah Kau beri hidayah, dan karuniakan rahmat kepada kami dari sisiMu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi”. Rasul pun mengajari kita dengan doa yang lain; "Allahumma innii as’alukal hudaa wat tuqaa wal afaafa wal ghina", "ya Allah aku memohonMu hidayah, ketaqwaan, kemuliaan dan berkecukupan."

Begitulah Rasul yang telah dijamin surga oleh Allah, orang yang paling bertakwa ini selalu mengucapkan doa tersebut, hingga nyata bagi kita untuk mentauladaninya. In sya Allah kita semua dapat meraih hidayahNYA dan menjaganya hingga ajal  menjemput. Wallahu a’lam bis shawab. In Sya Allah bermanfaat fimdalimunthe55@gmail.com 

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy  Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH DZULQA'DAH oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Sabtu 24 Dzulqa'dah 1445 H, 01 Juni 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuh 

Selagi Sehat Lakukan Muhasabah An-Nafs (Introspeksi dan Evaluasi Diri)

DIANTARA IBADAH yang agung adalah muhasabah an-nafs. Yaitu seorang hamba senantiasa menghisab jiwa, mengintrospeksi, mengoreksi, dan mengevaluasi dirinya tentang apa yang telah dia perbuat dalam keseharian sebagai persiapan untuk hari esok di akhirat. 

Karena kita menyadari bahwa dunia yang kita tinggali ini hanya bersifat sementara, kita pasti akan wafat, kemudian mempertanggung jawabkan segala perbuatan kita di akhirat.

Kita harus menyadari bahwa saat ini, kita hidup di suatu zaman yang sangat memungkinkan kita berbuat maksiat setiap harinya. Ketika kita membuka media sosial, semacam facebook, instagram, X (twiter), atau menonton youtube, sadar atau tidak sadar kita telah mengumbar pandangan. Keseharian kita mungkin dipenuhi dengan ghibah dan namimah, membicarakan dan mengorek aib si fulan dan si fulan.

Oleh karena itu, di zaman ini kita sangat butuh muhasabah an-nafs. Caranya, kita berusaha menyisihkan waktu untuk menghisab dan mengevaluasi diri kita. Karena kalau tidak, kita akan lepas kontrol dan semakin jauh terperosok ke dalam kubangan maksiat. Lalu tanpa sadar, tiba-tiba kita dipanggil oleh Allah Ta’ala. Ini yang hendaknya selalu kita khawatirkan atas diri kita sendiri.

Dalil pokok dalam hal ini adalah firman Allah Ta’ala, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga.Penghuni- penghuni surga, itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 18-20). Muhasabah an-nafs juga bisa dilakukan sebelum melakukan suatu amal atau perbuatan. Misalnya, ketika kita ingin posting sesuatu di media sosial, kita muhasabah jiwa kita, apakah ada manfaatnya? 

Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mengevalusi diri kita setiap harinya. Apakah hari ini kita menyempatkan untuk berdzikir pagi- petang ? Atau, apakah hari ini kita shalat lima waktu berjamaah di masjid ? Atau, pada waktu antara azan dan iqamah, apakah kita manfaatkan untuk berdoa kepada Allah, atau kita hanya ngobrol dengan orang lain ? Demikianlah seterusnya untuk perkara-perkara yang lainnya. In Sya Allah bermanfaat. Menulis nasihat untuk diri sendiri. fimdalimunthe55@gmail.com 

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH DZULQA'DAH oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Jumat 23 Dzulqa'dah 1445 H, 31 Mei 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuh 

Sebab Pertolongan Allah

JUMAH MUBARAK... EPCDH kemarin terkait dengan segala sesuatu adalah takdir Allah. Hari ini kita lanjutkan dengan kenapa pertolongan Allah terjadi ? Allah menjadikan segala hal menjadi sebab. Menjadi kewajiban orang- orang yang bertauhid dan beriman untuk mengambil sebab- sebab yang banyak tersebut di mana pun dia berada karena dia adalah orang-orang yang diberikan petunjuk oleh Allah Ta’ala.

Tauhid dan ikhlas dalam amal, merupakan sebab terbesar pertolongan Allah. Allah Ta’ala berfirman: “Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepadaNya lagi hanif.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Hal ini juga terdapat di dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim tentang 3 orang yang terperangkap di dalam gua. Dan mereka berdoa kepada Allah meminta pertolongan dengan bertawasul dengan amal-amal mereka. Karena mereka beramal ikhlas kepada Allah, maka Allah tolong mereka.

Iman dan amal shalih akan menurunkan rahmat dan kasih sayang Allah Ta’ala kepada hambaNya, dan tidak diragukan lagi bahwasanya Allah Ta’ala pasti akan menolong hamba- hamba yang Dia sayangi. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Kami akan menolong rasul rasul Kami dan orang- orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari dihadirkannya para saksi (hari Kiamat).” (QS. Ghafir: 51)

“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sangat khianat lagi sangat kufur.” (QS. Al-Hajj: 38). Menolong Agama Allah, diantaranya dengan menegakkan dan mendakwahkan agama Allah, beramar ma’ruf dan nahi mungkar

Seorang yang beriman yang menolong agama Allah, menyebarkan syiar-syiar Islam, saling menasihati, dan memperingatkan kepada sesama muslim, maka Allah Ta’ala pun akan menolong mereka. Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7)

Bersatunya umat Islam di bawah syariat akan menambah kekuatan kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman, "Berpegang tegulah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai,” (QS. Ali- ‘Imran: 103)

“Maka, bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu dan taatlah kepada Allah dan RasulNya jika kamu orang- orang mukmin.” (QS. Al-Anfal: 1). Islam adalah agama yang kuat, maka jika kita menaati perintah Allah dan Rasul-Nya untuk bersatu teguh.

Di antara sebab menjemput pertolongan Allah selain dengan bersatu teguh harus disertai dengan persiapan agar kaum muslimin kuat dalam menghadapi musuh. Allah Ta’ala berfirman, "Jika seorang hamba menyerahkan seluruh urusannya kepada Allah Ta’ala dengan ikhtiar yang baik, maka Allah Ta’ala akan menolong hambaNya."

Allah Ta’ala berfirman, “Jika Allah menolongmu, tidak ada yang (dapat) mengalahkanmu dan jika Dia membiarkanmu (tidak memberimu pertolongan), siapa yang (dapat) menolongmu setelah itu? Oleh karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang- orang mukmin bertawakal.” (QS. Ali-’Imran: 160)

Kesabaran adalah indikator penting dalam menghadapi setiap permasalahan hidup. Kemenangan ada bersama kesabaran, dan bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Allah Ta’ala berfirman, “Jika kamu bersabar dan bertakwa, tidaklah tipu daya mereka akan menyusahkan kamu sedikit pun. Sesungguhnya Allah Maha Meliputi segala yang mereka kerjakan.” (QS. Ali- ‘Imran: 120)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda ; “Ketahuilah bahwa kemenangan bersama kesabaran, kelapangan itu bersama kesulitan, dan bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (HR. At-Tirmidzi  25)

Kesabaran dan shalat adalah indikator penting dalam setiap permasalahan hamba. Hendaknya seorang hamba meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala di setiap shalatnya, karena amal terbaik adalah shalat, dan shalat adalah salah satu ibadah yang memunculkan sikap tunduk dan perendahan diri kepada Allah Ta’ala. 

Allah Ta’ala berfirman: “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45). Allah Ta’ala berfirman, “Peliharalah semua salat (fardhu) dan salat Wusṭā. Berdirilah karena Allah (dalam shalat) dengan khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 238)

Di dalam shalat terdapat doa, isti’anah, sujud, dan ketundukkan serta perendahan diri paling maksimal di hadapan Allah Ta’ala. Semakin kita membutuhkan pertolongan kepada Allah, maka selayaknya kita semakin merendahkan diri kita kepada Dzat yang kita butuhkan pertolonganNya.

Sombong dan riya’ adalah tanda bahwa seseorang itu tidak ikhlas dalam amalnya, baik itu amalan hati ataupun badan, sedangkan ikhlas dalam amal adalah faktor terpenting agar seorang hamba mendapatkan pertolongan dari Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman, “Janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampung halamannya dengan rasa angkuh dan ingin dipuji orang (riya’) serta menghalang halangi (orang) dari jalan Allah. Allah Maha Meliputi apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Anfal : 47)

Doa adalah inti ibadah, maka membutuhkan keikhlasan di dalamnya serta ketundukan diri kepada Sang Pencipta. Allah Ta’ala berfirman “Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan).” (SQ. Ghafir : 60). Allah Ta’ala berfirman, “Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214). In sya Allah bermanfaat fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH DZULQA'DAH oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Kamis 22 Dzulqa'dah 1445 H, 30 Mei 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi wabarrakatuh

Segala Sesuatu atas Takdir Allah

Beriman kepada takdir Allah merupakan salah satu dari rukun iman ke 6. “Kemudian ia (Jibril) bertanya lagi, “Beritahukan kepadaku tentang Iman” Nabi menjawab, ”Iman adalah engkau beriman kepada Allah; malaikatNya; kitab- kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk.” Ia berkata, “Engkau benar.” (HR. Muslim No. 8)

Kita harus meyakini bahwa segala sesuatu memang sudah ditakdirkan oleh Allah Ta’ala sesuai dengan kadarnya. Maka tidak ada sesuatu pun yang luput dari takdir Allah, baik itu berupa kebaikan ataupun keburukan, ketaatan ataupun kemaksiatan, kekufuran ataupun keimanan, sakit ataupun sehat, kekayaan ataupun kefakiran, ilmu ataupun kebodohan, segala sesuatu berjalan sesuai dengan takdir dan tidak ada yang berkuasa atas hal itu, kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Allah Ta’ala mempunyai kehendak, begitupun Allah ciptakan manusia pun diberikan kehendak. Akan tetapi, kehendak manusia ditentukan oleh kehendak Allah, ia tidak berdiri sendiri. Allah Ta’ala berfirman, “Kamu tidak menghendaki (sesuatu) kecuali apabila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Insan: 30). “Kamu tidak dapat berkehendak, kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At-Takwir: 29)

Maka, Allah menciptakan kehendak pada manusia itu adalah bagian dari kehendak Allah yang merupakan sifatNya. Hal ini bertentangan dengan apa yang diyakini oleh sekte Jabariyah yang mengatakan bahwa manusia ini “dipaksa” dan tidak punya kehendak, juga sekte Qadariyah yang meniadakan kehendak Allah pada perbuatan-perbuatan hamba, dan perbuatan hamba itu berdiri sendiri tanpa kehendak Allah. Maka ini adalah kekeliruan yang nyata dalam menetapkan kehendak Allah. Sudah Sunnatullah bahwa manusia di dunia tidak selalu dikelilingi oleh rasa bahagia dan senang. Akan tetapi, roda terus berputar, ada saatnya manusia diliputi dengan kesulitan, musibah, dan ujian. 

Allah Ta’ala berfirman, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah- buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155). “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji ?” (QS. Al-’Ankabut : 1)

Kita harus meyakini bahwa setiap masalah ada solusinya, dan sebagai umat yang beriman, kita harus menempuh sebab-sebab pertolongan Allah. Allah melingkupi segala sesuatu dan Allah mengetahui kondisi setiap hambanya. Akan tetapi, ketika manusia diliputi masalah, kadang kala manusia tidak menyadari ada solusi dari Allah dari setiap permasalahan yang dialaminya karena masalah tersebut sudah mengganggu akalnya. Allah Ta’ala berfirman: “Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya.” (QS. Ath-Thalaq: 2). In sya Allah bermanfaat fimdalimunthe55@gmail.com 

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

Ini Pengganti Berita di Link FNN yang ditake down, by FIM, Wartawan Utama 3170-PWI/WU/DP/X/2012/23/03/55

Densus 88 Polri Diperalat Meneror Jampidsus

Hampir sepekan ini peristiwa anggota Satgas Densus 88 Polri melakukan "teror" terhadap Jampidsus Kejaksaan Agung RI. Hal ini karuan saja membuat publik bertanya ada apa gerangan. Bila lima belas tahun lalu (2009) terjadi kasus Buaya vs Cicak --Kabareskrim Polri Komjen Susno Duadji-- menangkap Waka KPK Bibit S Riyanto dan Chandra Hamzah, terkait BLBI Century. Nah, kini ada apa lagi ?

Akhirnya semua lebih terang. Setelah  semalam penulis berkomunikasi dengan kolega yang mengajar di Sesko TNI dan beberapa rekan jurnalis investigasi seputar perkara manuver Brimob dan Densus 88 di komplek Kejagung beberapa hari lalu.

Peristiwa Jumat malam 24 Mei, dimana beberapa mobil rantis dan puluhan polisi bermotor meneror gedung Kejaksaan Agung ditambah drone yang berputar putar diatas komplek Kejagung seperti mencari sesuatu. Termasuk diantara potensi bentrok antara kepolisian yang hendak memaksa masuk ke gedung Kejagung RI namun dihalangi oleh Pamdal Kejagung diback up TNI.

Gedung Kejagung dan Mabes Polri cuma berseberangan di Jln Trunojoyo Jakarta Selatan.

Menurut beberapa sumber investigator, kejadian krisis malam itu adalah rangkaian dari kasus korupsi di PT Timah yang merugikan negara RP 271 Triliun itu.

Jadi orang orang seperti Harvey Moeis (HM), Sandra Dewi (SD) dan Herlina Lim (HL) itu sebetulnya dalam skema Rp 271 T bukanlah pemain utama alias cuma alas kaki sebagai pemeran pengganti level paling bawah yang bisa sewaktu waktu dikorbankan demi kepentingan yang berpangkat diatasnya dan diatasnya lagi dan seterusnya.

HM, SD dan HL ketiganya hanyalah aset money laundring yang dari investigasi terhadap mereka Kejagung mulai dapat menelusur benang merahnya keatasnya lagi. Siapa siapa saja yang terlibat terutama para pelaku utama.

Dan sejak kasus Rp 271 T ini disidik oleh Jampidsus Dr. Febrie Ardiansyah SH sejak itulah ia mendapat banyak teror dan presure intimidasi agar jangan meneruskan penyidikan. Cukup publik dipuaskan dengan penangkapan ketiga "artis"beserta duapuluh jajaran direksi PT Timah dan swasta rekanan. Cukup itu buat memuaskan publik tidak perlu diungkap semua.

Namun Jampidsus tak menggubris teror tersebut maka atas inisiatif Jampidmil (Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Militer) yang dijabat pati dari TNI memberikan fasilitas pengamanan tambahan berupa pengawalan oleh anggota PM (Polisi Militer) kemanapun Jampidsus Febri bergerak.

Puncaknya adalah malam itu ketika Jampidsus Febrie merasa dikuntit beberapa personel berpakaian sipil dan dimata matai hingga kedalam restoran Prancis di Cipete yang kemudian para pemata mata tersebut salah satunya diringkus oleh pengawal dari PM.

Anggota PM dari kesatuan PoMaL (Polisi Militer Angkatan Laut) dari Korps Marinir tersebut merangkul keras orang itu saat hendak kabur sedang peneror satunya berhasil lolos. 

Kemudian peneror itu digiring keluar resto dan digeledah oleh PM ternyata ia anggota Densus 88 dan menunjukan sekitar dua puluhan kawan kawannya mengintai dipojok gedung sebelahnya.

Segera oleh sang PM kejadian ini dilaporkan ke Jampidsus Febrie yang segera melaporkan juga keatasan Kajagung RI yang malam itu juga menelpon Kabareskrim Polri apa maksud mengerahkan Densus meneror anak buahnya. Namun Kabareskrim mengaku tak tahu menahu dan meminta anggotanya dilepaskan. 

Permintaan itu ditolak dan anggota Densus 88 bernama Briptu Iqbal itu digelandang ketahanan Kejagung untuk diinterogasi lebih lanjut.

Disitulah makanya para anggota kepolisian berkonvoi malam meneror komplek Kejagung RI meminta anggotanya dilepaskan namun tiap pintu masuk depan dan belakang komplek Kejagung sudah bersiaga penuh Pamdal Kejagung dan para Marinir.

Kasus ini sendiri diduga erat terkait dengan "upeti rutin" yang "wajib" disetorkan oleh PT Timah ke kantong jenderal B lewat perusahaan anaknya yang bernama Herviano Widyatama yang juga menjabat sebagai ketua BMI organ sayap PDIP.

RBS alias Robert Bonosusatya yang merupakan pemain utama aliran korupsi tambang timah inilah sebenarnya yang diduga yang mengatur aliran dana berapa yang dipegang dan harus dipamerkan oleh HM, SD, HL sebagai aktor flexing agar disangka sebagai penerima paling banyak Rp 271 T itu dan berapa jatah keamanan buat B lewat anaknya yang akan menjamin keamanan mereka lewat dua institusinya.

Dari sini sudah cukup jelas benang merahnya lebih jelas dari kasus Vina Eki Cirebon bukan.

Karena seperti prinsip FBI dalam menangani kasus korupsi besar adalah "follow the money".

Kita doakan dan dukung sepenuhnya Kejagung RI karena KPK sudah mlempem mirip krupuk disiram air apalagi sejak dipimpin Firli Bahuri.

Dan si Iqbal anggota densus muda itu yang jelas masih ditahan dibawah tatapan tegas para Marinir ! Semangat Pagi Jurnalis Muslim Indonesia !!!

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy.  Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH DZULQA'DAH oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Rabu 21 Dzulqa'dah 1445 H, 29 Mei 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuh 

Jangan Suka mengUngkit-Ungkit Pemberian

Diantara bentuk penyakit dan maksiat lisan (lidah) adalah mengungkit-ungkit pemberian kepada orang lain. 

Misalnya seseorang mengatakan kepada temannya, “Bukankah dulu aku yang telah memenuhi kebutuhanmu saat kamu kesusahan, mengapa sekarang melupakanku?” atau kalimat-kalimat semacam itu.

Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian batalkan (pahala) sedekah kalian dengan mengungkit- ungkit pemberian dan menyakiti (yang diberi).” (QS. Al-Baqarah : 264)

Dalam ayat di atas, Allah Ta’ala jelaskan bahwa perbuatan suka mengungkit- ungkit pemberian yang telah disedekahkan atau dihadiahkan kepada orang lain itu dapat membatalkan (menghapuskan) pahala. Dan perbuatan suka mengungkit-ungkit pemberian menunjukkan kurangnya iman orang tersebut. Karena dalam ayat di atas, Allah Ta’ala awali dengan “Wahai orang orang yang beriman“. 

Dengan kata lain, tuntutan atau konsekuensi dari keimanan kepada Allah Ta’ala adalah tidak melakukan hal yang demikian itu.

Dalam ayat yang lain Allah Ta’ala berfirman, “Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut- nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah : 262)

Diriwayatkan dari sahabat Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘Alayhi Wasallam bersabda,

“Tiga golongan manusia yang Allah tidak akan mengajak mereka bicara pada hari kiamat, tidak melihat mereka, tidak mensucikan dosanya dan mereka akan mendapatkan siksa yang pedih.”

Abu Dzar berkata lagi, “Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wasallam mengulanginya sampai tiga kali. Abu Dzar berkata, “ Mereka gagal dan rugi, siapakah mereka wahai Rasulullah ?”

Beliau Shallallahu ‘Alayhi Wasallam menjawab, “Orang yang melakukan isbal (memanjangkan sarungnya sampai melebihi mata kaki), orang yang suka mengungkit- ungkit pemberian, dan orang yang berusaha membuat laku barang dagangan dengan sumpah palsu.” (HR. Muslim no.106)

Berdasarkan ayat dan hadits di atas, diantara bentuk dosa dan maksiat lisan adalah suka mengungkit-ungkit pemberian atau sedekah yang telah diberikan kepada orang lain. 

Dan perbuatan ini termasuk dosa besar, karena terdapat ancaman khusus dari syariat. Ancaman pertama, dibatalkannya pahala (sebagaimana dalam ayat). 

Juga ancaman yang terdapat dalam hadits. Sehingga disimpulkan bahwa perbuatan tersebut adalah dosa besar sebagaimana kaidah yang disampaikan oleh para ulama bahwa setiap dosa yang memiliki ancaman khusus, maka digolongkan dalam dosa besar.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsamin rahimahullah mengatakan, “Perbuatan mengungkit-ungkit pemberian dan menyakiti dalam melakukan sedekah (pemberian) termasuk dalam dosa besar. Sisi pendalilannya, karena disebutkannya hukuman setelah menyebutkan dosa (tertentu) menjadikan dosa tersebut sebagai dosa besar.” (Tafsir Al-Baqarah Asy-Syamilah)

In sya Allah bermanfaat, ini tulisan nasehat untuk diri sendiri. fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH DZULQA'DAH oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Selasa 20 Dzulqa'dah 1445 H, 28 Mei 2024

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Hormati dan Sayangi Kedua Orangtua Kita

Mendengar kata “Orangtua” pasti langsung teringat Bapak Ibu kita, ada juga yang menyebut Ayah Ibu.

Kasih sayang kedua orangtua kita begitu luar biasa. Sejak kita lahir hingga dewasa seperti sekarang ini. 

Tak pernah lelah merawat dan mendidik kita dari bayi sampai tumbuh dewasa. Tak pernah bosan menasehati jika kita membuat kesalahan.

Tak pernah lelah merawat kita saat sakit. Tak henti-hentinya mendo’akan kita dalam setiap sholatnya. 

Tak pernah lelah mencari nafkah untuk mencukupi segala kebutuhan kita, menyekolahkan kita setinggi-tingginya agar bisa menjadi kebanggaan kelak. Dan masih banyak lagi kasih sayang orangtua kita yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Selama sembilan bulan ibu kita mengandung. Kemudian menyusui selama dua tahun lamanya. 

Malam hari saat lelap tidur, tiba-tiba kita merengek minta ASI atau mungkin popok kita basah. 

Belum lagi kalau kita sakit, siang malam kita merengek untuk terus minta digendong. Tidur pun tetap minta digendong tanpa mau tahu kalau Ibu kita sudah sangat lelah dan mengantuk. 

Namun demi anaknya yang sangat disayangi, Ibu kita  melakukan semua itu semata-mata agar anaknya merasa nyaman dan aman. Benar saja jika ada hadits berkata “Aljannatu tahta aqdaamil ummahaati", Surga di Bawah Telapak Kaki Ibu”. Karena jasa- jasanya yang begitu besar.

Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman di dalam Al-Qur'an, yang artinya : "Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKulah kembalimu." (QS. Luqman 14)

Ibu kita adalah wanita luar biasa yang telah dikirim Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk mengandung, melahirkan, merawat dan membesarkan kita di dunia ini. 

Ayah kita adalah sosok paling tangguh yang dikirimkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk menjaga kita, mencarikan nafkah untuk kita, serta memenuhi segala kebutuhan hidup dan pendidikan kita. 

Tanpa kedua beliau  kita tidak akan pernah menikmati indahnya dunia yang fana ini. Kalau kita masih menganggap orangtua kita cerewet, itu karena beliau berdua sangat menyayangi kita. Beliau berdua selalu ingin yang terbaik untuk kita. 

Beliau berdua tidak mau anaknya terjerumus pada hal hal yang tidak baik. Sayangi kedua orangtua kita selagi masih ada kesempatan. 

Kehadiran kita di rumah sangat berarti bagi beliau berdua dibandingkan kita hanya mengirim uang saat kita telah bekerja dan berada jauh dari orangtua kita kelak. Namun jika diantara kita ada yang orangtuanya sudah dipanggil oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala maka doa’kan agar senantiasa dijauhkan dari siksa kubur dan dimudahkan segala kehidupannya di alam kubur.

Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman di dalam Al-Qur'an, yang artinya : “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua -duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku ! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” (QS. Al-Isra 23-24)

Bersyukurlah bagi kita yang masih memiliki kedua orangtua. Jangan pernah menyakiti hatinya. Jangan pernah menyia-nyiakan keberadaannya. Dengarkan selalu nasehatnya.

Karena apapun itu nasehat orangtua adalah yang terbaik untuk kita selagi masih untuk kebenaran.

In sya Allah, kesehatan dan keberkahan tetap dilimpahkan kepada kita semua serta senantiasa menjadi hamba Allah yang selalu bersyukur dan memiliki hati yang terbaik, bersih dan ikhlas dalam berbuat kebaikan serta Allah Subhanahu Wa Ta'ala menerima taubat dan memberi ampunan atas dosa-dosa kita... Aamiin Yaa Robbal Aalamiin. In sya Allah bermanfaat, tulisan ini nasehat untuk diri penulis sendiri. fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry no happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH DZULQA'DAH oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran  dan alhadits, Senin 19 Dzulqaidah 1445 H, 27 Mei 2024

Assalamu'alaikum Warrahmatallahi Wabarrakatuh

Allah Sudah Atur Rezeki Hambanya

Dalam kehidupan ini, Allah Subhanahu Wa Ta'ala sudah mengatur rezeki untuk hambanya. Ada delapan rezeki, hal itu sebagaimana tersurat dalam firmanNYA ;

Rezeki Yang Telah Dijamin : "Tidak ada satu makhluk melatapun yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin Allah rezekinya." (SQ. Hud : 6)

Rezeki Karena Usaha : "Tidaklah manusia mendapatkan apa- apa kecuali apa yang dikerjakannya." (SQ. An-Najm : 39)

Rezeki Karena Bersyukur : "Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu"(SQ. Ibrahim : 7)

Rezeki Tak Terduga : "Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah nescaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka- sangkanya." (SQ. At-Thalaq : 2-3)

Rezeki Karena Istighfar : "Beristighfarlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, pasti Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta.” (SQ. Nuh : 10-11)

Rezeki Karena Menikah : "Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak dari hamba sahayamu baik laki laki dan perempuan. Jika mereka miskin, maka Allah akan memberikan kecukupan kepada mereka dengan kurniaNya." (SQ. An-Nur : 32)

Rezeki Karena Anak : "Dan janganlah kamu membunuh anak- anakmu kerana takut miskin. Kamilah yang akan menanggung rezeki mereka dan juga (rezeki) bagimu.” (SQ. Al-Israa' : 31)

Rezeki Karena Sedekah : “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (infak dan sedekah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipatan yang banyak.” (SQ. Al-Baqarah : 245) InsyaAllah bermanfaat. fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy.  Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH DZULQA'DAH oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Ahad 18 Dzulqa'dah 1445 H, 26 Mei 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuh 

Cara Memperbaiki Hati dan Mengokohkan Iman

MEMBACA ALQURAN dan merenungi makna ayat ayatnya adalah cara dan metode untuk memperbaiki kondisi hati kita. Juga untuk menambah kokoh iman. Karena Al-Quran diturunkan oleh Allah Ta’ala bagi hamba-hambaNya sebagai rahmat, petunjuk, kabar gembira, serta pengingat bagi orang- orang yang mau mengingat Allah. 

Allah Ta’ala berfirman, “Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.” (QS. Al-An’am: 155)

Allah Ta’ala juga berfirman “Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al-Quran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang- orang yang beriman.” (QS. Al-A’raf: 52)

Allah Ta’ala berfirman dalam surah An Nahl 89 : “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang mau berserah diri.” 

“Sesungguhnya Al-Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (QS. Al-Isra’: 9)

Al-Quran diturunkan dengan penuh keberkahan. Allah Ta’ala berfirman, “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat ayatnya dan supaya orang-orang yang mempunyai fikiran bisa mendapatkan pelajaran.” (QS. Sad: 29)

Al-Quran diturunkan sebagai obat (penawar), baik untuk penyakit badan dan juga penyakit hati. 

Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al-Isra’: 82)

Al-Quran diturunkan sebagai peringatan bagi orang-orang yang mau merenunginya. Pada ayat-ayat Al-Quran tersebut, Allah Ta’ala menjelaskan keutamaan yang dimiliki oleh Al-Quranul Karim. Allah Ta’ala telah menjadikan Al-Quran penuh berkah dan petunjuk bagi semesta alam. Allah Ta’ala menjadikan di dalam Al-Quran penyembuh atas berbagai penyakit, lebih-lebih penyakit syubhat dan syahwat yang terdapat di dalam hati. Allah Ta’ala pun menjadikan Al-Quran sebagai kabar gembira dan kasih sayang bagi semesta alam, juga menjadi pengingat bagi orang orang yang mau ingat dan menjadikan di dalamnya terdapat ayat-ayat peringatan. Semua itu agar manusia mau bertakwa dan bisa menjadi pengingat bagi mereka.

Oleh karena itu, tidaklah mengherankan apabila orang yang menekuni Al-Quran adalah diantara wali (kekasih) Allah. Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah mempunyai banyak ahli (wali) dari kalangan manusia.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah mereka itu?” Beliau menjawab, “Mereka adalah ahlul Quran, mereka adalah para ahli dan orang khusus Allah.” 

(HR. Ahmad 12293, An-Nasa’i dalam Al-Kabir no. 7977, dan Ibnu Majah no. 215, dinilai sahih oleh Al-Albani)

Demikian pula, hamba Allah yang terbaik adalah mereka yang senantiasa tekun belajar Al-Quran dan kemudian mengajarkan Al-Quran. 

Dari sahabat Utsman radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda “Orang yang paling baik diantara kalian adalah seorang yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari 5027)

Ketika kita membaca Al-Quran, kita akan dapati bahwa di dalamnya terdapat berbagai ilmu dan pengetahuan yang bisa memperbaiki dan mengobati hatinya; serta bisa menguatkan serta mengokohkan imannya. Seseorang akan mengetahui bahwa isinya adalah tentang Allah Ta’ala, kesempurnaan nama dan sifat Allah Ta’ala. Dengan membaca Al-Quran dan merenungi maknanya, seseorang akan semakin mengenal Allah Ta’ala. Seseorang mengenal Allah sebagai pemilik langit dan bumi, yang memberikan rizki untuk hamba- hambaNya, dan yang dimengatur semua urusan di alam semesta. Allah pun mengingatkan hamba hambaNya atas kebutuhan mereka terhadapNya, dan besarnya hajat mereka kepadaNya dari segala sisi.

Di dalam Al-Quran, Allah menyebutkan hal-hal yang bisa membahagiakan mereka dan mengantarkan mereka kepada keberuntungan, berupa ibadah, ketaatan, dan amal saleh. Allah memotivasi mereka atas hal tersebut. Sebaliknya, Allah Ta’ala pun peringatkan mereka atas apa yang bisa mencelakakan mereka, berupa perbuatan dosa, maksiat, dan keburukan. Allah peringatkan mereka dari kemurkaanNya.

Allah ingatkan mereka tentang apa ia yang telah disiapkannya berupa kemuliaan bagi mereka jika menaatiNya, apa yang telah disiapkannya berupa hukuman bagi mereka jika mereka tidak menaati dan mendurhakaiNya. Allah Ta’ala memuji para kekasihNya dengan sebab amal saleh dan sifat mereka yang mulia, lalu mencela musuh musuhNya dengan sebab keburukan amal dan jeleknya sifat-sifat mereka. Allah Ta’ala juga mengabarkan bagaimana Allah telah membalas para kekasihNya berupa kebaikan dan pahala; dan apa yang telah Allah Ta’ala balas kepada musuh- musuhNya berupa azab dan hukuman. Allah Ta’ala pun kabarkan tentang kesudahan kedua kelompok tersebut. Allah mengajak kepada negeri keselamatan (surga), menyebutkan sifat- sifat, keindahan, serta kenikmatannya. Juga memberi peringatan tentang negeri kebinasaan (neraka), mengingatkan adzab serta kepedihan di dalamnya.

Allah telah mengabarkan bahwa Al-Quran bisa menambahkan keimanan bagi orang orang yang beriman jika mereka membaca dan mentadaburi ayat ayatNya. 

Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang orang yang beriman ialah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka. Dan apabila dibacakan ayat- ayatNya, bertambahlah iman mereka (karenanya). Dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal : 2)

In sya Allah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikan kita termasuk ke dalam golongan ahlul Qur’an. In sya Allah bermanfaat. Menulis adalah nasehat untuk diri sendiri. fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Catatan Akhir Pekan oleh Ferry Is Mirza (fim) Sabtu 17 Dzulqaidah 1445 H, 25 Mei 2024

2009 Buaya vs Cicak, 2024 Buaya vs Bajul

ISTILAH yang jadi judul catatan akhir pekan ini, pertama terjadi bulan Juli 2009 yakni Buaya vs Cicak. Ketika itu Bareskrim Polri berseteru dengan KPK. Dan kini, sejak Selasa malam 21/Mei 2024 lalu kembali terjadi lagi, tapi Buaya vs Bajul (bahasa Jawa = buaya) Densus 88 Polri vs Kejagung RI.

Kalau lima belas tahun lalu peristiwa Buaya vs Cicak (KPK) istilah ini justru dideklair oleh Kabareskrim waktu itu Komjen Susnoduadji. "Cicak kok mau melawan buaya --kami Polri dan Kejaksaan, APH (aparat penegak hukum)--,"  kata Susno  waktu itu dengan bagaknya.

Susno yang kini jadi pengusaha dan lebih banyak mukim di negara Vietnam, merasa gerah institusi yang dipandeganinya Bareskrim diawasi bahkan setiap komunikasi disadap oleh KPK. 

Apa pasalnya ? Bareskrim yang sedang menangani kasus "Bancakan Bank Century" diduga kuat menerima upeti Rp 10 M (wikpedia, red). Upeti itu diarahkan ke Susno yang pernah menjadi Kapolresta Malang.

Susno yang geram dengan garang dan kesewenangannya melakukan penangkapan terhadap dua wakil ketua KPK Bibit Samad Riyanto dan Chandra M Hamzah. Keduanya dicocok Bareskrim dengan dalih melakukan tindak pidana pemerasan dan penyadapan.

Kisruh Buaya vs Cicak akhirnya meredah setelah Presiden SBY turun tangan. Nah, dalam episode Buaya vs Bajul kali ini,  --Densus 88 Polri vs Kejagung RI--, konon ada oknum bintang empat yang merasa terusik atas pemeriksaan oleh Jampidsus atas kejadian "bancaan raksasa, begal PT Timah oleh Harvey Moeis". 

Si bintang empat meski sudah purnawirawan kabarnya punya pengaruh kuat di bekas institusinya. Karena itu bisa menggerakkan Densus 88 menguntit Jaksa Agung Muda Bidang Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah.

Dalam penguntitan di sebuah resto kawasan Cipete Jaksel itu, seorang oknum Densus 88 inisial Bripda IM  diamankan Pamdal Jampidsus. Sedangkan empat oknum Densus 88 kabur.

Kalangan pers mengkonfirmasi kejadian Buaya vs Bajul ke Kapolri belum direspon. Yang pasti perseteruan dua institusi yang markas besarnya berseberangan di Jln Trunojoyo Jaksel ini, jadi misteri. fimdalimunthe55@gmail.com  puriindahsidodadicandisdjo

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

Kamis 23/5 saya diberi kesempatan pertama memberikan testimoni sebagai penulis terproduktif di majlistabligh, seperti  berikut: Alhamdulillah atas ridha Allah Subhanahu Wa Ta'ala pada tanggal 23 Maret 1955 hari Rabu menjelang subuh saya dilahirkan oleh ibunda (almh) Hj Siti Nur Laela Lubis di BKIA Muhammadiyah Jln KH Mas Mansyur Surabaya ditangani oleh bidan (almh) Ibu Burhan dan (almh) Ibu  Tulus. "Jadi dari lahir procot, saya sudah ori Muhammadijah," kata saya disambut tepuk tangan dan takbir para hadirin dan anggukan kepala Pak Sulthon Amin, Pak Kamal, Pak Fanani dan Pak Basith.

Lalu saya lanjutkan, "Saya sangat bersyukur selain menerima Sertifikat sebagai penulis terproduktif, hari ini tepat setahun lebih seminggu saya dapat KTAM asli dengan NBM 5523 1474481 yang ditandatangi Pak Haedar Nashir dan Pak Abdul Mu'ti tertanggal 16 Mei 2023," tutur saya disambut tepuk tangan para hadirin seraya saya tambahkan bahwa saya bisa dapat KTAM atas rekomendasi Pak Sukadiono dan ditindaklanjuti adinda Mas Agus Wahyudi. Hadirin makin ger-geran dan tepuk tangan. 

Kemudian saya jelaskan ini kali kedua saya diundang ke kantor PWM. Pertama tahun 2020 saat diundang oleh Ketua PWM Pak Saad Ibrahim untuk memberi testimoni soal PS HW. Saat hadir diundangan di ruang rapat lantai dasar kantor PWM itu, juga dihadiri sahabat saya Mas Dhimam Abror (putra alm Ustdz Djuraid) Mas Rudiyansah (putra alm Pak Manan Chamid) Mas Faisol Taslan (wartawan MI) Mas Agus Wahyudi (wartawan Radar Surabaya) dan Pak  Hidayatullah Umsida serta Pak Sudarusman Kasek Smamda, dll yang saya tidak ingat namanya.

Kenapa saya ? Karena ayahanda saya alm HM Gazali Dalimunthe adalah Pembina PS HW pada era 1960-70an. Sewaktu mengurusi PS HW, saya saat itu usia 10 sd 15 tahun. Oleh alm ayahanda sering diajak melihat latihan tim PS HW di lapangan bola di Tambaksari di lapangan Kapas Kerampung (kini jadi Mal) dan lapangan DKA Pacarkeling. Alm ayahanda waktu mengurusi PS HW dibantu alm Pak Asmara Hadi (Menejer) alm Pak Manan Chamid (Bendahara) dan alm Pak Amin Chafrawi (Sekertaris). 

Di era itu PS HW selalu jadi peringkat atas di kompetisi Klub Persebaya. Mengalahkan PS Naga Kuning (Suryanaga klub Tionghoa), PS IM, PS AD, PS AL, PS Sakti, PS Mars dan PS Assyabbab (ini klub, alm ayahanda juga pernah jadi ketua).

PS HW bisa moncer waktu itu karena memiliki pemain kaliber nasional. Antara lain keper alm Hadi Purnomo dan alm Suharsoyo, gelandang alm Anjik Alinurdin, alm Nadir, alm Wantoyo, alm Usman, alm Muchid, alm Djoko, alm Cicak, alm Waskito. Hampir semua pemain PS HW  jadi pemain andalan Persebaya dan sering diminta PSSI. Yakni keper alm Suharsoyo, alm Anjik dan alm Waskito.

Selain mengurusi PS HW, alm ayahanda aktif di Muhammadijah juga. Entah apa jabatannya. Yang pasti rumah di Perak Timur 306-308 depan masjid Mujahiddin (sekarang ditempati adik saya si Coki) sering jadi tempat pertemuan. Yang sering hari Ahad mulai ba'da Isya hingga larut malam. Yang saya ingat kerap hadir alm Pak Anourofiq Mansur, alm Pak Dr Suwandi, alm Pak Gani, alm Dr Suherman, alm Pak Bey Arifin, alm Pak Anwar Zen, alm Pak AW Suyoso, alm Pak Hamim Tohari, alm Pak Manan Chamid, alm Pak Ridwan Grogol, alm Pak Asmara Hadi dan alm Pak Amin Chafrawi serta dua paman saya alm Hisyam Jahya, alm Hasyim Jahya.

Sedangkan almarhumah Ibunda saya bersama almh Ibu Ulfa (istri alm Pak Anourofiq Mansur) dan almh Ibu Hidun mendirikan TK Bustanul Athfal di rumah singgah saya di Ampel Kusumba Pasar 37. Saya bersyukur saat menikah tahun 1978 usia 23 tahun, yang jadi saksi alm Pak  Anwar Zen, alm Pak Hamim Tohari yang memberi tausyiah nikah. Sedangkan Qorinya alm. Muhammad Dong.

Sejak 1982-1985 Alhamdulillah saya sudah bekerja di PUSKUD Jatim atas rekomendasi alm Pak Bustanil Arifin (Menkop/Kabulog) dan saya dikarunia dua anak (putri dan putra). Dan selama tiga tahun artikel / opini tulisan saya tentang program Inpres 9/75 TRI (Tebu Rakyat Intensifikasi) dimuat di Harian Sore Surabaya Post.

Lalu tahun 1986-2004 saya menjadi wartawan Jawa Pos (JP). Diberi amanah menjadi Kabiro JP di Jember, Madura, Purwokerto, serta Korlip saat JP di kantor Karahagung. Beberapa berita yang saya tulis dan menjadi topik nasional antara lain : Kasus Tanah Jenggawah, Warga vs PTP,  Kakansopol Lumajang Dilaporkan ke Kotak Pos 5000, Peristiwa Poso dan Dibentuknya BASRA, Kasus Apegti Jatim.

Setelah Pendi (Pensiun dini) dari JP, selama setahun 2004 diminta Mas Arif Afandi yang menjabat Wawali Surabaya sebagai Stafsus. Dan diberi amanah sebagai Assmen Tim Persebaya --Menejer Indah Kurnia, pelatih Jacksen Tiago-- 2005. Lalu 2007 mendampingi Pak Dahalan Iskan transplan hati di Tianjin, China.

Sekarang selain masih diberi amanah sebagai Sekertaris Dewan Kehormatan PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Jatim, saya membantu isteri mengelolah KBIHU (Kantor Bimbingan Ibadah Haji Umrah) Al Multazam di Jln Ponti Sidoarjo. Demikian testimoni saya, nashrun minalah, wassalam.










🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH DZULQAIDAH oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Sabtu 17  Dzulqaidah 1445 H, 25 Mei 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu 

Taqwa dan Akhlak Bekal Masuk Surga

Hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesamanya. Ahlak merupakan tolok ukur dalam bergaul, demikian pula Allah Subhanahu Wa Taala memandang seorang hamba dengan menilai dari sisi ketaqwaan. Bukan dari performance. 

Apa itu Taqwa ? Kriteria taqwa dapat kita temukan didalam surat Al Baqarah ayat 3 dan 4, dimana dimensi ahlak yang baik terdapat pula didalamnya. Ahlak yang baik memberatkan timbangan amal kebajikan. 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam ditanya mengenai perkara yang banyak memasukkan seseorang ke surga, beliau menjawab, “Taqwa kepada Allah dan berakhlak yang baik.” Beliau ditanya mengenai hal-hal yang banyak dimasukkan orang dalam neraka, jawab beliau, “Perkara yang disebabkan karena mulut dan perilaku.” (HR.Tirmidzi, 2004 Ibnu Majah, 4246. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan sanad hadits ini sahih)
 
Dari Abu Ad-Darda' radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, “Tidak ada sesuatu amalan yang jika diletakkan dalam  timbangan lebih berat dari akhlak yang mulia Benar-benar orang yang berakhlak mulia bisa menggapai derajat yang rajin puasa dan rajin shalat. (HR.Tirmidzi, 2003. Al-Hafizh Abu Thahir bahwa sanad hadits ini hasan)

Garis taqwa merupakan formula dalam mengikuti alur kehidupan, karena ujungnya bersambung dengan garis langit. Tidak mudah mencapainya, namun janji Allah pasti. Barangsiapa bertaqwa kepadaNya dialah orang yang beruntung. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam surah Ali Imran -112 yang artinya : "Mereka diliputi kehinaan dimana saja mereka berada, kecuali jika mereka (berpegang) pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia. Mereka mendapat murka dari Allah dan (selalu) diliputi kesengsaraan. Yang demikian itu karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi, tanpa hak (alasan yang benar). Yang demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas."

Penjelasan ayat diatas : Yakni Allah menetapkan kehinaan dan rendah diri pada diri mereka dimana pun mereka berada. Karena itu, hidup mereka tidak merasa aman. Kecuali jika mereka berpegang kepada tali  (agama) Allah. (QS. Ali Imran: 112).

Yaitu jaminan dari Allah. Maksudnya, janji jaminan keamanan bagi mereka dengan dibebani membayar jizyah (Pajak) dan menetapkan atas mereka hukum-hukum agama Islam. Dan tali (perjanjian) dengan manusia. (QS. Ali Imran: 112)

Yakni jaminan keamanan dari orang lain buat mereka, seperti perjanjian perdamaian dan gencatan senjata serta tawanan bila keselamatannya dijamin oleh seseorang dari kalangan kaum muslim, sekalipun si penjaminnya adalah seorang wanita muslimah. Demikian pula halnya perihal budak, menurut suatu pendapat di kalangan para ulama. In sya Allah bermanfaat fimdalimunthe55@gmail.com 

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH DZULQAIDAH oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir alquran,  Kamis 15 Dzulqaidah 1445, 23 Mei 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuh 

Teliti untuk Lebih Berhati-hati

Bila melihat seorang yang bijaksana berusahalah menyamainya. Dan bila melihat seorang yang tidak bijaksana periksalah dirimu sendiri.

Di era sekarang kita dengan sangat mudah menemukan jutaan informasi hanya dengan menggunakan peralatan di tangan kita, yang sudah menjadi bagian dari kehidupan modern yakni handphone atau gadget dan lain lain.

Betapa sering kita jumpai, suatu informasi yang dengan cepat menjadi viral di media sosial, dishare oleh ribuan netizen. Namun, belakangan diketahui bahwa informasi tersebut tidak benar atau hoax. Sayangnya klarifikasi atas informasi yang salah tersebut justru sepi dari penginformasian.

Bagi kita yang suka asal dan tergesa-gesa dalam menyebarkan informasi, maka hukuman di akhirat kelak telah menanti kita.

Namun kondisi ini ternyata memunculkan permasalahan lain yang cukup memprihatinkan.

Derasnya arus informasi yang tidak dibarengi dengan kesadaran untuk menyaring dan memilih informasi dengan baik, ternyata mewabah di masyarakat.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman : "Wahai orang-orang yang beriman ! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu." (QS. Al-Hujurat : 6)

Jangan sampai informasi salah yang datang dari orang yang kita senangi selalu kita benarkan. Sedangkan informasi benar dari orang yang kita tidak senangi selalu kita salahkan.

Apalagi terkait dengan persoalan agama. Kita harus belajar dari ulama- ulama yang sudah jelas kealiman dan silsilah keilmuannya.

"Cobalah dulu, baru cerita, pahamilah dulu, baru menjawab, pikirlah dulu, baru berkata, dan berkerjalah dulu, baru berharap."

InsyaAllah ini menjadikan sikap kita untuk lebih berhati- hati dari setiap informasi apa yang diterima, didengar, dan dilihat oleh kita. InsyaAllah bermanfaat. fimdalimunthe55@gmail.com

Info lain : ini-nominator-peraih-penghargaan-majelistabligh-award-2024

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH DZULQAIDAH oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Jumat 16 Dzulqaidah 1445 H, 24 Mei 2024

Assalamu'alaikum Warahmatallahi Wabarakatuh

Sabar Tidak Ada Batasnya

Hakikatnya kesabaran itu tidak ada batasnya sebagaimana ganjaran yang Allah sediakan bagi mereka yang bersabar pun tidak memiliki batas. Allah berfirman, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar : 10). Sabar adalah amalan yang agung, sampai- sampai Allah katakan bahwasanya Dia bersama orang yang sabar.

Allah  berfirman : “Dan bersabarlah ! Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal : 46). Dari ayat ini dapat kita katakan, ketika kita memilih untuk tidak bersabar berarti kita telah memilih untuk melepaskan kebersamaan Allah berupa rahmat dan perlindunganNya.

Dengan kesabaran pun Allah akan mengangkat seseorang menjadi pemimpin umat, panutan, dan kedudukan yang mulia. Allah berfirman, “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.”(QS. As-Sajdah : 24)

Demikian besar rahmat dan ganjaran yang Allah berikan bagi orang-orang yang bersabar. Pahala dan keutamaan yang begitu besar ini; ma’iyah (kebersamaan) dari Allah, pahala tanpa batas, kedudukan yang mulia, semestinya menjadikan seseorang berkeinginan kuat dan terpacu untuk mewujudkan hakikat kesabaran itu sendiri, yakni kesabaran yang tiada batas. Dalam surah Āli 'Imrān : 142 "Apakah kamu mengira akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang orang yang berjihad di antara kamu dan belum nyata pula orang-orang yang sabar."

InsyaAllah kesehatan dan keberkahan tetap dilimpahkan kepada kita semua serta senantiasa menjadi hamba Allah yang selalu bersyukur dan memiliki hati yang terbaik, bersih dan ikhlas dalam berbuat kebaikan serta Allah Subhanahu Wa Ta'ala menerima taubat dan memberi ampunan atas dosa-dosa kita Aamiin Yaa Robbal Aalamiin. InsyaAllah bermanfaat fimdalimunthe55@gmail.com 

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy.  Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH DZULQAIDAH oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Rabu 14 Dzulqaidah 1445 H, 22 Mei 2024

Assalamu'alaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuh

Menjaga Iman

Iman yang terkait langsung dengan kehidupan sehari-hari diantaranya : Menjaga perkataan : "Tidak ada sembarang perkataan yang dilafazkannya (atau perbuatan yang dilakukannya) melainkan ada disisinya malaikat pengawas yang sentiasa  mencatat." (QS. Qaf : 18)

Menjaga hubungan baik dengan tetangga : "Dan hendaklah kamu beribadat kepada Allah dan janganlah kamu sekutukan Dia dengan sesuatu apa juga; dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua orangtua, dan kaum kerabat, dan anak anak yatim, dan orang orang miskin, dan tetangga yang dekat, dan tetangga yang jauh, dan rekan sejawat, dan orang musafir yang terlantar, dan juga hamba yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang orang yang sombong takabur dan membangga-banggakan diri; (QS. An-Nisa' : 36)

Menjaga sikap mulia terhadap tamu : "Sudahkah sampai kepadamu (wahai Muhammad) perihal tetamu Nabi Ibrahim yang dimuliakan ?

Ketika mereka masuk mendapatkannya lalu memberi salam dengan berkata: "Salam sejahtera kepadamu !" Ia menjawab: Salam sejahtera kapada kamu ! ......" (QS. Az Zariyat 24-25). InsyaAllah bermanfaat. fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH DZULQAIDAH oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Selasa 13 Dzulqaidah 1445H, 21 Mei 2024

Assalamu'alaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuh

Baiti Jannati, Rumah yang Diberkahi Allah

Salahsatu kebahagiaan hidup di dunia ini adalah terpenuhinya kebutuhan primer, kebutuhan pokok yang sangat mendasar. Yaitu jika kita mampu mewujudkan kebutuhan pangan, sandang dan papan tempat tinggal. 

Oleh karena itu, rumah menjadi sesuatu yang sangat diidam- idamkan setiap orang. Maka bersyukurlah bagi kita yang telah dianugerahi tempat tinggal oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 

Dan berdoalah, “Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi, dan Engkau adalah sebaik-baik pemberi tempat.” (QS.al-Mukminun : 29)

Rumah atau tempat merupakan bagian tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Di sanalah seseorang mendapatkan tempat berlindung dari cuaca panas dan dingin, atau tempat kembali setiap kali bepergian. Di rumah pula, segenap anggota keluarga dapat melakukan berbagai aktivitas. Rumah juga berfungsi sebagai tempat pembinaan. Rumah adalah lokasi terbaik dalam menyemai benih- benih kebaikan serta keimanan dari sebuah keluarga. Sehingga, tidak berlebihan jika setiap orang mendambakan rumah yang nyaman, sejuk, agar mendukung terciptanya  keluarga sakinah, yaitu rumah yang diberkahi.

Rumah yang diberkahi Allah yaitu rumah yang penuh dengan kenikmatan dan kebahagiaan karena mendapat rahmat dan hidayah dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala,. Rumah yang bisa memberikan fungsinya sebagai surga (baity jannati = rumahku adalah surgaku). Lalu tanda- tandanya bagaimana ?

1) Selalu digunakan untuk ibadah shalat. Tempat tinggal yang mententramkan seringkali digunakan sebagai tempat shalat, zikir dan pengajian sebagai bentuk kemaslahatan untuk agama. Rumah, selain menjadi tempat ibadah, juga media untuk mengantarkan penghuninya semakin mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Rumah yang digunakan untuk shalat berjamaah akan turun rahmat di dalamnya, sehingga memberikan ketenangan dan ketentraman bagi penghuninya, dan akan selalu dikaruniai rezeki yang berkah. Bukan hanya memiliki nilai pahala, tetapi merupakan sebuah pelajaran dan pengajaran langsung bagi keluarga untuk bersama-sama mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dengan shalat berjamaah akan terjalin kebersamaan, saling menghormati serta kerukunan dalam keluarga, sehingga bisa memberikan solusi segala masalah keluarga.

..... dan jadikanlah olehmu rumah- rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah olehmu shalat serta gembirakanlah orang-orang yang beriman”. (QS. Yunus 87)

2) Selalu dibacakan Al-Qur’an. Rasulullah  Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda : ”Sinarilah rumah-rumah kamu sekalian dengan bacaan Al-Qur’an”.

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman ....”. (QS. Al-Isra 82)

Rasulallah Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda: ”Manakala mengajari anaknya membaca Al-Qur’an, maka diampuni dosanya yang telah lalu dan yang akan datang. Dan barangsiapa mengajarinya membaca Al-Qur’an dengan hafalan, lalu setiap anak membaca satu ayat, maka Allah mengangkat satu derajat untuk ayahnya sehingga pada akhir Al-Qur’an yang dibaca”.

3) Selalu diisi dengan majelis zikir. Berdzikir dan bersyukur harus selalu menjadi bagian dari pendekatan ibadah kepada Allah. Apabila direalisasikan dalam kegiatan berumah tangga, maka akan terbentuk keluarga yang sakinah, mawaddah warahmah. Rumah tangga tersebut disinari cahaya Ilahi ke dalam hati penghuninya sehingga hati mereka menjadi tentram.

“Ingatlah kalian kepadaKu, niscaya Aku ingat pula kepadamu. Bersyukurlah kepadaKu dan janganlah kalian kufur”. (QS Al-Baqarah 152)

Rumah yang dijadikan tempat berzikir akan diberi nur Ilahi bagi penghuninya. Cahaya ketenangan, ketentraman, keharmonisan dan kerukunan. 

Abu Hurairah RA dan Abu Sa’id RA menyaksikan Rasulallah Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda, “Tidaklah duduk suatu kaum yang berzikir kepada Allah kecuali mereka dikelilingi oleh para malaikat, diliputi dengan rahmat Allah dan diturunkan kepada mereka sakinah (ketentraman). Allah senantiasa menyebutkan mereka dihadapan para makhluk yang ada disisiNya. (HR. Ibnu Majah). InsyaAllah bermanfaat. fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH DZULQAIDAH oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Senin 12 DZULQAIDAH 1445 H, 20 Mei 2024

Assalammu'alaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuh

Hidup adalah Pilihan

Allah Ta'ala berfirman : "Dan katakanlah (Muhammad)," Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; barang siapa menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman, dan barang siapa menghendaki (kafir) biarlah dia kafir". (QS. Al-Kahf  : 29)

Dan diantara yang sudah berdiri di atas kebenaran pun, mereka memiliki pilihan atas apa yang mereka kehendaki dalam ranah ibadah apakah berdirinya di atas haq digunakan pula untuk mendapatkan yang haq, ataukah justru ia akan terlena kedalam syubhat karena gemerlapnya kebathilan. 

Misalnya seperti ketika berdo'a, telah dikabarkan oleh Allah Ta'ala dalam firmanNya : " .... Maka diantara manusia ada yang berdo'a, "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia, " dan di akhirat dia tidak memperoleh bagian apa pun. (QS. Al-Baqarah : 200). "Dan diantara mereka ada yang berdo'a, "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab Neraka." (QS. Al-Baqarah : 201)

Jadi, diantara manusia yang sudah berdiri di atas kebenaran sekalipun, akan mendapat ujian dari Allah dengan pilihanya semisal di dalam do'a. Adakah ia meminta kebaikan akhirat, ataukah hanya kebaikan dunia saja. Sedangkan keduanya bisa diraih bagi orang orang yang mengetahui. Dan Allah hanya akan menolong seseorang yang fokus, teguh dan istiqamah dalam mencari akherat.

Allah Ta'ala berfirman : "Barang siapa menghendaki pahala di dunia, maka ketahuilah bahwa di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Dan Allah Maha Mendengar Maha Melihat." (QS. An-Nisa' : 134) "Barang siapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya, dan barang siapa menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat." (QS. Asy-Syura : 20)

Marilah kita sekeluarga selalu beriman, bertaqwa kepada Allah,  istiqamah ikhlas beramal ibadah, mulia di dunia mulia di akhirat dengan ridhaNya. Aamiin ... !!! InsyaAllah bermanfaat. fimdalimunthe55@gmail.com 

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH DZULQAIDAH, oleh Ferry Is Mirza (fim), refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Ahad 11 Dzulqaidah 1445H, 19 Mei 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuh 

ALLAH selalu Bersama KITA

Allah akan selalu hadir dalam hidup dan kehidupan kita. Allah tak terlihat karena Maha Ghaib. Namun, kita bisa merasakan kehadiranNya, pada diri kita, pada diri orang lain, juga pada lingkungan; tetumbuhan dan hewan-hewan, serta lebih luas alam semesta. Allah melihat semua makhlukNya. "Dan Dia adalah beserta kamu di mana saja kamu berada." (QS. al-Hadid : 4)

Merasakan kehadiran Allah bisa mendorong kita untuk lebih mawas diri serta penuh pertimbangan dan perhitungan saat akan melakukan sesuatu. Kita akan menimbang, apakah yang kita lakukan baik atau buruk. Kita menyeleksi dan mencermati betul setiap tindakan kita. Jika merasakan kehadiran Allah, kita akan selalu berada di jalan kebaikan dan menjauhi jalan keburukan. Inilah yang Nabi sebut sebagai ihsan. "Ihsan adalah kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihatNya. Jika kamu tak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu." (HR. Bukhari Muslim)

Dikisahkan, Abdullah bin Dinar menemani Umar bin al-Khathab pergi ke Makkah. Di tengah perjalanan, mereka berhenti untuk beristirahat sejenak melepaskan lelah. Selang beberapa saat, lewatlah seorang penggembala yang menggiring kambing- kambingnya yang gemuk-gemuk pulang dari penggembalaan yang penuh rerumputan menghijau. Umar sangat tertarik dengan keadaan kambing-kambing itu dan ingin membelinya seekor.

Umar pun mencegat sang penggembala dan bertanya, "Wahai penggembala, aku tertarik dengan kambing-kambingmu. Sudikah kamu menjual seekor kepada saya ?" Sang penggembala menjawab, "Wahai Tuan, maaf, ini bukan kambingku, melainkan milik majikanku. Aku tak bisa menjualnya sebelum memberitahu majikanku." Umar terus mendesak, "Dia tak tahu apa yang kita lakukan." Si penggembala menjawab, "Majikanku memang tidak mengetahuinya, tetapi bukankah Allah Maha Mengetahui apa pun yang aku dan engkau perbuat ?"

Orang yang merasakan kehadiran Allah dalam kehidupan akan terdorong untuk mencintaiNya dengan tulus dan terus menerus berusaha mendekatkan diri kepadaNya. Ia juga akan senantiasa mencintai sesama dan seluruh makhlukNya karena semua itu sejatinya adalah milik dan ciptaanNya yang harus dijaga, dikasihi, disayangi, bukan dibenci, dizalimi, dan diperlakukan buruk.

Orang mukmin sejati akan selalu merasakan kehadiranNya karena dia menyadari keberadaanNya. Ini membuat dirinya akan selalu berada di jalan yang benar. Hidupnya juga akan bahagia karena yakin Allah pasti akan menyertainya, membimbingnya kepada kebaikan dan menjauhkannya dari keburukan, kesengsaraan dan penderitaan hidup.

Tanpa bimbingan Allah, manusia akan melenceng dan jauh dari jalan kebaikan serta dikuasai oleh hawa nafsu yang menjatuhkannya ke jurang keburukan. Ini tidak akan terjadi pada orang yang merasakan kehadiranNya. Bila kita bijak mungkin kita akan menyadari betapa banyak  potensi kita untuk mengenal dan mencintai Allah Subhanahu Wa Ta'ala, namun kita belum optimalkan. Penyebabnya tentu beragam, bisa jadi karena kita terlarut dalam rutinitas duniawi. Aktivas yang padat demi meraih duniawi lebih diutamakan sehingga hati menjadi kotor, padahal hati merupakan aset paling berharga bagi setiap manusia dalam mengenal dan menjalin hubungan dengan Allah Subhanahu Wa Ta'ala

Bila kita tidak hati- hati, banyak sekali kotoran yang akan melekat pada dindingnya yang fitrahnya bening dan jernih itu. Penyebabnya pun macam-macam seperti: riya, sombong, meremehkan orang lain, bangga diri, hasud, dengki, buruk sangka, marah, dan lain sebagainya. Untuk  menjaga hati tetap jernih, kita harus membersihkannya dengan tiga hal, yakni:

Pertama, Latihan kejiwaan. Aspek ini yang diatur dalam konsep maqam (kedudukan). Ada maqam taubat, sabar, tawakal, ridha, qanaah, syukur, dan mahabbah.

Kedua, Latihan Konsistensi (istiqamah) dalam beribadah, termasuk di dalamnya memperbanyak membaca wirid-wirid dan dzikrullah. Adapun salah satu fungsi wirid adalah mencerahkan hati dan menghilangkan watak ataupun sifat tak terpuji dalam proses pengalamannya.

Dzikrullah juga berarti melakukan perbuatan perbuatan baik fardhu maupun sunnah seperti setiap hari ada waktu untuk tilawatil qur’an, baca shalawat, menghadiri kajian- kajian keislaman, dan berdakwah. Karena yang terpenting dalam dzikrullah adalah membebaskan diri dari lalai dan lupa kepada Allah. Sehingga menurut seorang tabi’in agung Said bin Jubair: “Setiap perbuatan yang di darmabaktikan untuk Allah adalah termasuk dzikir.” Hati yang selalu mengingat Allah akan bergetar ketika mendengar namaNya disebut, hati pun semakin lembut dan bersih dari kotoran. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman : “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendakiNya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya.” (QS. Az-Zumar : 23)

Ketiga, Berpuasa. Yang bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi puasa dari segala kecendrungan nafsu dan akhlak tercela. 

Jadi untuk mengoptimalkan fungsi ruhani (hati) kita harus mengusahakan ketiga hal tersebut secara terus menerus. Jika hati tidak lagi jernih, maka yang terjadi adalah pergeseran nilai-nilai suci yang luhur bergeser menjadi hubbun dunya. 

Hati semacam inilah yang membalik kebenaran ajaran yang dicontohkan dan diteladankan oleh Rasulullah melalui akhlak universal dalam Al-Qur’an dan As-sunnah. 

Kita boleh kaya dan bergelimang harta selagi benda duniawi itu tidak melekat dalam hati kita.

Kecerdasan spritual tidak berpusat di otak melainkan dalam hati. Dan hati harus senantiasa dijaga agar tetap jernih, bersih dari kotoran jiwa. Kejernihan hati inilah yang membuat manusia mampu membedakan dengan tegas, mana haq,  dan mana yang bathil, sehingga nilai-nilai suci dan luhur tentang kehidupan akan tetap terpelihara. InsyaAllah bermanfaat. fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH DZULQAIDAH oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran, Sabtu 10 DZULQAIDAH 1445 H, 18 Mei 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu 

Saling Mengingatkan agar Tak Tersesat Hidup diDunia yang Fana ini

JANGAN SOMBONG, merasa lebih tinggi, dan merasa telah sempurna... Manusia itu sangat butuh nasehat dan peringatan.

Karena manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Sebab itulah mengapa kita harus tetap saling mengingatkan.

Mengingatkan bukan berarti kita yang paling mulia, paling benar, paling suci. Tapi mengingatkan adalah merupakan bentuk peduli, cinta dan perhatian.

Karena itu, tetaplah memberi peringatan, walaupun terkadang sebagian orang ada yang meremehkan, cuek, tidak suka bahkan marah saat dingatkan.

Tidak mengapa... Biarlah... Karena tugas kita hanya sebatas mengingatkan, bukan memaksa,

Dan yang pasti, jika menolak untuk di ingatkan, maka akan ada orang yang lainnya yang akan menerimanya.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: "Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin." (QS. Az Zaryat : 55)

InsyaAllah, Allah melebutkan hati kita, menjadikan kita termasuk orang-orang yang tetap rendah hati, suka mendapat nasehat kebaikan dan mudah menerima peringatan dalam ketaqwaan. Barakallahu fiikum. InsyaAllah bermanfaat. fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH DZULQAIDAH oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran, Jumat 9 Dzulqaidah 1445 H, 17 Mei 2024 

Betapa Indahnya Kaidah dan Syari'at Islam

JUMAH MUBARAK. Setiap perintah akan mendatangkan maslahat dan setiap larangan pasti terdapat padanya mudarat.

Tidak ada satupun perkara yang Allah dan RasulNya perintahkan, melainkan padanya terdapat kemaslahatan (kebaikan). Dan tidaklah ada satu perkara pun yang Allah dan RasulNya larang, melainkan ada kemaslahatan jika hal tersebut tidak ada.”

Agama hadir untuk kebahagiaan manusia “Agama hadir untuk kebahagiaan manusia dan menghilangkan dari mereka keburukan dan kemudaratan. Maka, setiap perkara yang bermanfaat telah disyariatkan.

Dari hal di atas, dapat diketahui bahwasanya syariat Islam tidaklah memerintahkan suatu hal, melainkan terdapat kebaikan pada perintah tersebut. Sebaliknya, tidaklah suatu hal dilarang dalam syariat, melainkan terdapat keburukan pada larangan tersebut. Sungguh! betapa indahnya syariat Islam ini.

Tentang kaidah

Kaidah ini merupakan suatu asas yang mencakup segala hal dalam syariat Islam. Bahkan, jika ingin dikatakan, tidak ada sedikit pun kejanggalan dalam kaidah ini dari sisi hukum-hukum syariat. Baik yang berkaitan dengan ushul (pokok) ataupun furu' (cabang) baik yang berkaitan dengan hak- hak Allah ataupun hak hak seorang hamba. 

Sebagai contoh tentang hal ini, Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl: 90)

Maka, tidak tersisa hal-hal yang bersifat keadilan, kebaikan, dan hal-hal yang dapat mempererat tali silaturahmi, melainkan diperintahkan pada ayat yang mulia ini. Tidak tersisa pula perbuatan keji dan kemungkaran yang berkaitan dengan hak-hak Allah, melainkan itu semua telah dilarang. 

Begitu pun kezaliman kepada makhluk, terhadap darah-darah, harta-harta, dan kehormatan mereka, melainkan itu semua telah dilarang.

Allah Ta’ala memberikan petunjuk kepada hambaNya, untuk senantiasa mengingat perintah perintah serta kebaikan dan manfaatnya, agar hamba-hambaNya dapat melaksanakan perintah tersebut. Begitu pun dengan larangan-larangannya, hendaknya senantiasa diingat keburukan dan bahaya dari larangan tersebut. Agar hamba hambaNya dapat menjauhi larangan tersebut. 

Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah, ‘Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (Allah mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu, dan (Allah mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-A’raf: 33)

Contoh-contoh dari nas terhadap kaidah ini. Perhatikanlah firman Allah Ta’ala, bagaimana ketika Allah memerintahkan suatu hal kemudian terdapat ketidakmampuan untuk melakukannya, Allah memberikan solusi yang lain. 

Allah Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki. Dan jika kamu junub, maka mandilah. Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau menyentuh perempuan lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik. Sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmatNya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Ma’idah: 6)

Pada ayat ini, Allah Ta’ala menyebutkan perintah untuk bersuci apabila seorang hamba ingin melaksanakan shalat. Kemudian Allah menyebutkan dua bentuk bersuci, yaitu bersuci dari hadas kecil dan hadas besar dengan air. Ketika tidak ada air, maka diperbolehkan bersuci dengan tanah atau biasa disebut dengan tayamum. Pada ayat ini pula, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa perintah-perintahNya yang indah merupakan bentuk nikmat terbesar yang disegerakan dan terus bersambung dengan nikmat yang akan datang.

Kemudian, perhatikan dan bacalah firman Allah Ta’ala, “Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik- baiknya.” (QS. Al-Isra: 23)

Sampai pada ayat, “Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Rabbmu kepadamu.” (QS. Al-Isra: 39)

Sehingga, perintah perintah Allah erat kaitannya dengan hikmah-hikmahNya yang tersirat.

Perhatikan pula pada ayat-ayat berikut, “Katakanlah, ‘Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Rabbmu. Yaitu, janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tua, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka. Dan janganlah kamu mendekati perbuatan perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi. Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. Demikian itu yang diperintahkan oleh Rabbmu kepadamu supaya kamu memahaminya. Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang, melainkan sekadar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabatmu. Dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat. Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia. Dan janganlah kamu mengikuti jalan jalan yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS.Al-An’am151-153)

Bacalah dan perhatikanlah dengan seksama ayat-ayat yang berisikan tentang perintah- perintah Allah yang begitu indah, kebaikan yang menyebar dari perintah tersebut, serta maslahat perintah-perintahNya baik secara zahir (tampak) maupun batin (tidak tampak).

Dan perhatikan pula dengan seksama ayat-ayat yang berisikan tentang larangan-larangan Allah yang bahayanya begitu dahsyat, dosanya begitu besar, serta keburukan dan kerusakannya tidak dapat terhingga.

Sehingga, jelaslah dari kaidah ini, bahwa agama Islam hadir untuk kemaslahatan dan menghilangkan kemudaratan. InsyaAllah bermanfaat. fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH DZULQAIDAH oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Kamis 8 Dzulqaidah 1445 H, 16 Mei 2024

Assalammu'alaykum Warahmatallahi Wabarakatuh

Pilihan Hidup Dunia Akhirat

Allah Ta'ala berfirman : "Dan katakanlah (Muhammad) Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; barang siapa menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman, dan barang siapa menghendaki (kafir) biarlah dia kafir." (Q.S. Al-Kahf : 29)

Dan di antara yang sudah berdiri di atas kebenaran pun, mereka memiliki pilihan atas apa yang mereka kehendaki dalam ranah ibadah apakah berdirinya di atas haq digunakan pula untuk mendapatkan yang haq, ataukah justru ia akan terlena kedalam syubhat karena gemerlapnya kebathilan. 

Misalnya seperti ketika berdo'a, telah dikabarkan oleh Allah Ta'ala dalam firmanNya : "Maka di antara manusia ada yang berdo'a, Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia dan di akhirat dia tidak memperoleh bagian apa pun." (QS. Al-Baqarah : 200)

"Dan di antara mereka ada yang berdo'a, Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan lindungilah kami dari azab neraka." (QS. Al-Baqarah : 201)

Jadi, di antara manusia yang sudah berdiri di atas kebenaran sekalipun, akan mendapat ujian dari Allah dengan pilihanya semisal di dalam do'a. Adakah ia meminta kebaikan akhirat, ataukah hanya kebaikan dunia saja. Sedangkan keduanya bisa diraih bagi orang orang yang mengetahui. Dan Allah hanya akan menolong seseorang yang fokus, teguh dan istiqamah dalam mencari akherat.

Allah Ta'ala berfirman : "Barangsiapa menghendaki pahala di dunia, maka ketahuilah bahwa di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Melihat." (QS. An-Nisa' : 134)

"Barang siapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya, dan barang siapa menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat." (QS. Asy-Syura : 20)

Marilah kita dan keluarga selalu beriman, bertaqwa kepada Allah, selalu istiqamah ikhlas beramal ibadah, mulia di dunia mulia di akhirat dengan ridhaNya. Aamiin. InsyaAllah bermanfa'at. fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH DZULQAIDAH oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Rabu 7 Dzulqaidah 1445 H, 15 Mei 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuh

Qana'ah Hidup diDunia, Jangan Tamak

Nabi Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda:  "Wahai manusia, apakah benar engkau memiliki harta? Bukankah yang engkau makan akan lenyap begitu saja? Bukankah pakaian yang engkau kenakan juga akan usang? Bukankah yang engkau sedekahkan akan berlalu begitu saja?” (HR. Muslim 2958)

Allah Subhanahu Wa Ta'ala menerangkan bagaimana keadaan manusia yang begitu kagum pada dunia:

"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu, serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak.

Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur.

Dan di Akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaanNya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al Hadid: 20)

Sikap kita terhadap dunia adalah menjadikan dunia tersebut sebagai *jalan untuk menggapai ridha Ilahi*, BUKAN menjadikan dunia itu sebagai tujuan utama yang kita raih. 

Itulah yang disebutkan oleh Allah dalam ayat : "Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu, dan dengarlah serta taatlah, dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu.

Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. At Taghobun: 15-16)

Begitu pula dunia dicari bukan dengan sikap tamak, namun dengan sikap qana’ah, yaitu selalu merasa cukup terhadap apa yang Allah beri. 

Nabi Shalallahu Alayhi Wasallam pernah berkata kepada Hakim bin Hizam: "Wahai Hakim, sesungguhnya harta itu hijau lagi manis. Barang siapa yang mencarinya untuk kedermawanan dirinya (tidak tamak dan tidak mengemis), maka harta itu akan memberkahinya.

Namun barang siapa yang mencarinya untuk keserakahan, maka harta itu tidak akan memberkahinya, seperti orang yang makan namun tidak kenyang.

Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. (HR. Bukhari 1472 dan Muslim 1035)

Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan: "Qana’ah dan selalu merasa cukup dengan harta yang dicari akan senantiasa mendatangkan keberkahan.

Sedangkan mencari harta dengan ketamakan, maka seperti itu tidak mendatangkan keberkahan, dan keberkahan pun akan sirna.” (Syarh Ibni Batthol, 6: 48)

Semoga Allah memberikan kita sifat takwa dan menjauhkan kita dari sifat tamak terhadap dunia. Hanya Allah yang memberi taufik dan petunjuk. insyaAllah bermanfaat. fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH DZULQAIDAH, oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Selasa 6 Dzulqaidah 1445 H, 14 Mei 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi wabarrakatu

Merasa Diawasi Allah

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengingatkan kita untuk senantiasa bertakwa kepada Allah, baik ketika dilihat orang lain ataupun ketika sendirian. Dari Usamah bin Syarik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Segala perbuatan yang Allah benci dari dirimu untuk dilakukan, maka janganlah kamu lakukan hal tersebut ketika kamu bersendirian.“ (HR. Ibnu Hibban 403 dan Adh Dhiyaa’ dalam Al Mukhtarat 1393. Al-Albani menyatakan shahi. Lihat As Silsilah AsShahihan 1055)

Hal ini karena jiwa manusia itu menjadi lemah ketika dalam kondisi bersendirian, sehingga terdorong serta lebih berani untuk melakukan kemaksiatan ketika itu. Karena pada saat itu, tidak ada orang lain yang melihatnya.

Keyakinan bahwa Allah senantiasa melihat seorang hamba dan juga mengawasi gerak- gerik dirinya merupakan penghalang terbesar dari bermaksiat kepadaNya. Dia senantiasa ingat bahwa tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dariNya. 

Bahkan, hampir dalam setiap lembaran mushaf Al-Quran yang mulia terdapat ancaman gg6yang besar dan peringatan yang tegas tentang hal ini, di antaranya firman Allah Ta’ala berikut ini “Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 29). 

“Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (QS. Al-Baqarah: 234). “Dan Allah mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu tampakkan.” (QS. An-Nahl : 19). “Dan tiada sehelai daun pun yang gugur, melainkan Dia mengetahuinya (pula).” (QS. Al-An’am : 59)

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya.” (QS. Qaf : 16). “Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu, maka takutlah kepadaNya.” (QS. Al-Baqarah: 235)

“Kamu tidaklah berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya.” (QS. Yunus : 61)

Hendaknya seseorang menyadari dan waspada bahwa keadaannya itu seperti orang-orang yang Allah sebutkan dalam firmanNya, “Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah. Padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridai.” (QS. An-Nisaa’: 108)

Sekali lagi, tidak ada seorang pun yang tersembunyi dari Allah. Sesuatu yang tersembunyi di malam hari, baik di tempat yang tersembunyi atapun tampak, semuanya sama saja bagi Allah. Allah Ta’ala berfirman, “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS. Ghafir: 19)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang makna ayat ini, “Allah menginformasikan tentang ilmunya yang sempurna yang meliputi segala sesuatu, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, baik yang kecil maupun yang besar. Semua Allah ketahui secara rinci dan mendetail agar manusia waspada bahwa Allah mengetahui juga kondisi mereka. Maka milikilah sikap malu kepada Allah dan bertakwalah kepada Allah dengan sungguh-sungguh dan hendaknya merasa selalu diawasi oleh Allah yang melihat dirinya. Allah Ta’ala mengetahui pandangan khianat dan yang menjaga amanat, dan Allah mengetahui berbagai rahasia dan yang tersembunyi di dalam hati.” (Ibnu Katsir : 137)

Betapa banyak kita jumpai ayat Al-Quran yang menyebutkan suatu amal dan balasannya, kemudian ditutup dengan menyebutkan bahwa ilmu Allah itu senantiasa meliputi semuanya. Hal ini bertujuan agar hati manusia itu waspada dan menaruh perhatian untuk menyempurnakan dan memperbaiki hatinya, sehingga dia senantiasa memiliki rasa harap (ar-raja’) dan takut (al-khauf).

Ibnu Abid Dunya meriwayatkan dalam Az-Zuhud (no.137) “Dahulu, (materi) dakwah Bakr bin ‘Abdillah al-Muzanny kepada orang yang berjumpa dengannya adalah dengan mengatakan kepada mereka, “Semoga Allah menjadikan kita memiliki sifat zuhud terhadap perbuatan haram dan dosa ketika bersendirian. Ketahuilah bahwa Allah melihatnya, maka tinggalkanlah.“

Abu Hatim Al-Busty mengatakan, “Poros ketaatan seseorang di dunia ini adalah memperbaiki hati dan meninggalkan hal-hal yang merusak hati. Wajib bagi orang yang berakal untuk perhatian dan semangat dalam memperbaiki hatinya, baik ketika di hadapan orang lain maupun ketika sendirian, baik ketika bergerak ataupun diam, karena hilangnya waktu dan penyebab penderitaan tidaklah terjadi kecuali dengan rusaknya hati.“ (Raudhatul ‘Uqola’ wa Nazhatu al–Fudholaa, hal. 27)

Malik bin Dinar berkata, “Sesungguhnya hati orang yang baik senantiasa sibuk dengan amal kebaikan. Adapun hati orang fajir itu senantiasa sibuk dengan amal keburukan. Sesungguhnya Allah melihat keinginan yang ada di hati kalian. Maka senantiasa perhatikanlah hal tersebut, semoga Allah merahmati kalian.“ (HR. Ibnu Abid Dunya)

Maksudnya, kita harus senantiasa ingat bahwa Rabbul ‘alaamin senantiasa mengetahui dan mengawasi keinginan hati kita. Oleh karena itu, hendaknya seorang hamba berusaha untuk memperbaiki keinginan hatinya dan menjadikan keinginan hatinya hanya satu, yaitu untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat dengan meraih ridha Allah.

Dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘Alayhi Wasallam bersabda, “Barangsiapa menjadikan segala macam keinginannya hanya satu, yaitu keinginan tempat kembali (negeri akhirat), niscaya Allah akan mencukupkan baginya keinginan dunianya. Dan barangsiapa yang keinginannya beraneka ragam pada urusan dunia, maka Allah tidak akan mempedulikan di manapun dia binasa.” (HR.Ibnu Majah 4106). InsyaAllah bermanfaat. fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH DZULQAIDAH oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Senin 5 Dzulqaidah 1445 H, 13 Mei 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuh 

I n g a t l a h

KITA di dunia ini untuk menjalani UJIAN... Harusnya kita mengingat terus hal ini, agar kita bisa tabah dan sabar, teguh dan tegar di atas jalan Allah yang lurus dan terang benderang...

Jika kita diberi kenikmatan, maka ingatlah bahwa itu ujian, apakah kita bisa bersyukur kepadaNya, ataukah kita kufur..?! Mensyukuri nikmat adalah dengan mengakui bahwa itu benar-benar murni dari Allah, memuji Allah karenanya, dan menggunakannya untuk sesuatu yang dicintai Allah ‘Azza Wa Jalla atau minimal tidak dimurkai olehNya...

Jika kita diberi kesusahan, maka ingatlah bahwa itu ujian, apakah kita bisa bersabar atau tidak..?! Bersabar saat kesusahan adalah dengan mengingat bahwa itu dari Allah sesuai dengan takdirNya, menahan diri dari tindakan tidak rela kepada takdir Allah baik dengan ucapan ataupun perbuatan, serta semakin mendekat kepada Allah dan meminta agar Allah mengangkat kesusahan itu bukan malah melakukan hal- hal yang diharamkan...

Intinya, nikmat dan musibah, keduanya adalah ujian dari Allah untuk kita. Darinya akan terlihat siapa dari kita yang baik dan kita tidak akan baik dalam mengahadapi ujian itu, kecuali dengan pertolongan dari Allah yang Maha Perkasa...

Allah telah menjelaskan hal ini di ayat berikut : “Mahasuci Allah, yang di tanganNya semua kerajaan. Dia maha berkuasa atas segala sesuatu Dialah yang menciptakan MATI dan HIDUP untuk MENGUJI kalian, siapa di antara kalian yang lebih BAIK amalannya. Dia maha perkasa lagi maha pengampun...“ (QS. Al-Mulk 1-2)

Allah Ta’ala berfirman, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang tua (ibu dan bapak), karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu.” (QS. An-Nisa : 36). InsyaAllah bermanfaat.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. CATATAN AKHIR PEKAN oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi saiful huda ems, Ahad 4 Dzulqaidah 1445 H 12 Mei 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu 

"Jangan Mengganggu" kata Prabowo di Rakornas PAN

MESKI SUDAH SEPEKAN berlalu, tapi, kata "Jangan Ganggu" yang diucapkan bakal presiden RI ke 8 Prabowo Subianto (PS) di depan peserta Rakornas PAN, jadi viral dan mendapat komentar dari berbagai kalangan. Termasuk salah satunya dari penulis.

Karakter PS yang gemar menebar ancaman rupanya masih belum hilang juga dari saat menjadi Danjen Kopassus hingga di usia senjanya kini. 

"Kita ingin berjuang bersama-sama, namun jika tidak mau diajak kerjasama, jangan mengganggu !". Begitu cuplikan ucapan PS yang penulis simak dari media cetak dan online.

Kata-kata "jangan mengganggu" ini, diucapkan PS dengan  serius dan lantang, seperti sedang mengancam seseorang atau kelompok tertentu yang menunjukkan ketegasan sikap politiknya yang tak ingin bergabung dengan pemerintahan rezim 08 (PS) kelak. 

Sepengetahuan penulis sampai saat ini baru PDIP melalui Sekjen Hasto Kristiyanto dan Ganjar Pranowo Capres yang diusungnya di Pilpres 2024, yang terus menerus bersikap kritis pada PS. Terlebih wabil khusus pada orangtua Gibran yang Presiden ke 7 Jokowi.

Pada waktu hampir bersamaan dengan Rakornas PAN, Ganjar telah menyatakan atau mendeklarasikan dirinya bersikap Oposisi pada Pemerintahan Jokowi dan Prabowo. Mungkin karena hal ini, PS yang mewarisi karakter mantan mertuanya Presiden ke 2 Soeharto di era OrBa yang anti kritik, sudah panik duluan, dan memberikan peringatan untuk tidak mengganggu apa yang akan dilakukannya nanti ketika sudah dilantik menjadi Presiden RI ke 8. 

Padahal kritik itu sehat dan hanya orang-orang anti kritiklah yang menganggap kritik itu sebagai gangguan. Selain itu, melalui bahasa isyaratnya, PS juga mengatakan, bahwa tidak memiliki tanggal merah, semuanya biru. Bagi orang yang kurang peka intuisi politiknya, mungkin akan menerjemahkan biasa biasa saja. Padahal maksud PS akan terus bekerja tanpa mengenal hari libur (tanggal merah). 

Namun, jika dicermati lebih jauh --amatan penulis--, ini bisa jadi merupakan isyarat PS bahwa ia tidak akan bekerjasama dengan PDIP (biasa dikenal dengan istilah Partai Merah). Karena bagi PS, PDIP selain tidak mendukungnya di Pilpres 2024, juga memiliki sejarah panjang sebagai partai terdepan yang membela kaum pinggiran (Wong Cilik) dan yang paling tegas mengkritisi pemerintahan yang korup dan tak berempati pada penderitaan kaum marginal.

PS mungkin sadar bahwa pidatonya yang menyatakan akan memperjuangkan nasib rakyat kecil hanyalah omon-omon saja sebab nyatanya PS dan Hasyim adiknya yang selama ini banyak menguasai lahan-lahan milik negara, yang seharusnya diperuntukkan untuk kesejahteraan rakyat. 

PS mungkin juga sadar, bahwa ia terpilih sebagai bakal Presiden RI ke 8, juga berkat dukungan dan cawe cawe Presiden Jokowi yang telah terlebih dahulu mengacak-acak Mahkamah Konstitusi dan KPU. 

Maka tidak heran, dalam pidatonya di pembukaan Rakornas PAN itu, PS juga mengaku dan  mengatakan telah didukung oleh Jokowi, SBY, Gus Dur, Soeharto dan Bung Karno tanpa menyebut sama sekali nama Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri. Malahan PS yang mantan suami Titiek Soeharto itu sempat menyindir Bung Karno milik semua orang dan tidak bisa diklaim sebagai milik satu partai tertentu. 

Inilah karakter asli PS yang lupa dengan jasa Megawati yang memintanya pulang kembali ke Tanah air setelah diincar oleh rakyat Indonesia atas peristiwa Penculikan Aktivis '98 dan peristiwa Kerusuhan 1998.

Megawatilah yang telah mengangkat kembali kehormatan PS sebagai "pecatan" TNI dengan menjadikannya Cawapres di Pilpres 2009. Kalau tidak karena jasa Megawati, PS mungkin masih akan terus menjadi warga negara yang tidak jelas identitasnya di Yordania. 

Namun, PS rupanya seolah lupa dengan itu semua, dan lebih mengingat jasa Jokowi yang memberi tambahan satu bintang jadi jenderal dan telah melahirkan anak haram konstitusi, dan memberikan jalan yang mulus baginya untuk menjadi Presiden RI ke 8.

Ada kekhawatir apa yang dikatakan PS dalam pidatonya, "Guru kencing berdiri, murid kencing berlari", akan menjadi kenyataan. Bahwa Jokowi yang memulai mengobrak-abrik konstitusi dan lembaga-lembaga negara akan diikuti kemudian oleh PS juga. Bukankah PS selama ini telah terang-terangan mengaku banyak belajar dari Jokowi.

Namun, karakter tetaplah karakter, jika dari mudanya saja sudah temperamental, selamanya akan tetap begitu juga. Begitu pula dengan politik, jika seorang politisi tidak terlatih hidup dari kecil dengan semangat pengabdian pada negara, melainkan semangat mencari penghidupan dari kekuasaan, maka selamanya sampai tua akan begitu juga. Dan ketika kekuasaan menjadi satu-satunya tujuan, maka seorang penguasa akan terusik ketika ada penguasa bayangan disampingnya. 

Inilah mengapa penulis haqul yakin hingga hari ini, bahwa kerjasama PS dan Jokowi itu tidak akan langgeng atau bertahan lama. Ketika Jokowi nanti tak lagi menjadi Presiden, PS akan mencampakanya. Terlebih ketika kedua duanya sepertinya memiliki karakter yang sama, yakni mudah melupakan jasa orang-orang yang pernah membesarkannya, dan membuat keduanya menjadi terhormat di mata masyarakatnya.

Tak terasa seporsi Gado-gado Cak To di Pujasera Pondok Mutiara dan segelas plastik Degan Ijo sudah habis. Semoga Allah Ta'ala menjaga dan melindungi bangsa NKRI. Aamiin. InsyaAllah bermanfaat.

fimdalimunthe55@gmail.com, pujasera pondok mutiara sdjo. Link : jangan-mengganggu-kata-prabowo-di-rakornas-pan

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. RENUNGAN AHAD oleh Ferry Is Mirza (fim) 12 Mei 24

Ihlas dan Jujur

PERHATIKANLAH orang yang ihlas dan LIHATLAH kepada orang yang jujur. Sebab pada orang ihlas dan jujur suka damai akan ada masa depan.

Orang yang ihlas dan jujur memiliki daya tarik yang kuat dan mampu membangun hubungan yang sehat dan harmonis dengan orang lain. Mereka tidak hanya dikagumi dan dihormati, tetapi juga diinginkan kerja sama oleh orang lain. 

Orang ihlas dan jujur mampu menciptakan lingkungan yang positif dan damai di sekitar mereka. Lantaran kepercayaan dan kejujuran menjadi dasar dalam interaksi sosial.

Oleh karena itu, perhatikanlah orang yang ihlas dan lihatlah kepada orang yang jujur. Belajarlah dari mereka dan terapkan nilai-nilai keihlasan dan kejujuran dalam hidup Anda. Dengan begitu, Anda akan memperoleh masa depan yang cerah dan penuh sukacita. INSYAALLAH BERMANFAAT.

fimdalimunthe55@gmail.com, menunggu duhur di alfalah raya darmo sby.

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH DZULQAIDAH, oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Ahad 4 Dzulqaidah 1445 H, 12 Mei 2024

Assallammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu 

Ibadah Haji dan Tauhid adalah Prioritas

SEMUA MUKMIN dengan keimanannya pastilah memiliki impian untuk bisa melaksanakan haji ke baitullah. Berbagai cara ditempuh untuk bisa berangkat haji semisal menabung. Sayangnya, sebagian dari mereka lupa atau tidak tahu bahwa esensi dari ibadah haji yang sesungguhnya adalah mentauhidkan Allah Ta’ala.

Tidaklah ada satu rangkaian dalam pelaksanaan ibadah haji, kecuali di dalamnya mengandung unsur tauhid. Tawaf yang dilakukan, sa’i yang dikerjakan, semuanya merupakan bentuk perwujudan tauhid kepada Allah Ta’ala.

Bahkan, kalimat talbiyah, kalimat pertama yang diucapkan oleh seorang muslim yang berhaji adalah salah satu kalimat tauhid yang paling utama. Kalimat tauhid yang Nabi ajarkan kepada umatnya untuk senantiasa dilantunkan setelah berihram sampai dengan pelaksanaan lempar jamrah di tanggal sepuluh Zulhijah. 

Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, “Kemudian beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertalbiyah dengan kalimat tauhid, *‘Labbaikallahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulka la syarika laka.’* (Ya Allah, aku memenuhi seruanMu, aku memenuhi seruanMu, aku memenuhi seruanMu. Tidak ada sekutu bagiMu, aku memenuhi seruanMu. Sesungguhnya segala puji, kenikmatan, dan seluruh kerajaan adalah milikMu, tidak ada sekutu bagiMu). Dan orang-orang bertalbiyah dengan talbiyah yang mereka ucapan ini. Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak menolak sedikit pun dari hal tersebut. Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam terus mengucapkan talbiyahnya.” (HR. Muslim 1218)

Dengan kalimat tersebut, seorang muslim yang sedang berhaji melantunkan dan mengeraskannya hingga ia melihat langsung Ka’bah. Dengan kalimat tersebut, ia tawaf mengelilingninya. Dengan kalimat tersebut pula, ia akan sa’i dan menyempurnakan ibadah hajinya hingga datang tanggal kesepuluh dan ia melaksanakan lempar jumrah.

Sebuah kalimat yang mengandung makna tauhid dan pengesaan Allah Ta’ala dalam setiap amal ibadah yang kita lakukan. Karena dengan melantunkannya, ia mengakui bahwa Allahlah satu-satunya yang berhak memberikan nikmat dan pemberian. Tidak ada sekutu bagiNya dalam hal apa pun.

Tujuan utama dari kalimat tersebut apabila diucapkan dengan penuh kejujuran dan keimanan adalah ketauhidan yang sempurna. Orang yang melantunkannya dengan jujur dan penuh keyakinan, maka tidak akan berdoa kepada selain Allah Ta’ala, tidak akan meminta kepada selainNya, tidak akan bergantung kecuali kepada Allah Ta’ala, tidak menyembelih dan bernazar kecuali untuk Allah Ta’ala, serta tidak melakukan ibadah kecuali untukNya. Inilah tujuan utama dari talbiyah yang diucapkan oleh seorang muslim serta tujuan utama dari ibadah haji yang didambakan dan diimpikan oleh setiap muslim. 

Allah Ta’ala berfirman mengenai hal tersebut : “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka, makanlah sebagian daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir. Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan tawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah). Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa- apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya. Maka, jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta. Dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (QS. Al-Hajj: 27-31)

Renungan tauhid bagi yang telah berhaji atau akan berhaji

Wajib hukumnya bagi siapa pun yang melantunkan kalimat talbiyah dan kalimat tauhid ini untuk memahami dan mengetahui kandungan dan makna dari kalimat tersebut. Menghadirkan makna makna tersebut di dalam hati dan merealisasikannya di kehidupan nyata. Dengan begitu, ia termasuk orang orang yang jujur dalam setiap kalimatnya, menjadi seorang muslim yang berpegang teguh dengan tauhid serta menjauhkan diri dari apa-apa yang dapat merusak dan mengotori kesuciannya.

Tatkala ia mengucapkan, “Labbaika la syarika laka.” (Aku memenuhi seruanMu. Tidak ada sekutu bagiMu), maka ia benar-benar menghindarkan diri dari kesyirikan kepada Allah Ta’ala, tidak bergantung kecuali kepada Allah, serta tidak meminta apa pun dari kenikmatan ataupun meminta dihindarkan dari marabahaya, kecuali kepadaNya. Tidak berdoa dan meminta kepada kuburan, wali, benda mati, ataupun yang semisalnya.

Tatkala ia mengucapkan, “Innal hamda wan ni’mata laka wal mulka.” (Sesungguhnya segala puji, kenikmatan, dan seluruh kerajaan adalah milikMu), maka ia tidak akan memuji dan menyanjung sesuatu melebihi sanjungannya kepada Allah Ta’ala, tidak mengkultuskan dan mensucikan seseorang melebihi penghormatannya kepada Allah Ta’ala. Tidak mengharapkan lancarnya rezeki atau terhindarkan dari marabahaya kepada selain Allah dan hanya menyandarkannya kepada Allah Ta’ala.

Itulah esensi dari ibadah haji yang Allah syariatkan, bukan justru sebagai ajang berbangga diri, bukan juga agar kita mendapatkan gelar “haji” dan seakan terlahir kembali sehingga menyombongkan diri. Allah ingin agar setiap hamba yang melaksanakan haji atau telah mengetahui esensinya menjadi hamba-hamba Allah yang benar-benar bertauhid dan mengesakanNya, tidak beribadah kecuali kepadaNya, dan tidak bergantung kepada selainNya. insyaAllah bermanfaat.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH DZULQAIDAH oleh Ferry Is Mirza (fim), refrensi alhadits, Sabtu 3 Dzulqaidah 1445 H, 11 Mei 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuh 

Kunci Masuk Surga, Salahsatunya Menjaga Silaturahmi

Ada seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang bisa memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka.” Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sungguh dia telah diberi taufik,” atau “Sungguh telah diberi hidayah, apa tadi yang engkau katakan?” Lalu orang itupun mengulangi perkataannya. 

Setelah itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu pun, menegakkan shalat, membayar zakat, dan engkau menyambung silaturahim”. Setelah orang itu pergi, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Jika dia melaksanakan apa yang aku perintahkan tadi, pastilah dia masuk surga”. (HR. Bukhari  Muslim)

Pertanyaan yang baik, singkat padat dan mengenai sasaran. Kunci masuk surga : Beribadah harus dengan ikhlas, Mendirikan sholat, Menunaikan zakat, Menyambung silaturahim. Tema hadist yang berkaitan dengan hadits-hadist yang lain:

1- Silaturahim juga merupakan faktor yang dapat menjadi penyebab umur panjang dan banyak rizki. 

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Barangsiapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi”. (Muttafaqun ‘alaihi)

2- Menyambung silaturahim lebih besar pahalanya daripada memerdekakan seorang budak. Dalam Shahîh al-Bukhâri, dari Maimûnah Ummul Mukminîn berkata :

“Wahai Rasulullah, tahukah engkau bahwa aku memerdekakan budakku?” Nabi bertanya, “Apakah engkau telah melaksanakannya?” Ia menjawab, “Ya”. 

Nabi bersabda, “Seandainya engkau berikan budak itu kepada paman- pamanmu, maka itu akan lebih besar pahalanya”.

3- Silaturahim yang sesungguhnya. Yang amat disayangkan, ternyata ada sebagian orang yang tidak mau menyambung silaturahim dengan kerabatnya, kecuali apabila kerabat itu mau menyambungnya. Jika demikian, maka sebenarnya yang dilakukan orang ini bukanlah silaturahim, tetapi hanya sebagai balasan. Karena setiap orang yang berakal tentu berkeinginan untuk membalas setiap kebaikan yang telah diberikan kepadanya, meskipun dari orang jauh.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Orang yang menyambung silaturahim itu, bukanlah yang menyambung hubungan yang sudah terjalin, akan tetapi orang yang menyambung silaturahmi ialah orang yang menjalin kembali hubungan kekerabatan yang sudah terputus”. (Muttafaqun ‘alaihi)

Oleh karena itu, sambunglah hubungan silaturahim dengan kerabat- kerabat kita, meskipun mereka memutuskannya. Sungguh kita akan mendapatkan balasan yang baik atas mereka.

Diriwayatkan, telah datang seorang lelaki kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata:

“Wahai Rasulullah, aku mempunyai kerabat. Aku menyambung hubungan dengan mereka, akan tetapi mereka memutuskanku. Aku berbuat baik kepada mereka, akan tetapi mereka berbuat buruk terhadapku. Aku berlemah lembut kepada mereka, akan tetapi mereka kasar terhadapku,” maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Apabila engkau benar demikian, maka seakan engkau menyuapi mereka pasir panas, dan Allah akan senantiasa tetap menjadi penolongmu selama engkau berbuat demikan.” (Muttafaq ‘alaihi)

Dari Jubair bin Mut’im bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda: “Tidaklah masuk surga orang yang suka memutus, (memutus tali silaturahim)”. (Mutafaqun ‘alaihi). InsyaAllah bermanfaat.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH DZULQAIDAH oleh Ferry Is Mirza (fim), refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Jumat 02 Dzulqaidah 1445 H, 10 Mei 2024

Riba, Dosanya Setara dengan .....

RIBA tergolong sebagai perbuatan yang dilarang sekaligus diharamkan dalam Islam. Larangan riba sendiri tercantum dalam surat Ali Imran ayat 130. Artinya: "Hai orang- orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir."

Ini Dosa Besar yang tidak diampuni Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Praktik riba dapat menyengsarakan orang lain. Selain memiliki utang, orang yang meminjam juga dibebani dengan keharusan membayar uang lebih dari jumlah yang ia pinjam.

Selain dalam Al-Qur'an, riba juga diterangkan dalam sejumlah hadits. Berikut haditsnya yang dikutip dari buku Ada Apa Dengan Riba ? tulisan Ammi Nur Baits. Hadits yang Membahas tentang Riba :

1. Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa dosa dari perilaku riba diibaratkan seperti berzina dengan ibunya sendiri. 

Dari Ibnu Mas'ud, Nabi Muhammad Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda: "Riba itu ada 73 pintu. Pintu riba yang paling ringan, seperti seorang lelaki yang berzina dengan ibunya." (HR Hakim)

2. Pemakan harta riba akan diganjar hukuman di alam kubur, yaitu berenang di sungai yang penuh darah. Rasulullah Shalallahu Alayhi Wasallam pernah menceritakan mimpinya ketika melihat orang-orang yang berenang di sungai darah.

Beliau mengatakan, "Kami mendatangi sungai dari darah, di sana ada orang yang berdiri di tepi sungai sambil membawa bebatuan dan satu orang lagi berenang di tengah sungai. Ketika orang yang berenang dalam sungai darah hendak keluar, lelaki yang berada di pinggir sungai segera melemparkan batu ke dalam mulutnya, sehingga dia terdorong kembali ke tengah sungai, dan demikian itu seterusnya."

Ketika Nabi bertanya kepada malaikat, dijawab, "Orang yang kamu lihat berenang di sungai darah adalah pemakan riba." (HR Bukhari).

3. Tergolong sebagai Dosa Besar. Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda : "Jauhilah 7 dosa besar yang membinasakan." 

Mereka bertanya, 'Ya Rasulullah, apa saja itu ? "Beliau bersabda, Berbuat syirik kepada Allah, melakukan sihir, membunuh jiwa yang Allah haramkan, kecuali dengan alasan yang benar, makan riba, makan harta anak yatim." (HR Bukhari  Muslim)

4. Perbuatan zina juga mengundang murka Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dalam sebuah hadits dari Ibnu Abbas RA, Nabi Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda: "Ketika zina dan riba dilakukan terang- terangan di masyarakat, berarti mereka telah menghalalkan adzab Allah untuk ditimpakan ke diri mereka." (HR Thabrani)

5. Rasulullah SAW sangat melaknat perbuatan riba, baik itu pelaku maupun mereka yang terlibat di dalamnya. 

Dari Jabir bin Abdillah RA, ia berkata: "Rasulullah Shallallahu 'Alayhi Wasallam melaknat pemakan riba, yang memberi makan riba, yang menulis transaksi, dan dua transaksi riba. Beliau mengatakan, "Mereka semua sama." (HR Muslim)

InsyaAllah kita senantiasa dijauhkan dari perbuatan tercela tersebut, naudzubillah min dzalik. InsyaAllah bermanfaat

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy.  Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH DZULQAIDAH oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Kamis 01 Dzulqaidah, 9 Mei 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi wabarrakatuh

Karena Mendukung Perbuatan Itu

Mengundang, memperkenalkan, memfasilitasi, mengajak ngobrol haha hihi, bahkan membiarkan pelaku maksiat adalah termasuk merupakan sebuah dukungan atas kemaksiatannya.

Maka perlu kita ingat baik-baik ! Ketika Allah mengazab kaum Nabi Luth, yang terkena bukan hanya pelaku aktif baik subjek ataupun objek pelaku maksiat saja, tapi juga mereka yang tidak terlibat secara langsung atau hanya jadi pendukung, seperti istrinya Nabi Luth.

Allah berfirman dalam QS al-‘Ankabut 32-33 mengenai kisah ini. “Ibrahim berkata: "Sesungguhnya di kota itu ada Luth?". Mereka (para Malaikat) berkata: "Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami akan menyelamatkan dia (Luth) dan para pengikutnya, kecuali istrinya. Dia (istri Luth) adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan)!". Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para Malaikat) itu datang kepada Luth, ia merasa bersedih hati dikarenakan (kedatangan) mereka, dan ia (merasa) tak mempunyai kekuatan untuk melindungi mereka, dan mereka (para Malaikat) berkata: "Janganlah kamu takut dan jangan (pula) bersedih hati. Sesungguhnya kami akan menyelamatkanmu dan pengikut- pengikutmu, kecuali istrimu, karena ia adalah termasuk orang-orang yang tinggal (dibinasakan)!" (QS.al-‘Ankabut 32-33)

Demikian juga dalam Surah asy-Syu‘aro’ Allah Ta'ala berfirman: (Luth berdo'a) "Wahai Robbku, selamatkanlah aku dan keluargaku dari (akibat) perbuatan yang mereka kerjakan". Lalu Kami selamatkan dia bersama keluarganya semua, kecuali seorang perempuan tua (istri Luth -pent), yang termasuk dalam golongan yang tinggal. Kemudian Kami binasakan yang lain. Kemudian Kami hujani mereka (dengan batu membara -pent), maka betapa buruk hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu.” (QS.asy-Syu‘aro' 169-173)

Istri Nabi Luth di azab oleh Allah bukan karena ia pelaku, tapi karena dia mendukung perbuatan itu, sehingga dia termasuk orang yang dibinasakan Allah saat adzab diturunkan untuk memusnahkan kota Sodom dan Gomorrah.

Maka itu hati-hatilah jika kita melihat kemaksiatan dan kemungkaran di hadapan kita, namun tidak menjadikan muka kita memerah, tapi justru mengundang, memperkenalkan bahkan ikut mendukungnya.

Hanya kepada Allah kita memohon keselamatan dunia dan akhirat. Dan semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala menjaga kita dan keturunan kita semua dari perilaku keji kaum Nabi Luth. InsyaAllah Bermanfaat

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismilllahirrahmanirrahim. EPCDH SYAWAL oleh Ferry Is Mirza (fim), refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Rabu 29 Syawal 1445 H, 8 Mei 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu 

EMPAT PERKARA UNTUK SELAMAT DUNIA AKHIRAT

KETAHUILAH wahai saudaraku, bahwa  yang menghancurkan kebahagiaan dan keselamatan hidup manusia di dunia dan akhirat adalah dosa.

Allah berfirman "dan setiap musibah yang menimpamu adalah karena ulahmu sendiri dan dosamu ....." (QS. Asy-Syura : 30).

Maka untuk meraihnya, isilah seluruh umur dengan (4 perkara), agar senantiasa mendapat curahan rahmat dan  ampunan dari Allah Azza Wa Jalla. 4 perkara yaitu :

(1). Taubat ... Jangan pernah menunda taubat dan meremehkannya, bertaubatlah kepada Allah dengan cara yang benar dan jangan pernah bertaubat dengan cara yang tidak ada contohnya dari Rasulallah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, penuhi syarat taubat, ikhlas, menyesal,  membenci kesalahan yang lalu, bertekad untuk tidak mengulanginya dan segera menyelesaikan semua permasalahan dengan manusia.

(2). Ilmu yang bermanfaat. Pastikan ilmu yang dicari adalah ilmu yang bersumber dari Alqur’an dan hadist sahih dan sesuai dengan pemahaman sahabat Rasulallah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, kenalilah Allah, Rasulmu dan Agamamu yang benar melalui ilmumu, tuntutlah ilmu agama yang membuatmu takut kepada Allah.

(3). Amal Shaleh. Pastikan semua amal yang kita kerjakan baik itu amalan hati, lisan maupun anggota badan adalah amal yang dikerjakan karena perintah Allah dan sesuai dengan contoh Rasulallah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

(4). Mengikuti Jalan Hidayah. Berkata Sa’id bin Zubair yaitu menjalankan agama yang sesuai dengan cara Rasul dan sahabat sahabatnya radhiallahu ‘anhum,

Allah ber-firman: "sesungguhnya Aku akan mencurahkan Ampunan kepada hambaKu yang selalu bertaubat, beriman dan beramal shaleh, kemudian meniti jalan hidayah" (QS. Toha : 82). InsyaAllah, Allah memberikan keselamatan kepada kita semua di dunia dan akhirat. 

Yaa Allah ampuni segala dosa dosaku , ampuni segala khilaf dan salahku, hamba benar benar bertaubat kepadaMu yaa Rabb, hamba menyesali dan tidak akan mengulangi segala kedurhakaan hamba ampuni yaa Allah, jika tidak sungguh hamba termasuk orang orang yang rugi dan celaka.

Sesungguhnya kami berlindung kepadaMu dari yang tidak bermanfaat, amal yang tidak diangkat  hati yang tidak khusyuk dan ucapan yang tidak didengar. InsyaAllah bermanfaat.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH SYAWAL oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Selasa 28 Syawal 1445 H, 7 Mei 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuh 

Kebaikan Sepele dan Doa saat Shalat 1/3 Malam Dikabulkan Allah

Kaidahnya adalah tidak menganggap remeh amalan kebaikan walau kecil atau sepele. Karena semua amalan tersebut akan dihisab (ditimbang) jadi tetaplah kerjakan dengan ikhlas.

"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun (ukuran yang kecil atau sepele), niscaya dia akan melihat (balasan)nya." (QS. Az-Zalzalah: 7)

"Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya),"(QS. Ali Imran: 30). "Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis).” (QS. Al Kahfi: 49)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah, "Ayat ini memotivasi untuk beramal baik walau sedikit...” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 932)

Rasulallah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata pada Jabir bin Sulaim, “Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau hanya berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya.” (HR. Abu Daud) 

Dan masih ada beberapa hadits lagi yang memotivasi kita untuk tetap beramal walau kecil/sedikit.

Memang tidak mudah bangun di sepertiga malam terakhir, ada beberapa faktor penyebabnya. Bisa karena kelelahan bekerja, begadang atau pun sakit.

Tapi tetaplah diusahakan untuk bangun dan sholat walau sempatnya hanya dapat witir satu rakaat tentu dibarengi dengan doa.

Apabila kalian khawatir masuk subuh, hendaknya dia shalat satu rakaat sebagai witir. (HR. Bukhari). Selama belum adzan subuh maka doa doa kita Allah kabulkan, InsyaAllah.

“Allah Tabaraka wa Ta’ala turun ke langit dunia pada setiap malamnya hingga tersisa sepertiga malam yang terakhir. Allah berfirman "Siapa yang berdoa kepadaKu, akan Aku kabulkan.

Siapa yang meminta kepadaKu, akan aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepadaKu, akan Aku ampuni." (HR. Bukhari)

InsyaAllah, Allah mudahkan kita semua untuk bangun di sepertiga malam terakhir. InsyaAllah bermanfaat

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. RENUNGAN SEBAGAI LANSIA (69 th) oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi diri sendiri memasuki tahap kedua, Senin 6 Mei 2024, 27 Syawal 1445 H

Assalammualaykum Warrahmatallahi wabarrakatuh

EMPAT KALI KITA AKAN DISINGKIRKAN DALAM KEHIDUPAN

ALHAMDULILLAH WA SYUKURILLAH saya dan Anda pembaca tulisan RENUNGAN ini masih diberkahi sehat wal afiat. Bersyukur atas nikmat Allah dan jangan dustakan. InsyaAllah Allah akan tambahkan nikmatNYA. Aamiin...

Sejak kita lahir menjalani kehidupan berproses. Mulai usia Balita (bawah lima tahun), lalu bocah jadi remaja terus muda kemudian dewasa bekerja dan berkeluarga punya isteri, anak, mantu, cucu. Setelah itu kita memasuki tahapan yang disebut Lansia (lanjut usia). Nah, sebagai Lansia, kita bakal menjalani 4 kali tahap. Yaitu :

Pertama : Sejak usia 58 sd 65 tahun, Tempat kerja akan menyingkirkan kita. Sesukses Apapun karier kita dan sehebat apapun kekuasaan kita saat menjabat, kita harus kembali ke Manusia Biasa sebagai Pensiunan, Purnabhakti atau Purnawirawan. Jadi jangan terpaku pada mode berpikir dan rasa kekuatan serta keunggulan di masa lalu ketika kita bekerja, lepaskan semuanya, Agar Bisa Merasa Nyaman !!!

Kedua : Masuk usia 65 sd 75 tahun, Masyarakat secara bertahap menyingkirkan Kita. Semakin sedikit teman dan kolega yang bergaul dengan kita, dan hampir tidak ada yang mengenal kita ketika pergi ketempat kerja semula. Jangan katakan bahwa Saya dulu adalah ..., Saya dulu pernah ..., Karena Anak muda sudah tidak mengenal kita lagi ..., Jangan Canggung !!!

Ketiga : Saat usia 75 sd 85 tahun, Keluarga secara bertahap Menyingkirkan kita  Sekalipun kita memiliki banyak Anak dan Cucu, hampir sepanjang waktu kita hanya bisa tinggal bersama Istri/Suami, atau Hidup sendirian. Sekalipun Anak-anak datang berkunjung sesekali bertalian hubungan kekeluargaan, Jangan terlalu Berharap ...... Mereka bisa jarang datang, karena Mereka juga punya kehidupan sendiri ...

Keempat : Dalam usia 85 sd 95 tahun, Bumi akan melenyapkan kita.  Seseorang yang kita kenal ada yang meninggalkan kita selamanya. Jangan sedih Saat ini, Jangan Sedih. Karena Cara Hidup seperti ini, Semua Orang akan Menjalani. Jadi Ingat ... Sejak Usia 58 Tahun Mari Kita Hidup dengan Baik selagi Kita masih dalam keadaan Sehat ...

Makanlah saat kita mau makan, Minumlah saat kita mau minum, Bermainlah saat kita ingin bermain REUNIAN dan SILATURAHIMAN lakukan, dan apa yang Ingin kita lakukan, lakukan ....... Serta makin banyaklah berbuat Kebaikan dan mendekatkan diri pada Allah Ta'ala Tuhan Yang Maha Esa.

INGAT ... !!! Satu-satunya hal yang tidak akan membuat kita tersingkir ketika Tua adalah : Grup WA. Oleh karena itu, komunikasikan lebih banyak dalam WA Grup, tampillah untuk membuat keberadaan, tunjukan kehadiran, berbahagialah dan jangan minder. Bersiaplah untuk menyambut masa yang pasti akan datang ini ! SALAM SEHAT SELALU TETAP SEMANGAT. BARAKALLAHU FIIKUM.

fimdalimunthe55@gmail.com 

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahi. EPCDH SYAWAL oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Senin 27 Syawal 1445 H, 6 Mei 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi wabarrakatuhu

Istiqamah Menjadi Orang Baik

JANGAN sampai gara gara orang lain tidak mengapresiasi lalu membuat kita "kendor" dalam berbuat kebaikan. Karena yang membalas kebaikan bukan manusia, tetapi Allah Tuhan pemilik jagad raya Allah Ta'ala berfirman : "Dan segala kebaikan yang kamu kerjakan untuk dirimu, kamu akan mendapatkannya (pahala) di sisi Allah, sungguh Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan" (QS. Al-Baqarah : 110). "Segala yang baik yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya" (QS. Al-Baqarah : 197). "Dan kebaikan apa saja yang kamu kerjakan, maka  sesungguhnya Allah Maha Mengetahui" (QS. Al-Baqarah : 215).

Ayat-ayat diatas hanya sebagian saja, masih banyak lagi ayat lainnya yang selalu menjelaskan bahwa segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia tidak akan terlepas dari pengetahuan dan pantauan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

DIAlah nanti yang akan memberi ganjaran dan balasan atas semua yang diperbuat oleh manusia. Karenanya kita tidak layak untuk : Kecewa apalagi putus asa apabila tidak ada seorangpun yang tahu kebaikan yang telah kita lakukan.

Bersedih hanya karena tidak ada yang mengapresiasi apa yang telah kita lakukan, cukup Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang mengetahui setiap kebaikan dan cukup DIAlah yang akan membalas dan menghargai kebaikan kita, kepedulian kita, keramahan kita kepada orang lain, perhatian kita kepada sesama. Semua itu janganlah kita berharap balasan dari mereka, karena andai kita tidak mendapatkan balasannya di dunia, sungguh Allah telah menyiapkan ganjaran yang jauh lebih besar di akhirat.

"Kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu, niscaya kamu memperoleh balasannya disisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya," (QS. Al-Muzzammil 20). Maka, jangan bosan dan jangan malas untuk berbuat baik hanya karena tidak ada orang yang mengapresiasi kebaikan kita. InsyaAllah bermanfaat.

fimdalimunthe55@gmail.com     

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH SYAWAL oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Ahad 26 Syawal 1445 H, 5 Mei 2024

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Empat Hal Mesti Kita Jauhi

SEBAGAI MUSLIM dalam keseharian kita diminta taat atas perintah Allah Ta'ala dan mengikuti Sunnah Rasulallah Shalallahu Alayhi Wasallam. Untuk itu, ada 4 hal yang mesti kita jauhi, yaitu :

1). Syirik kepada Allah yaitu menduakan Allah. "Akan Kami masukkan rasa takut kedalam qalbu orang-orang kafir, karena mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan keterangan tentang itu dan tempat kembali mereka ialah Neraka dan (itulah) seburuk-buruk tempat tinggal (bagi) orang- orang dzalim"(QS. Ali 'Imran : 151)

2). Berpaling dari kebenaran yang datang dari Allah. "Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya wahai kaumku mengapa kamu menyakitiku padahal kamu sungguh mengetahui bahwa sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu maka ketika mereka berpaling (dari kebenaran) maka  Allah memalingkan qalbu mereka dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik"(QS. Ash-Shaff : 5)

"Dan apabila diturunkan suatu surah, satu sama lain diantara mereka saling berpandangan (sambil berkata) Adakah seseorang (dari kaum Muslimin) yang melihat kamu setelah itu mereka pun pergi, Allah memalingkan Qalbu mereka disebabkan mereka adalah kaum yang tidak memahami" (QS. At-Taubah : 127)

3). keDengkian kepada kaum Mukminin. "Dan orang orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdo'a ... Yaa Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam qalbu kami terhadap orang-orang yang beriman ... Yaa Tuhan kami ... sungguh Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang” (QS. Al-Hasyr : 10)

4). Berbuat Dosa ... apakah meninggalkan perintah Allah atau mengerjakan laranganNya

"Sekali-kali tidak bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi qalbu mereka",(QS. Al-Muthaffifin,14)

Setiap dosa akan berimplikasi kepada titik hitam kedalam Qalbu ... semakin banyak dosa semakin gelap qalbunya", (HR. At-Turmudzi)

Banyak orang yang keliru karena menganggap kebahagiannya ada pada "Harta, Rumah Mewah, perhiasan dan seterusnya" ... semua itu diluar dirinya padahal ... kebahagian itu ada di Qalbunya, mari kita jaga keutuhan qalbu kita karena disitulah sentra ketenangan dan kebahagiaan kita. InsyaAllah bermanfaat

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH SYAWAL oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Sabtu 25 Syawal 1445 H, 4 Mei 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarakatuhu 

"Berlari" Menuju Allah

IBADAH “berlari menuju Allah” adalah untuk mendapatkan keselamatan atau perlindungan dari murka Allah dan dari api neraka. Ibadah ini memiliki kedudukan yang agung. Demikian pula, Allah telah menyiapkan balasan bagi orang-orang yang bersegera berlari menuju Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman “Maka segeralah berlari menuju kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.” (QS. Adz-Dzariyat: 50)

Dalam hal ini, manusia terbagi menjadi dua, yaitu orang yang berbahagia dan orang yang celaka. Orang yang berbahagia yaitu orang yang segera berlari menuju Allah Ta’ala. Mereka adalah orang-orang yang mencari kebahagiaan dan kesuksesan dunia akhirat dengan bersegera berlari menuju Allah. 

Adapun orang yang celaka yaitu orang yang berlari meninggalkan atau menjauh dari Allah, mereka tidak berlari menuju Allah. Ini adalah jalan dan sebab kebinasaan dan kesengsaraan di dunia dan akhirat.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata ketika menafsirkan firman Allah di atas, “Berlarilah menuju Allah dan beramallah dengan menaatiNya.” (Tafsir Ats-Tsa’labiy, 24: 562; Tafsir Al-Baghawi, 7: 379). Ulama yang lain mengatakan, “Bebaskanlah dirimu yg dari azab Allah menuju pahala dari Allah dengan iman dan ketaatan.“ (Tafsir Al-Baghawi, 7: 379)

Segala sesuatu yang ditakuti hamba, dia akan berlari menjauh darinya, kecuali Allah. Contoh, orang yang takut api, dia akan berlari menjauh dari api agar tidak terbakar. Orang yang takut binatang buas, dia akan berlari menjauh darinya. Namun, tidak demikian kondisi orang yang takut kepada Allah. Karena barangsiapa yang takut kepada Allah, maka justru ia akan berlari mendekat dan menuju Allah. 

Allah Ta’ala berfirman “Hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepadaNya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 118)

Seseorang yang berlari menuju Allah Ta’ala pasti menghadapi banyak halangan dan rintangan, yaitu berbagai jenis pelanggaran syariat, baik lahir maupun yang batin, yang akan menghambat atau bahkan menghentikan perjalanannya menuju Allah. Secara umum, terdapat tiga penghalang dan hambatan, yaitu : 1) Syirik kepada Allah; ini merupakan penghalang paling berat; 2) Perbuatan bidah di dalam agama; dan 3) Berbagai macam kemakisatan. 

Seseorang bisa selamat dari perbuatan syirik apabila memurnikan tauhid; seseorang bisa selamat dari bid'ah apabila berpegang teguh dengan sunah; dan seseorang bisa selamat dari maksiat apabila bertobat dengan tulus.

Seseorang yang berlari menuju Allah membutuhkan tiga hal yang harus dia ilmui dan amalkan, yaitu : Pertama, mengenal siapa yang menjadi tujuannya berlari, yaitu Allah. Mengenal Allah adalah dengan mengenal nama, sifat, keagungan, kesempurnaan, dan juga mengenal kerasnya hukuman dan siksaan (azab) Allah. Semakin besar pengenalan seorang hamba kepada Allah, maka akan semakin cepat pula proses berlarinya menuju Allah. 

Allah Ta’ala berfriman, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba- hambaNya, hanyalah para ulama.” (QS. Fatir : 28). Siapa saja yang mengenal Allah, maka dia akan takut denganNya, bersemangat dalam ibadah, serta menjauhkan diri dari bermaksiat kepadaNya.

Kedua, mengenal jalan yang ditempuh ketika berlari menuju Allah, yaitu konsisten dalam melakukan ketaatan. Oleh karena itu, telah kita sebutkan sebelumnya bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata ketika menafsirkan firman Allah di atas, “Berlarilah menuju Allah dan beramalah dengan menaatiNya.” (Tafsir Ats-Tsa’labiy, 24: 562; Tafsir Al-Baghawi, 7: 379)

Jalan yang harus ditempuh oleh orang yang berlari menuju Allah adalah konsisten di atas jalan Allah yang lurus, tidak menyimpang, tidak berbelok, dan tidak berpaling. Bahkan, dia terus konsisten (istiqamah) menempuhnya dengan lurus menuju Allah dengan melakukan berbagai macam kewajiban dan menjauhi berbagai larangan dalam rangka mencari ridha dan pahala dari Allah.

Ketiga, mengenal tujuan akhir dari jalan ini, yaitu kesuksesan mendapatkan surga dan ridha Allah. Orang yang berlari menuju Allah akan selamat dari murka Allah dan mendapatkan kebahagiaan dengan keridaan Allah. Orang yang berlari menuju Allah adalah mereka yang selamat pada hari kiamat dari neraka dan masuk ke dalam surga. 

Allah Ta’ala berfirman, “Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185)

Tiga hal di atas terkumpul dalam firman Allah Ta’ala, “Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh- sungguh, sedangkan ia adalah seorang mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik.” (QS. Al-Isra’ : 19)

Asy Syaukani rahimahullah berkata, “Allah menyebutkan keadaan usaha yang dibalas baik dengan tiga hal, yaitu : 1) Menghendaki kehidupan akhirat; 2) Mengerahkan usaha dengan sungguh-sungguh; dan  3) Pelakunya adalah orang mukmin.

Kedudukan semacam ini tidak bisa didapatkan dengan berlambat-lambat, bermalas-malasan, atau menunda-nunda. Akan tetapi, hanya akan diraih dengan bergerak cepat dan bersegera. Allah Ta’ala berfirman, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu“  (QS. Ali Imran : 133). “Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu.“ (QS. Al-Hadid : 21)

Barangsiapa yang tidak berlari menuju Allah ketika berada di dunia ini, maka kelak di akhirat dia akan berkata, “Kemanakah tempat berlari ?” Padahal, tidak ada lagi tempat (tujuan) berlari ketika itu, karena semuanya sudah terlambat.

Allah Ta’ala berfirman, “Maka apabila mata terbelalak (ketakutan), dan apabila bulan telah hilang cahayanya, dan matahari dan bulan dikumpulkan, pada hari itu manusia berkata, “Ke manakah tempat berlari ?” Sekali-kali tidak ! Tidak ada tempat berlindung !” (QS.Al-Qiyamah: 7-11). Allah Ta’ala  berfirman, “Kalian tidak memperoleh tempat berlindung pada hari itu dan tidak (pula) dapat mengingkari (dosa-dosamu).” (QS. Asy-Syura : 47)

Maksudnya, tidak ada bagimu pelindung yang akan melindungimu, dan tidak ada pula tempat yang menutupimu sehingga engkau bisa bersembunyi dari penglihatan Allah. Bahkan, Allah meliputimu dengan ilmu, penglihatan, serta kekuasaanNya. Maka tidak ada tempat perlindungan kecuali hanya kepada Allah. (Tafsir Ibnu Katsir, 7: 215)

InsyaAllah Allah Ta’ala menganugerahkan taufik dan hidayahNya kepada kita semua untuk bisa bertobat dengan setulus- tulusnya dan menjadi hamba yang senantiasa berlari menuju kepada Allah dengan sebaik- sebaiknya. Dialah satu-satunya tempat kembali dan tempat bergantung, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah semata. InsyaAllah bermanfaat

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH SYAWAL oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran, Jumat 24 Syawal 1445 H, 3 Mei 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu. SEMANGAT PAGI. JUMAH MUBARAK

Jadilah Manusia Ahsanul Taqwin

Manusia adalah mahluk yang penuh potensi dan terbaik (ahsanu taqwin). Potensi kemampuan berfikir menjadi mahluk terbaik dan mulia.

Disisi lain manusia memiliki kelemahan, yang dapat terjatuh dalam kehinaan terendah, (asfala saaffilin) bahkan lebih buruk dari hewan (kal An aam bal hum adholl).

Allah mengutus para nabi pemberi petunjuk dan peringatan  (Dzikra). Dalam menjaga kemurnian fitrah manusia dengan Al Quran, manusia bisa menghadapi, gejolak nafsunya, mampu menghadapi tipu daya dunia, yang keras dan global.

Perhatian Al Quraan ada tiga hal : 1: Allah. 2: Manusia. 3: Sistem hidup. Manusia unggul menurut Al Quran, adalah berwawasan Iqra. Yaitu secara terus menerus mampu mengembangkan pemikiran dan wawasan Untuk tujuan memahami rahasia ciptaan Allah sehingga mampu mengenal alam dunia dan akhirat. Mampu mengkombinasikan antara ketajaman hati, dan kecermelangan akal. 

QS : Ali Imran 191: "Yaitu orang orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan, tentang penciptaan, langit dan bumi, (serta berkata) ya Tuhan kami, tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia sia, maha suci engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." 

Kedudukan akal untuk manusia sangat tinggi, untuk membangun nalar yang sehat. Untuk mampu membedakan sesuatu benar dan salah, jujur dan dusta, setia dan khianat, sehat dan sakit 

Manusia di komunitas Jawa dan warisan leluhur, ada tiga kriteria. Yaitu : Bibit, Bobot, Bebet.

Adalah sistim requitment  sederhana untuk banyak masalah warisan leluhur kita untuk menyaring hal yang diperlukan dalam kehidupan ini.. Singkat.. padat penuh makna..

Bibit. Bibit adalah terkait dengan asal usul seseorang, hal ini menyangkut risalah keturunannya.

Bobot. Hal ini terkait dengan kualifikasi seseorang, baik menyangkut risalah pendidikannya maupun keluasan pengetahuannya.

Bebet. Hal ini menyangkut tentang attitude atau perilaku keseharian seseorang dalam hubungannya dengan perilaku tata nilai kehidupannya sehari- hari. InsyaAllah bermanfaat

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH SYAWAL oleh Ferry Is Mirza (fim), Kamis 23 Syawal 1445 H, 2 Mei 2024 

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuh 

Jujurlah dan Jangan Diamkan Kemungkaran

HIDUP DI DUNIA tidaklah sepi dari ujian dan cobaan. Oleh sebab itu, hendaknya setiap diri berjuang dan bersungguh- sungguh dalam berupaya menyelamatkan dirinya dari kebinasaan dan demi menggapai kebahagiaan. 

Allah Ta’ala berfirman, “Apakah kalian mengira bahwa kalian akan begitu saja masuk surga, sedangkan Allah belum mengetahui (melihat) siapakah orang-orang yang bersungguh-sungguh di antara kalian dan untuk mengetahui siapakah orang-orang yang sabar?” (QS. Ali ‘Imran: 142)

Dengan ujian inilah, akan tampak siapakah orang yang benar keimanannya dengan orang yang hanya berpura-pura.

Allah Ta’ala berfirman, “Sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka benar-benar Allah akan mengetahui (membuktikan) siapakah orang-orang yang jujur dan akan mengetahui siapakah orang-orang yang dusta.” (QS. Al-‘Ankabut: 3)

Allah Ta’ala berfirman, “Hendaknya ada di antara kalian segolongan orang yang mendakwahkan kepada kebaikan, memerintahkan yang makruf, dan melarang yang mungkar. Mereka itulah sebenarnya orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali-’Imran: 104)

Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan riwayat dari Abu Ja’far Al-Baqir setelah membaca ayat, “Hendaknya ada di antara kalian segolongan orang yang mendakwahkan kepada kebaikan.” Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Yang dimaksud kebaikan itu adalah mengikuti Al-Qur’an dan Sunnahku.” (HR. Ibnu Mardawaih. Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, jilid 2, hal. 66.)

Allah Ta’ala berfirman tentang kedurhakaan orang-orang kafir Bani Israil, “Telah dilaknati orang- orang kafir dari kalangan Bani Israil melalui lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Hal itu dikarenakan kemaksiatan mereka dan perbuatan mereka yang selalu melampaui batas. Mereka tidak melarang kemungkaran yang dilakukan oleh sebagian di antara mereka. Amat buruk perbuatan yang mereka lakukan itu.” (QS. Al-Ma’idah: 78-79)

Syekh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Tindakan mereka itu (mendiamkan kemungkaran) menunjukkan bahwa mereka meremehkan perintah Allah, dan kemaksiatan mereka anggap sebagai perkara yang sepele. Seandainya di dalam diri mereka terdapat pengagungan terhadap Rabb mereka, niscaya mereka akan merasa cemburu karena larangan-larangan Allah dilanggar dan mereka pasti akan marah karena mengikuti kemurkaan-Nya.” (Tafsir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 241)

Di antara dampak mendiamkan kemungkaran adalah kemungkaran tersebut semakin menjadi-jadi dan bertambah merajalela. Syekh As-Sa’di telah memaparkan akibat buruk ini, “Sesungguhnya hal itu (mendiamkan kemungkaran) menyebabkan para pelaku kemaksiatan dan kefasikan menjadi semakin lancang dalam memperbanyak perbuatan kemaksiatan tatkala perbuatan mereka tidak dicegah oleh orang lain, sehingga keburukannya semakin menjadi-jadi. Musibah diniah dan duniawi yang timbul pun semakin besar karenanya. Hal itu membuat mereka (pelaku maksiat) memiliki kekuatan dan ketenaran. Kemudian, yang terjadi setelah itu adalah semakin lemahnya daya yang dimiliki oleh ahlul- khair (orang baik-baik) dalam melawan ahlusy-syarr (orang-orang jelek), sampai-sampai suatu keadaan di mana mereka tidak sanggup lagi mengingkari apa yang dahulu pernah mereka ingkari.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 241.)

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ’anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Demi Zat yang jiwaku berada di tanganNya! Benar-benar kalian harus memerintahkan yang makruf dan melarang dari yang mungkar, atau Allah akan mengirimkan untuk kalian hukuman dari sisi-Nya kemudian kalian pun berdoa kepada-Nya, namun permohonan kalian tak lagi dikabulkan.” 

(HR. Ahmad. Sahih Al-Jami’, hadits no. 7070. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, jilid 2, hal. 66.)

Allah berfirman, “Dan ingatlah ketika suatu kaum di antara mereka berkata, ‘Mengapa kalian tetap menasihati suatu kaum yang akan Allah binasakan atau Allah akan mengazab mereka dengan siksaan yang amat keras?’ Maka, mereka menjawab, ‘Agar ini menjadi alasan bagi kami di hadapan Rabb kalian dan semoga saja mereka mau kembali bertakwa." (QS. Al-A’raf: 164). InsyaAllah bermanfaat

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH SYAWAL, oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Rabu 22 Syawal 1445 H, 1 Mei 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu 

Menjaga dan Merawat HATI  Sepenuhnya

HATI itu ADALAH PENGENDALI DIRI. Jika ia baik, baik pula perbuatannya. Jika ia rusak, rusak pula perbuatannya. Maka menjaga dan merawat hati sepenuh hati dari kerusakan wajib dilakukan.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan perusak hati ada lima perkara: (1) Bergaul dengan banyak kalangan (baik dan buruk) (2) Angan-angan kosong (3) Bergantung kepada selain Allah (4) Kekenyangan (5) Banyak tidur.

Pergaulan adalah perlu, tapi tidak asal bergaul dan banyak teman. Pergaulan yang salah akan menimbulkan masalah. Teman teman yang buruk lambat laun akan menghitamkan hati, melemahkan dan menghilangkan rasa nurani, akan membuat yang bersangkutan larut dalam memenuhi berbagai keinginan mereka yang negatif.

Dalam tataran riel, kita sering menyaksikan orang yang hancur kehidupannya gara gara pergaulan. Biasanya out put semacam ini, karena motivasi bergaulnya untuk dunia. Dan memang, kehancuran manusia lebih banyak disebabkan oleh sesama manusia. Karena itu, kelak di akhirat, banyak yang menyesal berat karena salah pergaulan. 

Allah berfirman : "Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zhalim menggigit dua tangannya seraya berkata, Aduhai (dulu) kiranya aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur”an ketika Al-Qur”an itu telah datang kepadaku.” (QS. Al-Furqan: 27-29

"Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67)

"Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini, kemudian di hari Kiamat sebagian kamu mengingkari sebagian (yang lain) dan sebagian kamu melaknati sebagian (yang lain), dan tempat kembalimu adalah Neraka, dan sekali-kali tidak ada bagimu paray penolong.” (QS. Al-Ankabut : 25)

Inilah pergaulan yang didasari oleh kesamaan tujuan duniawi. Mereka saling mencintai dan saling membantu jika ada hasil duniawi yang diingini. Jika telah lenyap kepentingan tersebut, maka pertemanan itu akan melahirkan duka dan penyesalan, cinta berubah menjadi saling membenci dan melaknat.

Karena itu, dalam bergaul, berteman dan berkumpul hendaknya ukuran yang dipakai adalah kebaikan. Lebih tinggi lagi tingkatannya jika motivasi pertemanan itu untuk mendapatkan kecintaan dan ridha Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. Artinya, kita harus menjaga hati kita dengan penuh kewaspadaan, karena hati adalah sumber kehidupan.

Oleh karena itu, kita perlu terus mewaspadai pikiran, perasaan, dan tindakan kita. Saat pikiran negatif muncul, kita perlu mengubahnya menjadi positif. Saat emosi negatif datang, kita perlu mengelolanya dengan bijaksana. Saat godaan datang, kita perlu mencari kekuatan dalam hati kita untuk menghindarinya. InsyaAllah bermanfaat

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH SYAWAL oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Selasa 20 Syawal 1445 H, 30 April 2024

Assalamualaikum warrahmatallahi Wabarrakattuh

Bahagia itu Sederhana, Bersyukurlah

MANUSIA itu kadang membingungkan. Mengorbankan kesehatannya demi menghasilkan uang. Kemudian mengorbankan uang untuk memulihkan kesehatannya.

Dan kemudian begitu CEMAS mengenai masa depan sehingga tidak bisa menikmati masa kini : Akibatnya tidak hidup di masa sekarang atau masa depan. ️Hidup seolah- olah tidak akan pernah mati, dan kemudian mati tanpa pernah Menikmati apa itu hidup.

BERSYUKURLAH apa yang selama ini kita dapati dan nikmati. Karena kita tidak akan tahu, apa yang akan terjadi hari esok.

Ketika LAHIR dua tangan kita kosong : Ketika meninggalpun tangan kita juga kosong. Waktu datang dan pergi kita tidak membawa apa-apa.

Jangan SOMBONG karena kaya dan berkedudukan.  Jangan pula MINDER karena miskin. Kaya belum tentu MULIA. Miskin belum tentu HINA, Kaya belum tentu BAHAGIA, dan Miskin belum tentu MENDERITA

Bukankah kita semua hanyalah TAMU di dunia ini dan semua milik kita hanyalah PINJAMAN : Tetaplah RENDAH HATI seberapapun tinggi kedudukan kita, Tetaplah PERCAYA DIRI seberapapun kekurangan kita.

Karena kita hadir dan kembali tidak membawa apa apa : Hanya pahala kebajikan untuk Membuka jalan SURGA atau dosa kejahatan yang akan menjerumuskan ke NERAKA, Datang kita menangis, Pergi juga ditemani oleh Tangisan.

Maka dari itu tetaplah BERSYUKUR dalam segala keadaan apapun : Hiduplah disaat yang benar benar ADA dan NYATA untuk kita, yaitu SAAT INI. Bukan dari bayang bayang masa lalu maupun mencemaskan masa mendatang yang belum lagi tiba.

Pemenang Kehidupan adalah : Orang yang TETAP SEJUK di tempat yang panas dan TETAP MANIS di tempat yang sangat pahit dan yang TETAP RENDAH HATI meskipun telah menjadi besar, Serta TETAP TENANG di tengah badai yang paling hebat.

Hiduplah dengan sederhana dan tetap BAHAGIA : Karena Kita punya Hak BAHAGIA dengan cara kita masing masing.

Allah Ta'ala berfirman :  “Tidak ada sesuatu musibah pun yangg menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya dia akan memberi petunjuk kepada hatinya dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu…” (QS.Ath Thaghabun: 11)

INTI dari semua ini adalah : Letak kebahagiaan bukanlah dengan memiliki istana yang megah, mobil yang mewah, harta yang melimpah. Namun letak kebahagiaan adalah di dalam hati masing masing.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Yang namanya kaya (ghina’) bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia) Namun yg namanya ghina’ adalah hati yg selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari  Muslim)

InsyaAllah bisa menjadi pengingat dan penguat keimanan kita. Aamiin yaa rabbal Allamin.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH SYAWAL oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Senin 19 Syawal 1445 H, 29 April 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuh 

SELALU TAQWA dan MENGOREKSI DIRI SENDIRI

Allah Ta’ala berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman ! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hasyr 18)

Di dalam ayat ini Allah Ta’ala memerintahkan kepada kita, seorang yang bertaqwa, seorang yang beriman hendaknya senantiasa mengevaluasi dirinya dan melakukan introspeksi atas apa yang telah ia kerjakan. Seorang muslim yang senantiasa menanyai dirinya dengan penuh kejujuran atas setiap ucapan dan perbuatan yang telah ia kerjakan ataupun yang akan ia kerjakan, senantiasa bertanya kepada dirinya amalan apa sajakah yang telah ia kerjakan serta berapa banyak kemaksiatan yang telah ia kerjakan.

Ibnu Katsir rahimahullahu menafsirkan ayat tersebut, Setiap kalian hendaknya melihat apa yang telah ia kerjakan untuk hari nanti di saat bertemu Allah. Tanyailah dirimu sebelum nanti kalian benar-benar dihisab oleh Allah. Lihatlah seberapa banyak amalan yang telah kalian siapkan (kerjakan) untuk persiapan menghadap Allah.

Beliau melanjutkan penafsirannya, ketahuilah Allah maha teliti atas apa yang telah kalian kerjakan. Ketahuilah sesungguhnya Allah maha mengetahui atas seluruh amalan amalan kalian, kondisi kondisi kalian. Tidak ada hal kecilpun yang Allah tidak mengetahuinya yang tersembunyi dari pengetahuan Allah Ta’ala dan tidak ada yang tersembunyi baik itu perkara yang kecil maupun yang besar.

Atas dasar inilah bahwasanya seluruh amalan kita akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah. Kehidupan kita di alam dunia tidaklah kekal, maka kita perlu senantiasa mengevaluasi diri, sudah siapkah kita untuk menghadap Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman: "Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS. Al-Anbiya: 47)

Inilah mengapa kita perlu mengevaluasi diri, merenungkan diri sejenak dan menanyakan pada diri kita berapa banyak dosa yang telah kita lakukan. Sehingga dengan hal tersebut kita mampu bersegera untuk bertaubat kepada Allah Ta’ala, sudahkah kita banyak beramal sehingga kita semangat lagi untuk beribadah kepada Allah Ta’ala.

Dan di antara ucapan ucapan mutiara dari para pendahulu kita, baik dari para sahabat maupun ulama terdahulu, tentang motivasi supaya kita memperbanyak evaluasi diri (muhasabah) di antaranya : Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu beliau berkata,

Koreksilah diri kalian, hisablah diri kalian selama kalian masih hidup di dunia ini sebelum nanti kalian akan dihisab dimintai pertanggung jawaban di hadapan Allah. Timbang-timbanglah (hitunglah) amalan apa saja yang sudah dikerjakan, amalan apa saja yang belum bisa dikerjakan, sehingga ia bisa semangat kembali untuk mengerjakan serta konsisten dari amalan yang telah ia kerjakan. Dengan seseorang banyak mengevaluasi diri, hal demikian akan membuatnya nanti di hari kiamat lebih ringan hisabnya.

Juga di antara para salaf yang memotivasi kita untuk memperbanyak evaluasi diri adalah Malik bin Dinar rahimahullahu juga berkata, Semoga Allah Ta’ala merahmati seorang hamba yang dia berkata pada dirinya bukankah engkau telah melakukan (maksiat) demikian?’ Kemudian dia mencela dirinya, kemudian dia ingat kepada Allah Ta’ala sehingga dia kembali di atas jalan yang lurus.

Sehingga bisa kita simpulkan, salah satu ciri orang yang bertaqwa adalah orang yang pandai mengevaluasi diri, pandai melihat kekurangan pada dirinya, sehingga ia bisa kembali ingat kepada Allah ta’ala.

Karena pentingnya muhasabah diri, hendaknya setiap kita punya momen untuk kita menyendiri, kemudian kita mengingat apa saja yang telah kita persiapkan untuk menghadap Allah. Dosa apa saja yang telah kita kerjakan sehingga dengan demikian kita mampu bertaubat kepada Allah ta’ala, bersegera untuk meraih ampunan Allah ta’ala. Juga di antara buah dari muhasabah adalah seorang muslim mampu mengetahui kekurangan dirinya sehingga dia mampu memperbaiki dirinya.

Di antara faedah (manfaat) lainnya adalah dengan muhasabah seseorang akan terhindar (terselamatkan) dari kerugian kelak di hari kiamat. Sesungguhnya orang yang pandai mengevaluasi diri adalah tergolong orang yang cerdas. Juga diantara bentuk manfaat muhasabah yaitu rasa tenangnya orang yang pandai muhasabah dia akan lebih lega, lebih baik kondisinya dibandingkan orang- orang yang tidak pernah melakukan evaluasi diri.

Marilah kita berdo’a kepada Allah Ta’ala semoga kita dijadikan hamba-hambanya yang senantiasa pandai untuk mengevaluasi (muhasabah) diri. Sehingga kita  mempersiapkan pertemuan dengan Allah Ta’ala, benar- benar menjadi hamba untuk segera bertaubat. InsyaAllah bermanfaat

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim.EPCDH SYAWAL oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Ahad 18 Syawal 1445 H, 28 April 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarakatuhu 

Sifat Seseorang akan Terlihat saat Ditimpa Ujian

MEREKA yang beriman dan tunduk kepada Allah akan membuktikan imannya dan ketaatannya kepada hukum agama. Sebaliknya, mereka yang beribadah kepada Allah di pinggiran; apabila tertimpa musibah maka ia pun berbalik ke belakang meninggalkan keimanan, wal ‘iyadzu billah. 

Allah berfirman, “Dan diantara manusia ada orang- orang yang beribadah kepada Allah di tepian. Apabila menimpanya kebaikan dia pun merasa tenang dengannya. Akan tetapi apabila menimpanya fitnah/ujian maka dia pun berpaling ke belakang. Dia pun merugi dunia dan akhirat, dan itulah kerugian yang sangat nyata.” (QS. Al-Haj : 11)

- Para ulama tafsir, diantaranya Qatadah dan Mujahid menafsirkan bahwa yang dimaksud beribadah kepada Allah di tepian yaitu di atas keragu-raguan. 

- Abdurrahman bin Zaid bin Aslam menafsirkan bahwa yang dimaksud ayat ini adalah orang munafik. Apabila urusan dunianya baik maka dia pun beribadah tetapi apabila urusan dunianya rusak maka dia pun berubah. Bahkan pada akhirnya dia pun kembali kepada kekafiran. 

- Mujahid menafsirkan ‘berpaling ke belakang’ maksudnya adalah menjadi murtad dan kafir (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, 5/400-401)

Syaikh Shalih al-Fauzan mengatakan, “Sebagian manusia apabila terkena fitnah /cobaan- cobaan maka dia pun menyimpang dari agamanya, hal itu disebabkan dia sejak awal tidak berada di atas pondasi yang benar dalam beragama”. InsyaAllah bermanfaat, aamiin...

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH SYAWAL oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Sabtu 18 Syawal 1445 H, 27 April 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi wabarrakatuh

Kebahagian Dunia Semu dan Menipu serta Melalaikan Akhirat

Dalam EPCDH Kamis 16/04 menyajikan tulisan Dunia Tempat Ujian Kehidupan. Hari ini penulis melanjutkan, ternyata Kebahagiaan Dunia itu Semu dan Menipu serta melalaikan dari Akhirat.

Allah Ta’ala berfirman “Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.” (QS. Luqmaan : 33)

Allah Ta’ala berfirman, “Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu sesuai dengan apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” (QS. Al-Isra’ : 17)

Jika mengikuti kebanyakan hawa nafsu manusia di muka bumi, maka kita akan kita akan tersesat. 

Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-An’am : 116)

Allah Ta’ala juga berfirman, “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaanNya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” (QS. Al Hadid : 20)

Allah Ta’ala juga berfirman, “Tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am : 44)

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepadaNya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad 4: 145. Syaikh Syu’aib Al Arnauth, hasan.)

Adapun orang yang lebih mengutamakan dunia daripada akhirat, maka dia terkadang diberikan dunia, akan tetapi dia tidak mendapat bagian di akhirat. 

Allah Ta'ala berfirman: "Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Hûd : 15-16)

Sesungguhnya orang yang lebih mengutamakan akhirat daripada dunia, dia akan mendapatkan kenikmatan dunia dan akhirat. Karena amalan akhirat itu mudah bagi orang yang diberi kemudahan oleh Allah Ta'ala dan dia tidak melewatkan dunia ini sedikitpun. Sesungguhnya siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah Ta'ala, pasti Allah Ta'ala akan memberikan ganti yang lebih baik darinya. 

Allah Ta'ala berfirman: "Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS. an-Nahl : 97)

Betapa banyak orang yang terfitnah dengan diberi kenikmatan (dibiarkan tenggelam dalam kenikmatan, sehingga semakin jauh tersesat dari jalan Allah), sedangkan ia tidak menyadari hal itu.

Dan mengenai bahagia yang sesungguhnya jelas letaknya adalah di hati. Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari 6446 dan Muslim 1051)

Sering-seringlah kita muhasabah antara nikmat dan istidraj. InsyaAllah bermanfaat dan barakah bagi kita serta untuk meningkatkan ibadah ketaqwaan keimanan dan dijauhkan dari musibah. Aamiin....

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy.  Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH SYAWAL oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Jumat 17 Syawal 1445 H, 26 April 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuh 

Cermin Akhlaq Muslim

Akhlaq adalah tabiat manusia yang dipengaruhi oleh nilai-nilai. Jika nilai tersebut baik, maka akan menjadi pribadi yang baik. Demikian sebaliknya, jika nilai yang diadopsi itu buruk, maka akan membentuk karakter buruk pula. 

Adapun unsur pembentukan karakter itu terdiri dari beberapa faktor di antaranya: Keyakinan, Pikiran, Ucapan dan Perbuatan. Banyak orang tidak tahu antara perbedaan akhlaq, moral dan budi pekerti. 

Jika akhlaq, tentu sumber pembentuknya adalah Al Qur'an. Lalu Moral, sumber pembentuknya adalah akal. Sehingga terkadang ketika bicara moral, maka peradaban Barat pun ikut nimbrung di dalamnya. Seperti kapitalis, dan lain sebagainya. Adapun budi pekerti, itu dipengaruhi oleh budaya. Maka, akhlaq berbeda dengan moral, dan budi pekerti. 

Allah Azza Wajalla memuji Nabi-Nya Shalallahu Alayhi Wasallam dalam surat Al Qolam ayat 4. Kemudian ayat tersebut dijelaskan oleh ibunda Aisyah AS akan maksud akhlaq yang agung tadi.  Sebagaimana yang dimuat dalam kitab Shahih Al Bukhari. Maka Aisyah mengatakan "di dalam diri Rasulullah Shalallahu Alayhi Wasallam terkandung dan terhimpun nilai- nilai Al Qur'an." 

Allah juga menegaskan dalam surat Al Maidah ayat 50 akan kehebatan Rasulallah dengan dienul Islamnya, dalam merubah paradigma jahiliah menjadi bernafaskan Islam. 

Sahabat Abdullah bin Mas'ud mengatakan, "ketika di hatimu tidak ada Allah, maka hatimu akan berpaling kepada selain Allah."

Bahkan Nabi Shallahu Alayhi Wasallam juga menjelaskan dalam riwayat Abu Daud perihal wanita dan akhlaqnya. Beliau menjelaskan karakter istri shalihah itu ada empat. 

Jika dipandang akan menyenangkan. Jika diminta oleh suaminya, maka dia taati. Jika suami bersumpah (melarang sesuatu) maka jangan dilanggar. Jika suami tidak ada di rumah, maka ia akan menjaga dirinya, kehormatan dan hartanya. 

Beliau Shalallahu Alayhi Wasallam juga menegaskan ciri spesifik wanita penghuni surga. Yaitu Al wadud, artinya : wanita yang penyayang kepada suaminya. Sekalipun bisa jadi secara fisik si istri kurang menyukainya. Al walud, wanita atau istri yang siap melahirkan anak keturunan dari suaminya. Al A'ud, seorang istri yang mencium tangan suaminya ketika hendak ke tempat peraduan (ranjangnya) dengan mengucapkan, "aku tidak akan tidur sebelum engkau ridha kepadaku. "

Allah juga menerangkan tentang akhlaq ini dalam surat Al An'am ayat 162. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: Katakanlah (Muhammad), "Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam,(QS. Al-An'am : 162)

Inilah cerminan akhlaq seorang muslim. Kaitannya dengan akhlaq, adalah segala yang urusannya dengan hati. 

Imam Al Ghazali rahimahullah memberikan wejangan akan 4 hal agar Allah selalu di hati seorang hamba : (1) Bersihkan tubuhmu dari segala kotoran dan najis (2) Bersihkan anggota tubuhmu dari dosa-dosa dan kemaksiatan (3) Bersihkan karaktermu dari sifat-sifat buruk seperti, iri, dengki, khianat, pengecut, fitnah, adu domba, sombong, dan penyakit hati lainnya (4) Bersihkan qalbumu dari selain Allah. 

Allah menggambarkan dengan sangat indah tentang akhlaq yang baik dalam surat Ibrahim ayat 24-25.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit,(QS. Ibrahim : 24)

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman : (pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat. (QS. Ibrahim : 25)

Adapun pohon yang dimaksud di sini adalah pohon kurma.  Adapun penjelasan dari akarnya kokoh maksudnya adalah memiliki aqidah yang kuat. Batangnya menjulang ke langit maksudnya adalah ibadahnya hanya kepada Allah semata. Berbuah sepanjang tahun maksudnya adalah menghasilkan akhlaq yang mulia. 

Riset membuktikan, bahwa pohon buah di muka bumi yang senantiasa berbuah sepanjang tahun adalah pohon kurma. Maasyaa Allah ! 

Lalu di sini juga berbicara tentang pria ideal yang mulia akhlaqnya. Kriterianya diwakilkan oleh putri dari nabi Syuaib AS yang melihat pria gagah perkasa dan amanah yaitu nabi Musa AS yang Allah abadikan dalam surat Al Qashas ayat 26. 

Di ayat tersebut dijelaskan tentang sosok qowiyyul amin yang artinya kuat dan amanah. Jadi seorang pria yang baik akhlaqnya adalah seorang pria yang kuat lagi amanah. 

Bahkan Rasulullah Shalallahu Alayhi Wasallam adalah lelaki terkuat di muka bumi ini. Dikabarkan bahwa kekuatan yang beliau miliki yaitu 30x kekuatan pria paling kuat. Beliau memiliki 9 istri, dalam sebuah riwayat shahih beliau mampu menggilir mereka dalam satu malam saja. Maasyaa Allah ! 

Di akhir pembahasan disampaikan sebuah hadits Rasulullah Shalallahu Alayhi Wasallam yang berbunyi, "Tidak ada sesuatu yang lebih memberatkan timbangan kebaikan seorang hamba pada hari kiamat, kecuali akhlaq yang mulia."

Dan sedekat-dekatnya kedudukan hamba Allah dengan Rasulullah Shalallahu Alayhi Wasallam pada hari kiamat adalah karena akhlaq mulia. 

Kita juga perlu tahu antonim dari akhlaq mulia, yaitu akhlaq tercela dengan beberapa kriteria : (1) Ats Tsirtsarun, maknanya adalah banyak bicara tapi  tidak ada mutu dalam pembicaraannya (2) Al Mutasyaddiqun, yaitu berbicara dengan niat menyakiti (3) Al Mutafaihiqun, maksudnya sombong. 

Adapun 6 ciri orang bodoh adalah : (1) Berbicara tidak bermutu (2) Marah tanpa sebab (3) Percaya kepada semua orang sehingga mudah dibohongi juga (4) Tidak tahu siapa kawan siapa lawan (5) Tidak bisa menyimpan rahasia (6) Memberi bukan pada tempatnya. InsyaAllah bermanfaat.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH SYAWAL oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Kamis 16 Syawal 1445 H, 25 April 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuh 

Dunia Tempat Ujian Kehidupan

Dari Abu Hurairah radhi Allahu anhu berkata, bersabda Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam :

Manusia yang paling berat cobaannya ialah para nabi, kemudian orang-orang saleh, lalu orang yang terkemuka. Seseorang akan diuji sesuai dengan kadar agamanya; jika agamanya kuat, maka ujiannya diperberat pula. (HR. Tirmidzi). Pelajaran yang terdapat di dalam hadist :

1- Hadist tersebut menjelaskan bahwa suatu hal yang pasti terjadi dimana Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan menguji hamba- hambaNya yang beriman. Ujian adalah sebuah kemestian. Besarnya ujian yang diberikan sesuai dengan kadar keimanan mereka. 

2- Seorang mukmin makin bertambah imannya, makin besar ujian yang menimpanya. Demikian pula sebaliknya. Jadi hadits-hadits itu dengan sendirinya membantah orang- orang yang mengira bahwa manakala seorang mukmin ditimpa cobaan; seperti dipenjara, diasingkan atau dipecat dari jabatannya dan lain sebagainya, adalah pertanda bahwa ia tidak diridhai oleh Allah. Dugaan semacam itu salah sama sekali. Sedangkan Rasulallah sendiri, adalah orang yang paling mulia, namun sekaligus dia sebagai orang yang paling dashyat cobaannya, bila dibandingkan dengan para nabi lainnya. Tema hadist yang berkaitan dengan al Quran :

1- Allah pasti akan menguji hamba- hambaNya yang beriman sesuai dengan kadar iman masing-masing.

Barang siapa yang ketika fitnah syubhat (kesamaran) datang, imannya tetap kokoh dan dapat menolak dengan kebenaran yang dipegangnya. Dan ketika fitnah syahwat datang yang mengajaknya berbuat dosa dan maksiat atau memalingkan dari perintah Allah dan RasulNya, ia bersabar dalam arti mengerjakan konsekwensi iman dan melawan hawa nafsunya, hal ini menunjukkan kebenaran imannya. Akan tetapi barang siapa yang ketika syubhat datang, ada pengaruh dalam hatinya berupa keraguan dan kebimbangan dan ketika syahwat datang, membuatnya mengerjakan maksiat atau berpaling dari kewajiban, maka yang demikian menunjukkan tidak benar keimanannya. 

Alif Lam Mim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, "Kami telah beriman," sedangkan mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang- orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang- orang yang dusta. (Al-'Ankabut, :1-3)

2- Allah Subhanahu Wa Ta'ala memerintahkan kita untuk menerima segala bentuk ujian dengan bersabar, sebagaimana melarang kita untuk berputus asa dari rahmatNya. 

“Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidaklah berputus asa dari rahmat Allah selain kaum yang kafir”. (QS. Yusuf : 87)

3- Allah Subhanahu Wa Ta'ala juga telah menegaskan bahwa setiap kesulitan pasti akan diiringi oleh kemudahan, sebagaimana dalam firmanNya:

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS. al-Insyiroh :5-6)

4- Sabar dan bijak dalam menghadapi cobaan dari Allah tidak mudah untuk dilakukan. Ikhlas menerima ketentuannya, akan memberikan kekuatan jiwa dan pahala.

“Sesungguhnya orang-orang yang bersabar, ganjaran bagi mereka adalah tanpa hisab (tak terhingga).” (QS. Az Zumar: 10). InsyaAllah bermanfaat

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH SYAWAL, oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Rabu 14 Syawal 1445 H, 24 April 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuh 

SEMUANYA MUDAH BAGI ALLAH

Ada dua kejadian dalam Al-Qur’an yang seakan tidak masuk akal namun dapat terwujud ketika Allah telah berkehendak. Dua kejadian ini menyimpan pelajaran yang begitu berharga;

1. Ketika Allah menyampaikan kabar kepada Nabi Zakariya AS bahwa beliau akan memiliki anak. Saat itu beliau terheran karena umur beliau sudah tua dan istrinya mandul;

Allah berfirman : “Hal itu adalah mudah bagiKu; dan sesunguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali”. (QS. Maryam : 9)

2. Ketika Siti Maryam AS hendak dikaruniai seorang anak tanpa ayah; Allah berfirman pada: “Hal itu adalah mudah bagiKu; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan”. (QS. Maryam : 21)

Ayat ini menepis segala pemikiran yang menganggap Allah tidak memiliki kuasa untuk melakukan sesuatu yang seakan “tak mungkin terjadi”.

Ayat ini ingin menggugah hati mereka yang lemah dan mudah putus asa dalam menghadapi ujian hidup. Setiap kita ditimpa kesulitan ingatlah bahwa “segala sesuatu itu mudah bagi Allah”.

Serumit apapun masalahnya, sebesar apapun kesulitannya di mata kita, ketahuilah bahwa itu semua mudah dan ringan di mata Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Tanamkan dalam hati kita pelajaran dari dua ayat di atas dan jangan pernah putus asa. Ini jadi Tadzkirah (pengingat) sepanjang hari. 

Taqwalah kepada Allah dengan sebenar benarnya Taqwa kepadaNya. InsyaAllah EPCDH ini bermanfaat, aamiin....

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Opini Imajinasi Tentang MK, oleh Ferry Is Mirza (fim) wartawan utama 3170 PWI/WU/DP/X/2012, sekertaris dewan kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur, narsum blogermsarah, 230424

Ini Gudang MK Kah?

Pasca keputusan MK dimana publik sudah tahu hasilnya, yaitu menolak gugatan Paslon 01 dan 03, dan menetapkan Paslon 02 Prabowo Gibran sah jadi Presiden Wapres RI periode 2024-2029. Dan banyak tulisan atau komentar terkait hal tersebut di medsos. Nah, ini tulisan opini imajinasi yang beda. Silakan disimak.

SELASA pagi tadi saat melewati Jalan Medan Merdeka No 6 Jakpus, teman aktivis dari daerah yang ingin foto foto di Monas bilang “Lho itu Gudang MK kah ?” Saya timpali “Ah, kok ngaco, itu Gedung MK.”

Sebagaimana kata teman, Gudang  fungsinya untuk menyimpan barang lawas. Barang tak layak pakai. Barang yang sebentar lagi dilelang, lalu diperbaiki pembeli dan dijual dengan harga miring.

Sebagaimana perlengkapan kakus (closed) yang sering kita lihat di sepanjang Jalan Dr Saharjo, Minangkabau dan Pasar Rumput Jakpus. Tampak pernak-pernik kakus seperti closed kinclong. Padahal barang itu sudah berkali-kali diamplas. Sudah perlengkapan kakus bekas pula, mana paten?

MK menjadi Gudang menyimpan masalah pelik bangsa ini, kendati ia disebut sebagai The last resort for justice seekers. Oleh karenanya, Pilpres 2024 yang ditengarai mengandung demoralisasi demokrasi, bertumpu pada MK sebagai The last resort for justice.

Penulis tidak ingin menulis soal hukum tata negara sebagai core of problem dari sengketa Pilpres 2024, tapi sekedar melihat apa yang terjadi sebagai suatu fenomena sebagaimana sifat kekuasaan yang ominpresent—ada dimana-mana menurut Michel Foucault. Termasuk ada di MK.

Suka atau tidak, sejak awal juga publik sudah diliputi prasangka, bahwa perubahan syarat usia Capres/Cawapres yang ditetapkan MK di Pilpres 2024, sebagai bagian dari teori relasi kuasanya Michel Foucault.

Kalau bukan “si Zaenudin dan Uncle Anwar Usman, maka tak mungkin ada si Samsul dalam bursa Pilpres 2024. Sesederhana itu publik melihat bursa Pilpres. Dan disinilah ditengarai terjadi kerusakan atau demoralisasi demokrasi. 

Memang ini (problem etik) tampak pseudo dan unmeasurable untuk dilihat sebagai sebuah norma positivistik. Tapi meminjam istilah Rocky Gerung, bukankah yang etik itu merupakan living constitution yang tidak tertulis dalam black letter konstitusi tapi secara ontologi, diakui sebagai suatu paradigma dalam hukum yang hidup dan futuristik ?

MK hanyalah “Gudang” tempat menampung semua jeroan politik Pemilu yang sulit dipilah- pilah, mana yang masih ada protein dan mana yang mengandung kolesterol jahat. Maka apapun yang keluar dari Gudang, perlu dipilah-pilah. 

Dan pada tanggal 22 April 2024, “Gudang MK” membongkar isi perutnya. Ada yang menolak dalil Pemohon ada yang melakukan dissenting opinion terkait sengketa Pilpres 2024. 

Disinilah lonceng peradaban hukum kita berdentang. Jika hakim MK yang menolak dianggap sebagai barang lawas dan non faedah bagi penguatan demokrasi, maka ambil saja perspektif dari tiga hakim --Saldi Isra, Heni dan Arief Hidayat-- yang melakukan _dissenting opinion_ untuk memperkuat demokrasi dan futuristic hukum. 

Penulis membayangkan, bila Pilpres ulang, dan Sri Mulyani harus merogoh kocek Rp.70 triliun dan terjadi “political uncertainty” di tengah external shock yang begitu kuat merontokkan ekonomi kita. Bisa- bisa rupiah jatuh tersuruk hingga melampaui fundamentalnya. Lalu terjadi social and political unrest !

Ada suara sumbang bilang, “Indak apa-apa, hutang aja, lelang obligasi” untuk cari dana Pemilu. Ini juga pendapat yang kurang pas. SBN itu biasanya dilelang untuk proyek-proyek dengan return yang predictable. Lagi pula cari utang di tengah suku bunga tinggi untuk Pemilu ulang, itu namanya cari masalah di dalam masalah. 

Di usia yang tambah  uzur ini, penulis selalu banyak merenung- renung, bahwa dalam setiap peristiwa, selalu ada berpasang pasangan hikmah. Ada hikmah baik dan ada pula hal buruk. Begitu pula ihwal “Gudang MK” di dalamnya ada barang bekas dan pula ada barang bagus. Tinggal pilih yang mana, sebagai perspektif untuk mengawal demokrasi setelah 2029 nanti. Sekarang sebaiknya Legowo dulu. Tapi tetap kritis terhadap rezim Prabowo Gibran. Wallahu’alam

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Catatan Setelah Putusan MK, oleh Ferry Is Mirza (fim) wartawan utama sekwan DKP Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jatim, Selasa 23 April 2024 @margomulyosuroboyo

L E G O W O

SENIN 220424 kemarin menjelang siang, sidang majelis hakim Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan menolak semua gugatan Paslon 01 (Anies-Muhaimin) dan Paslon 03 (Ganjar-Machfud). Meski putusan MK itu tidak "bulat" lantaran dari 8 hakim ada 3 hakim --Saldi Isra, Enny Nurbaningsih dan Arief Hidayat-- yang beda sikap atau dissenting opinion, tetap sah demi hukum. Dengan demikian Paslon 02 (Prabowo-Gibran) adalah pemenang Pilpres 2024 dan menjadi Presiden - Wapres RI hingga 2029.

Bagi siapapun yang semula berharap MK akan menerima gugatan Paslon 01 dan 03, sejogyanya bisa menerima kenyataan dengan Legowo.

Di antara sekian banyak kosakata bahasa Jawa yang populer, Legowo menjadi salah satu kata yang kerap diucapkan. Lantas, apa arti dari kata Legowo ?

Mengutip dari buku Indahnya Hidup Dengan Legowo karangan Al Fatih, legowo berasal dari kata ‘lego’ yang artinya lega dan kata ‘gowo’ yang artinya membawa. Legowo artinya menerima dengan ikhlas dan sabar terkait masalah masalah yang sedang terjadi.

Leg1aowo adalah kondisi batin seseorang yang lebih memilih untuk menerima apapun yang terjadi pada dirinya dengan hati yang lapang. Legowo bukanlah suatu hal yang datang begitu saja. Sikap legowo hadir karena seseorang memang lebih memilih untuk menerima hal yang tidak sesuai dengan ekspektasi dan menjadikannya sebagai pelajaran hidup.

Sebenarnya, orang yang memiliki sifat legowo sangat sedikit. Mereka yang memiliki sikap ini mempunyai pribadi yang sangat tangguh. Untuk mengenali orang yang legowo, simak karakteristiknya berikut ini.

1. Tidak Berlebihan dalam Menghadapi Segala Sesuatu. Seseorang boleh merasa takjub terhadap suatu hal menguntungkan yang dirasa berbeda dari biasanya, namun tidak perlu berlebihan. Orang yang memiliki sikap legowo, tidak berlebihan dalam menghadapi segala sesuatu. Karena mereka takut terjerumus dengan kemewahan dunia yang menyebabkan lupa dengan Tuhan-Nya.

2. Tidak Suka Mengeluh dan Tahan Banting. Orang yang mempunyai sikap legowo tidak suka mengeluh dan tahan banting ketika mendapat masalah. Karena, seseorang yang legowo sadar bahwa mengeluh itu tidak ada gunanya. Orang yang legowo akan lebih tenang dan santai menghadapi masalah.

3. Yakin Akan Ada Kemudahan dalam Setiap Permasalahan. Seseorang yang legowo juga yakin akan ada kemudahan dan penyelesaian dari setiap permasalahan. Buah dari keyakinan ini akan membuat dirina tidak mudah cemas dan khawatir berlebihan. Dalam Al Quran juga sudah diterangkan bahwa setelah kesulitan akan ada kemudahan.

4. Tidak Memedulikan Tekanan Negatif. Tak bisa dipungkiri bahwa dalam setiap proses menuju kesuksesan, akan ada orang-orang yang tidak suka, iri bahkan mengharapkan Anda gagal di tengah jalan. Terkadang, perkataan atau sikap orang lain yang menyakitkan bisa membuat jengkel bahkan putus asa.

Namun, hal ini tidak berlaku bagi mereka yang mempunyai sikap legowo. Sebab mereka paham betul seberapa besar kemampuannya dan legowo dengan hasil usaha sendiri sesuai kerja kerasnya.

5. Bisa Mengendalikan Amarah. Mampu mengontrol amarah ketika berhadapan dengan orang yang membuat emosi meluap, itu tandanya Anda mempunyai sikap legowo. Sikap ini membawamu pada level kedewasaan yang lebih tinggi. Orang legowo identik dengan sikap mengalah dan tidak membesar-besarkan konflik.

6. Mempunyai Tekad untuk Selalu Produktif. Tekad satu ini juga melekat bagi Anda yang selalu legowo dalam kesehariannya. Tidak peduli seburuk apapun masalah yang dihadapi, Anda tetap bisa mengisi waktu dengan hal-hal positif.

Berbeda dengan orang yang tidak legowo, ia akan larut dalam keluhan, rasa kesal, bahkan putus asa. Jelas kondisi ini menyita waktu sehingga tidak bisa produktif.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Catatan Pagi Senin 22 April 2024, oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi narsumsutoyoabadi.

BILA MK MENOLAK MUNGKIN NEGARA BISA CHAOS DAN TERJADI KONFLIK HORISONTAL

SENIN hari ini tak hanya anak bangsa dari Sabang sampai Merauke dan Miangas hingga Pulau Rote yang perhatiannya fokus ke sidang MK. Dunia internasional pun juga. Jadi, dari dalam negeri dan luar negeri, berharap putusan majelis hakim MK proporsional berdasarkan hukum berkeadilan dan benar. Bila MK menolak, maka bisa jadi NKRI chaos dan terjadi konflik horisontal. Apalagi berbagai elemen massa dari berbagai daerah datang ke ibukota Jakarta, sejak hari Jumat 19 April sudah melakukan aksi damai di bunderan patung kuda. Dan pagi ini datang lagi untuk mengawal keputusan 8 hakim MK terkait masalah Pilpres 2024.

Perang asimetris merupakan metode peperangan gaya baru secara non militer, namun daya hancurnya tidak kalah bahkan lebih dahsyat daripada perang militer. Perang asimetris memiliki medan atau lapangan tempur luas meliputi segala aspek kehidupan.

Carut marut Pilpres 2024 dibajak dengan paksa adalah fenomena Indonesia telah terperangkap perang. Bahkan disadari atau tidak elite politik negara setiap pengambil kebijakan negara ( politik dan ekonomi ) dikendalikan oleh kekuatan oligarki dan kekuatan asing khususnya Cina

Sasarannya membelokkan sistem dan ideologi sebuah negara menjadi liberal , melemahkan ideologi serta mengubah pola pikir rakyatnya. UUD 45 telah dibajak – Pancasila dilemahkan bahkan akan dihancurkan.

Selama ini kita diajarkan hidup mengedepankan nilai nilai ketuhanan, demokrasi, keadilan, keharmonisan , tolong menolong, kebersamaan, saling menghormati, beretika, bermoral, saling menghargai.

Pendiri bangsa membingkai dalam nilai nilai Pancasila untuk meraih kemajuan bangsa dan negara dari bahaya kehancuran dan serangan yang akan meluluh lantakan negara dari nafsu kekuasaan yang binal dan liar seperti binatang buas.

Selama ini rakyat hanya dididik dan dipaksa untuk berdamai atas keadaan terburuk sekalipun tidak dipersiapkan untuk menghadapi kenyataan harus siap menghadapi dan melawan kedzaliman.

Begitu tragis rakyat dipaksa harus menyerah dengan Pilpres 2024 yang hanya sebagai aksesoris. Hasil kemenangan Paslon 02 yang “sim salabim” dengan menghina seolah olah rakyat Indonesia semua buta, tuli, tolol dan bodoh semua.

Indonesia sudah dalam kendali aliran individualis, kapitalis yang sangat kejam, menjelma sebagai penjajah gaya baru.

Presiden dan semua perangkat lembaga penyelenggara negara pelan tapi pasti sudah limbung dan bertekuk lutut dalam kendali para bandar dan bandit kapitalis.

Keadaan makin rumit,  kita menganggap  “sebagai kepala negara” kita  anggap di pihak kita, akan melindungi dan menolong kita, ternyata musuh dalam ketiak sebagai antek asing yang sedang menghancurkan  negara, hanya sebagai boneka melawan rakyatnya sendiri

Lebih sulit di kenali mereka selalu bermain pasif agresif sebagai Presiden terus berkata manis  ternyata berbisa, dipermukaan tampak bicara lembut, basa basi akan menegakkan demokrasi, keadilan dan kejujuran. Dibelakang panggung terus memperkuat kepentingan diri, keluarga,  kroni bisnis dan bandar politiknya.

“Dalan kondisi seperti ini, saat ini yang kita butuhkan sekarang bukan  cita cita damai dan kompromi dengan penguasa yang mengarah tiran atas kendali kekuatan asing. Kerjasama dan dialog secara normal sudah mustahil dan hanya akan menemui jalan buntu dan sia sia, tersisa harus melakukan perlawan”

“Saat ini harus ada keberanian dengan pengetahuan  strategi  taktis dan praktis mencari jalan keluar dari kebuntuan,  konflik chaos dan bahaya terjadinya konflik horisontal”.

“Mengindari cara tersebut justru akan memperburuk dan makin membesar perbuatan licik dan maniputaif yang sudah kronis dan membabi-buta, hanya akan memperburuk keadaan”.

“Hilangkan ketakutan, keadaan tidak tertaklukan adalah tergantung pada semangat perjuangan kita. Mahkamah Konstitusi Konstitusi ( MK ) sampai gagal menegakkan keadilan akan terjadinya chaos dan konflik horisontal yang panjang, awal Indonesia akan hancur berantakan”.

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH SYAWAL, oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Selasa 14 Syawal 1445 H, 23 April 2024

Assallammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu

Sabar dan Shalat

Sedang ada masalah atau menghadapi sebuah kendala..? Mintalah pertolongan kepada ALLAH. Caranya..?

Simak ayat berikut ini: “Dan mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat..” (QS. Al Baqarah: 45)

Benar, saudaraku, caranya dengan selalu bersama kesabaran; menahan diri, emosi serta nafsu agar tidak terjatuh dalam dosa dan melanggar ketentuan ALLAH.

Dan jagalah selalu shalat wajib kita, lalu perbanyak sholat- shalat sunnah, bermunajatlah kepada ALLAH, sujudlah padaNya. Mungkin ada menyeletuk: “Kalau hanya sabar dan shalat, itu sih mudah.”

Saudaraku, bersabar dan menjaga shalat tidak semudah yang kita bayangkan, hanya orang-orang istimewa saja yang mampu meraihnya.

Mari kita simak kelanjutan ayat di atas : “Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang- orang yang khusyu’..” (QS. Al Baqarah: 45)

Hanya orang yang khusyu'. Hanya mereka yang rendah hati. Hanya mereka yang tunduk serta bersimpuh di hadapan ALLAH.

Hanya mereka yang percaya dengan janji dan ancaman ALLAH. Ya, hanya merekalah yang sanggup melakukannya, dan menikmati manisnya pertolongan ALLAH.

Adapun orang meninggikan diri, mengedepankan akal, harta, dan tahta di atas kekuatan dan ilmu serta taufiq ALLAH, rasanya ia akan kesulitan untuk bersabar dan menjaga sholat dan pada akhirnya pertolongan ALLAH pun tak kunjung datang.

Allah Subhanallahu Wa Ta'ala berfirman : "Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah- buahan dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang orang yang sabar yaitu  orang orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un'', sesungguhnya kami milik Allah dan  kepadaNya-lah kami kembali mereka itulah yang memperoleh Ampunan dan Rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang orang yang mendapat petunjuk" (QS. Al-Baqarah 155-157)

Bersabarlah dalam usahamu wahai saudaraku itulah salah satu penyebab Allah Subhanahu Wa Ta'ala mencintaimu. "Dan sesungguhnya Allah mencintai orang orang yang Sabar" (QS. Ali 'Imran 146)

Dan selama engkau bersabar, Allah selalu akan bersamamu, meskipun seluruh dunia berusaha menjatuhkan dan membuat makar kepadamu, tapi itu semua tak akan berarti apapun karena Allah bersamamu. Dan bersabarlah ... sungguh Allah beserta orang orang sabar (QS. Al-Anfal 46)

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH SYAWAL oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Senin 13 Syawal 1445 H, 22 April 2024

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

DELAPAN PINTU REZEKI TERTULIS DALAM ALQUR'AN

(1). "Rezeki yang datang karena bersyukur kepada Allah". Apakah kamu sudah bersyukur hari ini jika belum cobalah merenungi berbagai hal yang sudah Allah berikan kepada kita  kemudian bersyukurlah, pasalnya bersyukur merupakan salahsatu "Pintu Rezeki" yang tertulis di dalam Alqur’an :

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan ... sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKu) maka  sesungguhnya AzabKu sangat pedih” (QS. Ibrahim : 7)

(2). "Rezeki karena Hasil Usaha" ... dalam Islam, Do'a dan usaha adalah satu paket  kamu tak bisa berharap satu hal hanya dengan Do'a. Do'a' haruslah dibarengi dengan usaha yang keras dan sungguh-sungguh, itu karena usaha mepupakan sumber rezeki yang jelas termaktub dalam Alqur’an" dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya" (QS. An-Najm : 39)

(3). "Rezeki datang lewat Istighfar" apakah ingin rezekimu lancar cobalah untuk ber-Istighfar 

selain mendatangkan kebaikan "Istighfar" sangat mungkin membuat rezekimu mengalir deras maka aku katakan kepada mereka mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalamnya) untukmu sungai- sungai (QS. Nuh : 10-12)

(4). "Rezeki dari Anak" pintu rezeki mempunyai anak. kamu pasti tak asing dengan pepatah ... "banyak anak banyak rezeki", pepatah itu mungkin tak sembarangan dibuat, pasalnya dalam Alqur’an disebutkan  kehadiran anak bisa mendatangkan rezeki termasuk bagi kedua orangtuanya dan janganlah kamu membunuh anak- anakmu karena  takut akan kemiskinan kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu" (QS. Al-Isra : 31)

(5). "ber-Sedekah", banyak sekali penceramah dan orang-orang berkecukupan yang membocorkan kiat untuk mempermudah rezeki mereka semua sepakat salahsatu caranya yakni dengan bersedekah tak hanya mendatangkan rezeki dengan bersedekah hati akan kian tenang selain itu, bersedekah tak mungkin membuatmu jadi miskin, sebaliknya  sedekah bisa mendatangkan banyak rezeki,

Hal ini pun Allah tegaskan lewat salah satu ayat didalam Alqur’an : Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya dijalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak, dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepadaNya-lah kamu dikembalikan” (QS. Al-Baqarah : 245)

(6). "Rezeki karena me-Nikah"  khusus bagi yang belum menikah segeralah untuk meminang jodohmu

musababnya  menikah merupakan pintu rezeki yang Islam sediakan bagi umatnya, ini bahkan  Allah janjikan lewat firmanNya di Alqur’an:

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang- orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan, jika mereka miskin Allah akan menampukkan mereka dengan karuniaNya, dan Allah Maha luas (pemberianNya) lagi Maha Mengetahui" (QS. An-Nur : 32)

(7). "Rezeki yang dijamin" ... Allah akan menjamin seluruh kehidupan makhlukNya dimuka bumi maka kamu jangan khawatir ikhtiar saja sebaik mungkin dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya, semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)" (QS. Hud : 6)

(8). "Rezeki yang tak terduga pintu rezeki terakhir yang bisa kita buka ialah lewat rezeki yang tak terduga"

Memang anomali dengan ulasan sebelumnya yang memerlukan usaha keras untuk mendapat rezeki namun rezeki tak terduga ini tak sekonyong-konyong turun, ada syarat yang harus dipenuhi, syarat itu tertulis dalam Alqur’an :

"Barang siapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka- sangkanya." (QS. At-Talaq: 2-3). InsyaAllah bermanfaat 

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy.  Bismillahirrahmanirrahim. Catatan Ahad Petang, oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi dennyindrayana, 21 April 2024, 12 Syawal 1445 H.

Tinta Emas (Keadilan) atau Hitam (Kedzaliman)

Besok hari Senin 22 April 2024, sejarah akan mencatat  kejadian besar penentu Keadilan di NKRI masih ada atau sirna. Hal ini terkait Keputusan MK (Mahkamah Konstitusi) atas gugatan Paslon 01 dan 03 terhadap penyelenggaraan Pilpres yang diduga prosesnya sarat dengan kecurangan yang melibatkan unsur aparat hukum dan aparat sipil pemerintahan.

Hari Ahad 21 April ini, adalah hari terakhir RPH --Rapat Permusyawaratan Hakim-- MK untuk memfinalkan putusan Pilpres 2024. Besok Senin putusan tinggal dibacakan, dan sejarah akan mencatat dengan tinta emas keadilan, atau sebaliknya, dengan tinta hitam kedzaliman.

Delapan Hakim Konstitusi akan menentukan, apakah mereka akan menjadi negarawan pemenang, atau pecundang dalam perang abadi melawan godaan dan serangan tanpa henti : Kekuasaan.

Keadilan Pilpres 2024 hanya akan lahir dari rahim MK yang merdeka, independen dari intervensi akal bulus dan akal fulus, utamanya dari kroni dan oligarki “Istana”.

Tragedi dan Mega Skandal Mahkamah Keluarga, melalui Putusan 90 untuk Gibran, adalah aksi KKN (Korupsi Kolusi Nepotisme) sekaligus bom bunuh diri yang meledak, menghancurkan pondasi MK, dilakukan langsung oleh Ketua Anwar Usman --adik ipar Jokowi, paman sambungnya Gibran-- tanpa ragu-ragu, tanpa malu-malu.

Maka, syarat utama bagi MK melahirkan putusan yang berkeadilan dalam Pilpres 2024 adalah, membangun kembali pondasi dan pilar-pilar keadilan, melalui introspeksi institusional MK atas Putusan 90.

Tidak akan mungkin ada bangunan tegak keadilan Pilpres 2024, yang berdiri di atas pondasi putusan Anwar Usman untuk Gibran bin Jokowi.

Blunder MK atas Putusan 90 sebagai hasil perzinahan haram konstitusi, hanya dapat dihalalkan melalui pertobatan nasuha para Hakim Konstitusi. Itu artinya Putusan 90 harus dikoreksi, demi menyelamatkan Pilpres 2024, minimal dengan membatalkan kemenangan curang cawapres Gibran Rakabuming Raka, anak kandung cawe- cawe inkonstitusional Pak Lurah Jokowi.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH SYAWAL, oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Ahad 12 Syawal 1445 H, 21 April 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarakatuhu 

Jangan Berbuat Syirik, Bahaya

Syirik adalah menyamakan selain Allah dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Rububiyyah dan Uluhiyyah serta Asma dan Sifat-Nya (Ad-Daa’ wad Dawaa’, hal. 198). Syaikhul Islam berkata: “Syirik ada dua macam: Pertama, syirik dalam Rububiyyah, yaitu menjadikan sekutu selain Allah yang mengatur alam semesta, 

Sebagaimana firman-Nya: “Katakanlah: ‘Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai ilah) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat dzarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu saham pun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali- kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagiNya." (QS. Saba’: 22)

"Kedua, syirik dalam Uluhiyyah, yaitu beribadah (berdoa) kepada selain Allah, baik dalam bentuk doa ibadah maupun doa masalah.” (Iqtidhaa’ush Shiraathil Mustaqiim, II/226)

Umumnya yang dilakukan manusia adalah menyekutukan dalam Uluhiyyah Allah adalah dalam hal-hal yang merupakan kekhususan bagi Allah, seperti berdoa kepada selain Allah di samping berdoa kepada Allah, atau memalingkan suatu bentuk ibadah seperti menyembelih (kurban), bernadzar, berdoa, dan sebagainya kepada selainNya.

Ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah baik berupa perkataan atau perbuatan, yang lahir maupun yang batin. Ibadah disini meliputi doa, sholat, nadzar, kurban, rasa takut, istighatsah (minta pertolongan) dan lain sebagainya. Ibadah ini harus ditujukan hanya kepada Allah tidak kepada selainNya.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Hanya kepadaMu lah kami beribadah dan hanya kepadaMu lah kami minta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)

Barangsiapa yang menunjukan dan mempersembahkan salah satu ibadah tersebut kepada selain Allah maka inilah kesyirikan yang merupakan dosa paling berbahaya dan paling besar yang dilakukan oleh manusia.

Ulasan ringkas tentang bahaya syirik. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang bahaya syirik ini, berikut kami sampaikan ulasan ringkasnya:

1. Menimbulkan Rasa Khawatir dan Hilangnya Rasa Aman Di Dunia dan Akhirat. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82)

2. Allah dan RasulNya berlepas diri dari orang yang berbuat syirik. Allah Ta’ala berfirman, “Dan (inilah) suatu permakluman daripada Allah dan RasulNya kepada umat manusia pada hari haji akbar bahwa sesungguhnya Allah dan RasulNya berlepas diri dari orang-orang musyrikin” (QS. At-Taubah: 3)

3. Tersesat di dunia dan akhirat. Allah Ta’ala berfirman: “Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh- jauhnya” (QS. An-Nisa’: 116)

4. Dosa syirik akbar (besar) tidak akan diampuni oleh Allah jika mati dan belum bertaubat.

Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dosa syirik, bagi siapa yang dikehendakiNya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisa’: 48)

5. Syirik adalah sebab utama yang mendatangkan murka dan siksa Allah. Syirik menjauhkan seseorang dari rahmat Allah. Semoga Allah melindungi kita dari segala hal yang mendatangkan murka Allah.

6. Jika seseorang berbuat syirik akbar (besar), seluruh amalannya bisa terhapus. Allah Ta’ala berfirman “Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al An’am: 88)

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy.  Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH SYAWAL, oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Sabtu 11 Syawal 1445 H, 20 April 2024

Assalamu'alaikum  warahmatullahi wabarakatuh

P e m a a f

Asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah berkata jika engkau membiasakan dirimu dengan sifat pemaaf, maka dirimu akan tentram dan hatimu akan tenang dan kedudukanmu akan tinggi disisi Allah dan disisi makhlukNya" (Haditsul Masa' 212)

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman : "Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka  pahalanya atas tanggungan Allah" (QS. Asy-Syura : 40)

Kewajiban orang yang berakal adalah hendaknya menguatkan jiwanya untuk senantiasa memaafkan sesama manusia dan tidak membalas keburukan dengan keburukan lagi ini adalah merupakan sifat orang orang yang berjiwa besar dan memang sangat sulit sekali karena ketika hati kita sakit butuh waktu untuk memaafkan.

Namun bagi orang orang yang berjiwa besar yang mengharapkan keridhaan Allah semata dan melihat bahwa kalau maafkan maka Allah akan maafkan dan maaf Allah itu lebih baik daripada kekecewaan hati dan lebih baik daripada ingin memuaskan hati ketika hati marah dan kesal kepada orang lain karena hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah"

InsyaAllah bermanfaat, bagikan dan teruskan pesan kebaikan ini ke WAG yang lain, semoga dengan banyaknya yang menerima pesan kebaikan ini, akan menjadi amal shaleh dan amal jariyahmu

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH SYAWAL, oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Jumat 10 Syawal 1445 H, 19 April 2024 

Assammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu 

Amal yang Paling Dicinta Allah Birrul Walidain karena Orangtua Kita Pintu Surga

Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu anhu tatkala bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alahi Wasallam :

“Amal apa yang paling dicintai Allah ‘Azza Wa Jalla?”. Nabi bersabda: “Shalat pada waktunya”. Ibnu Mas’ud bertanya lagi: “Lalu apa lagi?”.Nabi menjawab: “Lalu birrul walidain”. Ibnu Mas’ud bertanya lagi: “Lalu apa lagi?”. Nabi menjawab: “Jihad fi sabilillah”. 

Demikian yang beliau katakan, andai aku bertanya lagi, nampaknya beliau akan menambahkan lagi (HR. Bukhari  Muslim)

Pelajaran yang terdapat di dalam hadist : Dengan demikian kita ketahui bahwa dalam Islam, birrul walidain bukan sekedar anjuran, namun perintah dari Allah dan Rasul-Nya, sehingga wajib hukumnya. Sebagaimana kaidah ushul fiqh, bahwa hukum asal dari perintah adalah wajib.

Kedudukan berbakti kepada orang tua dalam agama kita yang mulia ini, memiliki kedudukan yang tinggi. Sehingga berbakti kepada orang tua bukanlah sekedar balas jasa, bukan pula sekedar kepantasan dan kesopanan.

Lebih utama dari jihad fi sabililah. Sebagaimana hadits Abdullah bin Mas’ud yang telah disebutkan. Juga hadits tentang seorang lelaki yang meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk pergi berjihad, beliau bersabda

“Apakah orang tuamu masih hidup?”. Lelaki tadi menjawab: “Iya”. Nabi bersabda: “Kalau begitu datangilah kedunya dan berjihadlah dengan berbakti kepada mereka” (HR. Bukhari Muslim)

Namun para ulama memberi catatan, ini berlaku bagi jihad yang hukumnya fardhu kifayah. Demikian juga birrul walidain lebih utama dari semua amalan yang keutamaannya di bawah jihad fi sabiilillah. Birrul walidain juga lebih utama dari thalabul ilmi selama bukan menuntut ilmu yang wajib ‘ain, birrul walidain juga lebih utama dari safar selama bukan safar yang wajib seperti pergi haji yang wajib. Adapun safar dalam rangka mencari pendapatan maka tentu lebih utama birrul walidain dibandingkan safar yang demikian.

Surga memiliki beberapa pintu, dan salah satunya adalah pintu birrul walidain. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Kedua orang tua itu adalah pintu surga yang paling tengah. Jika kalian mau memasukinya maka jagalah orang tua kalian. Jika kalian enggan memasukinya, silakan sia-siakan orang tua kalian” (HR. Tirmidzi dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no.914).

Bisa mendapati kedua orangtua kita dalam keadaan hidup sampai mereka tua adalah sebuah kenikmatan besar. Semoga kita tidak menjadi orang-orang yang menyiakan kedua orangtua. 

Tema Hadist yang berkaitan dengan al-Qur'an : Berbuat baik dan berbakti kepada orangtua bukan sekedar memenuhi tuntunan norma susila dan norma kesopanan, namun yang utama adalah dalam rangka mentaati perintah Allah Ta’ala dan Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. 

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukaNya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orangtua” (QS. An Nisa: 36)

Birrul walidain atau berbakti kepada orangtua hukumnya wajib setelah adanya perentah  mentauhidkan  Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Karena jika ditinggalkan Allah mengancam pelakunya dengan ancaman yang keras, yaitu dimasukan ke neraka yang lebih dalam lagi.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik- baiknya” (QS. Al Isra: 23)

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH SYAWAL, oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Kamis 9 Syawal 1445 H, 18 April 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi wabarrakatuh

MENJAGA LISAN

LISAN adalah juru bicara bagi diri manusia. Nilai manusia dapat dilihat dari ucapannya. Alqur'an mengajarkan kepada manusia agar bicara yang baik. "Dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia ..." (QS. Al-Baqarah : 83)

Begitu pula Nabi Muhammad Shalallahu Alayhi Wasallam mengarahkan kita agar bicara yang bermanfaat,

"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhirat, hendaknya bicara yang bagus atau diam." (HR. Muslim)

Karena setiap ucapan itu ada tanggung jawabnya karena semua tercatat, "Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)." (QS. Qaf, : 18)

Ketika Muadz bertanya kepada Nabi Shalallahu Alayhi Wasallam apakah ucapan kita dimintai pertanggung jawaban ? 

"Celaka kamu ini, justru kebanyakan orang yang dijerumuskan mukanya ke dalam api neraka akibat dari ucapannya." (HR. At-Turmudzi)

"Tanda orang muslim yang benar itu apabila kaum muslimin aman dari lisan dan tangannya." (HR. Muttafaq 'alaih)

Orang bijak berkata bahwa ada 6 tanda orang bodoh : (1) Berbicara tidak bermutu (2) Marah tanpa sebab (3) Memberi bukan pada tempatnya (4) Percaya kepada setiap orang (5) Tidak bisa menyimpan rahasia (6) Tidak tahu siapa kawan dan siapa lawan.

Lukman al-Hakim, orang bijak, mengatakan; diam itu ilmu tapi sedikit orang yang mempraktekannya.

Ibnu Hibban al-Basti kepada para intelektual bahwa lisan itu menggambarkan 10 hal :  (1) Sebagai ekspresi ucapan (2) Sebagai ungkapan hati dan perasaan (3) Menjawab pertanyaan (4) Memutus perkara (5) Sebagai stimulus keperluan (6) Mengungkapkan sesuatu (7) Menghilangkan permusuhan (8) Mengungkapkan rasa cinta (9) Menghibur hati orang (10) Menghilangkan rasa sedih. (Raudhatul 'Uqala wa Jannatul Fudhala hal 43)

Kelemahan lisan itu ketika digunakan untuk sesuatu yang negatif. Seperti: ngobrol yang tak berguna, bicara yang nggak benar, cerita bohong, debat kusir, mencaci orang, bicara yang dibuat-buat lelaki seperti wanita dan sebaliknya, menyanyi yang tidak bermutu, bercanda yang menimbulkan pertikaian, mengejek orang lain, mengadu domba, berjanji palsu, ungkapan rasialis, hate speech, dan lain lain.

Agar kita selamat di hadapan Allah atau pada manusia, sepantasnya kalau lisan ini kita dipenjarakan kecuali untuk yang bermanfaat.

Hikmah yang luar biasa ketika Nabi Zakariyya alaihissalam diperintahkan untuk tidak bicara selama tiga hari agar mendapatkan keturunan, 

Dia (Zakaria) berkata, “Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda.” Allah berfirman, “Tanda bagimu, adalah bahwa engkau tidak berbicara dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Tuhanmu banyak-banyak, dan bertasbihlah (memujiNya) pada waktu petang dan pagi hari.” (QS. Ali 'Imran, : 41)

Alangkah indahnya bila lisan kita digunakan untuk berdakwah agar manusia kembali kepada Allah dan beramal shalih, 

"Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, “Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)” (QS. Fushshilat : 33)

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH SYAWAL oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Rabu 8 Syawal 1445 H, 17 April 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi wabarrakatuhu

SELAMAT DUNIA AKHIRAT

Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa ... yang menghancurkan kebahagiaan dan keselamatan hidup manusia di dunia dan akhirat adalah Dosa.

Allah ber-firman ; dan setiap Musibah yang menimpamu adalah ... karena Ulah dan Dosamu (QS. As-Syura : 30)

Maka untuk meraihnya, isilah seluruh umur dengan (4 perkara), agar senantiasa mendapat Curahan Rahmat dan Ampunan dari Allah Azza Wa Jalla :

(1). "Taubat" ... jangan pernah menunda Taubat dan meremehkannya, bertaubatlah kepada Allah dengan cara yang benar dan jangan pernah bertaubat dengan cara yang tidak ada contohnya dari Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, penuhi syarat taubat, ikhlas, menyesal,  membenci kesalahan yang lalu, bertekad untuk tidak mengulanginya dan segera menyelesaikan semua permasalahan dengan Manusia,

(2). "Ilmu" yang bermanfaat ... pastikan ilmu yang dicari adalah ilmu yang bersumber dari Alqur’an dan Hadist sahih dan sesuai dengan pemahaman sahabat Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, kenalilah Allah, Rasulmu dan Agamamu yang benar melalui ilmumu, tuntutlah ilmu Agama yang membuatmu "Takut" kepada Allah,

(3). "Amal Shaleh", pastikan semua amal yang kau kerjakan, baik itu Amalan Hati, Lisan maupun Anggota badan, adalah ... Amal yang dikerjakan, karena perintah Allah dan sesuai dengan contoh Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam"

(4). "Mengikuti jalan jalan hidayah" ... berkata Sa’id bin Zubair yaitu menjalankan agama yang sesuai dengan cara Rasul dan sahabat sahabatnya radhiallahu ‘anhum,

Allah berfirman: ”sesungguhnya Aku akan mencurahkan Ampunan kepada hambaKu yang selalu bertaubat, beriman dan beramal shaleh, kemudian ... "meniti jalan hidayah". (QS. Toha : 82)

InsyaAllah Allah memberikan keselamatan kepada kita semua di Dunia dan Akhirat. Yaa Allah ampuni segala dosa dosaku, ampuni segala khilaf dan salahku, hamba benar benar bertaubat kepadaMu yaa Rabb, hamba menyesali dan tidak akan mengulangi segala kedurhakaan hamba  

ampuni yaa Allah ... jika Engkau tidak mengampuni, sungguh hamba termasuk orang orang yang rugi dan celaka,

sesungguhnya kami berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat, Amal yang tidak diangkat. Hati yang tidak khusyuk dan ucapan yang tidak didengar.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH SYAWAL oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Selasa 7 Syawal 1445 H, 16 April 2024

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Jagalah HATI

Apapun keadaan manusia tetap saja punya hati yang senantiasa harus dibasahi dengan siraman rokhani. Tidak hanya berupa nasehat tapi juga dengan melakukan segala macam kegiatan amal baik, ketaqwaan untuk menjauhi segala macam kemaksiatan.

Jika hal ini terjaga dan dilakukan dengan baik maka hati akan selalu terjaga dan menjadi tenang, bahagia sehingga  tidak akan butuh hiburan tambahan lagi untuk mendapatkan kebahagiaan.

Mengapa orang orang shalih yang rajin ibadah tidak pernah mendatangi tempat tempat hiburan ? karena mereka sangat tahu bahwa tempat hiburan bukan tempat untuk mendapatkan kebahagiaan, dan orang orang shalih itu jarang mengeluh mereka ringan sekali dalam menjalani hidup karena hatinya sudah bahagia, sehingga tidak perlu tambahan lagi dan mencari kebahagiaan ditempat lain.

Pada saat sekarang ini banyak orang orang yang mencari kebahagiaan untuk penghiburan yang sifatnya hanya semu dan sementara, itulah salahsatu tanda tanda gersangnya hati, dengan hilangnya kebahagiaan hakiki di hati mereka, sehingga mereka berusaha mencari cari kebahagiaan semu dan menipu di tempat tempat tersebut.

Bagaimana hati tidak gersang, ibadah saja mereka malas, kalaupun melakukannya mereka langsung selfi dan pamer kepada orang lain, bagaimana hati akan bahagia jika banyak dikotori dan terkontaminasi oleh polusi nafsu dunia yang sebenarnya mereka tahu sadar tentang baik dan buruk, hak dan bathil namun kemalasan telah mengikat kesenangan semu dan menipu sudah menguasai mereka sehingga tidak segera bisa move on untuk sadar diri.

Saudaraku ... marilah kita benahi Hati dan Jiwa kita sendiri yang kemudian kita ajak orang orang terdekat untuk menciptakan "suasana Bahagia" yang sebenarnya tidak jauh dari diri kita sendiri ... sungguh jika kita ingin "Bahagia" maka fokuskanlah perhatian kepada kebahagiaan hati karena hati tidak akan bahagia kecuali dengan melakukan amal kebaikan yang dilakukan dengan  Ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman "Hai orang orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul dengan "taat" ... apabila Rasul menyeru kamu pada suatu yang memberi kehidupan kepada kalian berupa perkara Agama sebab ... perkara Agama merupakan penyebab bagi kehidupan yang kekal dan ketahuilah oleh kalian bahwa  sesungguhnya Allah menghalangi antara manusia dan hatinya maka ia tidak dapat beriman atau kafir melainkan berdasarkan kehendak Allah dan sesungguhnya kepadaNya-lah kamu akan dikumpulkan, Allah akan membalas semua amal perbuatan kalian" (QS. Al-Anfal 8: 24)

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH SYAWAL oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Senin 6 Syawal 1445 H, 15 April 2024

Assalamualaikum warahmatullahi Wabarrakattuh.

TUJUH CIPTAAN ALLAH YANG TIDAK HANCUR SAAT HARI KIAMAT.

HARI AKHIR atau KIAMAT merupakan peristiwa kehancuran yang sangat dahsyat dan tak pernah terjadi sebelumnya. Alam semesta akan binasa sehingga tak ada satu pun tempat untuk bernaung.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam QS. An-Najm Ayat 57-58 :  “(Hari Kiamat) yang dekat makin mendekat. Tidak ada yang akan dapat mengungkapkan (terjadinya hari itu) selain Allah.”

Tujuh Ciptaan Allah yang Tidak Hancur saat hari Kiamat :

1. Arsy atau Singgasana Allah : Arsy merupakan makhluk Allah yang pertama kali diciptakan* dan tidak akan hancur pada hari kiamat. Hal ini diungkapkan dalam firmanNya (QS. Az-Zumar 74-75)

2. Kursi milik Allah : Allah juga telah menyebutkan dalam Al-Qur’an, surah Al-Baqarah yang kita kenal dengan sebutan ayat kursi.

Rasulullah Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda, “Tidaklah langit yang tujuh dibanding kursi kecuali laksana lingkaran anting yang diletakkan di tanah lapang,” (HR. Ibnu Hiban)

3. Lauhul Mahfudz : Lauhul mahfudz : merupakan sebuah kitab tempat Allah menuliskan segala catatan alam semesta.

Allah Ta'ala Berfirman : “Tiada sesuatu pun yang ada di langit dan di bumi, melainkan terdapat dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh),” (QS. An-Naml: 75)

4. Qalam atau Pena : Qalam adalah : makhluk Allah yang mencatat seluruh takdir.

Rasulullah Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda : “Sesungguhnya makhluk yang pertama kali Allah ciptakan adalah Al- Qalam, kemudian Allah berfirman kepadanya, ‘Tulislah!’ Kemudian Al- Qalam berkata, ‘Wahai Rabb ku, apa yang akan aku tulis?’ Kemudian Allah berfirman, ‘Tulislah takdir segala sesuatu sampai datang hari kiamat’,” (HR. Abu Dawud)

5. Surga dan Neraka : Surga menjadi tempat yg dihuni oleh para malaikat, para nabi serta orang orang yang beriman dan beramal sholeh. Sedangkan neraka adalah, tempat siksaan di akhirat bagi makhluk Allah yang menentang syariat dan mengingkari sunnah Rasulullah Shalallahu Alayhi Wasallam.

6. Ujung tulang ekor manusia : Rasulullah Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda, “Tiada bagian dari tubuh manusia kecuali akan hancur (dimakan tanah), kecuali satu tulang yaitu tulang ekor, darinya manusia dirakit kembali pada hari kiamat,” (HR. Bukhari No.4953)

7. Ruh : Terakhir, ciptaan Allah yg tidak akan hancur yaitu ruh. Ruh orang orang beriman ditempatkan pada tempat yang tinggi, sementara ruh orang orang kafir dan munafik diletakkan di tempat paling dasar di perut bumi.

InsyaAllah bermanfaat dan bisa menambah keimanan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala Aamiin Allahuma Aamiin.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy.  Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH SYAWAL, oleh Ferry Is Mirza (fim), refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Ahad 5 Syawal 1445 H, 14 April 2024

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Tujuan Hidup Menurut Islam

MANUSIA DICIPTAKAN oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk mengemban amanah dan menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi. Dengan melihat asal mula kejadian manusia, kita dapat mengetahui bahwa Allah memberikan kelebihan bagi manusia dalam hal akal dan pengetahuan yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya. 

Saat Allah Subhanahu Wa Ta'ala menciptakan Nabi Adam Alaihissalam, Allah memerintahkan para malaikatnya untuk bersujud kepada Adam karena kelebihan yang ia miliki meskipun ada makhluk yang menolak untuk bersujud yakni iblis.

Asal mula kejadian manusia disebutkan dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam Al-Qur'an berikut ini :

"Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah Kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, Kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, Kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), Kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya). Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan, Maka apabila dia menetapkan sesuatu urusan, dia Hanya bekata kepadanya: “Jadilah”, Maka jadilah ia." (QS. Al Mukmin 67)

Manusia tidak diciptakan begitu saja tanpa adanya tujuan hidup. Adapun tujuan utama manusia diciptakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala adalah agar dapat menyembah dan beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 

Berikut ini adalah tujuan hidup manusia di bumi yang disebutkan dalam Al-qur’an dan sunah rasul :

1. Menyembah Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Adapun tujuan hidup manusia yang paling utama adalah untuk menyembah dan beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sebagai hamba Allah, manusia wajib menjalankan segala perintah dan menjauhi segala laranganNya. Manusia juga harus menjadikan rukun iman dan rukun islam sebagai pedoman hidupnya. Berikut ini adalah ayat yang menyebutkan kewajiban manusia untuk beribadah kepada  Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman di dalam Al-Qur'an, yang artinya : Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepadaKu” (QS. Adz zariyat 56)

2. Menjalankan Perannya Sebagai Khalifah. Manusia adalah khalifah di muka bumi dan setiap manusia adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Istilah khalifah disini adalah pemimpin dimana manusai bertanggung jawab menjaga keberlangsungan hidupnya dan alam sekitarnya. Sebagai makhluk yang dikaruniai akal maka manusia memiliki kewajiban untuk mengelola sumber daya alam dan menjaga kelestariannya. Tidak hanya itu, manusia juga berkewajiban untuk menjaga dirinya sendiri dari perilaku yang tidak baik karena setiap perlakuan atau perbuatan manusia di dunia kelak akan dimintai pertanggung jawabannya. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman di dalam Al-Qur'an, yang artinya : “Dan mereka tidaklah disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam menjalankan agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat serta menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah 5)

3. Meneruskan Ajaran Islam. Tidak hanya beribadah dan menjalankan tugasnya sebagai khalifah, manusia juga wajib menuntut ilmu dan meneruskannya pada generasi selanjutnya agar ajaran islam tetap terjaga.

Bukan hanya ilmu yang diajarkan untuk melaksanakan ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan tetapi juga untuk menuntun perilaku manusia dan menunjukkan perbuatan amar ma’ruf nahi mungkar. 

Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman di dalam Al-Qur'an, yang artinya : "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang- orang yang beruntung.“ (QS. Al Imran 104)

Tujuan hidup tersebut hendaknya dipahami, dimengerti dan dilaksanakan oleh kita, karena tanpa tercapainya tujuan hidup tersebut, maka tugas kita di bumi ini tidaklah dapat terpenuhi.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Catatan Akhir Pekan, oleh Ferry Is Mirza (fim) Sabtu 4 Syawal 1445, 130424

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu 

Kita Dijalan yang Benar, Jangan Menyerah

"Kalian sudah kalah." Itu yang dikatakan Fir'aun ketika Nabi Musa AS sampai di tepi laut merah. Tak ada jalan lagi.

"Kalian sudah kalah." Itu yang dikatakan raja Namrudz ketika Nabi Ibrahim AS dibakar di dalam lapangan api yang luas.

"Kalian sudah kalah." Itu yang dikatakan pasukan Ahzab ketika mereka mengepung Nabi Muhammad Shalallahu Alayhi Wasallam di dalam kota Madinah.

"Menyerahlah," itu yang dikatakan oleh pasukan Mongol kepada Saifudin Quthuz ketika mereka akan masuk ke Mesir, setelah meluluhlantakkan ibukota muslim di Irak.

"Menyerahlah," itu yang dikatakan oleh pasukan NICA ketika mereka mengepung Kota Surabaya dengan pasukan dan peralatan perang yang sangat besar.

Tapi, sejarah mencatat siapa yang tenggelam, siapa yang mati mengenaskan, siapa yang hancur setelahnya.

Kita mungkin akan kalah. Tapi kita juga bisa menang. Tapi kita tidak akan menyerah. Karena kita bersama di jalan yang benar yang ditempuh ulama. Mereka pewaris nabi. Mereka mewarisi keberkahannya. Dan mereka juga mewarisi pahit getirnya perjuangan para nabi. Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahilham

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy.  Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH SYAWAL oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Sabtu 4 Syawal 1445 H, 13 April 2024

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Derajat Amal Tertinggi di Sisi Allah

AMALAN ibadah yang baik banyak dijelaskan di dalam Al-Quran dan hadits Nabi Shalallahu Alayhi Wasallam. Kedudukan dan keutamaan ibadahnyapun berbeda beda. Ada yang wajib, sunah, yang asas, dan yang cabang. Selain itu, ada pula yang berfungsi sebagai rukun dan syarat sah ibadah, ada juga yang lebih tinggi kedudukannya dari ibadah yang lain. 

Dalam sebuah hadits, para sahabat kerap bertanya kepada Rasul Shalallahu Alayhi Wasallam tentang amalan yang paling utama dan dianjurkan dalam Islam. Misalnya, pertanyaan Abdullah bin Mas'ud RA tentang amalan yang paling disukai Allah. Rasul pun menjawab, “Shalat pada waktunya, berbuat baik kepada ibu bapak, dan jihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari Muslim)

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mencegah kita dari perbuatan dosa. Manusia yang memang tidak akan pernah luput dari dosa pun masih diberikan kesempatan untuk meminta ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Bahkan, wujud cinta Allah Subhanahu Wa Ta'ala terhadap hambaNya yang bergelimang dosa, tertuang dalam QS. Az-Zumar : 53 yang berbunyi, “Wahai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya, Allah mengampuni dosa- dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Berikut amalan- amalan dzikir sederhana yang bisa dilakukan agar Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengampuni dan menghapus dosa- dosa kita :

1. Astaghfirullahaladzim. Membaca kalimat Astaghfirullah dinilai bisa menjadi salah satu ikhtiar kita untuk menghapus dosa- dosa. Bahkan dikatakan, satu kali beristighfar bisa mengampuni dosa kita selama 70 tahun. Maka, sempatkan waktu untuk terus beristighfar agar dosa dosa kita diampuni dan dihapuskan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Insya Allah.

2. Subhanallahi wabihamdihi, Subhanallahil adzim. Dua kalimat yang ringan dilidah tersebut bisa menghapus dosa dosa kita dimasa lampau. Pasalnya, dua kalimat itu akan berat ditimbangan pada hari kiamat dan merupakan kalimat yang dicintai oleh Allah.

3. Laa haula walaa quwwata illa billah. Kalimat tersebut merupakan sebuah harta karun dari surga. Maksudnya, kalimat Laa haula walaa quwwata illa billah bisa dijadikan sebagai simpanan pahala berharga di surga kelak.

4. Subhanallah walhamdulillah walaa ilaha illallah wallahu akbar. Kalimat ini dinilai lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya. Maka dari itu, jika kita melafazkan kalimat ini minimal satu menit, maka kita akan bisa mendapatkan ganjaran yang luar biasa.

5.  Allahhumma sholli ala Muhammad. Dengan bershalawat, kita bisa mengundang rahmat Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dengan memberikan shalawat kepada Nabi Muhammad Shalallahu Alayhi Wasallam pula, kita akan bisa mendapatkan 10 kali salam dari Allah. Rasulallah bahkan pernah bersabda, “Siapa yang bershalawat kepadaku 1 kali, maka Allah akan balas dengan 10 kali rahmat.” Rahmat disini berupa rezeki, kebahagiaan, dan dimudahkan urusan.

Nah, itu dia amalan yang sederhana namun dinilai bisa menghapus dosa- dosa kita selama 100 tahun atas izin Allah Subhanahu Wa Ta'ala. InsyaAllah.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. #EPCDH SYAWAL, oleh Ferry Is Mirza (fim), refrensi tafsir alquran dan alhadits, Jumat 3 Syawal 1445 H, 12 April 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu 

Jangan Menunda apalagi Tinggalkan Shalat

SHALAT salahsatu rukun Islam. Oleh karenanya, orang yang tidak mau melaksanakan shalat, seolah ia tidak beragama dan tidak memiliki bagian yang dapat diharapkan dalam Islam.

Menegakkan shalat merupakan manifestasi keimanan seseorang. Sebaliknya, meninggalkan shalat merupakan bukti yang nyata kekufuran seseorang. 

Barangsiapa menjaga shalatnya, maka ia akan memiliki cahaya di hatinya, cahaya di wajahnya, cahaya di alam kuburnya dan cahaya tatkala dibangkitkan dari kuburnya. Ia akan mendapatkan keberuntungan pada hari kiamat dan iapun akan dikumpulkan bersama orang-orang yang diberi kenikmatan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari kalangan para nabi, shiddiqin, para syuhada’ dan orang-orang shalih.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman di dalam Al-Qur'an, yang artinya : "Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang orang yang ruku'. (QS. Al-Baqarah 43)

Ketahuilah, pertama kali amal yang akan dihisab oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat kelak ialah shalat. Apabila shalat kita baik, maka baiklah seluruh amalan kita. Akan tetapi, apabila shalat kita rusak, maka rusaklah seluruh amalan kita.

Oleh karena itu janganlah menunda nunda dalam mendirikan shalat, apalagi tatkala kita mempunyai kelonggaran. 

Ingatlah selalu kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala ketika waktu luang, niscaya Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengingat kita saat dalam kesempitan. 

Barangsiapa melupakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka Allah juga akan melupakannya. Barangsiapa menyia nyiakan urusan Allah , maka Allah juga akan menyia-nyiakan urusan orang tersebut.

Janganlah kita merasa aman dan merasa masih jauh dari kematian, sehingga kita berkata “nanti saja untuk bertaubat”. 

Yaitu, setelah merasa dekat dengan kematian, barulah bertaubat dan melaksanakan shalat ! 

Padahal setiap hari kita selalu khawatir apabila sewaktu- waktu kematian datang menjemput, pagi atau sore. Maut akan datang tiba-tiba, sementara kita tidak menyadarinya.

Lalu, setelah kematian, apa yang akan terjadi ? Sungguh, tidak ada lagi kesempatan untuk beramal. Yang ada hanyalah pemberian pembalasan terhadap setiap perbuatan yang telah kita kerjakan. 

Marilah kita selalu memelihara ketakwaan kepada Allah Ta’ala, dan marilah kita selalu berusaha *istiqamah shalat,* baik shalat yang wajib maupun yang sunnah serta segera bertaubat, mentaati perintah- perintah Allah dan menjauhi segala laranganNYA.

fimdalimunthe55@gmailcom

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH SYAWAL oleh Ferry Is Mirza (fim), Kamis 2 Syawal 1445 H, 11 April 2024, refrensi tafsir Alquran.

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu 

Nikmat Allah Jangan Diingkari

"Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendakNya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai- sungai. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)." (QS. Ibraahiim : 32-34). Mari bersiap menunaikan Sholat SUBUH.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim, IED MUBARAK Rabu 1 Syawal 1445, 10424

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu 

Ramadhan pergi Jangan bersedih

Allahu Akbar kabira, walhamdu lillahi katsira, wa subhanallahi bukratan wa ashila, la ilaha illallahu wa la na'budu illa iyyahu mukhlishina lahud dina wa law karihal kafirun, la ilaha illallahu wahdah, shadaqa wa'dah, wa nashara 'abdah, wa hazamal ahzaba wahdah, la ilaha illallahu wallahu Akbar.

"Allah Maha Besar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan sebanyak-sebanyak puji, dan Maha suci Allah sepanjang pagi dan sore, tiada Tuhan (yang wajib disembah) kecuali Allah dan kami tidak menyembah selain kepadaNya, dengan memurnikan agama Islam, meskipun orang-orang kafir, orang-orang munafiq, orang-orang musyrik membencinya. Tiada Tuhan (yang wajib disembah) kecuali Allah dengan keesaanNya, Dia dzat yang menepati janji, dzat yang menolong hambaNya dan memuliakan bala tentaraNya dan menyiksa musuh dengan keesaanNya. tiada Tuhan (yang wajib disembah) kecuali Allah dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar dan segala puji hanya untuk Allah."

TaqobbalAllahu minna wa minkum. Jangan bersedih melepas kepergiannya, tapi pujilah Allah Yang telah memberimu kesempatan berjumpa dengannya.

Berbahagialah dan agungkanlah Allah Yang telah memberimu petunjuk untuk menjalani puasa di siang harinya dan shalat di malam harinya.

Jangan ucapkan selamat tinggal padanya, tapi tetaplah bersamanya sepanjang tahun. Ramadhan bukanlah sekedar bulan, tapi manhaj hidup dan awal dari perubahan positif.

Jangan ucapkan selamat tinggal padanya, tapi berilah dia kesempatan seluas-luasnya, agar dia hidup bersamamu dan engkaupun hidup bersamanya sepanjang tahun.

"Puasa tidak habis. Al-Qur'an tidak boleh diacuhkan. Sholat tidak boleh ditinggalkan. Sadaqah tidak boleh dihentikan". Teruslah beribadah kepada Rabbmu hingga ajal menjemputmu (QS. Al-Hijr: 99)

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH RAMADHAN, oleh Ferry Is Mirza (fim), refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Selasa 30 Ramadhan 1445 H, 09 April 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu 

Agungnya Perkara Tauhid dan Istighfar

Alhamdulillah hari ini kita sudah sampai di penghujung bulan mulia Ramadhan. InsyaAllah semua amal ibadah kita jadi pahala di sisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kita selalu menjaga Tauhid serta selalu ber-Istighfar. Dan kita dimampukanNYA bertemu Ramadhan 1446 H, aamiin ya Rabb.

Tauhid dan istighfar adalah dua perkara yang sangat agung dan penting. Tauhid adalah hak Allah Ta’ala atas hamba- hambaNya dan merupakan tujuan penciptaan mereka. 

Allah Ta’ala berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepadaKu” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56)

Tauhid, Syarat Penentu Sahnya Amal Ibadah

Tauhid adalah syarat sah suatu amal. Tanpa tauhid, amal kita seluruhnya tidak akan bernilai. Tauhid adalah asas pokok agama Islam dan asas pokok sahnya seluruh amal ibadah seseorang, sehingga amal tersebut diterima di sisi Allah Ta’ala. Oleh karena itu, menjadi kewajiban yang pertama kali atas setiap muslim untuk memperhatikan tauhidnya dan membetulkan aqidahnya. 

Tauhid adalah makna dari kalimat “laa ilaaha illallah”, tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah Ta’ala. Ibadah seluruhnya adalah hak Allah Ta’ala, tidak boleh kita berikan sedikit pun kepada selain Allah.

Untuk mewujudkan tauhid inilah, para rasul diutus dan kitab kitab diturunkan. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan kami wahyukan kepadanya, bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka sembahlah Aku” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 25)

Allah Ta’ala juga berfirman : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan Nya dengan sesuatu pun” (QS. An-Nisa’ [4]: 36)

Tauhid, Hak Allah Atas Hamba dan Ampunan Adalah Hak Hamba Atas Allah

Tauhid adalah hak Allah Ta’ala atas hambaNya. Sedangkan ampunan (maghfirah) adalah hak hamba atas Allah Ta’ala. Istighfar adalah permintaan ampunan, yang merupakan kebutuhan seorang hamba. Semua hamba Allah Ta’ala membutuhkan istighfar. Karena makna istighfar adalah permohonan ampunan dari kesalahan yang dilakukan seorang hamba berkaitan dengan hak Allah Ta’ala, baik karena meninggalkan kewajiban atau karena mengerjakan yang haram.

Seorang hamba memohon kepada Allah Ta’ala untuk mengampuni dosanya dan bertaubat dari dosanya. Hal ini setelah dia bertekad untuk meninggalkan perbuatan dosa yang sebelumnya dia lakukan dan menunaikan kewajiban yang pernah dia tinggalkan. Dia meminta kepada Allah untuk menutupi dosanya yang telah lalu dan memperbaiki amalnya di masa mendatang. Adapun yang hanya beristighfar tanpa berusaha memperbaiki amalnya, bahkan tetap berada di atas kondisinya semula, maka istighfarnya tidak benar dan patut dipertanyakan. Karena istighfar tidaklah cukup dengan lisan saja, tanpa ada usaha untuk memperbaiki diri.

Seorang hamba sangat butuh istighfar, karena istighfar merupakan salah satu syi’ar para Nabi dan Rasul, dari Adam ‘alaihis salaam sampai Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Semuanya beristighfar kepada Allah Ta’ala dan memohon ampunan kepadaNya. 

Jika para Nabi saja sangat butuh istighfar, sebagaimana yang Allah Ta’ala ceritakan dalam Al-Qur’an, maka selain Nabi tentu lebih butuh terhadap istighfar, dalam semua kondisi dan keadaan, bahkan setelah beribadah kepada Allah Ta’ala. Seorang hamba yang menunaikan shalat, berpuasa, bersedekah, mereka butuh istighfar. Lalu, bagaimana lagi dengan hamba yang bermaksiat kepadaNya?

Oleh karena itu, seorang hamba membutuhkan dua hal ini: tauhid dan istighfar.

Allah Ta’ala berfirman, “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada ilah (sesembahan) (yang berhak disembah) selain Allah Ta’ala dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang- orang mukmin, laki- laki dan perempuan” (QS. Muhammad [47]: 19)

Dalam ayat di atas, Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk bertauhid dan beristighfar.

Teladan Nabi Yunus Dalam Mentauhidkan Allah

Ketika Nabi Yunus ‘alaihis salaam berada dalam kegelapan (dalam perut ikan), beliau menyeru dengan tauhid dan istighfar, sebagaimana diceritakan oleh Allah Ta’ala,

“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka dia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, “Bahwa tidak ada Tuhan s8elain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang dzalim“ (QS. Al-Anbiya’ [21]: 87)

Lihatlah, bagaimana Nabi Yunus menyeru dengan tauhid, disertai pengakuan terhadap dosa dan kesalahannya. Inilah adat kebiasaan orang orang yang beriman, yaitu senantiasa dan terus-menerus beristighfar, lebih- lebih ketika berada di penghujung amal shalih, ketika di akhir majelis ilmu, atau ketika di pertemuan yang sifatnya umum. Karena bisa jadi dalam majelis tersbut terdapat ghibah, namimah (adu domba), dan senda gurau yang melampaui batas.

Perbaiki Tauhid dan Perbanyak Istighfar Di Penghujung Ramadhan

Demikianlah, kita memohon kepada Allah Ta’ala untuk menutup bulan Ramadhan ini dengan dibebaskan dari api neraka, diterima amal amal kita, dan senantiasa diberikan kebaikan dan keselamatan. Dan semoga Allah Ta’ala menyempurnakan pahala amal kita, memberikan kita hidayah untuk terus istiqamah dalam beribadah di sisa umur kita, bukan hanya di bulan Ramadhan ini saja.

Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya, fimdalimunthe55@gmail.com

Referensi: Disarikan dari kitab Majaalisu Syahri Ramadhan Al-Mubaarak, karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan, hal. 121-123 (cet. Daar Al-‘Ashimah, tahun 1422 H)

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Renungan usai Sahur Jelang Subuh, akhir  Ramadhan, Selasa 9 April 2024, oleh FIM

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu 

ALLAH Memberi Jalan TERBAIK

Ketika Allah memberi padamu. Maka Dia sesungguhnya sedang memperlihatkan kemurahanNya kepadamu. Ketika Allah menolak permintaanmu,

Maka Dia sedang menunjukkan kekuasaanNya dan kita ini lemah tanpaNya. Maka bersyukurlah ketika Allah sedang memberi,

Dan bersabarlah ketika Allah belum memberi. Karena dibalik semua ketetapanNya pasti ada hikmah yang terbaik untuk kita.

Allah akan memberimu, jika Dia melihat waktu dan usahamu telah cukup, Yaitu waktu yang tepat di mana saatnya kamu memang pantas menerima dan usahamu telah membuktikan bahwa kamu memang benar benar bersungguh sungguh.

Allah akan memintamu bersabar, jika waktunya belum tepat, dan Dia melihat bahwa kamu memang saat ini belum pantas menerimanya dan kamu juga masih harus terus berjuang lagi.

Dan Allah akan menolak, jika kamu menginkan sesuatu yang menurutNya tidak baik, meski itu baik menurutmu, karena Allah Maha tahu manfaat dan mudharatnya apa yang akan terjadi setelahnya.

Sungguh betapa sayangnya Allah kepada hambaNya, selalu memberikan yang terbaik kepada kita, namun kitalah yang sering kali salah dalam memahami rahmat dan karuniaNya.

Maka hendaknya kita jangan mudah berputus asa, dan sebaliknya apapun keadaannya tetaplah bersandar hanya pada Allah.

Karena tak ada pinta dan harap yang terluput, kecuali semua pengabulannya selalu yang terbaik,

Meski pun terkadang tak sesuai harapan kita, tapi itulah yang sejatinya yang terbaik untuk kita.

Karena Allah memberi bukan apa yang senantiasa kita inginkan, tapi Allah memberi apa yang senantiasa terbaik untuk kita. Wassalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim, Senin 8 Apr 2024 29 Ramadhan 1445 H

Assalammualaikum warrahmatallahi wabarrahkatuhu 

Saudara-saudaraku seiman rahimahullah. Detik demi detik terlewati. Perjalanan hari tiada terhenti. Kehidupan berpacu bak kuda berlari. Waktu tidak akan terulang.

Harumkan hari semerbak bunga mawar. Indahkan langkah seindah pelangi diawan. Sucikan hati dengan iman dan taqwa. Kekuatan hanya ada dalam doa.

InsyaAllah pagi ini Allah Subhanahu Wa Ta'ala melimpahkan ampunan, kesehatan, keselamatan, rahmat, hidayah, rizqi, keberkahan, memudahkan semua urusan, memberikan  ridha pada setiap langkah dan lindunganNya kepada kita serta mengijabah doa doa kita semua. Salam Sehat Selalu. Semangat Pagi

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH RAMADHAN, oleh Ferry Is Mirza (fim), refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Senin 29 Ramadhan 1445 H, 08 April 2024

Assalammu'alaikum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu

Enam Pesan Setelah Ramadhan

Alhamdulillah Washalatu Washalamu Alaa Rasulillah. 'Amma Ba'du. Sahabat EPCDH, insyaAllah selalu sehat, bahagia bersama keluarga, murah rejekinya, dikabulkan hajatnya, dijauhkan dari marabahaya. Yang sedang sakit lekas sembuh. Aamiin.

Andai Ramadhan bisa berpesan kepada kita, maka inilah pesan yang akan disampaikannya :

Pesan pertama : Setelah aku pergi, jangan kau lupakan aku (Puasa), karena jika Allah menghendaki, niscaya aku akan datang kembali menghampirimu selama :

6 Hari di Bulan Syawal : itu tiada lain agar aku dan kamu senantiasa dekat, aku akan 'Lebih Dekat Lagi' ketika kau melaksanakan.

Puasa Senin Kamis atau : Puasa 'Ayyâmul Bidh' (Tgl 13,14,15 setiap bulan Qomariyah), Puasa Arafah (Tgl 9 Dzulhijjah), Bahkan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menganjurkan untuk melaksanakan Puasa Nabi Daud (sehari berpuasa sehari berbuka).

Itu semua tiada lain agar kalian selalu 'MengingatKU', sehingga AKU pasti menunggumu di pintu Ar-Rayyân (Pintu khusus bagi orang orang yang berpuasa), Allahumma Aamiin.

Pesan kedua : Setelah aku pergi, jangan kau biarkan Kitab Suci Al-Qur'an bersampulkan debu, buatlah jadwal agar kamu bisa tetap membacanya, mentadabburinya  seperti apa yang engkau amalkan di  bulan Ramadhan kemarin ketika Aku selalu ada bersamamu

Ketahuilah bahwa Al-Qur'an itu salah satu 'Gizi buat Hatimu', dan Al-Qur'an merupakan salah satu yang dapat 'Memberimu Syafa'at' kelak di akhirat.

Sebagaimana Sabda Rasulallah Shalallahu Alayhi Wasallam : “Puasa dan Al-Qur'an itu akan memberikan Syafa’at kepada hamba di hari kiamat.

Puasa akan berkata : "Yaa Rabbi, aku telah menghalanginya dari Makan dan Syahwat, maka perkenankanlah aku (Puasa) memberikan Syafa’at untuknya".

Sedangkan Al-Qur'an akan berkata : "Yaa Rabbi, aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, maka perkenankanlah aku memberikan Syafa’at untuk pembacanya".

Maka Allah Ta'ala memperkenankan keduanya memberikan Syafa’at.”(HR. Imam Ahmad dan Ath-Thabrani)

Pesan ketiga : Setelah aku pergi, jangan kau tinggalkan 'Shalat Malam' (Qiyaamul Lail), walaupun kalian hanya sanggup melakukan beberapa raka'at saja, sungguh 'Shalat Malam' itu mampu mendekatkanmu kepada Allah Al-Khaliq

Pesan keempat : Setelah aku pergi, jangan kau tinggalkan kebaikan-kebaikan yang sudah kamu lakukan di saat aku ada di sisimu.

Ketahuilah bahwasanya Allah senantiasa mencintai satu amalan kebaikan yang dilakukan 'Tanpa Henti Walau Sedikit'.

Sebagaimana sebuah hadits dari ’Aisyah Radiallahu Anha , beliau mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda : 

”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinyu walaupun itu sedikit.” (HR Muslim).

Pesan kelima : Saat aku pergi, duhai kasihku Muslimah 'Jangan kau Lepaskan' kembali jilbabmu, karena disitu 'Kehormatan dan Kemuliaanmu Terjaga', jangan kau memakainya 'Karena aku (Ramadhan)', tapi pakailah ia 'Karena Allah', karena Allah yang memerintahkan kalian para muslimah

Pesan terakhir : "Kun Rabbâniyyan Walâ Takun Ramadhâniyyan". "Jadilah kalian insan yang senantiasa 'beribadah Kepada Allah', dan janganlah kalian 'beribadah hanya di bulan Ramadhan saja'.

InsyaAllah menjadi motivasi bagi kita dan mari kita amalkan, mohon ma'af lahir bathin.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH RAMADHAN, oleh Ferry Is Mirza (fim), Ahad 28 Ramadhan 1445 H, 7 April 2024

Assalaamu 'alaikum warrahmatallaahi wabarakaatuh 

Subhanallahu, Tiga hari lagi Ramadhan 1445 H akan berakhir, Yaa Allah mampukan hamba bertemu lagi Bulan Mulia  Ramadhan 1446 H ..7..8..9 dan seterusnya.

Yaa Allaah, janganlah Kau jadikan bulan Ramadhan ini sebagai  yang terakhir dalam hidupku. Jika Engkau menjadikannya sebagai Ramadhan terakhirku, maka jadikanlah aku sebagai orang yang Engkau sayangi dan jangan jadikan orang yang Engkau murkai... Aamiin.

Di 3 hari terakhir  bulan suci Ramadhan ini, kami memohon kepadaMu Yaa Allaah Dzat Yang Maha Perkasa... Terimalah ibadah puasa hamba dan ibadah lainnya di bulan Maghfirah ini.

Berikan kami umur panjang barokah, kesempatan, dan kesehatan yang prima sehingga bisa bertemu bulan Ramadhan 1446 H tahun depan dan tahun berikutnya.

Jadikanlah kami sebagai hamba- hambaMu yang bertaqwa dan kembali kepada kesucian. Aamiin yaa rabbal alaamiin.

Allahumma innaka afuwwun tuhibbul afwa fa'fuanna. Fa'fuana yaa Khariim. Fa'fuana yaa Rahiim. Fa'fuana yaa akhromal akhromiin. Shallallahu ala sayyidina Muhammad.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Catatan malam akhir pekan, Sabtu 27 Ramadhan 1445 H, 06 April 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu 

Do'a Malam LAILATUL QADAR

Ramadan tinggal hitungan hari. Maka dari itu marilah kita lebih semangat di malam malam akhir bulan mulia ini agar dapat Lailatul Qadar.

Dari Aisyah ia berkata, "Aku bertanya, ‘Ya Rasulullah jika aku mengetahui bahwa malam itu adalah Lailatul Qadar, apa yang harus aku ucapkan waktu itu?’

Rasulallah bersabda, "Ucapkanlah: Allaahumma innaka ‘afuwwun kariim tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia, Engkau Mencintai Pemaafan, maka maafkanlah aku). (HR. Tirmidzi). Pelajaran yang terdapat di dalam hadist :

1️⃣- Hadits ini menunjukkan bahwa sebagian sahabat tahu kapan terjadinya malam Lailatul Qadar adalah hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Ummul mukminin ini bertanya meminta Rasulallah mengajari doa jika mengetahui bahwa suatu malam merupakan Lailatul Qadar. Rasulullah pun kemudian mengajarinya.

2️⃣- Kita dianjurkan untuk memperbanyak doa ketika bertemu dengan malam Lailatul Qadar, karena di dalam alquran juga dijelaskan tentang makna dan keistimewahan dari malam Lailatul Qadar yakni suatu malam yang memiliki keutamaan dan keistimewaan yang sangat luar biasa, yaitu suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan.

3️⃣- Malam Lailatul Qadar juga di sebut dengan malam penuh kemuliaan. Karena malam tersebut adalah suatu  malam tepat diturunkannya Al Quran yang mempunyai kemuliaan melalui malaikat yang juga mempunyai kemuliaan dan diturunkan kebada Baginda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam yang mana beliau adalah manusia yang paling mulia yang pernah hidup di muka bumi ini.

4️⃣- Keutamaan malam Lailatul Qadar turunnya alquran pada malam Lailatul Qadar

Bahkan, Mujahid, Qotadah bersama para ulama yang lain berpendapat mengenai malam yang lebih baik dari seribu bulan yaitu apabila kita melakukan amalan shalat maupun yang lainnya ketika malam Lailatul Qadar maka semua amalan pada waktu itu lebih baik dari pada seribu bulan yang tidak terdapat Lailatul Qadarnya.

5️⃣- Semoga dengan adanya penjelasan mengenai doa yang dianjurkan oleh baginda Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam yang berbunyi “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni” yang artinya : Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku.

Mudah-mudahan dengan mengetahui tentang doa ketika malam lailatul qadar ini, kita semua bisa mengamalkannya dengan harapan kita mendapatkan ampunan dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan mendapatkan juga kemuliaan dari malam lailatul qadar.

1️⃣- Allah Subhanahu Wa Ta'ala menceritakan bahwa Dia menurunkan Al-Qur'an di malam Lailatul Qadar, yaitu malam yang penuh dengan keberkahan

"Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkati." (QS. Ad-Dukhan: 3)

2️⃣- Yaitu Lailatul Qadar yang terletak didalam bulan Ramadan. "(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an." (QS. Al-Baqarah)

3️⃣- Kemudian Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, mengagungkan kedudukan Lailatul Qadar yang dikhususkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala sebagai malam diturunkanNya Al-Qur'an di dalamnya.

"Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu ? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan." (QS. Al-Qadar: 2-3)

InsyaAllah kita semua selalu dalam keadaan sehat wal afiya, sabar, ikhlas, bersyukur serta istiqamah dalam ketaatan. Aamiin Yaa Rabbal Alamiin

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Catatan sore akhir Ramadhan, Sabtu 27 Ramadhan 1445 H, 6 April 2024

DO’A untuk Mengumpulkan Semua Perkara Kebaikkan

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullahu ta’ala mengatakan, “Di antara do’a yang Nabi Shallallahu ‘Alayhi Wasallam panjatkan adalah, ALLAAHUMMA INNII AS ALUKAL-HUDAA WAT-TUQOO WAL ‘AFAAFA WAL-GHINAA. 

“Ya Allah, aku memohon kepadaMu al-Hudaa (petunjuk), at-Tuqoo (ketakwaan) al-‘Afaaf (terjaganya kehormatan), dan al-Ghinaa (rasa cukup).”

Sungguh, Nabi Shalallahu ‘Alayhi Wasallam telah menghimpun seluruh perkara kebaikan dalam do’a ini : al-Hudaa adalah ilmu yang bermanfaat, at-Tuqoo adalah beramal saleh dan meninggalkan seluruh perkara yang haram. Dua hal tersebut adalah kebaikan bagi agama seseorang.

Kebaikan agama akan sempurna jika dilengkapi dengan kebaikan dan ketentraman kalbu yang diraih dengan : Al-‘Afaaf (menjaga kehormatan) dari bergantung kepada makhluk. Al-Ghinaa (merasa cukup dengan pemberian Allah).

Barang siapa merasa cukup dengan pemberian Allah, dia adalah orang kaya secara hakiki, walaupun pemasukannya sedikit.

Tidaklah kekayaan itu dinilai dari banyaknya harta, akan tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah rasa cukup dalam kalbu.

Dengan sifat al-‘Afaaf dan al-Ghinaa seorang hamba akan sempurna kebahagiaan hidupnya, kenikmatan duniawinya, dan merasa cukup dengan pemberian Allah.(Bahjah Quluub al-Abror wa Qurrotu ‘Uyuun al-Akhyar fi Syarh Jawami’ al-Akhbar 116)

jangan lupa adab sebelum berdo'a adalah : memuji Allah dengan nama namaNya yang Agung (contoh): yaa Hayyu yaa Qoyyuum, lalu membaca sholawat Allahumma sholli wa sallim 'alaa Muhammad.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH RAMADHAN, oleh Ferry Is Mirza (fim), refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Sabtu 27 Ramadhan 1445 H, 6 April 2024

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Q a n a a h

Tentu, tak sedikit orang yang menginginkan harta. Tapi, apakah hanya harta berlandaskan dunia saja yang kita inginkan ? Jika ya, sungguh kita termasuk orang-orang yang merugi. 

Mengapa ? Sebab, harta dunia itu akan sirna dan tak akan pernah bisa kita jadikan bekal untuk akhirat kelak. Maka dari itu, carilah harta yang bisa dibawa ke akhirat kelak sebagai bekal. 

Mau tahu apa itu ? Itu adalah sifat Qana’ah. Ya, Qana’ah merupakan harta yang paling berharga.  Bahkan, Qana’ah merupakan satu- satunya harta yang tak akan pernah berkurang.

Hal tersebut sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Abu Bakar bin Muhammad Al-Munkadir RA, “Qana’ah itu harta yang tak akan berkurang.”

Qana’ah adalah sikap rela menerima dan merasa cukup atas hasil yang diusahakannya serta menjauhkan diri dari dari rasa tidak puas dan perasaan kurang. Orang yang memiliki sifat Qana’ah memiliki pendirian bahwa apa yang diperoleh atau yang ada di dirinya adalah kehendak Allah Subhanahu Wa Ta"ala. 

Itulah sebabnya, sifat seperti ini dapat menjadi bekal kita untuk kehidupan di akhirat kelak.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman di dalam Al-Qur'an, yang artinya : "Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya ni’mat dari Kami ia berkata: 

”Sesungguhnya aku diberi ni’mat itu hanyalah karena kepintaranku”. Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui” (QS. Azumar : 49)

Qanaah dalam islam termasuk ke dalam sifat terpuji yang bisa menerima seberapapun rejeki yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala atas semua usaha yang sudah kita lakukan dan merasa cukup tanpa adanya sikap mengeluh. 

Oleh sebab itu, memelihara sifat Qana’ah sudah barang tentu tidak merugikan diri kita sama sekali. Walau terkadang kita menolak terhadap apa yang kita alami, kekurangan dalam hal keuangan misalnya, kita harus tetap bisa menjaga diri kita agar selalu berpikir positif terhadap apa yang kita alami. 

Ingatlah, Allah Subhanahu Wa Ta'ala pasti memberikan yang terbaik untuk kita. Maka berprasangka baik terhadap Allah Subhanahu Wa Ta'ala, itulah do'a kita yang sesungguhnya.

InsyaAllah Kesehatan dan Keberkahan tetap dilimpahkan kepada kita semua serta senantiasa menjadi hamba Allah yang selalu Bersyukur dan memiliki hati yang terbaik, bersih dan ikhlas dalam berbuat Kebaikan serta Allah Subhanahu Wa Ta'ala menerima Taubat dan mengampuni dosa- dosa kita. Aamiin Yaa Robbal Aalamiin.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Catatan Itikaf malam 27 ramadhan.

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Meraih Iman dan Keshalihan di Akhir Ramadhan. 

Iman dan keshalehan tak semua Allah beri, kecuali hanya orang- orang yang Allah cintai.

Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata, “Sesungguhnya Allah memberi dunia pada orang yang Allah cinta maupun tidak. Sedangkan iman hanya diberikan kepada orang yang Allah cinta.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrod 279).

Iman adalah pemberian special dari Allah yang tak bisa dimiliki dan diklaim begitu saja. Berbeda dengan harta dan rupa, orang-orang yang tak beriman juga Allah beri.

Karena itu jangan pernah iri dan kagum ketika Allah berikan dunia dan harta kepada seseorang, sebab bisa jadi itu merupakan Istidraj (pemberian dalam rangka  hendak diazab oleh Allah).

Dan sebaliknya, kita harus bersyukur jika Allah berikan kita iman dan keshalihan, karena hal ini jauh lebih baik dari dunia dan isinya.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberikan kita semua taufiq dan hidayah serta ke istiqomahan melakukan amal shalih, Dan semoga akhir dari perjalanan Ramadhan ini kita mendapatkan predikat terbaik di sisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala yakni Taqwa. Dengan Taqwa yg sudah kita dapat maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan berikan kepada kita kita perbaikan perubahan peningkatan yang signifikan apakah kesalehan kita, ketaqwaan, semangat mengamalkan Sunnah serta terlihat peningkatan dari sikap kita, ilmu, ibadah serta kinerja kerja kita

BERSIAGALAH DI MALAM I'TIKAF  UNTUK MENDAPAT LAILATUL QODAR. Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni. Yaa Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku).” (HR. Tirmidzi no. 3513 Ibnu Majah no 3850)

INSYAALLAH LAILATUL QODAR DIBERIKAN KEPADA KITA. QS. Al-Anfāl : 29 ~ Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqan (kemampuan membedakan antara yang hak dan batil) kepadamu, menghapus segala kesalahanmu, dan mengampuni (dosa- dosa)mu. Allah memiliki karunia yang besar.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH RAMADHAN, oleh Ferry Is Mirza (fim), refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Jumat 26 Ramadhan 1445 H, 5 April 20024

Assallammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu 

3 Hal yang Membuat Kita Lupa Bersyukur

Setiap manusia seharusnya selalu mengingat nikmat yang telah Allah Subhanahu Wa Ta'ala berikan kepadanya. Nikmat yang ada di bumi dan seisinya telah disediakan Allah Subhanahu Wa Ta'ala sebagai kelengkapan dan pelengkap ciptaanNya. Air, tanah, udara dan semesta alam dengan penuh kasih dan sayangNya.

Disadari atau tidak, apa yang ada pada diri manusia, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki adalah nikmat yang telah diberikan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan merupakan anugerah yang tiada tara nilainya. Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman di dalam Al-Qur'an, yang artinya :

"Karena itu, ingatlah kamu kepadaKu niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepadaKu, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku." (QS. Al-Baqarah 152)

Bersyukur pada Hakekatnya merupakan konsekuensi logis bagi seseorang makhluk seperti manusia kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, sebagai Tuhan yang telah menciptakan dan melimpahkan berbagai nikmat. Namun, sering sekali makhlukNya terlupa bahkan melupakanNya.

Pada umumnya ada tiga hal yang sering membuat kita Lupa bersyukur, antara lain sebagai berikut :

1. Kita sering memusatkan diri pada apa yang kita inginkan bukan pada apa yang kita miliki. Hal ini terjadi karena kita salah dalam melakukan penilaian. Kita sering mengukur suatu nikmat dari Allah dengan ukuran diri sendiri, artinya jika keinginan dipenuhi, maka ia akan mudah bersyukur sebaliknya jika belum dikabulkan, maka ia enggan untuk bersyukur.

2. Selalu melihat kepada orang lain yang diberikan lebih banyak nikmat, perilaku ini hanya akan menimbulkan rasa iri, hasud dan dengki kepada orang lain. Cobalah untuk melihat orang yang kurang beruntung, di sekitar kita.

Tidak jarang kita melihat dan merasa orang lain lebih beruntung dari kita, kemanapun kita pergi, selalu ada yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik dan lebih segalanya dari kita. 

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengajarkan “Apabila seseorang diantara kamu melihat orang yang dilebihkan Allah dalam hal harta benda dan bentuk rupa, maka hendaklah ia melihat kepada orang-orang yang lebih rendah dari padanya”.

3. Menganggap apa yang dimilki adalah hasil usaha sendiri, perilaku ini menumbuhkan sifat kikir, sombong dan melupakan Allah Subhanahu Wa Ta'ala sebagai pemberi nikmat tersebut, padahal tidak ada satu nikmat pun yang datang dengan sendirinya. Melainkan Allah Subhanahu Wa Ta,'ala yang telah mengatur semuanya, selanjutnya satu-satunya cara yang harus kita lakukan adalah mensyukuri semua nikmatnya dengan menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya.

"Yaa ALLAH...Jadikanlah kami Bersabar saat di uji, Bersyukur saat di beri, Memaafkan saat didzolimi, istighfar saat kami salah dan khilaf dan bukakan pintu hati kami untuk selalu dekat denganMu."

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy.  Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH RAMADHAN, oleh Ferry Is Mirza (fim), refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Kamis 25 Ramadhan 1445 H, 4 April 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu

Semakin Taqwa InsyaAllah dapat HidayahNYA

InsyaAllah di hari hari akhir kita menjalani Puasa Ramadhan dan semakin berkurangnya usia kita, semakin mendekatkan  Ketaqwaan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Di pagi hari ini awali aktifitas kita dengan Bismillah, tetap  semangat,  bersyukur, tersenyum apapun yang terjadi, dan ubah lelah kita menjadi Lillah.

InsyaAllah kita semua diberi rezeqi yang berkah. InsyaAllah Allah jadikan pagi ini sebagai pembuka pintu keberkahan, pintu kebaikan dan nikmat, pintu kesabaran dan kekuatan, pintu kesehatan dan keselamatan, serta Pintu Surga bagi kita semua. Dan kita mendapat HidayahNYA.

Hidayah yang didapatkan seseorang dapat menuntunnya ke jalan yang benar. Lalu bagaimana cara untuk mendapatkannya ?

Hidayah menjadi salah satu petunjuk Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang diberikan kepada hambaNya dan terbukanya hati untuk menerima Allah Subhanahu Wa Ta'ala serta lapangnya dada untuk meyakini kebenaran agama (Islam).

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman yang artinya : "Maka apakah orang- orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata." (QS. Az-Zumar 22)

Hidayah tidak dapat dibeli, tapi ini adalah nikmat Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang hanya dianugerahkan kepada hambaNya yang dikehendakiNya.

Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman yang artinya : "Sesungguhnya, kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendakiNya dan Allah lebih mengetahui orang- orang yang mau menerima petunjuk." (QS. Al-Qasas 56)

Kita harus percaya dan yakin akan kebenaran iman dan rukun iman. Kepercayaan inilah yang akan memudahkan kita untuk mendapatkan Hidayah. Dengan kita tetap mengingat Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan menjalankan kewajibannya tentu Allah Subhanahu Wa Ta'ala pun akan selalu mengingatkan kita.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH RAMADHAN, oleh Ferry Is Mirza (fim), refrensi tulisan prof dr ahmad sathori, Rabu 24 Ramadhan 1445 H,  03 April 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu 

Mengapa Umat Muslim Ramai Baca Al Qur'an di Bulan Ramadhan ?

Sejak 1.400 tahun silam, ketika dunia belum mengenal KOMPUTER atau alat hitung sejenis, IMAM SYAFI'I telah mampu mendata JUMLAH masing-masing HURUF dalam AL-QURĀN secara detail dan tepat.

IMAM SYAFI'I dalam kitab Majmu al-Ulum wa Mathli’u an Nujum dan dikutip oleh Imam ibn ‘Arabi dalam mukaddimah al-Futuhuat al-Ilahiyah menyatakan jumlah huruf-huruf dalam Al Qur'an di susun sesuai dengan banyaknya :

ا Alif  : 48740 huruf, ل Lam : 33922 huruf, م Mim : 28922 huruf, ح Ha ’ : 26925 huruf, ي Ya’ : 25717 huruf, و Waw : 25506 huruf, ن Nun : 17000 huruf, لا Lam alif : 14707 huruf, ب Ba ’ : 11420 huruf, ث Tsa’ : 10480 huruf, ف Fa’ : 9813 huruf, ع ‘Ain : 9470 huruf, ق Qaf : 8099 huruf, ك Kaf : 8022 huruf, د Dal : 5998 huruf, س Sin : 5799 huruf, ذ Dzal : 4934 huruf, ه Ha : 4138 huruf, ج Jim : 3322 huruf, ص Shad : 2780 huruf, ر Ra ’ : 2206 huruf, ش Syin : 2115 huruf, ض Dhadl : 1822 huruf, ز Zai : 1680 huruf, خ Kha ’ : 1503 huruf, ت Ta’ : 1404 huruf, غ Ghain : 1229 huruf, ط Tha’ : 1204 huruf dan terakhir ظ Dza’ : 842 huruf.

Jumlah semua huruf dalam al-Quran sebanyak 1.027.000 (satu juta dua puluh tujuh ribu). Setiap kali kita khatam Al-Quran, kita telah membaca lebih dari 1 juta huruf.

Jika 1 huruf = 1 kebaikan dan 1 kebaikan = 10 pahala, maka kira-kira 10 juta pahala kita dapatkan.

Di bulan Ramadhan ALLAH gandakan lagi 70x kebaikan.... jadi, hitunglah sendiri berapa pahalanya.

Mudah-mudahan ini menjadi motivasi kita untuk terus membaca Al-Quran, bertadarus dan semoga Allah mampukan kita untuk memahami maknanya

Syafaat AL QUR'AN

Dari Sa’id bin Sulaim ra, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam  bersabda: “Tiada penolong yg lebih utama derajatnya di sisi Allah pada hari Kiamat daripada Al-Qur’an. Bukan nabi, bukan malaikat dan bukan pula yang lainnya.” (Abdul Malik bin Habib-Syarah Ihya).

Bazzar meriwayatkan dalam kitab La’aali Masnunah bahwa :   jika seseorang meninggal dunia, ketika orang-orang sibuk dgn kain kafan dan persiapan pengebumian di rumahnya, tiba-tiba seseorang yang sangat tampan berdiri di kepala mayat. Ketika kain kafan mulai dipakaikan, dia berada di antara dada dan kain kafan.

Setelah dikuburkan dan orang-orang mulai meninggalkannyadatanglah 2 malaikat. Yaitu Malaikat Munkar dan Nakir yang berusaha memisahkan orang tampan itu dari mayat agar memudahkan tanya jawab.

Tetapi si tampan itu berkata: ”Ia adalah sahabat karibku. Dalam keadaan bagaimanapun aku tidak akan meninggalkannya. Jika kalian ditugaskan untuk bertanya kepadanya, lakukanlah pekerjaan kalian. Aku tidak akan berpisah dari orang ini sehingga ia di masukkan ke dalam surga.”

Lalu ia berpaling kepada sahabatnya dan berkata, ”Aku adalah Al Quran yang terkadang kamu baca dengan suara keras dan terkadang dengan suara perlahan."

Jangan khawatir setelah menghadapi pertanyaan Munkar dan Nakir ini, engkau tidak akan mengalami kesulitan.”

Setelah para malaikat itu selesai memberi pertanyaan, ia menghamparkan tempat tidur dan  permadani sutera yang penuh dengan kasturi dari Mala’il A’la. (Himpunan Fadhilah Amal : 609) 

Selalu saja ada getaran haru selepas membaca hadits ini. Getaran penuh pengharapan sekaligus kekhawatiran. Getaran harap karena tentu saja mengharapkan Al-Quran yang kita baca dapat menjadi pembela kita di hari yang tidak ada pembela. Sekaligus getaran takut, kalau- kalau Al-Quran akan menuntut kita.

Yaa Allah… terimalah bacaan Al-Quran kami. Sempurnakanlah kekurangannya. Banyak riwayat yang menerangkan bahwa Al-Quran adalah pemberi syafa’at yang pasti dikabulkan Allah Subhana Wa Ta'ala.

Subhanallah ... Allahu Akbar ... mari berbagi dan sebarkan EPCDH ini ... share sebanyak-banyaknya.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH RAMADHAN, oleh Ferry Is Mirza (fim), inspirasi ba'da subuh, Selasa 23 Ramadhan 1445 H, 02 April 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu 

Pasti Akan Tiba Saatnya

PASTI AKAN TIBA suatu hari nanti, semua SAHABAT kita akan melihat nama kita offline. 

Mereka mengirim pesan di WhatsApp, tapi hanya centang satu. Mereka kirim chat di Messenger, kita tak berbalas. Pada hari itu, postingan kita tiba- tiba terhenti.

Tak ada lagi update terbaru dari kita sendiri. Kenapa itu terjadi ? Karena kita telah pergi meninggalkan dunia.

Ya, Kita tidak akan online lagi, tidak bisa balas chat, ataupun komen dalam postingan sahabat.

Kita ingin membuat status atau postingan meminta maaf kepada siapapun yang pernah kita sakiti, sudah tidak bisa.

Ya, kita tidak lagi bersama para sahabat. Pada hari itu kita sedang terbujur kaku di liang kubur sempit dan terhimpit, cuma kita seorang diri yang menghadapi ujian dalam kubur.

Dan ketika kita telah pergi, yang tertinggal hanyalah huruf huruf di postingan kita. Bisa jadi tulisan itu bakal membela kita atau mungkin membinasakan kita di alam sana.

Maka dari itu, tulislah yang baik- baik, walaupun kita belum baik. Sekurang kurangnya kita terselamatkan dari dosa menulis yang buruk-buruk.

Tulislah yang baik- baik, bukan karena kita sudah baik. Tapi kita berusaha untuk menjadi baik.

Tulislah yang baik- baik, karena kita tahu kita ingin hal yang baik. Dan apabila kita berikan yang baik, mudah mudahan hal yang baik itu balik kepada diri kita sendiri.

Tulislah yang baik- baik, karena kita ingin yang baik-baik itu tinggal, apabila kita sudah pergi. Berbicara yang baik, Bersikap yang baik, Menulis yang baik- baik.

Karena yang baik itu semuanya ibadah. Walaupun hanya sekadar “senyum” atau “berprasangka baik” saja.

InsyaAllah kita semua Allah Ta'ala berkahi usia yang barakah, sehat wal afiya, murah rezeki agar bisa bersadaqah dan mampu menunaikan ibadah puasa Ramadhan hingga bertemu hari Kemenangan Idul Fitri 1 Syawal 1445 H, aamiin.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. KISAH LOPER KORAN. puri indah ba'da subuh 22 ramadhan 01 apr 2024

Berlangganan Untuk Ketuk Pintu

SAAT AKU mengantar koran, ada salah satu rumah yang lubang kotak suratnya ditutup. Jadi setiap kali saya harus mengetuk pintunya.  

Penghuni rumah itu seorang lelaki tua dengan langkah goyah, perlahan membuka pintu.

Saya bertanya: Pak, kenapa lubang kotak suratnya ditutup ? Dia menjawab : Saya sengaja menutupnya.

Dia tersenyum canggung dan melanjutkan : Saya ingin membicarakan sesuatu dengan anda.

Sa'at kamu mengantarkan koran kepada saya, tolong ketuk pintunya atau bunyikan bel serta serahkan langsung korannya kepadaku.

Saya menjawab : Tentu saja, tapi hal itu menyita waktuku untuk pergi mengantar koran ke pelanggan lainnya. Saya merasa bingung dengan permintaan itu.

Dia berkata: Tidak apa apa, saya di rumah setiap hari. Bagaimana jika saya memberi kamu tambahan 500 ribu setiap bulannya sebagai biaya tambahan untuk hal itu.

Dengan ekspresi memohon, dia menambahkan : Jika suatu hari nanti tidak mendapat jawaban, saat kamu mengetuk pintu, tolong hubungi tetangga !

Saya terkejut dan bertanya : Mengapa? Dia menjawab : Istri saya sudah meninggal, anak saya berada di kota lain, dan saya tinggal di sini sendirian, siapa tahu waktu saya akan tiba ?

Pada saat itu, saya melihat mata lelaki tua itu meneteskan air mata dan mukanya sembab.

Saya bertanya: Apakah bapak berlangganan koran untuk dibaca setiap hari? Dia menjawab pelan: Saya tidak pernah membaca koran. Saya berlangganan suara ketukan! Dia mengatupkan tangannya dan berkata: Anak muda, tolong bantu saya, ini nomor telepon anak saya.

"Jika suatu hari kamu mengetuk pintu tidak ada jawaban, tolong hubungi tetangga,  juga hubungi anak saya untuk memberi tahu dia."

Setelah membaca ini, saya yakin pasti ada juga orang orang yang menyendiri dan kesepian di antara sahabat sahabat kita.

Terkadang kita mungkin bertanya tanya mengapa mereka, masih mengirimkan ucapan atau pesan pagi dan sore di WhatsApp ?

Sebenarnya makna ucapan pagi dan sore ini mirip dengan makna mengetuk atau  membunyikan bel pintu, ini adalah cara untuk saling mendo'akan keselamatan.

Suatu hari, jika kita tidak menerima ucapan selamat pagi atau artikel yang dibagikan, maka pengirim mungkin sakit atau sesuatu terjadi padanya, mengingat kita sudah senior.

Mari kita jaga sesama sahabat dan keluarga kita. "Setelah membaca ini, Saya sangat memahami pentingnya 'Salam dan do'a bagi' kita satu sama lain."

Anggaplah pesan pesan WA ini sebagai ketukan pintu di antara sahabat sahabat kita.

Masih adakah ? Masih sehatkah ? Masih hidupkah ? InsyaAllah menginspirasi dan  bermanfaat.

fimdalimunthe55@gmailcom

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH RAMADHAN, oleh Ferry Is Mirza (fim), refrensi alhadits, Senin 22 Ramadhan 1445 H, 1 April 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarakatuhu 

Perbanyaklah amal ibadah di penghujung bulan mulia

Belum tahu apakah tahun depan kita akan dipertemukan lagi dengan bulan mulia penuh maghfirah ini. Karena itu, perbanyaklah amal ibadah di penghujung bulan mulia Ramadhan ini.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : "Sesungguhnya nilai amal itu ditentukan oleh bagian penutupnya." (HR. Bukhari).

Karena itu Saudaraku, perjuangan besar itu, mestinya kita lakukan sekarang. Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan : “Wahai para hamba Allah, sungguh bulan Ramadhan ini akan segera pergi dan tidaklah tersisa waktunya kecuali sedikit. 

Karena itu, siapa saja yang telah beramal baik di dalamnya hendaklah dia menyempurnakanya dan siapa saja yang telah menyia- nyiakannya hendaklah ia mengakhirinya dengan yang terbaik.”

Imam Ibnu Jauzi berpesan : "Sesungguhnya kuda pacu apabila mendekati batas finish ia akan mengerahkan segala kemampuannya agar bisa memenangkan perlombaan.

Maka jangan sampai kuda pacu menjadi lebih cerdas darimu. Karena sesungguhnya amalan tergantung kepada penutupnya.

Jika anda tidak bisa menyambut kedatangan (Ramadhan) dengan baik, maka mudah- mudahan anda bisa melepasnya dengan baik".

Karenanya, pastikan kita telah siap untuk meningkatkan semangat ibadah kita,  insyaAllah Allah berkenan untuk memberikan kepada kita semua kemudahan dan taufiqNya mendapatkan LAILATUL QADR.

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan : Pastikan semua ibadah wajib khususnya shalat fardhu, kita lakukan dengan yang terbaik, diawal waktu dan dengan berjamaah.

Shalat Tarawih berjamaah hingga selesai berbarengan dengan imam. Perbanyak baca al Qur’an, minimal 1 Juz sehari. Perbanyak do'a, khususnya : Allāhumma innaka afuwwun tuhibbul afwa fa'fu 'anna. Perbanyak muhasabah, istighfar dan taubat. Perbanyak dzikir, khususnya di sepertiga akhir malam. Berpenampilan terbaik dengan mandi, pakaian terbaik dan pakai siwak dan parfum. Bangunkan keluarga dan ingatkan saudara saudara. Shadaqah dengan harta terbaik.

Pastikan niatkan semua dengan ikhlas/semata mata mencari ridha Allah. IsyaAllah Allah berkenan untuk memberikan taufiq  dan ridha-Nya.

Yaa Allah... Jadikan umur kami terbaik ada di akhirnya. Dan jadikan amalan kami  terbaik ada di penutupnya.

Dan jadikan hari-hari kami yang terbaik adalah hari saat kami berjumpa denganMu. Aamiin. Baarakallahu fiikum. InsyaAllah bermanfaat

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH RAMADHAN, oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Ahad 21 Ramadhan 1445 H, 31 Maret 2024

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Berserah Diri - Tawakal hanya kepada Allah

Sikap Berserah Diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala setelah melakukan usaha secara maksimal untuk mencapai suatu keinginan atau cita- cita, setelah itu kita menerima dengan Ikhlas dan Berserah diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala atas hasil yang akan kita dapatkan ini yang disebut Bertawakal.

Orang yang bertawakal, maka ia termasuk orang yang berakhlak mulia. Menurut Imam al-Ghazali : "Tawakal adalah menyandarkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala tatkala menghadapi suatu kepentingan, bersandar kepadaNya dalam kesukaran, teguh hati tatkala ditimpa bencana disertai jiwa yang tenang dan hati yang tenteram."

Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman di dalam Al-Qur'an, yang artinya : "Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka- sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendakiNya Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap- tiap sesuatu." (QS. At-Talaq 3)

Ini semua menunjukkan kepada kita bahwa kesempurnaan iman dan tauhid seorang hamba ditentukan oleh sejauh mana ketergantungan hatinya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Dengan berserah diri pada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, kita akan memiliki Hati dan kemandirian yang kuat dalam mengambil keputusan. Dan kita yakin bahwa Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang menguasai Hidup dan Mati kita.

InsyaAllah kita selalu sehat wal afiyaa di sepuluh hari akhir menunaikan ibadah puasa Ramadhan. Dan diberi hidayah Allah Lailatur Qadr. Aamiin

fimdalimuthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismilllairrahmanirrahim. EPCDH RAMADHAN, oleh Ferry Is Mirza (fim), Sabtu 20 Ramadhan 1445 H, 30 Maret 2024

Raihlah "Keutamaan" 10 Hari Akhir RAMADHAN

Alhamdulillah hari ini memasuki 10 hari akhir Ramadhan. InsyaAllah kita semakin ketat menjalani bulan mulia penuh maghfirah ini.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sangat bersungguh sungguh di 10 hari terakhir Ramadhan, bahkan hingga membangunkan keluarganya untuk beribadah.

Di hari-hari terakhir Ramadhan, Allah menyiapkan lailatul qadar, yaitu malam di mana amal shalih akan dibalas setara 1000 bulan (83,3 tahun) ibadah tersebut. Lailatul qadar dicari di 10 malam terakhir Ramadhan, khususnya di malam yang ganjil.

Doa saat lailatul qadar: Allaahumma innaka afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’annii Artinya: Ya Allah, Engkau Maha Memberi Maaf dan Engkau suka memberikan maaf, karenanya maafkanlah aku.” (HR. Tirmidzi).

Beberapa amalan untuk mengisi lailatul qadar : I’tikaf, Shalat malam, Membaca Al Qur`an, Sedekah, Bertaubat dan beristighfar.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sangat bersungguh- sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim)

Di malam-malam terakhir Ramadhan, sebagian besar semangat beribadah kaum muslimin semakin menurun. Shaf sholat di masjid masjid berkurang, sementara pengunjung di pusat- pusat perbelanjaan semakin bertambah. Padahal Allah Ta’ala telah menyiapkan keutamaan yang besar di 10 malam terakhir Ramadhan. 

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pun telah memberikan anjuran untuk semangat beribadah di malam-malam istimewa tersebut.

KEUTAMAAN 10 HARI TERAKHIR RAMADHAN

Di hari-hari terakhir Ramadhan, Allah Ta’ala telah menyiapkan malam yang penuh dengan keberkahan bagi orang-orang yang terpilih, yaitu Lailatul Qadar. Malam yang penuh keberkahan dan lebih baik dari seribu bulan. 

Apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al Qadar : 2-3)

Di malam tersebut, Allah Ta’ala akan memberikan keberkahan dalam ibadah kaum muslimin berupa balasan yang menyamai ibadah selama 1.000 bulan atau 83 tahun 4 bulan.

Selain itu, Allah Ta’ala juga akan mengampuni dosa orang-orang yang mendirikan sholat di malam tersebut. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Siapa yang shalat pada Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari)

MENGHIDUPKAN MALAM DI 10 HARI TERAKHIR RAMADHAN

Di malam-malam terakhir bulan Ramadhan, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menganjurkan umatnya untuk semakin bersemangat dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana hadits Aisyah radhiyallahu anha, beliau berkata:

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersungguh-sungguh dalam ibadah saat memasuki 10 Ramadhan terakhir, menghidupkan malam malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” (HR. Bukhari)

Para ulama salaf juga sangat bergembira dalam menyambut malam-malam di hari terakhir Ramadhan dengan beribadah kepada Allah Ta’ala.  Sufyan Ats -Tsauri berkata,

Aku sangat gembira saat memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dengan bersungguh- sungguh dalam menghidupkan malam dengan ibadah, kemudian membangunkan keluarga untuk shalat jika mereka mampu.” (Lathoiful Ma’arif, 331)

Maksud dalam menghidupkan Lailatul Qadar adalah melakukan ibadah kepada Allah Ta’ala di sebagian malam dengan sholat, dzikir, membaca al-Qur’an, dan ibadah yang lainnya.

Imam Asy-Syafi’i berkata, Barangsiapa yang mengerjakan shalat Isya’ dan shalat Shubuh di malam Lailatul Qadar berarti ia telah dinilai menghidupkan malam tersebut.” (Lathoiful Ma’arif 329)

MENDAPATKAN LAILATUL QADAR

Lailatul Qadar adalah malam yang penuh keberkahan yang terjadi di sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)

Terjadinya Lailatul Qadar lebih memungkinkan di malam-malam ganjil. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)

MEMOHON AMPUN DI LAILATUL QADAR

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menganjurkan untuk memohon ampun kepada Allah Ta’ala di Lailatul Qadar.  Aisyah radhiyallahu anha pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tentang doa yang perlu dipanjatkan saat bertemu dengan Lailatul Qadar.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menjawab : Allaahumma innaka afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’annii. Artinya: Ya Allah, Engkau Maha Memberi Maaf dan Engkau suka memberikan maaf, karenanya maafkanlah aku.” (H.R. Tirmidzi)

Do’a tersebut mengandung harapan seorang hamba kepada Allah Ta’ala untuk senantiasa memohon ampun dari dosa dan kekurangan saat beribadah di malam- malam terakhir Ramadhan. Ibnu Rajab pernah berkata, Sesungguhnya perintah memohon ampun pada Lailatul Qadar bertujuan agar seorang hamba tidak melihat ibadah yang ia lakukan telah sempurna sehingga ia meminta ampun kepada Allah Ta’ala seperti keadaan seorang yang berbuat dosa dan penuh kekurangan.” (Lathoiful Ma’arif, 362)

AMALAN DI 10 HARI TERAKHIR RAMADHAN

Beberapa amalan yang dianjurkan untuk mengisi malam-malam terakhir di Bulan Ramadhan adalah sebagai berikut:

1. I’tikaf

I’tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan melakukan ibadah kepada Allah Ta’ala. Di malam-malam terakhir Ramadhan, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menganjurkan untuk menghidupkan malam dengan beribadah di masjid. Sebagaimana hadits dari Aisyah radhiyallahu anha, Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan hingga beliau wafat, kemudian para istri beliau beri’tikaf setelah itu.” (HR. Bukhari)

2. Sholat malam

Sholat malam dianjurkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam untuk dilaksanakan di malam-malam terakhir Ramadhan dengan harapan untuk mendapatkan ampunan dari Allah Ta’ala. Sebagaimana sabda beliau, Siapa yang shalat pada Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari)

3. Membaca Al-Qur’an

Pada bulan Ramadhan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memperbanyak membaca Al-Qur’an, bahkan Jibril turun di bulan Ramadhan untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada beliau. Sebagaimana hadits dari Fathimah radhiyallahu anha, Sesungguhnya Jibril alaihissalam menyetorkan Al-Qur’an dengan Rasulullah sekali dalam setiap tahun.” (HR. Muslim)

4. Shadaqah

Shadaqah adalah ibadah yang juga dianjurkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam di Bulan Ramadhan melebihi bulan-bulan lainnya. Sebagaimana hadits dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu anhu, Apabila beliau berjumpa dengan Jibril (di bulan Ramadhan), Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam lebih dermawan dengan kebajikan melebihi angin yang berhembus.” (HR. Bukhari)

5. Bertaubat dan Beristighfar

Di antara amalan yang sangat dianjurkan untuk dilakukan di bulan Ramadhan adalah memperbanyak taubat dan istighfar, karena bulan Ramadhan adalah bulan ampunan. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga mengajarkan sebuah doa yang hendaknya dipanjatkan di Lailatul Qadar, yaitu Allaahumma innaka afuwwun tuhibbul afwa fa’fu’anni.” (Artinya: Ya Allah, Engkau Maha Memberi Maaf dan Engkau suka memberikan maaf, karenanya maafkanlah aku)." (HR.Tirmidzi)

InsyaAllah Allah Ta’ala memberikan kemudahan bagi kita untuk mengisi hari-hari terakhir Ramadhan dengan amal ibadah yang telah dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan semoga Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosa kita dan menerima amal ibadah kita di Bulan Ramadhan ini. Allaahumma aamiin.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH RAMADHAN, oleh Ferry Is Mirza (fim), refrensi tafsir Alquran,  Jumat 19 Ramadhan 1445 H, 29 Maret 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu 

Delapan Pintu Rezeki yang Termaktub dalam Al-Qur’an

Alhamdulillah sampai hari ini kita semua oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala masih diberi nikmat sehat wal afiyaa, hingga bisa menunaikan ibadah puasa Ramadhan menjelang sepuluh hari terakhir. 

Selain nikmat sehat, Allah Azza Wa Jalla juga memberikan rezekiNYA kepada kita. Bagaimana Allah memberikan rezekiNYA itu ? Simak EPCDH ini.

1. Rezeki yang Datang karena Bersyukur kepada Allah

Apakah kamu sudah bersyukur hari ini? Jika belum, cobalah merenungi berbagai hal yang sudah Allah berikan kepada kita.

Kemudian, bersyukurlah ! Pasalnya, bersyukur merupakan salah satu pintu rezeki yang tertulis dalam Al-Qur’an.

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya azabKu sangat pedih”. (QS. Ibrahim: 7)

2. Rezeki karena Hasil Usaha

Dalam Islam, doa dan usaha adalah satu paket. Kamu tak bisa berharap satu hal hanya dengan doa.

Doa haruslah dibarengi dengan usaha yang keras dan sungguh-sungguh. Itu karena usaha merupakan sumber rezeki yang jelas termaktub dalam Al-Qur’an.

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39)

3. Datang Lewat Istighfar

Apakah ingin rezekimu lancar ? Cobalah untuk berIstighfar ! Selain mendatangkan kebaikan, Istighfar sangat mungkin membuat rezekimu mengalir deras.

“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai- sungai.’” (QS. Nuh: 10-12)

4. Rezeki dari Anak

pintu rezeki mempunyai anak. Kamu pasti tak asing dengan pepatah: ‘banyak anak banyak rezeki’, bukan? Pepatah itu mungkin tak sembarangan dibuat.

Pasalnya dalam Al-Qur’an disebutkan, kehadiran anak bisa mendatangkan rezeki. Termasuk bagi kedua orang tuanya.

“Dan janganlah kamu membunuh anak- anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu…” (QS. Al-Isra: 31)

5. Bersedekah

Banyak sekali penceramah dan orang-orang berkecukupan yang membocorkan kiat untuk mempermudah rezeki.

Mereka semua sepakat, salahsatu caranya yakni dengan bersedekah. Tak hanya mendatangkan rezeki, dengan bersedekah hati akan kian tenang.

Selain itu, bersedekah tak mungkin membuatmu jadi miskin, sebaliknya; ia bisa mendatangkan banyak rezeki! Hal ini pun Allah tegaskan lewat salah satu ayat di dalam Al-Qur’an :

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepadaNya-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah: 245)

6. Rezeki karena Menikah

Khusus bagi yang belum menikah, segeralah untuk meminang jodohmu! Musababnya, menikah merupakan pintu rezeki yang Islam sediakan bagi umatnya. Ini bahkan Allah janjikan lewat firmaNya di Al-Qur’an:

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang- orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan menampukkan mereka dengan karuniaNya. Dan Allah Maha luas (pemberianNya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur: 32)

7. Rezeki yang Dijamin

Allah akan menjamin seluruh kehidupan makhlukNya di muka bumi. Maka kamu jangan khawatir, ikhtiar saja sebaik mungkin.

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).” (QS. Hud: 6)

8. Rezeki yang Tak Terduga

Pintu rezeki terakhir yang bisa kamu buka ialah lewat rezeki yang tak terduga. Memang anomali dengan ulasan sebelumnya; yang memerlukan usaha keras untuk mendapat rezeki. Namun, rezeki tak terduga ini tak sekonyong-konyong turun.

Ada syarat yang harus kamu penuhi, syarat itu tertulis dalam Al-Qur’an : “…Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka- sangkanya…” (QS. At-Talaq: 2-3)


fimdaliunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH RAMADHAN, oleh Ferry Is Mirza (fim), Kamis18 Ramadhan 1445 H, 28 Maret 2025

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu 

Empat Tahapan Cinta TAHAJUD

DIPAKSA

Paksakan diri untuk Tahajjud, suka atau tidak,ringan ataupun berat..paksakan diri untuk bangun tengah malam menjelang subuh.

KEBIASAAN

Beberapa bentuk paksaan akan berubah menjadi 'kebiasaan'. Kita akan merasa aneh jika tidak TAHAJUD, kita akan terbiasa bangun saat jam tahajud, walaupun tanpa alarm. Teruskan.

KEMESTIAN

Kebiasaan yang berterusan di lakukan akan berubah menjadi 'kemestian'. Di tahap ini sudah mulai tumbuh benih-benih cinta TAHAJUD, Akan merasa rugi jika tidak tahajud.

KENIKMATAN

Pada tahap ini TAHAJUD sudah menjadi kemestian. Sholat tahajud berlama lama adalah 'kenikmatan'. Sedangkan ketika terlewat tidak tahajud akan membuat diri resah.

Yang perlu kita lakukan adalah 'istiqamah' dan mengajak sebanyak banyaknya orang untuk TAHAJUD agar mereka pun dapat merasakan nikmatnya BERTAHAJUD..

ADA  DITAHAP MANAKAH KITA ?

Sungguh, kenikmatan tidur sekejap telah melalaikan dirimu dari mendapat kebahagiaan hidup sesungguhnya, Dengan segala kebaikan yang menanti di kamar- kamar surga,

Di sana kita hidup selamanya, tanpa kematian di dalamnya. Kita akan merasa nyaman di dalamnya dengan segala kebaikannya,

Bangkitlah dari tidur, untuk sebuah kebaikan, Meninggalkan tidur demi shalat malam dan membaca al-Quran.

Jangan sia-siakan malammu hanya dengan tidur, bangunlah sesaat untuk menjalankan salat Tahajud karena ada sebuah mukjizat yang terkandung di dalamnya.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH RAMADHAN, oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Rabu 17 Ramadhan 1445 H, 27 Maret 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu

Bekal Terbaik 10 Hari Terakhir Ramadhan

Alhamdulillah kita semua diberi sehat wal afiyaa dan usia barakah, sehingga bisa menunaikan ibadah Puasa Ramadhan sampai dengan hari. Dari menjelang 10 hari terakhir bulan mulia ini, ada bekal terbaik yang perlu kita tunaikan. Apa saja itu ?

Dengan cara ber-l'tikaf di Masjid. Abu Sa’id al-Khudri RA berkata, Rasulullah Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda : "Barangsiapa yg ingin "I’tikaf" bersamaku, maka hendaklah ia beri’tikaf pada 10 hari terakhir" (HR. Bukhari  2027)

Sepuluh hari terakhir, berarti dimulai dari malam ke-21 dari bulan Ramadhan, yaitu saat tenggelam matahari pada hari ke-21.

Shalat Malam (Tarawih) bersama Imam sampai selesai. Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shalallahu Alayhi Wasallam pernah mengumpulkan keluarga dan para sahabatnya. Lantas beliau pun bersabda :

"Barangsiapa yang Shalat (malam) bersama imam "sampai selesai", maka akan ditulis untuknya itu Pahala SHALAT Semalaman PENUH" (HR. An-Nasaa'i 1605, ibnu Maajah no.1327, at-Tirmidzi 806,  Al- Irwaa’ al-Ghaliil  447)

Memperbanyak Shalat sunnah, Khususnya pada Shalat Malam. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda :

"Barangsiapa yang "melaksanakan" shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka 'dosa-dosanya' yang telah lalu pun akan diampuni" (HR. Bukhari 1901)

Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah menganjurkan umatnya untuk mencari malam lailatul qadar di 'malam malam ganjil' 10 hari Terakhir Bulan Ramadhan. (HR. Bukhari no.2017 dan Muslim no.1169)

Imam al-'Utsaimin rahimahullah berkata : "Waktunya Lailatul qadar itu dimulai dari tenggelamnya matahari hingga terbitnya fajar (shubuh)" (Syarah al-Bulugh 7/548)

Shalat Isya' dan Shubuh Berjamaah. ‘Utsman bin ‘Affan RA berkata, Rasulullah Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda : "Barangsiapa yang melaksanakan shalat Isya Berjamaah, maka 'Se-akan akan' ia telah melaksanakan Shalat Separuh Malam, dan barangsiapa yang sudah "melaksanakan" Shalat Shubuh dengan berjamaah, maka Se-akan akan ia sudah melaksanakan Shalat semalaman penuh" (HR.Muslim no. 656)

Membaca 100 Ayat Al-Qur'an Pada waktu malam hari. Dari Tamim ad-Daari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda :

"Barangsiapa yang membaca "100 AYAT" pada suatu malam, maka akan dituliskan baginya pahala Shalat Sepanjang Malam (Semalaman Suntuk)" (HR. Ahmad, Lihat Shahiihul Jaami' ash-Shaghiir  6468)

Melaksanakan Shalat 4 Raka'at Qabliyah (sebelum) Shalat Zhuhur. Abi Shalih rahimahullah telah berkata, Rasulullah Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda :

"4 raka'at sebelum zhuhur itu menyamai shalat menjelang shubuh" (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam "Al-Mushannaf" no.5940, Lihat Silsilah Ash-Shahiihah 1431)

Dengan Memiliki Akhlak yang baik. Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata, Rasulullah Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda :

"Sesungguhnya seorang mukmin dengan akhlak yang baik akan mencapai 'Derajat' orang yang "Senantiasa" shalat di malam hari, dan puasa pada siang hari". (HR. Abu Dawud no. 4798, & Ibnu Hibbaan no. 480, Maalik no. 1675)

InsyaAllah kita dimampukan Allah Azza Wa Jallah meraih bekal di 10 hari akhir bulan Ramadhan ini, Aamiin.

fimdalimunthe55@ gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy.  Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH RAMADHAN, oleh Ferry Is Mirza (fim), refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Selasa 16 Ramadhan 1445 H,  26 Maret 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu 

Lebih Utama Menghafal Al-Qur’an Atau Membacanya

Apakah menghafal Al-Qur’an lebih utama daripada (sekedar) membacanya pada bulan Ramadhan ?

Segala puji bagi Allah, membaca Al-Qur’an dalam bulan Ramadhan termasuk salah satu amal yang paling mulia dan paling utama, dan Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an, Allah Ta’ala berfirman,

“Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)” (QS. Al-Baqarah: 185)

“Jibril menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap malam pada bulan Ramadhan, lalu malaikat Jibril saling menyetorkan bacaan Al-Qur’an bersama dengan beliau” (HR. Al-Bukhari (5) dan Muslim (4268)

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (4614), dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa malaikat Jibril 

“Dahulu menyetorkan bacaan Alquran kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam setiap tahun sekali, lalu  pada tahun wafatnya beliau, malaikat Jibril menyetorkan bacaannya dua kali.”

Maka diambil kesimpulan dari Hadits ini yaitu disunnahkannya membaca Alquranul Karim dan saling setor bacaannya di bulan Ramadhan.

Disimpulkan pula darinya (bahwa) disunnahkan mengkhatamkan Al-Qur’an karena malaikat Jibril ‘alaihis salam dahulu menyetorkan bacaan Al-Qur’an kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam secara lengkap (Fatwa Syaikh Bin Baz 11/331)

Setiap aktifitas menghafal dan mengulang hafalan tentulah lebih dari sekedar membaca, karena tidaklah seseorang menghafal atau mengulang hafalan melainkan setelah mengulang bacaan Ayat beberapa kali. Dan ia mendapatkan sepuluh kebaikan pada setiap hurufnya.” Atas dasar inilah perhatian seseorang kepada menghafal dan mengulang hafalannya itu lebih utama.

Jika demikian, As-Sunnah telah menunjukkan kepada: Mengulangi hafalan. Saling setor (bacaan).

Membaca, dan aktifitas membaca ini pasti ada (dalam menghafal dan saling setor), sebagaimana penjelasan di atas.

Selayaknyalah dalam keadaan yang seperti ini seseorang mengkhatamkan Al-Qur’an, walaupun sekali dalam sebulan, kemudian melakukan sesuatu yang paling sesuai dengan keadaannya setelah itu, (yaitu) :

Ia bisa memperbanyak membaca dan mengkhatamkan Al-Qur’an atau perhatian pada mengulang hafalan atau menambah hafalan yang baru.

Dia (tertuntut) memilih aktifitas yang paling bermanfaat bagi hatinya, bisa jadi yang paling bermanfaat adalah menghafal atau membaca ataupun mengulang hafalan, karena sesungguhnya maksud dari (diturunkannya) Alquran adalah untuk dibaca, dihayati,agar terpengaruh dengannya dan diamalkan kandungannya. 

Maka hendaknya setiap orang yang beriman mengikat hatinya, dan melihat aktifitas apa yang paling bermanfaat, kemudian melakukannya.” Wallahu a’lam. 

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH RAMADHAN, oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi nutrisi hati ba'da subuh, Ahad 14 Ramadhan 1445 H, 24 Maret 2024

Assallammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu

Keutamaan Berakhlak Mulia

"Bergaulah dengan orang lain dengan adab yang baik dan akhlak mulia. Karena ilmu yang tidak diikuti dengan akhlak mulia bisa menjadi rendah dan berbahaya untuk pemiliknya dan bagi orang lain yang berada di sekitarnya."

1. Duduklah bersama Ulama dengan akalmu.

2. Duduklah bersama pemimpin dengan ilmumu.

3. Duduklah bersama teman dengan adab / etika yang baik.

4. Duduklah bersama keluarga dengan kelembutan hati dan ucapan.

5. Duduklah bersama orang bodoh dengan kemurahan hati.

6. Jadilah " teman " Allah dengan selalu mengingatNya.

7. Dan jadilah teman bagi diri sendiri dengan menasihati diri kita sendiri.

8. Tidak perlu bersedih jika di dunia tidak ada yang menghargai kebaikan kita, karena di langit ada yang mengapresiasi kebaikan kita.

9. Kehidupan kita ibarat mawar, disamping memiliki keindahan yang membuat kita bahagia, juga memiliki duri yang bikin kita tersakiti.

10. Apa yang ditetapkan bagi kita niscaya akan mendatangi kita, meskipun kita tak punya daya.

11. Sebaliknya apa yang bukan milik kita, kita tidak akan mampu meraihnya meski mengerahkan dengan segala kekuatan.

12. Tidak seorangpun yang memiliki sifat sempurna selain Allah, oleh karena itu berhentilah dari menggali kekurangan dan aib orang lain.

13. Kesadaran itu pada akal, bukan pada usia, umur hanyalah bilangan hari, sedangkan akal adalah hasil pemahaman dan kerelaan terhadap kehidupan.

14. Berlemah lembutlah ketika bicara dengan orang lain, karena setiap orang merasakan derita hidupnya masing-masing, sedangkan kita tidak mengetahuinya.

15. Semua hal akan berkurang jika dibagi menjadi 2 bagian, kecuali " KEBAHAGIAAN "  justru kebahagiaan akan bertambah jika kita bagi kepada orang lain.

InsyaAllah kita dan seluruh keluarga kita selalu bertaqwa kepada Allah, selalu berakhlak baik serta mulia, memiliki derajat mulia di sisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Aamiin....

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Sabtu 13 Ramadhan 1445 H, 23 Maret 24

Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH RAMADHAN edisi Khusus Refleksi Diri Sendiri 69 Tahun, oleh Ferry Is Mirza (fim)

Keangkuhan merendahkan orang... Tetapi orang yang rendah hati menerima pujian.

Ketika seseorang memamerkan keangkuhan dan merendahkan orang lain untuk meningkatkan rasa superioritasnya, itu sebenarnya hanya menunjukkan ketidakamanan dan kelemahan dalam dirinya sendiri.

Sebaliknya, orang yang rendah hati menerima pujian dengan lapang dada tanpa perlu menghina atau merendahkan orang lain.

Ketika seseorang memiliki sikap rendah hati, ia menunjukkan kedewasaan emosional dan kebijaksanaan dalam bersikap. Ia mampu mengakui kebaikan dalam dirinya tanpa perlu merasa lebih baik dari orang lain. Sebagai hasilnya, orang-orang di sekitarnya akan merasa nyaman dan dihormati karena sikap rendah hati mereka.

Jadi, lebih baik menjadi orang yang rendah hati dan menerima pujian dengan tulus daripada memamerkan keangkuhan dan merendahkan orang lain.

Karena keangkuhan hanya akan membuat orang terlihat bodoh dan tidak pantas mendapat penghargaan yang sebenarnya layak mereka terima.

InsyaAllah kita semua diberi barakahNYA menunaikan Puasa Ramadhan hingga hari ini sampai bertemu 1 Syawal nanti, aamiin yaa rabb.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH RAMADHAN, oleh Ferry Is Mirza (fim), refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Rabu 10 Ramadhan 1445 H, 20 Maret 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu 

Tingkatan Orang Berpuasa dan Pahalanya Langsung dari Allah

Amalan puasa adalah amalan yang luar biasa dan memiliki pahala yang Allah membalasnya secara langsung. 

Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam bersabda, “Semua amal Bani Adam akan dilipatgandakan kebaikan sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Kecuali puasa, maka ia untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan pahalanya.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat yang lain, Allah sendiri yang akan membalasnya karena seorang hamba meninggalkan semuanya itu karena Allah.

“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: Puasa itu untuk-Ku, dan Aku-lah yang akan membalasnya, sebab ia telah meninggalkan makannya, minumnya dan syahwatnya karena Aku.” (HR. Ahmad)

Bahkan pahala yang hamba dapatkan karena berpuasa karena Allah bisa jadi berupa pahala yang tidak terhingga di mana hanya Allah saja yang tahu kadarnya. Ibadah puasa sangat identik dengan kesabaran yaitu menahan diri dari berbagai pembatal dan yang bisa mengurangi pahala puasa. 

Hal ini termasuk dalam firman Allah, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10)

Mengingat besarnya pahala puasa, hendaknya kita bersungguh-sungguh menjalani puasa sampai tingkatan yang paling baik. Ibnu Qudamah menjelaskan tingkatan orang yang berpuasa:

1. Tingkatan orang awam yang hanya sebatas menahan perut dan kemaluan saja

2. Tingkatan puasa khusus yaitu juga menahan pandangan lisan, penglihatan dan semua anggota badan dari perbuatan dosa

3. Tingkatan puasa yang lebih khusus menahan diri dari keinginan-keinginan yang jelek yang dapat menjauhkan dari Allah

Beliau berkata, “Puasa orang awam yaitu sebatas menahan perut dan kemaluan dari keinginan syahwatnya. Sedangkan puasa orang khusus menahan pandangan, lisan, tangan, kaki, pendengaran, penglihatan dan seluruh anggota badan dari segala perbuatan dosa. Sedangkan puasa orang yang lebih khusus yaitu puasanya hati dari keinginan-keinginan yang hina, serta pikiran-pikiran yang dapat menjauhkan dirinya dari Allah serta menahannya secara total dari segala sesuatu selain Allah Ta’ala.” (Mukhtashar Minhajul Qashidin hal. 45)

Semoga kita bisa mewujudkan tujuan dari puasa dan bulan Ramadhan yaitu bertakwa kepada Allah.

Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah :183)

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH RAMADHAN oleh Ferry Is Mirza (fim), refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Selasa 9 Ramadhan 1445, 19 Maret 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu 

Lima Kesalahan Sering Dilakukan saat Puasa Ramadhan

RAMADHAN adalah bulan umat Islam yang paling mulia. Ia adalah bulan diturunkannya sebuah kitab pedoman hidup seluruh manusia. Bulan ditutupnya pintu-pintu neraka. Bulan dibelenggunya setan-setan yang membisiki keburukan kepada manusia. Bulan yang terdapat suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Dan bulan kesempatan bagi kita semua untuk memperbaiki diri, bertobat, bermuhasabah, dan kembali menyegarkan keimanan kita untuk menyadari bahwasanya kita sedang berada dalam sebuah perjalanan, perjalanan menuju kampung akhirat, tempat kita semua kembali.

Tidak diragukan lagi, orang yang berpuasa di bulan Ramadhan dijanjikan berbagai keutamaan, seperti dijauhkan dari api neraka [1], dimudahkan jalan menuju surga [2], puasanya menjadi syafaat penolong dirinya di hari kiamat [3], dan penghapus dosa yang telah dilakukan [4].

Namun, untuk meraih berbagai keutamaan tersebut, kita perlu menghindari beberapa kesalahan yang dilakukan sebagian orang. Yang dapat membuat kita tidak mendapatkan bermacam keutamaan tersebut dan dapat membuat bulan Ramadhan gagal menjadi madrasah pendidikan bagi diri kita. Sehingga, kita tidak mendapatkan manfaat dari atmosfer ibadah pada bulan Ramadhan.

Kesalahan pertama: Masih melakukan hal-hal haram

Sebagian orang berpuasa dari makan, minum, dan berhubungan biologis, tetapi tidak berpuasa dari hal-hal yang haram. Seperti gibah, mengadu domba, berucap kata-kata kotor, berbohong, mencela dan merendahkan orang, menipu, iri hati kepada nikmat orang lain, dan ucapan serta perbuatan haram lainnya.

Jika kita masih melakukan hal-hal haram tersebut, walaupun kita menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, kita akan kehilangan hikmah serta konsep puasa itu sendiri. Sebab, puasa merupakan pendidikan bagi pelakunya. Maka, tidak masuk akal jika Allah menyuruh kita menahan diri dari hal yang mubah, seperti makan dan minum, tetapi malah kita terjang hal-hal yang haram.

Bahkan, beberapa ulama berpendapat melakukan hal-hal haram bisa membatalkan puasa. Di antaranya Ibnu Hazm [5] rahimahullah, yang berdalil menggunakan hadits riwayat Ahmad no. 22545 tentang dua orang perempuan yang Nabi Shalallahu Alayhi Wasallam katakan puasanya batal sebab melakukan hal haram. Tetapi, yang tepat adalah hadits tersebut hukumnya lemah, menurut pendapat Syaikh Al-Albani [6], sehingga tidak bisa dijadikan dalil. Sehingga, yang benar adalah melakukan hal-hal yang haram tidak membatalkan puasa, namun dapat menghilangkan pahala puasa.

Intinya, meskipun tidak membatalkan puasa, melakukan hal-hal haram saat berpuasa menghilangkan pahala puasa pelakunya. Sehingga, yang ia dapatkan hanya lapar dan haus. Sebagaimana sabda Nabi Shalallahu Alayhi Wasallam : “Siapa yang berpuasa, namun tidak meninggalkan dan masih mengucapkan kebohongan dan tuduhan yang tidak benar, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minum.” [7]

Kesalahan ke dua: Berakhlak buruk

Sebagian orang yang berpuasa menjadi temperamen, cepat emosi, dan mudah tersinggung. Menjadi galak terhadap keluarganya, sering mengumpat kepada orang lain, serta perilakunya keras dan kasar. Maka, ini semua bertentangan dengan hikmah dilaksanakannya puasa. Sebagaimana yang Nabi Shalallahu Alayhi Wasallam sabdakan,

“Puasa adalah perisai. Maka, pada hari salah seorang kalian berpuasa, janganlah ia bicara kotor dan jangan teriak-teriak (memancing keributan). Jika seseorang mencela atau memusuhinya, hendaknya ia mengatakan, ‘Aku sedang puasa.’” [8]

Kesalahan ke tiga: Bermalas-malasan di siang hari Ramadan

Sebagian orang menjadikan bulan Ramadhan sebagai kesempatan untuk bermalas-malasan dengan alasan lemas dan kurang energi. Padahal, orang-orang yang pertama masuk Islam tidaklah demikian. Bahkan, mayoritas peperangan yang terjadi di awal-awal dakwah Islam terjadi di bulan Ramadhan, seperti perang Badr (2 H), Fathu Makkah (8 H), perang Al-Qadisiyyah (15 H), dan lainnya.

Sebagian orang juga menjadikan Ramadhan sebagai kesempatan untuk tidur sepanjang hari, dengan berdalil menggunakan hadits, “Tidurnya orang yang puasa adalah ibadah.” [9] Padahal, hadits ini adalah hadits lemah [10], tidak bisa digunakan sebagai dalil. Maka, orang yang puasa seharusnya memanfaatkan Ramadhan sebagai penambah amal saleh yang dilakukan dengan semangat.

Kesalahan ke empat: Banyak makan dan minum

Betapa banyak dari kita yang sibuk mencoba jenis-jenis makanan yang tidak muncul, kecuali pada bulan Ramadhan. Sore hari yang harusnya digunakan untuk membaca Al-Qur’an, berzikir, mengingat Allah, malah digunakan sebagai waktu berburu makanan. Kemudian, pada waktu buka puasa, dia makan sekenyang- kenyangnya, sehingga salat Maghrib, Isya, dan Tarawih menjadi terasa berat. Maka, tentunya sibuk berburu kuliner dan banyak makan menafikan hikmah berpuasa.

Kesalahan ke lima: Kendur di akhir Ramadhan

Banyak di antara kita yang menghidupkan awal hari bulan Ramadhan, tetapi mulai kendur semangatnya di hari- hari terakhir. Bisa kita lihat, masjid pasti penuh ketika hari pertama Ramadhan, kemudian berkurang pada hari kedua, dan seterusnya hingga 10 hari terakhir Ramadhan yang harusnya momen paling krusial, malah paling sepi. Padahal, salah satu sebab mengapa kita harus semangat beribadah di bulan Ramadhan adalah karena ada malam lailatul qadar. Sedangkan malam itu ada di sepuluh malam terakhir, tetapi sepuluh malam terakhir malah momen paling sepi saat Ramadhan. Maka, ini merupakan cerminan ketidakpahaman kita terhadap keutamaan bulan Ramadhan. Kebanyakan kita hanya ikut arus. Jika orang-orang sibuk siap-siap lebaran, kita ikut. Jika orang-orang sibuk pulang kampung, kita juga ikut repot pulang kampung. Bukan berarti maksudnya kita tidak boleh memeriahkan Idulfitri dan silaturahim kepada sanak keluarga di kampung. Maka, sepatutnya kita tetap semangat hingga akhir bulan Ramadhan, bahkan harus semakin meningkat. Sehingga, ketika kita keluar bulan Ramadhan, kita senantiasa istikamah melaksanakan kebiasaan baik yang telah terbentuk di bulan Ramadhan.

fimdalimunthe55@gmail.com

disarikan dari Kitab Durūs Ramadān Waqafāt li-Shā’imīn, hal. 30-32 dengan beberapa tambahan.

Catatan kaki:

[1] HR. Bukhari no. 2685 dan Muslim no. 1153.

[2] HR. Bukhari no. 1797.

[3] HR. Ahmad no. 6626 dan Al-Hakim no. 2036, hasan.

[4] HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 60.

[5] Al-Muhalla bil Atsar, hal. 306, cet. Dar Al-Fikr, Beirut.

[6] Al-Silsilah Al-Dha’ifah, no. 519.

[7] HR. Bukhari no. 1903.

[8] HR. Bukhari no. 1894.

[9] HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 3: 1437.

[10] Al-Silsilah Al-Dha’ifah, no. 4696.

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy.  Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH RAMADHAN, oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Senin 8 Ramadhan 1445 H, 18 Maret 2023

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu 

Perbanyaklah Sedekah di Bulan RAMADHAN

Karena bulan Ramadhan adalah bulan yang paling mulia, dan semakin mulia waktunya, maka amal kebaikan yang dilakukan di dalamnya akan semakin besar pahalanya.

Karena Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam telah memberikan contoh agar kita paling dermawan di bulan ini. 8Ibnu Abbas -rodhiallahu ‘anhumaa- mengatakan:

“Dahulu Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam- adalah orang yang paling dermawan, dan beliau paling dermawan ketika Bulan Ramadhan.. sungguh Rasulallah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam- ketika itu lebih dermawan dengan hartanya melebihi angin yang berhembus kencang.” [HR. Bukhari: 6, dan Muslim: 2308]

Karena puasa mengajarkan kita untuk peduli kepada saudara kita sesama muslim, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

“Barangsiapa memberi makanan berbuka kepada orang yang puasa, maka baginya pahala orang yang puasa tersebut, tanpa mengurangi pahala dia sedikit pun..” [HR. Attirmidzi: 807, dishohihkah Al-Albani].

Semangatlah  bersedekah Anda di bulan ini dengan mengingat bahwa nanti di hari kiamat, setiap orang akan berada di bawah naungan sedekahnya. [HR. Ahmad: 17333, shohih] .. siapa yang banyak bersedekah, maka naungan yang dia miliki pun semakin besar.

Ingatlah, bahwa pada hari itu, banyak manusia yang tenggelam dengan keringatnya sendiri, sesuai banyaknya dosa yang ia perbuat.. saat itu matahari dijadikan sangat dekat dengan manusia, sehingga keberadaan naungan sedekah ini sangat penting sekali bagi kita.

Kita juga hendaknya ingat, bahwa diantara tujuh golongan yang mendapatkan naungan istimewa dari Allah adalah: “Orang yang melakukan sedekah, lalu dia menyembunyikannya, sampai-sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya..” [HR. Bukhari: 1423, dan Muslim: 1031]

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH RAMADHAN, oleh Ferry Is Mirza (fim), refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Ahad 7 Ramadhan 1445 H, 17 Maret 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu

PUASA PERINTAH ALLAH WA TA'ALA

Pasukan ketika diperintah oleh komandannya akan bersikap, ‘siaaap’. Apalagi kita sebagai hamba Allah diperintah oleh Sang Khaliq Allah Subhanahu Wa Ta’ala. 

Saat perintah puasa Ramadhan pertama kali tahun 2 hijriah, Rasulullah Shalallahu Alayhi Wasallam dan para sahabat sedang dalam perang Badar, tapi mereka tetap menjalankan perintah puasa, dan Allah berikan kemenangan kepada mereka. Kita harus siap menjalankankan perintah Allah.

“Wahai orang-orang yang beriman ! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah : 183)

Memang nilai puasa Ramadhan bagi kaum muslimin suatu kemuliaan yang luar biasa, karena di situ Allah mendidik orang beriman untuk meningkatkan amal shalih dengan tunduk kepada Allah dan mengalahkan hawa nafsu kita yang tidak jarang menjadi belenggu terbesar. Tapi, balasan Allah itu tanpa batas, sesuai hadits Shahihain, dari Abu Hurairah, Rasulullah Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untukKu. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan makanan, minuman dan syahwatnya karenaKu. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan; yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Bukhari  Muslim)

Belum lagi nilai tambah yang lain; interaksi dengan Al-Qur'an, sedekah, qiyamullail, menuntut ilmu agama, i'tikaf, dakwah, dll.

Bahkan Ibnu Rajab dalam kitab "Bughyatul Insaan fie Wadhaif Ramadhan" mengatakan bahwa Ramadhan itu memiliki 3 keutamaan:

Pertama, dari sisi keutamaan tempat seperti keutamaan Masjidil Haram, Mekkah. Shalat di sana sekali seperti 100.000 kali dibanding di tempat kita. Makanya, kalau Ramadhan ummat berbondong-bondong ke Mekkah. 

Kedua, keutamaan waktu. Ramadhan adalah waktu mulia, itu luar biasa. Bahkan Nabi Shalallahu Alayhi Wasallam mengatakan bahwa:

“Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan- setan dibelenggu.” (HR. Bukhari  Muslim). Apalagi sepuluh terakhir Ramadhan, nilainya semakin meningkat.

Ketiga, keutamaan amal. Banyak amal- amal yang ditetapkan oleh Rasulullah Shalallahu Alayhi Wasallam memiliki keutamaan. Contoh: Membaca surah Al-Ikhlas tiga kali seperti pahala orang yang khatam Alqur'an. Sementara untuk mengkhatamkan Al-Qur'an itu butuh waktu lama. Paling cepat, 3 hari yang utama. Luar biasa.

Nah, Ramadhan ini kesempatan yang harus kita maksimalkan untuk mengamalkan amal amal yang bernilai lebih itu. Jadi peluang Ramadhan mengandung tiga kelebihan tadi. Makanya pantas kalau Malaikat Jibril menyampaikan kepada Nabi Muhammad Shalallahu Alayhi Wasallam bahwa;

“Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni.” (HR. Ahmad. shahih)

Tinggal bagaimana ummat Islam merespon kesempatan Ramadhan yang luar biasa nilainya itu. Paling tidak ada 4 model :

Pertama, orang muslim yang acuh. Artinya tidak mengindahkan puasa itu, baik tersembunyi maupun terang-terangan tidak berpuasa. Betapa ruginya orang jenis ini, kecuali dia bertaubat.

Kedua, orang muslim yang berpuasa tapi perbuatan dosanya tetap jalan. Sah puasanya, tapi hilang pahalanya. Begitu kata Nabi Shalallahu Alayhi Wasallam

Ketiga, muslim yang berpuasa dan sibuk menangkal dosa, tapi kurang maksimal amalnya.

Keempat, muslim yang puasa sudah mampu menghindari dosa dan sibuk qalbu, lisan dan anggota tubuhnya untuk senantiasa taat kepada Allah. Ini model paling sukses.

Semoga kita bisa mencapai yang terakhir ini. Kesempatan emas, jangan sampai kita sia-siakan, nanti menyesal. Allahumma Aamiin.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH RAMANDHAN* oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Sabtu 6 Ramadhan 1445 H, 16 Maret 2024

Assalammu'alaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu 

Keutamaan Menyegerakan Berbuka Puasa

Dari Sahal Ibnu Sa’ad radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Manusia akan tetap dalam kebaikan selama mereka mensegerakan berbuka” (HR. Bukhari 1957 dan Muslim 1098)

Pelajaran yang terdapat di dalam hadist:

Salah satu sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika berpuasa adalah bersegera dalam berbuka dan tidak menunda-nunda ketika waktu berbuka telah tiba. Disunnahkan bersegera berbuka. Para ulama telah sepakat atas hal tersebut.

Jika telah jelas terbenamnya matahari dengan pengelihatan mata, atau berita orang yang terpercaya, atau persangkaan kuatnya bahwa matahari telah terbenam dan saat kumandang adzan maghrib maka bersegera berbuka. 

Mensegerakan berbuka adalah tanda kebaikan, selama orang bersegera berbuka, maka kebaikan akan sentiasa bersamanya, namaun jika ia mengakhirkannya kebaikan itu akan hilang pula.

Kebaikan yang yang diisyaratkan dalam hadits tersebut adalah kebaikan karena mengikuti sunnah. 

Tidak diragukan bahwa mengikuti sunnah adalah sebab kebaikan dunia dan akhirat. Tema hadist yang berkaitan dengan Al qur'an :

Berikut adalah salah satu ayat Al-quran yang menjelaskan puasa hingga waktu berbuka puasa.

Ada beberapa hal yang dilarang saat menjalankan ibadah puasa, kemudian juga menjelaskan kapan mulai berpuasa dan kapan harus menghakhirinya.

"Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat- ayatNya kepada manusia, supaya mereka bertakwa." (QS. Al Baqarah : 187)

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH RAMADHAN oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Jumat 05 Ramadhan 1445 H, 15 Maret 2024

Assalammu'alaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu 

Puasa Ramadhan yang Satu dengan Puasa Ramadhan Berikutnya Penghapus Dosa

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu  berkata bahwa, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  bersabda, bahwa “Shalat lima waktu. Ibadah Jum’at yang satu dengan ibadah Jum’at berikutnya. Puasa Ramadhan yang satu dengan puasa Ramadhan berikutnya. Itu semua merupakan penghapus dosa antara keduanya, selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim 233)

Pelajaran yang terdapat didalam hadits :

1- An-Nawawi mengatakan bahwa pendapat yang populer di kalangan para ulama ahli fikih menyatakan bahwa dosa-dosa yang terampuni dengan melakukan puasa Ramadhan itu adalah dosa-dosa kecil bukan dosa-dosa besar (lihat Al-Minhaj, 4/76).

2- Dari hadits ini diambil kesimpulan bahwa yang dimaksudkan adalah khusus dosa-dosa kecil saja, sebab Nabi menyerupakan dosa itu dengan kotoran yang menempel di tubuh. Sedangkan kotoran yang menempel di tubuh jelas lebih kecil ukurannya dibandingkan dengan bekas luka ataupun kotoran-kotoran manusia.

Tema hadist yang berkaitan dengan Al qur'an :

1- Hadits-hadits yang menyebutkan tentang penghapusan dosa karena amal kebaikan di atas sesuai dengan kandungan firman Allah ta’ala, “Sesungguhnya amal-amal kebaikan itu akan menghapuskan dosa-dosa.” (Qs. Huud [11]: 114)

2- Sebagaimana Allah juga menjadikan tindakan menjauhi dosa-dosa besar sebagai sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil. Allah berfirman, “Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar yang dilarang kepada kalian niscaya Kami akan menghapuskan dosa-dosa kecil kalian dan Kami akan memasukkan kalian ke dalam tempat yang mulia (surga).” (Qs. An-Nisaa’ [4]: 31)

fimdalimunthe55@gmail.com 

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim, EPCDH RAMADHAN oleh Ferry Is Mirza (fim) refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Kamis 4 Ramadhan 1445 H, 14 Maret 2024

Assalammu'alaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu

BERPUASA TIDAK SHALAT, APA HUKUMNYA

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin –rahimahullah– pernah ditanya : Apa hukum orang yang berpuasa namun meninggalkan shalat..?? Beliau rahimahullah menjawab, “Puasa yang dilakukan oleh orang yang meninggalkan shalat tidaklah diterima karena orang yang meninggalkan shalat adalah kafir dan murtad. 

Dalil bahwa meninggalkan shalat termasuk bentuk kekafiran adalah firman Allah Ta’ala, "Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara- saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat- ayat itu bagi kaum yang mengetahui.” (QS. At Taubah 11)

Alasan lain adalah sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Pembatas antara seorang muslim dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim 82). Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga bersabda, "Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah mengenai shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad, At Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah. Dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani)

Pendapat yang mengatakan bahwa meninggalkan shalat merupakan suatu kekafiran adalah pendapat mayoritas sahabat Nabi bahkan dapat dikatakan pendapat tersebut adalah ijma’  (kesepakatan) para sahabat. 

Abdullah bin Syaqiq rahimahullah (seorang tabi’in yang sudah masyhur) mengatakan, “Para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidaklah pernah menganggap suatu amalan yang apabila seseorang 

meninggalkannya akan menyebabkan dia kafir selain perkara shalat.” (Perkataan ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari ‘Abdullah bin Syaqiq Al ‘Aqliy ,seorang tabi’in. Hakim mengatakan bahwa hadits ini bersambung dengan menyebut Abu Hurairah di dalamnya. Dan sanad hadits ini adalah shohih. Lihat Ats Tsamar Al Mustathob fi Fiqhis Sunnah wal Kitab, hal 52)

fimdalimunthe55@gmail.com 

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH RAMADHAN, oleh Ferry Is Mirza (fim), refrensi tafsir Alquran  dan WHO, Rabu 03 Ramadhan 1445 H, 13 Maret 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu

Manfaat PUASA yang Luarbiasa

PERGESERAN pola makan dari tiga kali sehari --yang lebih sering tak beraturan--  menjadi ketika menjelang Subuh dan selepas Maghrib ternyata membuat tubuh kita jauh lebih sehat.

ORGANISASI Kesehatan Dunia  (WHO) bahkan pernah menegaskan bahwa puasa terbukti menyehatkan dari berbagai sisi, yakni fisik, psikis, sosial, hingga spiritual. Dari kesehatan fisik, ternyata puasa menimbulkan manfaat yang Luarbiasa menakjubkan.

KETIKA puasa, tidak ada asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh sehingga sumber energi dalam tubuh akan dibakar habis. Energi diperoleh dari glukosa hasil makan (sahur). Setelah cadangan glukosa habis, energi diperoleh dari glikogen dalam darah. 

SETELAH kandungan glikogen dalam darah berkurang, otak akan menginformasikan bahwa tubuh sedang lapar sehingga kita harus segera makan. Otak yang mengidentifikasi jika kita sedang puasa alias tidak boleh makan akan merespons dengan menghidupkan program autolisis.

AUTOLISIS merupakan suatu sistem automatisasi dalam tubuh yang berfungsi memformat ulang tubuh menuju kondisi yang ideal.  Saat diaktifkan, autolisis akan mencari database mengenai rancangan dasar manusia. 

SECARA keseluruhan, ada sekitar 50 triliun sel penyusun tubuh yang terdiri atas sekitar 200 jenis sel. Berbekal data detail setiap sel tubuh, autolisis akan mengerti bagaimana seharusnya kondisi sehat dari setiap jenis sel, di bagian tubuh mana seharusnya sel itu berada dan berapa banyak jumlah tiap jenis sel yang ideal bagi tubuh. 

AUTOLISIS ini akan menghampiri sel-sel liar yang tidak ada dalam database rancangan dasar manusia. Autolisis akan menghilangkan sel-sel rusak, sel-sel mati, benjolan tumor, serta timbunan lemak yang sering menjadi sarang zat beracun.

DEMIKIAN kuasa Allah yang mengatur mekanisme dalam tubuh kita untuk menguatkan imunitas. Sungguh besar kasih sayang Allah kepada kita hambaNya,  “Dan, di bumi terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka, apakah kamu tidak memperhatikan?" (QS. adz-Dzariyat: 20-21)

PESAN ayat di atas mengisyaratkan  bahwa pada diri manusia terdapat bukti-bukti kekuasaan dan kebesaran Allah, seperti perbedaan kemampuan, perbedaan bahasa, kecerdasan dan banyak macamnya anggota tubuh yang masing-masing mempunyai fungsi sendiri-sendiri. Lewat puasa, tanda-tanda kebesaran Allah itu semakin terkuak. 

Bila sudah menikmati SAHUR saatnya bersiap SUBUHAN. InsyaAllah,  Allah ridha menganugerahkan  kepada kita semua:  kesehatan. keselamatan, rahmat (kasih sayangNya),  berkah (bertambahnya kebaikan), ampunan atas dosa-dosa kita,  umur panjang, rezeki halal, serta kemudahan  mengarungi kehidupan.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. EPCDH RAMADHAN, oleh Ferry Is Mirza (fim), refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Selasa 2  Ramadhan 1445 H, 12 Maret 2024.

Assallammu'alaykum Warrahmatallahi Wabarakatuhu

Waktu Sahur Perbanyak Berdoa dan Istighfar, Bukan Nonton TV

Sebagian kaum muslimin menghabiskan waktu ketika makan sahur dan menunggu shalat subuh dengan ngobrol perkara yang kurang bermanfaat. Sebagian lagi sibuk dengan menonton acara televisi yang notebene umumnya tidak bermanfaat, acara televisi ketika sahur tersebut mayoritasnya berisi lelucon, humor dan tertawa-tertawa saja. 

Hendaknya kita sadar dan menyadarkan kaum muslimin bahwa waktu sahur adalah waktu yang sangat agung dan mengandung keberkahan yang banyak. Sangat sia- sia apabila waktu sahur diisi dengan ngobrol yang tidak bermanfaat dan hanya tertawa- tertawa saja. Sebaliknya, waktu sahur itu hendaknya diisi dengan istighfar, muhasabah diri agar lebih baik dengan penuh ketundukan kepada Allah, serta diisi dengan berdoa meminta kepada Allah dengan penuh kehinaan kepada Allah, karena di waktu sahur doa tersebut mustajab.

Waktu sahur ada keberkahan

Secara umum waktu sahur yang kita lalui ketika makan sahur adalah waktu yang mengandung keberkahan. Hendaknya kita tidak meremehkan yang namanya “berkah”, karena berkah artinya kebaikan yang banyak serta kemudahan hidup.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  bersabda, “Makan sahurlah kalian karena dalam makan sahur terdapat keberkahan .” (HR. Bukhari dan Muslim)

Waktu sahur hendaknya diisi dengan istighfar

Kebiasaan orang shalih adalah memanfaatkan waktu sahur untuk istighfar. Kita sangat banyak melakukan dosa, baik itu dosa yang kita sadari atau tidak kita sadari. Misalnya melihat rambut wanita di zaman ini, itu adalah dosa, akan tetapi kita bisa jadi menganggapnya biasa saja. Masih banyak dosa lainnya yang kita perlu istighfar agar Allah mengampuni kita.

Allah Ta’ala berfirman mengenai orang- orang shalih. “Dan orang-orang yang meminta ampun di waktu sahur.” (QS. Ali Imran: 17)

Al-Qurthubi membawakan perkataan Abu Ja’far, beliau berkata: “Mereka meminta kepada Rabb meraka agar ditutup aib dan kesalahan mereka.” (Tafsir Al-Qurthubi)

Waktu sahur diisi dengan doa

Waktu sahur adalah waktu mustajab untuk berdoa, hendaknya kita memperbanyak berdoa di waktu ini. Allah turun ke langit dunia di waktu sepertiga malam terakhir yaitu waktu sahur. Saat itu doa akan dikabulkan oleh Allah dan permintaan dipenuhi. Rasulullahu Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

“Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Allah berfirman, “Siapa saja yang berdoa kepadaKu, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepadaKu, maka Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepadaKu, maka akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa berdoa di waktu itu mustajab, beliau berkata:

“Berdoa di waktu sahur tersebut mustajab.” (Fathul Bari libni Hajar). Demikian insyaAllah bermanfaat

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy.

Bismillahirrahmanirrahim, Embun Pagi Cermin Diri Harian- EPCDH oleh Ferry Is Mirza (fim), refrensi DR Encep Saepudin, Senin 01 Ramadhan 1445H, 11 Maret 2024

Hitungan Bulan Hijriah Lain Tetap Sama, tapi, Ramadhan Kerap Beda bikin Heboh ? 

BUMI INI BERBENTUK BULAT BOLA. Ini kata DR Encep Saepudin Dosen FK Islam Unmuh Porwokerto.  Menurutnya, panjang kelilingnya 24.898 mil atau 40.070 kilometer. Bumi mengelilingi matahari selama 365 hari. Kecepatannya sekitar 67.000 mph atau sekitar 107,8 kilometer per jam. Bumi berputar dalam porosnya selama setiap 23 jam, 56 menit, dan 4 detik. Kecepatan putarannya sekitar 1.670 kilometer per jam. Ajaibnya tidak bikin pusing, ya !

Perputaran pada porosnya ini menyebabkan siang dan malam. Belahan bumi terpapar sinar matahari sehingga terang disebut siang. Belahan lainnya gelap sehingga bisa melihat bulan disebut malam. Bulan pernah dijadikan ikon kecantikan perempuan. Biasanya terlontar dari pria lagi kasmaran.

Setelah ilmu pengetahuan menggambarkan asli wajah bulan, wanita sudah gak mau lagi disamakan bulan. Karena bulan Bopeng ! Bulan adalah satelit bumi. Bulan mengelilingi bumi lamanya 27,55455 hari atau 27 hari 13 jam 18 menit 33 detik. 

Hilal

Revolusi bulan menciptakan empat fase bulan. Fase utamanya adalah fase bulan baru, fase setengah purnama awal (perempat pertama), fase purnama, dan fase setengah purnama akhir (perempat akhir). Pertama kali bulan sabit muda bisa dilihat disebut hilal. Kejadiannya setelah fase bulan baru. Dalam kalender Hijriah, hilal menjadi tanda akhir sekaligus awal bulan baru.  

Nama bulan di kalender Hijriah adalah Muharram, Safar, Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Syaban, Ramadhan, Syawal, Zulkaidah, dan Dzulhijah. Pergantian bulan dari Syaban menuju Ramadhan dan bulan Ramadhan menuju Syawal selalu heboh. Sedangkan pergantian antarbulan lainnya anteng-anteng saja.

Melihat pergantian bulan ini melahirkan dua kelompok, yaitu rukyat dan hisab. Metode rukyat menentukan awal bulan baru harus melihat hilal secara pasti. Metode hisab menentukan awal bulan baru dengan cara perhitungan matematis dan astronomis.

Bulan adalah satelit alam. Terdapat pula satelit buatan manusia. Diluncurkan dengan roket. United Nations Office for Outer Space Affairs (UNOOSA) melaporkan terdapat 11.330 satelit buatan yang mengorbit bumi pada akhir Juni 2023. Jumlah satelit milik Indonesia sebanyak 17 unit. Satelit buatan tidak perlu diintip. Sebaliknya, satelit alam harus selalu diintip. Caranya dengan melihat langsung (rukyat) atau cukup memakai ilmu berhitung (hitung).

Sampai kapan pun, kubu rukyat dan hisab tidak bakal bertemu. Maka, saling menghormati adalah solusinya. Atau, ada kesepakatan kedua kubu untuk memilih salah satunya. Agar gema malam takbiran dan sholat Idul Fitri berbarengan serta menikmati sajian ketupat dan rendang bisa dimakan bersama.

#Berbeda itu tak mengapa, tapi, lebih indah menjaga ukhuwah. Iya kan !

fimdalimunthe55@gmail.com, narsum mengutip dari tulisan dr encep saepudin, dosen fki unmuh pwk

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim

Berbeda Tetap Menjaga Ukhuwah

PUASA RAMADHAN dimulai pada fase awal penampakan cahaya bulan. Fase awal penampakan cahaya bulan itu disebut hilal.

Cara melihat hilal, pada masa lalu adalah dengan melihat langsung kemunculannya dengan mata telanjang, disebut rukyatul hilal.

Peredaran bulan itu berada pada garis edar tetap. Sehingga bisa dihitung. Maka kemudian muncul ilmu hisap atau ilmu perhitungan.

Di era moderen sekarang ilmu hisap ketepatannya sudah sangat tinggi. Dapat memperkirakan datangnya gerhana bulan atau gerhana matahari sekian puluh tahun yang akan datang. Tepat pada tangal, hari, menit dan detiknya.

Kembali dalam persoalan melihat hilal. Dengan ilmu hisap adalah untuk menentukan hilal muncul atau nampak pada tinggi berapa derajat pada hari, tanggal, jam, sampai pada detiknya.  

Jadi bukan karena penampakannya ditentukan dengan syarat pada berapa derajatnya. Indonesia membuat syarat hilal pada ketinggian 3 derajat. Padahal hilal bisa muncul atau nampak dibawah ketinggian kurang dari 3 derajat.

Sekali lagi, penampakan hilal adalah tanda telah bergantinya awal bulan. Bukan karena penampakan pada ketinggian derajatnya.

Karena itu, bagi yang menyakini 1 Ramadhan 1445 hari ini Senin 11 Maret dan Ahad 10 Maret sudah Tarawih, Alhamdulillah. 

Dan bagi saudaraku seiman yang menunaikan puasa Ramadhan mulai besok hari Selasa 12 Maret dan Senin malam nanti sholat Tarawih,  Alhamdulillah. 

InsyaAllah bulan suci Ramadhan ini meski berbeda hari, tetap  menjadikan ummat menjaga Ukhuwah.

Puasa tetap sehat wal afiat hingga meraih keutamaan Ramadhan. Dosa diampuni, pahala berlipat, meraih malam lailatul qodar, menjadi hambaNya yang bertaqwa serta kembali fitri. 

Dan insyaAllah Allah anugerahkan pemimpin terbaik negeri ini khususnya demi kemuliaan Islam, umat Islam, dan tanah air Islam. Aamiin yaa rabbal alaamiin....

fimdalimunthe55@gmail.com - 1ramadhan1445H

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian - EPCDH, oleh Ferry Is Mirza (fim), refrensi  tafsir Alquran dan alhadits, muslim.or.id, Sabtu 28 Sya'ban 1445 H, 09 Maret 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu

Puasa Perisai Seoramg Muslim

INSYAALLAH DUA HARI LAGI PUASA RAMADHAN IBADAH YANG ISTIMEWA karena memiliki banyak keutamaan. Di antara keistimewaannya yaitu : puasa merupakan perisai bagi seorang muslim. Dalam sebuah hadits, Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda, "Puasa adalah perisai." (HR. Bukhari  Muslim)

PUASA PERISAI DI DUNIA DAN AKHIRAT

Yang dimaksud puasa sebagai (perisai) adalah akan menjadi pelindung yang akan melindungi bagi pelakunya di dunia dan juga di akhirat.

Adapun di dunia maka akan menjadi pelindung yang akan menghalanginya untuk mengikuti godaan syahwat yang terlarang di saat puasa. Oleh karena itu tidak boleh bagi orang yang berpuasa untuk membalas orang yang menganiaya dirinya dengan balasan serupa, sehingga jika ada yang mencela ataupun menghina dirinya maka hendaklah dia mengatakan, Aku sedang berpuasa.

Adapun di akhirat maka puasa menjadi perisai dari api neraka, yang akan melindungi dan menghalangi dirinya dari api neraka pada hari kiamat (Lihat Syarh Arba’in An-Nawawiyyah, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah)

PUASA MERUPAKAN PERISAI DARI SIKSA NERAKA

Puasa akan menjadi perisai yang menghalangi dari siksa api neraka. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, "Tidaklah seorang hamba yang berpuasa di jalan Allah kecuali akan Allah jauhkan dia (karena puasanya) dari neraka sejauh tujuh puluh musim." (HR. Bukhari  Muslim)

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga bersabda, "Rabb kita azza wa jalla berfirman, Puasa adalah perisai, yang dengannya seorang hamba membentengi diri dari api neraka, dan puasa itu untukKu, Akulah yang akan membalasnya.” (HR. Ahmad, shahih).

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga bersabda, "Puasa adalah perisai yang dapat melindungi seorang hamba dari siksa neraka.” (HR. Ahmad, shahih)

PUASA SEBAGAI PERISAI DARI BERBUAT DOSA

Imam Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah menjelaskan, Puasa merupakan perisai selama tidak dirusak dengan perkataan jelek yang merusak. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

"Puasa adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa janganlah berkata keji dan berteriak-teriak, jika ada orang yang mencercanya atau memeranginya, maka ucapkanlah, Aku sedang berpuasa” (HR. Bukhari  Muslim)

Perisai adalah yang melindungi seorang hamba, sebagaimana perisai yang digunakan untuk melindungi dari pukulan ketika perang. Maka demikian pula puasa akan menjaga pelakunya dari berbagai kemaksiatan di dunia, sebagaimana Allah berfirman,

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Jika hamba mempunyai perisai yang melindunginya dari perbuatan maksiat maka dia akan memiliki perisai dari neraka di akhirat. Sedangkan bagi yang tidak memiliki perisai dari perbuatan maksiat di dunia maka dia tidak memiliki perisai dari api neraka di akhirat (Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam).

KEUTAMAAN INI MENCAKUP PUASA WAJIB DAN SUNNAH

Syaikh Shalih Fauzan hafidzahullah menjelaskan, Maksudnya puasa adalah penghalang antara dirinya dengan api neraka. Hal ini mencakup puasa yang wajib seperti puasa Ramadhan dan juga puasa sunnah seperti puasa enam hari di Bulan Syawal, puasa senin-kamis, puasa tiga hari setiap bulan, puasa Dzulhijjah, puasa Arafah, dan puasa Asyura” (Lihat Al-Minhatu Ar-Rabaniyyah fii Syarhi Al-Arba’in An-Nawawiyyah).

Inilah diantara keutamaan ibadah puasa, yang akan menjadi perisai yang melindungi seorang muslim di dunia dan di akhirat. InsyaAllah, Allah memudahkan kita untuk menyempurnkan ibadah puasa dan meraih banyak pahala dan berbagai keutamaannya. Aamiin. Wa shallallahu alaa Nabiyyinaa Muhammad

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian - EPCDH, oleh Ferry Is Mirza (fim), refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Jumat 27 Sya'ban 1445 H, 08 Maret 2024

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Derajat Amal Tertinggi di Sisi Allah

Amalan ibadah yang baik banyak dijelaskan di dalam Al-Quran dan hadits Nabi Shalallahu Alayhi Wasallam. Kedudukan dan keutamaan ibadahnya pun berbeda beda. Ada yang wajib, sunah, yang asas, dan yang cabang. 

Selain itu, ada yang berfungsi sebagai rukun dan syarat sah ibadah, ada juga yang lebih tinggi kedudukannya dari ibadah yang lain. 

Dalam sebuah hadits, para sahabat kerap bertanya kepada Rasul Shalallahu Alayhi Wasallam tentang amalan yang paling utama dan dianjurkan dalam Islam. 

Misalnya, pertanyaan Abdullah bin Mas'ud RA tentang amalan yang paling disukai Allah. Rasul pun menjawab, “Shalat pada waktunya, berbuat baik kepada ibu bapak, dan jihad di jalan Allah.” (HR Bukhari  Muslim)

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mencegah kita dari perbuatan dosa. Manusia yang memang tidak akan pernah luput dari dosa pun masih diberikan kesempatan untuk meminta ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Bahkan, wujud cinta Allah Subhanahu Wa Ta'ala terhadap hambaNya yang bergelimang dosa, tertuang dalam QS. Az-Zumar ayat 53 yang berbunyi, “Wahai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya, Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang."

Berikut amalan- amalan dzikir sederhana yang bisa dilakukan agar Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengampuni dan menghapus dosa- dosa kita :

1. Astaghfirullah aladzim. Membaca kalimat Astaghfirullah aladzim dinilai bisa menjadi salah satu ikhtiar kita untuk menghapus dosa- dosa. Bahkan dikatakan, satu kali beristighfar bisa mengampuni dosa kita selama 70 tahun. Maka, sempatkan waktu untuk terus beristighfar agar dosa dosa kita diampuni dan dihapuskan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Insya Allah.

2. Subhanallahi wabihamdihi, Subhanallahil adzim. Dua kalimat yang ringan dilidah tersebut bisa menghapus dosa dosa kita dimasa lampau. Pasalnya, dua kalimat itu akan berat ditimbangan pada hari kiamat dan merupakan kalimat yang dicintai oleh Allah.

3. Laa haula walaa quwwata illa billah. Kalimat tersebut merupakan sebuah harta karun dari surga. Maksudnya, kalimat Laa haula walaa quwwata illa billah bisa dijadikan sebagai simpanan pahala berharga di surga kelak.

4. Subhanallah walhamdulillah walaa ilaha illallah wallahu akbar. Kalimat ini dinilai lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya. Maka dari itu, jika kita melafazkan kalimat ini minimal satu menit, maka kita akan bisa mendapatkan ganjaran yang luar biasa.

5.  Allahhumma sholli ala Muhammad. Dengan bershalawat, kita bisa mengundang rahmat Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dengan memberikan shalawat kepada Nabi Muhammad Shalallahu Alayhi Wasallam pula, kita akan bisa mendapatkan 10 kali salam dari Allah. Rasullallah bahkan pernah bersabda, “Siapa yang bershalawat kepadaku 1 kali, maka Allah akan balas dengan 10 kali rahmat.” Rahmat disini berupa rezeki, kebahagiaan, dan dimudahkan urusan.

Nah, itu amalan yang sederhana, namun, dinilai bisa menghapus dosa- dosa kita atas izin Allah Subhanahu Wa Ta'ala. InsyaAllah.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian - EPCDH, oleh Ferry Is Mirza (fim) DM, refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Kamis 26 Sya'ban 1445 H, 07 Maret 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu

Orang Sombong Dibenci Allah

SIFAT SOMBONG dibenci Allah. Itulah sebabya, siapa pun  yang menyombongkan diri, Allah akan membinasakannya.

MANUSIA, apa pun status dan jabatannya, tidak memiliki ruang sedikit pun untuk sombong. Kemampuan dan kelebihan yang ada pada setiap manusia atau suatu bangsa, tidak lebih dari anugerah Allah yang diamanahkan untuk dipergunakan sebagaimana mestinya.

KEMAMPUAN dan kelebihan tersebut bukan untuk dibangga banggakan. Dari situ, kemudian manusia yang bersifat sombong  menganggap rendah yang lain. 

Alkisah ketika itu Fir’aun  membanggakan dirinya dengan perkataannya, “Dan (bukankah) sungai- sungai ini mengalir di bawahku; maka apakah kamu tidak melihat(nya).” (QS. Al-Zukhruf : 51)

AKHIRNYA,  Fir’aun pun dibinasakan dengan apa yang ia sombongkan. Hal itu ditandai dengan dia ditenggelamkan di laut.

Juga kaum ‘Aad yang dibinasakan dengan sesuatu yang lembut, yaitu angin.  Saat  itu Kaum ‘Aad  menyombongkan diri dengan kekuatan yang mereka miliki, "Siapakah yang lebih besar kekuatannya daripada kami?” (QS. Fushshilat : 15)

KESOMBONGAN sekecil apa pun akan membuat Allah murka dan menyebabkan pelakunya dijauhkan dari surga. Hal tersebut telah Allah  wanti-wanti  seperti yang di bawah ini.

“Aku  akan memalingkan orang orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda- tanda kekuasaanKu.” (QS. Al-A’raf : 146)

“Mereka jika melihat tiap-tiap ayat (Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya. Akan tetapi, jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya.” (QS. Al-A’raf: 146)

“Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang- wenang.” (QS. Ghaafir : 35).

ALLAH mengabarkan bahwa Dia tidak menyukai orang yang menyombongkan diri dengan ancaman kehinaann di neraka  di Jahannam.  “Sesungguhnya orang orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghaafir : 60)

InsyaAllah, ALLAH ridha menganugerahkan kepada kita semua :  kesehatan, keselamatan, rahmat (kasih sayangNya), berkah (bertambahnya kebaikan), ampunan atas dosa-dosa kita, umur panjang dan rezeki halal serta kemudahan menjalani kehidupan.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian - EPCDH, oleh Ferry Is Mirza (fim) DM, Rabu 25 Sya'ban 1445 H, 06 Maret 2024

Assalammu'alaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu 

Indahnya Ramadhan Bersama Al Qur’an

InsyaAllah lima hari lagi kita bertemu Bulan Ramadhan. Bulan suci yang penuh maghfirah dengan warna ketaatan. Selain ibadah puasa di siang hari, kaum muslimin dapat menikmati keindahan tadabbur dan tilawah al-Qur’an di malam hari. Dengan merenungkan ayat-ayat al-Qur’an itulah ketenangan jiwa akan didapatkan.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Ingatlah, bahwa dengan berdzikir kepada Allah maka hati akan menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Tafsir yang dimaksud dengan berdzikir kepada Allah dalam ayat ini adalah KitabNya. Yaitu, tatkala seorang mukmin mengetahui kandungan hukum dari ayat-ayat Allah yang menunjukkan kepada kebenaran maka hatinya pun merasakan ketentraman. Sebab hatinya tidak bisa merasakan ketentraman tanpa ilmu dan keyakinan, sementara ilmu dan keyakinan itu bisa diperoleh dengan memperhatikan Kitabullah tersebut (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 418 cet. Ar-Risalah)

Membaca dan merenungkan ayat- ayat al-Qur’an adalah bagian dari dzikir. Sementara kedudukan dzikir bagi seorang insan laksana air bagi seekor ikan. Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah mengatakan, “Dzikir bagi hati laksana air bagi ikan. Apakah yang akan terjadi jika ikan dipisahkan dengan air?” Bagaimana mungkin seorang hamba mengaku mencintai Allah, sementara hati dan lisannya kering dari mengingat dan memujiNya !

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu)

Para sahabat radhiyallahu’anhum telah menjadi teladan bagi generasi berikutnya dalam menjadikan al-Qur’an sebagai jalan hidup mereka. Oleh sebab itu mereka pun mulia di sisi Allah karena ketakwaan mereka, kedalaman ilmu mereka, amal salih mereka, dan kecintaan mereka yang teramat besar terhadap Allah dan RasulNya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah akan mengangkat kedudukan sebagian kaum dengan Kitab ini dan akan merendahkan sebagian yang lain dengan Kitab ini pula.” (HR. Muslim dari ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu’anhu)

Mereka adalah sebuah generasi yang telah ridha terhadap Allah, Islam dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka tidak rela untuk menjual keimanan dan tauhid yang mereka miliki dengan kenikmatan dunia apapun. Mereka lebih memilih disiksa daripada harus menuruti kemauan thaghut dan dedengkot kekafiran. Seperti Bilal bin Rabah radhiyallahu’anhu yang rela tubuhnya tersengat teriknya panas padang pasir dan kesakitan di bawah tindihan batu dengan kalimat ‘Ahad, Ahad’ yang terus mengalir dari bibirnya yang mulia. Itulah manisnya iman yang mereka gapai dengan segenap pengorbanan dan perjuangan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Akan merasakan manisnya iman, orang yang ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul.” (HR. Muslim dari al-‘Abbas bin Abdul Muthallib radhiyallahu’anhu)

Para sahabat hidup di bawah naungan al-Qur’an. Sehingga ayat-ayat suci itu mewarnai hidup dan kehidupan mereka, mewarnai hati dan tingkah laku mereka. Tidak sebagaimana kaum Khawarij yang hanya menjadikan al-Qur’an sebagai hiasan di bibir dan lisan mereka. Akan tetapi, pemikiran dan keyakinan mereka melesat dari agama sebagaimana melesatnya anak panah menembus sasarannya. Kaum Khawarij itulah -meskipun mereka memiliki banyak hafalan al-Qur’an dan bersungguh-sungguh dalam beribadah- kelompok orang yang mendapatkan celaan keras dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka lah yang disebut sebagai anjing-anjing neraka. Sejelek-jelek manusia dan seburuk-buruk kaum yang terbunuh di bawah kolong langit ini. Bahkan, bagi orang yang berhasil membunuh mereka Nabi janjikan pahala yang besar di sisi Allah pada hari kiamat kelak.

Para sahabat radhiyallahu’anhum menjadikan al-Qur’an sebagai sesuatu yang harus diyakini dan diamalkan, bukan sesuatu yang harus diragukan apalagi untuk diperdebatkan! Mereka sangat yakin bahwa al-Qur’an adalah sebaik-baik pembicaraan, sejujur-jujur perkataan, dan sebaik-baik petunjuk bagi kemanusiaan. Ia diturunkan dari sisi Dzat Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. Tidaklah datang kepadanya kebatilan, dari arah depan, maupun dari arah belakang. Seandainya seluruh manusia bersatu padu untuk membuat sesuatu yang serupa dengannya, niscaya mereka akan gagal dan tidak sanggup melakukannya, meskipun mereka bahu-membahu dan saling membantu satu dengan yang lain. Tidak mungkin mereka bisa menandingi mukjizat yang agung ini. Inilah kemuliaan al-Qur’an yang akan membuat tentram dan sejuk hati insan beriman. Dan sebaliknya, ia tidak akan mendatangkan pengaruh kepada orang-orang yang zalim kecuali kerugian dan kebencian.

Salafus shalih telah memberikan teladan kepada kita dalam mewarnai bulan yang mulia ini dengan interaksi yang intensif bersama al-Qur’an. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri setiap tahunnya menyetorkan hafalan al-Qur’an kepada Jibril ‘alaihis salam setiap malam di bulan Ramadhan. 

Az-Zuhri rahimahullah berkata apabila telah masuk bulan Ramadhan, “Sesungguhnya ini adalah kesempatan untuk membaca al-Qur’an dan memberikan makanan.” Imam Malik rahimahullah, apabila telah datang bulan Ramadhan maka beliau menutup majelis hadits dan mengkhususkan diri untuk membaca al-Qur’an dari mushaf. Qatadah rahimahullah pada bulan Ramadhan mengkhatamkan al-Qur’an setiap tiga malam, sedangkan pada sepuluh hari terakhir beliau mengkhatamkannya setiap malam. Begitu  Ibrahim an-Nakha’i rahimahullah, pada sepuluh hari terakhir  mengkhatamkan al-Qur’an setiap dua malam (lihat Majalis Syahri Ramadhan karya Syaikh Utsaimin, hal. 26-27 cet. Dar al-‘Aqidah).

Wahai saudaraku, ucapan manusia. Telah membuat kita lupa akan ucapan Rabb kita. Kita sibuk dengan perkataan si fulan atau ‘allan. Sementara kita lalai dari nasehat dan bimbingan ar-Rahman.

Saudaraku, bulan penuh berkah ada di hadapan. Jangan sampai ia berlalu sedangkan kita terus tenggelam dalam kelalaian.

Ya Allah, Ya Rabbi, pertemukanlah kami dengan bulan itu. Larutkanlah kami dalam malam-malam indah bersama-Mu.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian, oleh Ferry Is Mirza (fim) DM, refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Selasa 24 Sya'ban 1445, 5 Maret 2024

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Manfaatkan Waktu

Waktu berperan sangat penting dalam kehidupan kita, maka barang siapa yang menyia-nyiakan waktu berarti dia telah menyia nyiakan hidupnya.... mereka mengira waktu yang luang adalah waktu untuk bersenang- senang sehingga lupa untuk memanfaatkannya. 

Banyak orang mengira bahwa waktu di dunia itu sangat panjang dan sebenarnya hal tersebut sangatlah salah besar karena  sesungguhnya waktu di dunia sangat singkat dibanding waktu di akhirat.... Satu hari di akhirat sama dengan seribu tahun di dunia, maka jika kita hidup misalnya 63 tahun di dunia ini sama dengan beberapa jam saja kita hidup di akhirat... Subhanallah...

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman di dalam Al-Qur'an, yang artinya : 1. Demi masa. 2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. 3. Kecuali orang- orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan saling menasehati kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran. (QS. Al-Ashr 1-3)

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah bersumpah Demi masa, Demi waktu, Demi zaman bahwa manusia itu berada dalam kerugian. 


Ada 4 orang yang tak akan merugi, yaitu : 1. Orang-orang Yang Beriman. Yaitu orang yang meyakini dalam hatinya bahwa Allah itu ada, mengucapkan kalimat Allah dengan lisannya dan menjalankan segala perintahNya dan menjauhi laranganNya.

2. Orang-orang Yang Beramal Sholeh. Amal sholeh tidak hanya beribadah secara ritual saja, namun tolong menolong sesama manusia termasuk amal sholeh. Kita hidup di dunia ini hanya untuk beribadah kepada Allah dan untuk mencapai kebahagiaan kita di dunia dan di akhirat.

3. Orang-orang Yang Menasehati Dalam Kebenaran. Apabila kita menyampaikan nasehat / dakwah hendaknya didasarkan dengan kebenaran yang sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan Hadits. Sebab, apabila kita menyampaikan nasehat / dakwah tanpa ada dalil dari Al-Quran dan Hadits maka orang lain tidak akan mempercayai nasehat yang kita sampaikan.

4. Orang-orang Yang Menasehati Dalam Kesabaran. Apabila orang lain tidak mau menerima nasehat kita, sebaiknya kita harus bersabar dalam menghadapinya, supaya orang lain tidak menganggap kita memaksanya untuk menerima nasehat tersebut.

InsyaAllah kita semua dapat memanfaatkan waktu dengan sebaik- baiknya agar kita dapat mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Aamiin.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Catatan Akhir Pekan, Ahad 22 Sya'ban 1445 H, 03 Maret 2024

Alhamdulillah, InsyaAllah Jumpa Ramadhan

Ahad 10 Maret --sepekan lagi-- insyaAllah kita mengawali sholat Tarawih. Dan Senin dinihari 11 Maret kita mulai Sahur menandai hari pertama ibadah puasa bulan suci Ramadhan 1445 H

Sebagai seorang muslim hendaknya kita merasa sangat bergembira bila bulan Ramadhan tiba. Sebab bulan Ramadhan adalah bulan Maghfirah yang penuh dengan keberkahan.

Dimana di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dari 1.000 bulan, yaitu Lailatul Qadar.

Pada bulan Ramadhan yang mulia ini, semua amal shalih juga dilipatkan gandakan pahalanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu.

Maka sebagai seorang muslim kita harus merasa bergembira menyambut dan memanfaatkannya, Karena ini merupakan kesempatan terbaik untuk meraih banyak amal shalih.

Dan sebaliknya, bila ada seorang muslim yang merasa biasa- biasa saja, tidak bersemangat meraih amal shalih dan tidak bergembira dengan datangnya bulan Ramadhan, maka ia harus khawatir, sebab bisa jadi ia akan banyak melewatkan kebaikan-kebaikan pada bulan itu.

Karena kebahagiaan ketika bulan Ramadhan merupakan sebuah reaksi tanda keimanannya seorang muslim. Ibarat ia bahagia karena akan kedatangan tamu yang agung dimana tamu tersebut telah ia rindukan selama 11 bulan lamanya yang akan segera hadir membawa banyak oleh oleh keberkahan. Maka itu ia berusaha mempersiapkan segalanya dan tentu hati menjadi sangat bergembira dapat bertemu dengan Ramadhan.

Allah Subhanallahu Wa Ta'ala berfirman, “Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmatNya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (QS. Yunus : 58)

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata; “Bagaimana tidak gembira ? Seorang mukmin diberi kabar gembira dengan terbukanya pintu- pintu surga. Tertutupnya pintu- pintu neraka. Bagaimana mungkin seorang yang berakal tidak bergembira jika diberi kabar tentang sebuah waktu yang di dalamnya para setan dibelenggu. Dari sisi manakah ada suatu waktu menyamai waktu ini (Ramadhan). (Latha’if Al-Ma’arif hlm. 148)

Untuk itu sudah seharusnya kita sebagai seorang muslim menyambut bulan Ramadhan dengan penuh kegembiraan, mempersiapkan diri dengan yang terbaik, semangat beramal shalih, banyak berdo'a, membekali dengan ilmu dan membersihkan diri dengan taubat,

InsyaAllah dengan kesempatan yang Allah Ta'ala berikan ini, kita bisa gunakan dengan sebaik- baiknya untuk meraih banyak amal shalih. Karena bisa jadi ini adalah Ramadhan terakhir kita.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian -EPCDH, oleh Ferry Is Mirza (fim) DM, Wartawan Utama PWI Dewan Pers, refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Ahad 22 Sya'ban 1445 H, 03 Maret 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu 

Larangan Merasa Suci Dibanding Orang Lain, Bisa Jadi diSisi Allah Ia Lebih Baik Dari Kita

"Adab seorang muslim itu tidak merasa dirinya paling baik dari saudaranya." Allah Ta’ala berfirman, “Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa” (QS. An Najm :32)

Mengenai ayat ini, Syaikh Abdurrahman As-Sa’di  menerangkan bahwa terlarangnya orang- orang beriman untuk mengabarkan kepada orang-orang akan dirinya yang merasa suci dengan bentuk suka memuji- memuji dirinya sendiri. (Tafsir Karimir Rahman)

Kebiasaan merasa diri suci merupakan perbuatan yahudi dan nasrani yang jelas- jelas dicela oleh Allah Ta’ala

“Dan mereka berkata, kami sekali-kali tidak akan disentuh api neraka kecuali selama beberapa hari saja” (QS. Al Baqarah: 80)

Bahkan, saking merasa sucinya, mereka merasa bahwa hanya merekalah yang paling layak masuk surga.

“Dan mereka berkata, Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang yahudi dan nasrani” (QS. Al Baqarah: 111)

Sehingga Allah ta’ala cela kebiasaan mereka ini, "Apakah kami tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih. Sebenarnya Allah mensucikan siapa yang dikehendakiNya dan mereka tidak dianiaya sedikit pun” (QS. An-Nisa: 49)

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Janganlah kalian merasa diri kalian suci, Allah lebih tahu akan orang-orang yang berbuat baik diantara kalian” (HR. Muslim).

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian - EPCDH, oleh Ferry Is Mirza (fim) DM, Wartawan Utama PWI Dewan Pers, refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Sabtu 21 Sya'ban 1445 H, 02 Maret 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu 

Jangan Abaikan Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Meninggalkan amar makruf nahi munkar merupakan maksiat yang besar, berakibat pada adanya ancaman dari Allah berupa adzab atas umat ini. 

Hal ini merupakan penekanan betapa pentingnya aktifitas tersebut. Dampak dari ditinggalkannya amar makruf nahi munkar adalah sebagai berikut :

1. Tidak dikabulkan do'a (permintaan) seorang hamba. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam 

"Demi Dzat yang jiwaku ada di tanganNya, hendaknya kalian betul-betul melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar atau (jika kalian tidak melaksanakan hal itu) maka sungguh Allah akan mengirim kepada kalian siksa dariNya kemudian kalian berdoa kepadaNya (agar supaya dihindarkan dari siksa tersebut) akan tetapi Allah Azza Wa Jalla tidak mengabulkan do’a kalian." (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi dan dihasankan oleh al-Albâni dalam Shahîhul Jâmi’)

Hadits di atas menunjukkan bahwa orang yang meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar itu permintaannya tidak dikabulkan oleh Allah Azza Wa Jalla .

2. Mendapatkan laknat dari Allah Azza wa Jalla. Hal tersebut telah terjadi pada umat sebelum umat ini, yaitu Bani Isra’il. 

Sebagaimana yang telah disebutkan dalam firman Allah Azza wa Jalla : "Orang-orang kafir dari Bani Israil telah dilaknat dengan lisan Dâwud dan Isa putera Maryam, hal itu disebabkan karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain senantiasa tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat, sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu." (QS.al-Mâidah : 78-79)

Dalam ayat pertama Allah Azza wa Jalla menyebutkan jauhnya orang-orang kafir bani Israil dari rahmat Allah Azza wa Jalla, hal itu sebagai bentuk hukuman bagi mereka dikarenakan kedurhakaan dan pelanggaran mereka atas batasan-batasan Allah Azza wa Jalla dan hak-hak orang lain. Karena sesungguhnya setiap amal perbuatan pastilah akan ada ganjarannya.

Kemudian dalam ayat selanjutnya Allah Azza wa Jalla mengabarkan kepada hamba-hamba Nya yang beriman perihal kemaksiatan yang menyebabkan mereka (orang-orang kafir itu) tertimpa dengan hukuman tersebut, yaitu mereka melakukan kemunkaran dan tiadalah seorang pun dari mereka yang mencegah saudaranya dari kemaksiatan yang dilakukan. Maka para pelaku kemunkaran dan orang yang membiarkannya mendapatkan hukuman yang sama.

Imam Abu Ja’far ath-Thabari rahimahullah dalam tafsirnya berkata : “Dahulu orang-orang yahudi dilaknat Allah Azza wa Jalla karena mereka tidak berhenti dari kemunkaran yang mereka perbuat dan sebagian mereka juga tidak melarang sebagian lainnya (dari kemunkaran tersebut)”. (Tafsir ath-Thabari 10/ 496)

Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata : “Ayat di atas (juga) menunjukkan larangan duduk dengan orang-orang yang berbuat kemunkaran dan mengandung perintah untuk meninggalkan dan menjauhi mereka” (Tafsir al-Qurthubi 6/ 254)

Sehingga jelaslah dari kedua ayat di atas bahwa meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar merupakan hal yang akan mengundang kemurkaan dan kemarahan Allah Azza wa Jalla.

Begitu mengerikan dampak alias akibat dari tidak dilaksanakannya kewajiban amar makruf nahi munkar, sepertinya kondisi saat ini semua itu sudah terjadi. Luar biasa kerusakan manusia saat ini dan sudah sering kita berdoa kepada Allah untuk keselamatan dan kemenangan umat ini namun Allah belum mengabulkan, bahkan yang lebih parah lagi saat ini yang terjadi adalah amar Munkar nahi Ma'ruf. Sebagian oknum ulama malah mendukung sistem kufur demi dunia, mereka dengan beribu dalih mendukung sistem kufur dan para penguasa zholim dengan memperkosa penafsiran ayat dan hadits serta maqolah para ulama terdahulu. Mereka menolak Khilafah dengan berbagai dalih sekaligus mendukung sistem nation state yang sekuler dan kufur. 

Hasilnya ? Kerusakan umat terjadi diseluruh aspek kehidupan secara sistemik dan aqidah umat dirusak, demikian pula pemikiran dan perasaan umat jadi hancur lebur hingga rusak dan mengikuti para ulama dan penguasa. Akhirnya sistem jahiliyah ini melahirkan masyarakat yang rusak parah dan terkungkung dalam semua jenis kemaksiatan.

Sementara majelis majelis zikir dan sholawat digelar begitu meriah, doa doa dilantunkan dengan berurai air mata untuk harapan keselamatan negeri ini, namun Allah tidak mengabulkan. Na'udzubillah min dzalik.

InsyaAllah umat ini akan sadar bahwa hanya dengan taat sepenuhnya kepada Allah maka mereka akan dimenangkan oleh Allah. 

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian - EPCDH, oleh Ferry Is Mirza (fim) DM, Wartawan Utama PWI Dewan Pers, refrensi tafsir alquran dan alhadits, Jumat 20 Sya'ban 1445 H, 01 Maret 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu

4 Hal Pengangkat Derajat Disisi Allah

Penilaian manusia terkadang subjektif. Seribu kebaikan bisa hilang hanya karena satu keburukan (kejelekan). Berbeda dengan Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang memperlakukan hambaNya penuh kasih sayang. Meski seribu kali berbuat dosa itu gugur berkat bertaubat satu kali.

Ada satu nasihat indah dari Imam Junaid Al-Baghdadi (muridnya Imam Asy-Syafi'i) terkait kedudukan seseorang di sisi Allah. Imam Junaid Al-Baghdadi mengatakan, ada 4 hal yang mengangkat derajat manusia di sisi Allah meski ilmu dan amalnya sedikit. 

Keempat hal itu adalah : 1. Al-Hilmu (kesabaran). 2. Punya sifat tawadhu' (rendah hati). 3. Dermawan meskipun bukan hartawan. 4. Akhlaknya bagus (menjunjung tinggi adab).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, mencintai sahabat Abu Bakar radhiallahu 'anhu bukan karena ilmu dan kealimannya, akan tetapi karena akhlaknya yang baik.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga pernah berpesan kepada sahabat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu: "Akhlak yang baik adalah engkau menyambung silaturrahim dengan orang yang memutuskan silaturrahim."

Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman yang artinya : "Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur" (QS. Al-Qalam : 4)

Betapa tingginya kedudukan adab (akhlak) dibanding  ilmu, sampai-sampai ulama terdahulu tidak belajar ilmu sebelum mereka belajar adab. 

Ibnu Qasim menceritakan, "Aku telah berkhidmat kepada Imam Malik selama 20 tahun. Di waktu itu aku habiskan waktu dua tahun belajar ilmu, sedangkan sisanya (18 tahun) aku belajar adab".

InsyaAllah kita termasuk golongan orang-orang yang memiliki akhlak dan budi pekerti yang baik

InsyaAllah kesehatan dan keberkahan tetap dilimpahkan kepada kita semua serta senantiasa menjadi hamba Allah yang selalu bersyukur dan memiliki hati yang terbaik, bersih dan ikhlas dalam berbuat kebaikan. Serta Allah Subhanahu Wa Ta'ala menerima taubat kita dan memberikan ampunan atas dosa- dosa kita. Aamiin Yaa Robbal Aalamiin

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

amalan-i'tikaf

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian - EPCDH, oleh Ferry Is Mirza (fim) DM, Wartawan Utama PWI Dewan Pers, Kamis 19 Sya'ban 1445 H, 29 Februari 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu 

Di Dunia Seperti Orang Asing, Akhirat Negeri yang Kekal

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda : "Jadilah kamu di dunia seakan-akan sebagai orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan.” (HR. Bukhari)

Demikian hakikat kehidupan, jika orangtua sudah meninggal. Jika punya anak yang pintar mencari kebaikan / pahala, berbakti kepada orangtua dan memuliakannya.

Orangtua akan tenang / senang. Tidak kekurangan senantiasa mendapat kiriman. Sebaliknya, jika anak hanya menghasilkan keburukan / dosa.

Bukan meringankan, tapi malah memberatkan. Orangtua akan sedih /gelisah, mendapat kiriman kabar anak selalu bermasalah. 

"Wahai kaumku ! Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal”. (QS. Gafir : 39)

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: "Ketika manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya, kecuali tiga perkara: 1. Sedekah jariyah, 2. Ilmu yang bermanfaat, 3. Anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA berkata, "Sesungguhnya dunia akan pergi dan akhirat akan datang menyongsong.

Masing-masing dari keduanya memiliki anak-anak, jadilah kalian anak-anak akhirat, jangan menjadi anak-anak dunia, karena sesungguhnya hari ini adalah (waktu) beramal dan belum dihisab, sedangkan nanti adalah hisab dan tidak lagi bisa beramal.”

Abdullah bin ‘Aun berkata, "Sesungguhnya orang- orang sebelum kamu menjadikan untuk dunia ini sisanya (dari bekerja) untuk akhirat, namun kamu menjadikan untuk akhirat kamu sisanya (dari bekerja) untuk duniamu.”

InsyaAllah kita semua selalu dalam keadaan sehat, sabar, ikhlas, bersyukur serta istiqamah dalam ketaatan. Aamiin Yaa Rabbal Alaamiin.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian -EPCDH, oleh Ferry Is Mirza (fim) DM, Wartawan Utama PWI Dewan Pers, Rabu 18 Sya'ban 1445 H, 28 Februari 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu 

Jika ..... Maka.....

Jika kakimu terasa begitu berat untuk melangkah, walau sekedar berdiri menyambut seruanNya untuk shalat berjamaah engkau tak bisa

Jika lisanmu terasa begitu sulit untuk berucap, walau sekedar untuk berdoa atau berdzikir engkau tak kuasa,

Jika hatimu terasa keras tak ada keinginan, walau sekedar untuk membaca selembar ayat-ayat suciNya engkau pun enggan.

Dan jika hidupmu dalam keadaan sehat dan memiliki banyak waktu bahkan bisa membuka medsos, nongkrong, dengerin musik, tiduran dan santai-santai, namun tak juga mampu dapat melakukan amal shalih.

Maka ketahuilah bahwa engkau sedang terhalang dalam kebaikan. Dan tahukah engkau apa penyebabnya terhalang dalam kebaikan ?

Penyebabnya adalah DOSA

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Jika punggung telah berat memikul dosa- dosa, maka hati akan terhalangi untuk berjalan menuju Allah serta anggota badan juga akan terhalangi untuk bangkit melaksanakan ketaatan padaNya.” (Bada’iut Tafsir 3/332)

Seorang laki-laki bertanya kepada al-Hasan al-Bashri, “Wahai Abu Sa’id, semalaman aku dalam keadaan sehat, lalu aku ingin melakukan shalat malam dan aku telah menyiapkan kebutuhan untuk bersuci, tapi mengapa aku tidak dapat bangun ?” Al-Hasan menjawab, “Dosa- dosamu mengikatmu." (Ihya’-u ‘Uluumid Diin I/313)

Jika sebab meninggalkan dosa dapat memudahkan segala urusan, maka sebagaimana pula sebab melakukan dosa dan maksiat bisa menyulitkan segala urusan. Karena ketakwaan adalah penerang jalan kehidupan, sedang maksiat adalah kegelapan jalan kehidupan.

Allah Subhanallahu Wa Ta’ala berfirman, “Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath-Thalaq : 4)

Karena itu hendaknya kita sebagai seorang muslim terus berusaha meninggalkan segala perbuatan dosa dan maksiat jika kita ingin segala urusan kita mendapat kemudahan dan pertolongan Allah. Sebab segala bentuk dosa dan maksiat dapat menyulitkan urusan.

InsyaAllah hal ini menjadi renungan bagi kita semua untuk segera bertaubat, senantiasa beristighfar, hijrah meninggalkan dosa dan maksiat serta banyak berdoa memohon pertolongan Allah.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian - EPCDH, oleh Ferry Is Mirza DM (fim) Wartawan Utama PWI Dewan Pers, Selasa 17 Sya'ban 1445 H, 27  Februari 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu

PERSAKSIAN MALAIKAT DIWAKTU SUBUH

Orang yang melakukan shalat Subuh tepat waktu akan disaksikan oleh para malaikat yang bertugas di malam hari dan yang bertugas di siang hari.

Karena ketika waktu subuh tiba, bergantian para malaikat yang bertugas pada malam hari akan naik ke langit dan para malaikat yang bertugas pada siang hari turun ke bumi.

Sebagaimana yang di jelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu,

Rasulullah Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda: "Malaikat bergantian melihat kita pada siang dan malam. Para malaikat itu bertemu di shalat Subuh dan shalat Ashar."

Kemudian yang bermalam dengan kalian naik (ke langit) dan ditanya oleh Rabb mereka, dan Dia lebih tahu keadaan hamba- hambanya, Bagaimana kondisi hamba-hambaku ketika kalian tinggalkan?’

Para malaikat menjawab, ‘Kami meninggalkan mereka dalam keadaan shalat, dan kami mendatangi mereka dalam keadaan shalat.” (HR. Bukhari-Muslim)

Ibnu Baththol rahimahullah berkata, "Shalat shubuh akan membuat seseorang mendapatkan perhatian Allah pada hari kiamat."

Kenapa dikhususkan dua shalat ini? Karena berkumpulnya para malaikat malam dan siang di dua waktu tersebut. 

Inilah makna firman Allah "Sesungguhnya shalat Shubuh itu disaksikan (oleh malaikat)." (QS. Al-Isra: 78) (Syarh Al-Bukhari, Ibnu Baththol, 3:250, Asy-Syamilah)

Waktu subuh adalah kesempatan untuk menilai diri sendiri tentang seberapa dekat dirimu dengan Allah.

Seberapa besar kamu menginginkan surga ? Sanggupkah engkau meninggalkan tempat tidur untuk kemudian bersegera bersujud kepada Tuhanmu ?

Karena Shalat subuh adalah babak pertamamu melawan setan, entah kamu yang berhasil menjatuhkannya ataukah setan yang justru menjatuhkanmu dengan membuatmu tertidur.

Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan EPCDH ini, InsyaAllah Allah Subhaanahu Wa Ta’ala membalas kebaikan Anda. 

Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menunjukkan satu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengamalkannya.” (HR. Muslim dari Abu Mas’ud Al-Anshori radhiyallaahu’anhu)

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian - EPCDH oleh Ferry Is Mirza DM (fim), Wartawan Utama PWI Dewan Pers, refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Senin 16 Sya'ban 1445 H, 26 Februari 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu 

Bahaya Jadi Budak Harta

KAPITALISME telah memengaruhi gaya hidup kaum muslim. Sebagian besar umat Islam menjadi konsumtif, pengejar cuan, dan akhirnya melupakan kewajiban kewajibannya sebagai muslim. Padahal Rasulullah Shalallahu Alayhi Wasallam sudah mengingatkan umatnya, “Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamisah dan khamilah (sejenis pakaian yang terbuat dari wool/sutera). Jika diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah.” (HR. Bukhari)

Budak harta maknanya, harta dan uang memperbudak dan memerintahkan manusia untuk mencari uang. Manusia yang tamak akan patuh dengan perintah harta atau uang. Uang pun “berkata”, “Carilah aku dan kerahkanlah semua tenaga kalian. Carilah aku lagi, belum cukup. Engkau perlu kerja sampai malam dan lembur sampai libur akhir pekan. Carilah aku. Engkau perlu mengorbankan sedikit kehormatan dirimu dan prinsip hidupmu agar bisa dapat uang pada zaman ini.”

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Engkau akan menjadi budak harta jika menahan harta tersebut. Akan tetapi, jika engkau menginfakkannya, harta tersebut barulah menjadi milikmu.” (Tafsir Ibnu Katsir, hlm. 443)

Ketahuilah bahwa manusia yang rakus dan tamak menjadi budak harta karena harus menjaga harta tersebut. Bahkan, untuk menjaga harta perlu mengorbankan segalanya. Ulama mengatakan, “Ilmu itu menjaga pemiliknya, sedangkan pemilik harta akan menjaga hartanya.” (Miftah Daris Sa’adah, hlm. 29)

Harta bisa menjadi fitnah (ujian) terbesar bagi umat. Nabi Muhammad Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya pada setiap umat ada fitnah (ujiannya) dan fitnah umatku adalah harta.” (HR. Bukhari)

Rasulullah Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda, “Tidaklah dua serigala lapar yang menghampiri seekor kambing lebih berbahaya baginya daripada ambisi seseorang kepada harta dan kedudukan bagi agamanya.” (HR. Tirmidzi)

Namun sayangnya, banyak orang yang tidak mengingat dan memahami hadits di atas. Kita menyaksikan tidak sedikit dari kalangan para pejabat dan konglomerat muslim tertipu oleh harta dan dunia. Mereka menjadi tamak, mengira bahwa dirinya raja dan tuan. Sesungguhnya, mereka telah diperbudak oleh harta dan dunia. Astagfirullah. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, “Kehidupan dunia telah menipu mereka.” (QS. Al-An’am: 130)

Kemudian, Allah juga berfirman, “Hai orang orang yang beriman, janganlah harta- hartamu dan anak- anakmu melalaikan kaum dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian, maka mereka itulah orang- orang yang rugi.” (QS. Al-Munafiqun: 9)

Penyakit cinta dunia pada seorang muslim bisa menghantarkan kepada kekufuran. Ada yang berislam di pinggiran, yakni keislamannya mantap jika ia diberi nikmat dunia. Akan tetapi, jika mendapat bencana, ia pun menjadi murtad. Inilah keadaan orang orang yang keislamannya berada di pinggiran jurang.

Jika dunia telah memenuhi hati, pikiran pun hanya tertuju memikirkan dunia. Ia bisa menjadi budak harta, tidak memedulikan cara memperoleh harta, dengan jalan yang halal maupun haram. Semoga kita bukan bagian dari muslim yang diperbudak harta. Sebaliknya, kita menjadikan harta yang dimiliki sebagai sarana untuk dekat pada Allah Ta'ala. Caranya, dengan banyak berkontribusi untuk perjuangan Islam, membiayai berbagai kebutuhan dakwah, dan menolong sesama manusia yang kekurangan (miskin). 

fimdalimunthe55@gmail.com 

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian - EPCDH oleh Ferry Is Mirza DM (fim) Wartawan Utama PWI Dewan Pers, refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Ahad 15 Sya'ban 1445 H, 25 Februari 2024

Assalammualaikum Warrahmatallahi  Wabarrakatuhu

PetunjukNYA : Iman Amal Sabar, Kunci Kebaikkan. Allah berfirman yang artinya, "Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam menetapi kesabaran.” (QS. al-‘Ashr : 1-3)

Seorang muslim tentu mengharapkan kebaikan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Kunci keberuntungan dan keselamatan itu telah dijelaskan di dalam al-Qur’an. Hal itu adalah dengan mengikuti petunjuk Allah dan RasulNya. Allah berfirman yang artinya, "Maka barangsiapa yang mengikuti petunjukKu niscaya dia tidak akan tersesat dan tidak pula celaka.” (QS. Thaha : 123)

Kebahagiaan hanya bisa diperoleh dengan bekal iman. Tanpa keimanan kebaikan dan amal salih hanya akan sirna dan hancur pada saat kita membutuhkan pahalanya. Allah berfirman yang artinya, "Dan Kami hadapi segala amal yang dahulu mereka kerjakan, lalu Kami jadikan ia bagaikan debu yang beterbangan." (QS. al-Furqan : 23)

Iman juga tidak cukup hanya dengan ucapan lisan atau penampilan yang menawan. Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, Bukanlah iman itu hanya dengan angan angan atau memperindah penampilan. Akan tetapi iman adalah apa-apa yang bersemayam di dalam hati dan dibuktikan dengan amalan- amalan. 

Allah berfirman yang artinya, "Sesungguhnya orang orang beriman itu hanyalah orang- orang yang apabila disebutkan nama Allah maka takutlah hati mereka, apabila dibacakan kepada mereka ayat ayatNya bertambahlah imannya, dan kepada Rabb mereka semata mereka itu bertawakal.” (QS. al-Anfal : 2)

Para ulama menjelaskan bahwa iman itu mencakup : Keyakinan di dalam hati, Ucapan dengan lisan dan Amal dengan anggota badan. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, "Iman itu terdiri dari tujuh puluh lebih cabang. Yang paling tinggi adalah ucapan laa ilaha illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu merupakan salah satu cabang keimanan." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam beribadah kepada Allah, seorang mukmin memadukan di dalam dirinya tiga hal : Rasa takut / khouf, Rasa cinta /mahabbah dan Rasa harap / roja’. Itulah tiga pilar ibadah hati. Tidak akan benar ibadah tanpa terkumpulnya ketiga hal ini dalam diri seorang muslim. Maka keimanan itu menuntut seorang muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan apa-apa yang dicintai dan diridhaiNya. Melaksanakan perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Maka seorang yang beriman melakukan amal salih dengan harapan amalnya diterima dan takut apabila amalnya tertolak.

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, "Seorang mukmin memadukan dalam dirinya antara berbuat kebaikan / ihsan dan merasa takut. Adapun orang kafir memadukan dalam dirinya antara berbuat buruk dan merasa aman."

Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah berkata, Aku telah berjumpa dengan tiga puluh orang sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam; mereka semuanya khawatir dirinya terjangkiti kemunafikan. Tidak ada seorang pun diantara mereka yang mengatakan imannya setara dengan imannya Jibril dan Mika’il."

Pembinaan iman inilah yang harus terus kita lakukan dalam diri kita pribadi, di tengah keluarga, dan di tengah masyarakat. Karena tanpa keimanan, kehidupan dunia ini hanya akan pergi meninggalkan kita dengan mewariskan penyesalan dan siksaan. 

Malik bin Dinar rahimahullah berkata, "Telah pergi para pemuja dunia dalam keadaan mereka belum menikmati sesuatu yang terbaik di dalamnya." Orang-orang pun bertanya, Apakah itu yang terbaik di dalamnya ?" beliau menjawab, "Yaitu mengenal Allah ‘Azza Wa Jalla." Semoga catatan singkat ini bermanfaat bagi kita semuanya. Wa shallallahu ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.

fimdalimunthe55@gmail.com 

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian, oleh Ferry Is Mirza DM (fim), Wartawan Utama PWI Dewan Pers, refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Sabtu 14 Sya'ban 1445 H, 24 Februari 2024

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Tujuan Hidup Menurut Islam

MANUSIA diciptakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk mengemban amanah dan menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi. Dengan melihat asal mula kejadian manusia, kita dapat mengetahui bahwa Allah memberikan kelebihan bagi manusia dalam hal akal dan pengetahuan yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya. 

Saat Allah Subhanahu Wa Ta'ala menciptakan Nabi Adam Alaihissalam, Allah memerintahkan para malaikatnya untuk bersujud kepada Adam karena kelebihan yang ia miliki meskipun ada makhluk yang menolak untuk bersujud yakni iblis.

Asal mula kejadian manusia disebutkan dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam Al-Qur'an berikut ini :

"Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah Kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, Kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, Kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), Kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya). Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan, Maka apabila dia menetapkan sesuatu urusan, dia Hanya bekata kepadanya: “Jadilah”, Maka jadilah ia." (QS. Al Mukmin 67)

Manusia tidak diciptakan begitu saja tanpa adanya tujuan hidup. Adapun tujuan utama manusia diciptakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala adalah agar dapat menyembah dan beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Berikut ini adalah tujuan hidup manusia di bumi yang disebutkan dalam Al-qur’an dan sunah rasul :

1. Menyembah Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Adapun tujuan hidup manusia yang paling utama adalah untuk menyembah dan beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sebagai hamba Allah, manusia wajib menjalankan segala perintah dan menjauhi segala laranganNya. Manusia juga harus menjadikan rukun iman dan rukun islam sebagai pedoman hidupnya. Berikut ini adalah ayat yang menyebutkan kewajiban manusia untuk beribadah kepada  Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman di Al-Qur'an yang artinya : Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepadaKu” (QS. Adz zariyat 56)

2. Menjalankan Perannya Sebagai Khalifah. Manusia adalah khalifah di muka bumi dan setiap manusia adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Istilah khalifah disini adalah pemimpin dimana manusai bertanggung jawab menjaga keberlangsungan hidupnya dan alam sekitarnya. Sebagai makhluk yang dikaruniai akal maka manusia memiliki kewajiban untuk mengelola sumber daya alam dan menjaga kelestariannya. Tidak hanya itu, manusia juga berkewajiban untuk menjaga dirinya sendiri dari perilaku yang tidak baik karena setiap perlakuan atau perbuatan manusia di dunia kelak akan dimintai pertanggung jawabannya. 

Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman yang artinya : “Dan mereka tidaklah disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam menjalankan agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat serta menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah 5)

3. Meneruskan Ajaran Islam. Tidak hanya beribadah dan menjalankan tugasnya sebagai khalifah, manusia juga wajib menuntut ilmu dan meneruskannya pada generasi selanjutnya agar ajaran islam tetap terjaga.

Bukan hanya ilmu yang diajarkan untuk melaksanakan ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan tetapi juga untuk menuntun perilaku manusia dan menunjukkan perbuatan amar ma’ruf nahi mungkar. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman yang artinya : "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang- orang yang beruntung.“ (QS. Al Imran 104)

Tujuan hidup tersebut hendaknya dipahami, dimengerti dan dilaksanakan oleh kita, karena tanpa tercapainya tujuan hidup tersebut, maka tugas kita di bumi ini tidaklah dapat terpenuhi.

InsyaAllah kesehatan dan keberkahan tetap dilimpahkan kepada kita semua serta senantiasa menjadi hamba Allah yang selalu bersyukur dan memiliki hati yang terbaik, bersih dan ikhlas dalam berbuat kebaikan serta Allah Subhanahu Wa Ta'ala menerima taubat dan memberikan ampunan atas dosa-dosa kita. Aamiin Yaa Robbal Aalamiin

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian - EPCDH, oleh Ferry Is Mirza DM (fim) Wartawan Utama PWI Dewan Pers, refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Jumat 13 Sya'ban 1445 H, 23 Februari 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarakatuhu 

Pembohong yang Ciptakan Ilusi Kebenaran, diAlam Kubur Mulutnya Dirobek-robek

ORANG YANG GEMAR BERBOHONG BERBUAT CURANG akan menerima azab yang sangat pedih. Kelak di alam kubur, mereka akan merobek-robek mulutnya sendiri sampai hari kiamat tiba.

Orang yang terbiasa berbicara bohong dan dusta serta berbuat curang itu memiliki penyakit hati. Jika kebiasaan buruk ini tidak dihentikan maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memberikan balasan yang sangat pedih. Salah satu tujuan bebohong adalah bersiasat atau berstrategi.

Kadangkala, bohong dianggap sebagai kebiasaan yang sepele, padahal jika kebiasaan bohong dilakukan secara terus-menerus, apalagi jika tanpa disertai dengan ilmu, niscaya ucapan orang tadi akan selalu bohong dalam hal apapun.

Salahsatu peristiwa buruk yang dialami manusia di alam kubur adalah mulutnya dirobek- robek hingga hancur berantakan, kemudian dikembalikan lagi seperti semula, lalu dirobek-robek lagi, begitu seterusnya hingga hari kiamat tiba. Ini adalah balasan yang akan diterima oleh orang- orang yang gemar berbohong berbuat curang.

Sewaktu bertanya kepada Jibril dan Mikail, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Beritahukanlah kepadaku tentang apa yang aku lihat”. Kedua malaikat menjawab, “Ya. Adapun orang yang engkau lihat dirobek mulutnya, dia adalah pendusta. Dia berbicara dengan kedustaan lalu kedustaan itu dinukil darinya sampai tersebar luas. Maka dia disiksa dengan siksaan tersebut hingga hari kiamat” (HR. Bukhari)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, "Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang- orang pendusta." (QS. An-Nahl : 105)

Dalam kehidupan sekarang, kita  melihat bagaimana kebohongan berproses menjadi sesuatu yang dipercaya. Menurut Tom Stafford (2016), “Pengulangan membuat fakta tampak lebih benar, terlepas dari apakah fakta tersebut benar atau tidak”. Memahami efek ini dapat membantu kita menghindari propaganda. 

Sementara itu, Joseph Goebbel mengatakan, “Ulangi kebohongan dengan cukup sering dan itu menjadi kebenaran”. Di kalangan psikolog hal seperti ini dikenal sebagai efek “ilusi kebenaran”. 

Jadi, jika cukup sering mengulangi kebohongan maka itu akan menjadi kebenaran. Dan jika anda melihat sekeliling anda, anda mungkin mulai berpikir bahwa semua orang mulai dari pengiklan hingga politisi memanfaatkan kelemahan psikologi manusia ini.

Namun efek yang dapat diandalkan belum tentu berdampak penting pada keyakinan masyarakat di dunia nyata. Jika anda benar-benar dapat membuat kebohongan terdengar benar dengan mengulanginya, anda tidak memerlukan semua teknik persuasi lainnya.

Ilusi kebenaran bisa menjadi senjata berbahaya di tangan politisi jaman sekarang ini. Salah satu kendalanya adalah apa yang sudah anda ketahui. Sekalipun suatu kebohongan terdengar masuk akal, mengapa anda mengesampingkan apa yang anda ketahui hanya karena anda mendengar kebohongan itu berulang kali ?

Baru-baru ini, ada Paslon Capres yang berkampanye akan “Membagikan makan gratis bagi semua rakyat miskin”. Janji ini juga diulangi dalam debat Capres dan beberapa event lain baik di TV maupun di media sosial. 

Efeknya, janji ini dianggap benar oleh banyak kalangan. Namun, beberapa hari setelah pemilu presiden, Capres yang sama menyatakan akan menaikkan pajak ini dan itu dengan membandingkan tingginya pajak dengan negara lain. 

Orang yang cukup cerdas akan berpikir bahwa ternyata makan gratis yang dijanjikan adalah uang yang diambil dari pajak. Tapi bagi orang yang kurang cerdas, mereka berpikir bahwa yang penting nanti ada makan gratis. Allahu ya’lam. 

InsyaAllah yang kita baca ini menjadi pengingat dan penambah iman. Bila sekiranya bermanfaat bagi yang lain, mari kita share tulisan ini kepada sanak saudara handai taulan sahabat semuanya. InsyaAllah menjadi jariyah kita semua, aamiin yaa rabb

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian - EPCDH, oleh Ferry Is Mirza (fim) Wartawan Utama PWI Dewan Pers, refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Kamis 12 Sya'ban 1445 H, 22 Februari 2024

Assalamu'alaykum Warahmatallahi Wabarakatuhu 

Negeri Akhirat Kehidupan Hakiki

Demi Allah, Rabb kita sangat mulia. “Siapa yang mendatangiNya dengan berjalan, maka Dia akan mendatanginya dengan berlari kecil.” Demikianlah, Nabi Shalallahu Alayhi Wasallam yang jujur dan ucapannya yang dipercaya, bersabda.

Rabb kita Mahamulia. Rabb kita Maha Menerima syukur hambaNya. Siapa yang jujur kepada Allah ‘Azza Wa Jalla, Allah akan buat ia melek dan tahu hal- hal yang banyak orang tidak ketahui. Dengan itu, ia menapaki kehidupan ini dengan petunjuk, cahaya, dan hidayah sampai hembusan nafas terakhir yang Allah takdirkan baginya keluar. Kemudian setelah itu, ia berpindah menuju kehidupan sejati

“Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya.” (QS. Al-‘Ankabut: 64)

Adapun hidup yang kita jalani sekarang, hanya perantara, bukan tempat menetap bagi kita. Hidup ini hanya perantara tempat kita menghabiskan waktu yang dikehendaki Allah Subhanahu Wa Ta’ala. 

Pasti akan kita tinggalkan, bisa malam ini, besok, atau lusa, wallahu a’lam. Tetapi, pertemuan dengan Allah adalah dekat. Demi Rabb langit, pertemuan dengan Allah pasti akan datang waktunya.

Bersihkan hati sebelum bertemu Allah

Oleh karena itu, saudaraku sekalian, orang yang bahagia adalah orang yang melek terhadap realita ini, lalu melakukan amal saleh dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh. Tidak tertipu dengan berbagai distraksi dan kesibukan yang membuatnya lalai dari taat kepada Allah. Ia tapaki kehidupan ini dengan hati yang bersih. Dengan sebab itu, ia termasuk orang-orang yang selamat di sisi Allah ‘Azza Wa Jalla. 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “(Yaitu,) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara:  88-89)

Demikianlah, orang yang selamat di sisi Allah ‘Azza Wa Jalla, ia menapaki kehidupan ini dengan hati yang bersih. Apa makna hati yang bersih ? Ia adalah hati yang berserah diri dan pasrah kepada Allah, serta bersih dari segala hal yang menghalangi hubungannya dengan Allah. Inilah hati yang bersih.

Lain halnya dengan hati yang mati atau hati yang sakit. Ia adalah hati yang sangat jauh dari kata selamat. Oleh karena itu, tidak ada keselamatan baginya sampai hatinya Allah Ta’ala penuhi dengan kasih sayangNya. Lalu, Allah jadikan ia dapat melihat realita atau Allah anugerahkan ia dapat bertobat kepadaNya.

Adapun orang yang berpaling, enggan menaati Allah ‘Azza Wa Jalla sama sekali dan tidak beribadah kepada Allah di dalam kehidupan ini. Maka, akibatnya adalah ia berpisah dari dunia ini dalam keadaan tidak diberi petunjuk dan sepenuhnya tersesat. Demi Allah, yang seperti ini tidak ada harapan kasih sayang Allah kepadanya.

Namun, bagi orang yang tidak sempurna dalam menaati Allah, akan tetapi ia masih menjalankan pokok- pokok ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, merealisasikan rukun iman, maka ia berada diantara ampunan dan keadilan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ngerinya godaan dunia saat ini

Intinya, bahwa zaman ini adalah zaman yang banyak sekali muncul berbagai cobaan dan godaan. Dan bisa kita saksikan kebenaran sabda Rasulullah Shalallahu Alayhi Wasallam yang diriwayatkan Imam Muslim rahimahullah dalam Shahihnya,

“Bersegeralah untuk beramal (saleh) sebelum datang berbagai godaan dan ujian seperti potongan-potongan malam yang gelap. Di mana pada pagi hari seseorang beriman, namun di sore hari ia menjadi kafir. Dan pada sore hari ia beriman, namun di pagi hari ia kafir.” (HR. Muslim 118)

Berapa jam antara pagi dan sore ? Dua belas ? Tujuh jam ? Delapan jam ? Sepuluh jam ? Cukup untuk seseorang murtad berbalik ke arah belakang, wal’iyadzu billah. Beberapa jam cukup untuk membuat seseorang murtad dari agama Islam. Semoga Allah memberikan kita perlindungan dari perubahan dari keimanan menjadi kekufuran. Benar- benar suatu musibah yang amat besar.

Hal demikian hanya dipahami oleh orang yang ahli dalam mengetahui kondisi manusia. Sekumpulan halaman dan baris tulisan yang dibaca di media sosial atau beberapa video bisa jadi cukup untuk mengubah seseorang menjadi murtad. 

Semoga Allah memberikan kita keselamatan dan kesehatan secara lahir dan batin. Ini benar-benar terjadi, seseorang semestinya takut terhadap hal semacam ini. Sebab keburukan apabila sudah merajalela, semakin patut untuk ditakuti.

“Seorang imam (yang dapat dijadikan teladan) lagi patuh kepada Allah…” (QS. An-Nahl: 120)

Serta, kita diperintahkan untuk mengikuti ajaran beliau “Katakanlah, ‘Benarlah (segala yang difirmankan) Allah.’ Maka, ikutilah agama Ibrahim yang lurus…” (QS. Ali ‘Imran: 95)

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), ‘Ikutilah agama Ibrahim yang lurus…’” (QS. An-Nahl: 123)

Nabi Shalallahu Alayhi Wasallam tidak pernah sama sekali memerintahkan untuk mengikuti ajaran salah seorang rasul, kecuali Ibrahim ‘alahis salam, imamnya ahli tauhid dan bapaknya para nabi ‘alahimush shalatu wassalam, manusia terbaik setelah Nabi Muhammad Shalallahu Alayhi Wasallam. Meski demikian, bagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjelaskan kondisi beliau? Allah menjelaskan bahwasanya beliau berdoa kepada Allah ‘Azza Wa Jalla dengan sebuah doa yang luar biasa. Beliau berdoa,

“… dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala.” (QS. Ibrahim: 35)

Inna lillahi wainna ilahi raji’un. Beliau khawatir terhadap diri sendiri dan anak- anaknya, sehingga berdoa kepada Allah ‘Azza Wa Jalla dengan doa yang tulus ini agar ia dan anak-anaknya dijauhkan dari beribadah kepada berhala. Apa sebabnya? Lihat alasannya,

“Ya Rabbku, berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak dari manusia.” (QS. Ibrahim: 36)

Sekarang, godaan dan cobaan itulah yang mendatangi tempatmu. Tidak perlu pergi mencarinya. Ia akan datang ke tempatnya saat ia sedang berselimut di kamarnya lalu godaan mendatanginya. Godaan itu menjadikan kemaksiatan kepada Allah ‘Azza Wajalla terlihat indah, bahkan bisa jadi menjadikan kekufuran kepada Allah Ta’ala terlihat indah.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian - EPCDH, oleh Ferry Is Mirza (fim) Wartawan Utama PWI Dewan Pers, refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Rabu 11 Sya'ban 1445 H, 21 Februari 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu 

Seluruh Hidup Wakafkan untuk Allah

SEMUA ORANG bangun di pagi hari. Keluar dari rumahnya. Ada yang pergi ke arah kanan. Ada pula yang ke arah kiri. Ada yang pergi demi agamanya. Dan ada yang pergi demi urusan dunianya. Ada yang spiritnya untuk akhirat. Dan ada yang spiritnya untuk dunia. 

Setiap orang berjalan. Akan tetapi, hanya orang yang diberi taufiklah yang mengetahui hakikat yang terpampang di hadapannya, lalu mengamalkannya. Mengilmuinya, lalu berpegang teguh. Mengetahui hakikat, lalu memegangnya dengan erat. Sehingga, ia jadikan seluruh hidupnya sebagai wakaf untuk taat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Allah Jalla Wa’ala menciptakan engkau untuk beribadah kepadaNya, agar engkau menjadi hambaNya. Allah menciptakan hatimu untuk merenungkan ayat-ayat Allah, baik yang dilantunkan atau yang ada di alam semesta. Allah memberikanmu mata ini untuk membaca kitab Allah ‘Azza Wa Jalla, untuk membaca hadis Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, bukan untuk kau palingkan melihat hal hal yang diharamkan Allah.

Allah memberikanmu tangan ini agar kau angkat bermunajat kepada Allah Jalla Wa‘ala, agar kau genggam saat salat, dan agar kau letakkan untuk bersujud. Allah menciptakan tangan ini untuk tujuan tersebut, bukan untuk main-main atau selainnya. Allah memberikanmu kaki ini agar kau gunakan berjalan menuju rumah Allah untuk melaksanakan salat fardu yang Allah wajibkan. Melangkah menuju ketaatan kepada Allah.

Allah ‘Azza Wa Jalla tiada menciptakannya untuk bermain-main dan urusan dunia. Jadikanlah urusan dunia sebagai tujuan sekunder. Adapun tujuan primer, semua anggota badanmu wajib engkau wakafkan untuk ketaatan kepada Allah ‘Azza Wa Jalla. Allah Ta’ala berfirman

“Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.’” (QS. Al-An’am: 162)

Hanya kepada Allah kita kembali

Semua orang Islam mengatakan inna lillah wa inna ilahi raji’un. Apakah makna kalimat ini? Kita harus benar-benar melihat dan memikirkan kata kata yang kita ucapkan. Innaa lillah bermakna kita adalah milik Allah ‘Azza Wa Jalla. Kita adalah hamba Allah dan kita akan berpisah dari dunia ini untuk bertemu denganNya.

“Barangsiapa mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah pasti datang.” (QS. Al-‘Ankabut: 6)

Berdiri di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah suatu kepastian. Engkau akan bertemu Rabbmu dan Dia akan menghisab amalmu.

Ini adalah realita yang perlu kita letakkan di pelupuk mata kita. Sebab, banyak orang yang tak paham realita ini, tersesat di berbagai arus kehidupan dunia. Seperti kata pepatah, “Kompas hilang, tak tahu arah dituju.” Akan tetapi, apabila engkau diberi taufik oleh Allah ‘Azza Wa Jalla, kemudian engkau beriman dan mengesakanNya serta mengikuti RasulNya Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka engkau berada dalam kebaikan. Berjalan dalam kehidupan dengan jelas ke arah depan.

“Apakah orang yang merangkak dengan wajah tertelungkup yang lebih terpimpin (dalam kebenaran) ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?” (QS. Mulk: 24) 

Yaitu, jalan yang jelas. Engkau menjalani kehidupan ini dengan jelas di hadapanmu, “Katakanlah (Muhammad), ‘Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan bashīrah.” (QS. Yusuf: 108)

‘Alā bashīrah maknanya seseorang hidup dengan penglihatan yang ia gunakan untuk melihat hal-hal secara hakikatnya. Tidak tertipu dengan dunia ini dan pernak-pernik perhiasannya. Tidak tertipu dengan suatu hal yang dapat memalingkannya dari realita yang gamblang, apa tujuan ia diciptakan. Ia akan menghadapi realita tersebut setelah ia berpindah alam dari dunia ini dengan penerangan dari Rabb-nya

“Maka, apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Tuhannya, sama dengan orang yang dijadikan terasa indah baginya perbuatan buruknya dan mengikuti keinginannya?” (QS. Muhammad: 14)

Ia memiliki penerangan dan kejelasan pada setiap langkah yang ia tempuh di kehidupan ini.

Lupa Allah, lupa diri sendiri

Demikianlah, demi Rabb Pencipta dan Pemilik langit, hanya Dialah yang dapat memberikan taufik orang yang bahagia. Sayangnya, banyak orang yang tidak demikian. Banyak orang yang bangun dan beraktivitas dalam kehidupan ini, dan tidur lalu bangun, kemudian pergi lalu kembali, dalam keadaan tidak tahu arah. Ia lupa terhadap dirinya manakala ia melupakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan melupakan realita yang ia hadapi. Yaitu, statusnya sebagai seorang hamba Allah, yang diciptakan untuk menghidupi realita itu dengan cara mengesakan Allah. Hal itu dikarenakan Allah ‘Azza Wajalla membuat ia lupa terhadap dirinya. Betapa anehnya, ada orang yang hidup, tetapi ia lupa terhadap dirinya sendiri.

Mungkin ada yang bertanya-tanya, “Bagaimana bisa orang lupa dengan dirinya sendiri?” Orang bisa lupa telponnya, lupa pulpennya, lupa kunci rumah, tetapi lupa dirinya sendiri? Bagaimana bisa? Ya. Ia lupa kemaslahatan dirinya dan tidak berusaha menyelamatkan dirinya dari azab Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sehingga ia tersesat dan tak tahu ke mana ia pergi. Ia menyangka dirinya sedang sibuk. Jika ditanya, ia selalu bilang ‘saya sibuk’. Tetapi sibuk dalam hal apa? Apakah ia sibuk dalam hakikat tujuan ia diciptakan? Atau sibuk hal lain?

Disinilah letak petunjuk dan ketersesatan. Semua orang dalam hidup ini, pada semua urusan mereka, setiap gerak dan diam, serta semua tindak-tanduk mereka, semuanya berjalan di atas kaidah petunjuk dan ketersesatan.

Ada orang yang diberi hidayah dan ada orang yang tersesat. Orang yang mendapat hidayah ialah orang yang Allah beri petunjuk. Dan orang yang tersesat ialah orang yang Allah sesatkan. Saudaraku sekalian, demi Allah, orang yang jujur kepada Rabbnya, maka Dia akan penuhi janjiNya kepadanya. Jika kamu jujur kepada Allah, Allah akan beri ganjaran. Orang yang mendatangi Allah, Allah tidak akan mengusirnya. Siapa yang menyambut Allah, Allah akan menyambutnya. Allah, Dialah Yang Maha Menerima syukur hamba-Nya.

“Maka, barangsiapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (surga), maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan).” (QS. Al-Lail: 5-7)

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian (EPCDH), oleh Ferry Is Mirza (fim) Wartawan Utama PWI Dewan Pers, refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Selasa 10 Sya'ban 1445 H, 20 Februari 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarrakatuhu 

Sedekah Jadi Sia-sia dan Siap Hijrah Diuji Allah

EPCDH kemarin penulis bertutur tentang manfaat Sedekah. Hari ini menambahkan tentang : jangan sampai Sedekah Jadi Sia-sia dan Siap Hijrah Diuji Allah. InsyaAllah bermanfaat.

Sejatinya pemberian sedekah berarti menitipkan harta untuk dibawa ke akhirat sebagai ganjaran pahala.

Namun anehnya, sebagian manusia sudah 'susah-susah' bersedekah, tapi ia batalkan sendiri pahalanya dengan mengungkit pemberian.

Allah ta’ala berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian batalkan (pahala) sedekah kalian dengan mengungkit ungkit pemberian dan menyakiti (yang diberi)." (QS. Al-Baqarah: 264)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, Tidak ada yang tersisa dari ganjaran pahala yang terhapus karena kesalahan berupa menyebut- nyebut pemberian dan menyakiti hati penerima sedekah (Tafsir al-Quran al-Azhim)

Dan kebanyakan mengungkit pemberian dilakukan dengan ucapan. Begitulah petaka lisan. Tangan yang berbuat kebajikan, mulut yang membatalkan.

Siap Hijrah dan Diuji Allah Ta'ala

Hijrah disini artinya meninggalkan kehidupan yang jauh dari agama menuju kehidupan baru yang berusaha serius menerapkan ajaran agama.

Mungkin banyak dengar cerita saudara saudara kita yang hijrah, meninggalkan riba, meninggalkan musik, meninggalkan pekerjaan haram, meninggalkan bid’ah, meninggalkan maksiat. Kemudian mereka diberi kemudahan-kemudahan setelah hijrah, rezeki lancar, hidup juga makmur.

Namun itu hanya sebagian dari kisah- kisah hijrah. Disamping kisah- kisah gemerlap itu, ada kisah-kisah lain. Ada yang setelah hijrah kemudian berkelakar : “mengapa hidup saya lebih susah ketika sudah hijrah ?“.

Ada yang diuji dengan seretnya rezeki. Ada yang harus mengalami konflik rumah-tangga. Ada yang diuji dengan gangguan dari keluarganya atau teman-temannya. Memang begitulah sunnatullah, yang siap hijrah akan diuji ! 

Allah Ta’ala berfirman: “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”,  mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al Ankabut : 2)

Yang setelah hijrah diberi nikmat dan mudahnya rezeki itu pun ujian, apakah ia bisa tetap istiqomah dengan nikmat tersebut, ataukah menjadikannya luntur dan kufur ?

Yang jelas, setelah hijrah, siap diuji oleh Allah. Harus siap, harus berani, demi menggapai ridhaNya dan jannahNya.

Jannah itu butuh diperjuangkan. Harus bersabar. Tujuan akhir kita adalah akhirat, dunia itu sebentar, akhirat itu abadi. Dunia itu hina, kemenangan di akhirat itu kemuliaan ! InsyaAllah, Allah memberi taufiq hidayahNYA. Aamiin...

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian oleh Ferry Is Mirza (fim) Wartawan Utama PWI Dewan Pers, refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Senin 9 Sya'ban 1445 H, 19 Februari 2023

Assalammu'alaykum Warrahmatallahi Wabarakatuhu

Sedekah

Adalah sebuah perbuatan sederhana namun memang memberikan banyak manfaat bagi diri manusia. Sedikit atau banyak dalam bersedekah asalkan dilakukan dengan Ikhlas tentunya akan memberikan manfaat yang luar biasa.

Pastinya kita ingat dengan pepatah apa yang kita tanam akan kita tuai, itu pula hal yang terjadi dalam Sedekah. Sedekah tidak mengajarkan kita untuk pamrih. Bukan berharap untuk mendapatkan apa yang telah kita sedekahkan untuk kembali, namun bersedekah memang akan membuat jiwa tenang dan harta bersih.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman yang artinya : "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui" (QS. Al-Baqarah 261)

Perintah “Bersedekah” adalah perintah Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang  sungguh agung, Allah Subhanahu Wa Ta'ala menegaskan wajibnya perintah bersedekah tidak terikat dengan waktu dan keaadaan seorang hamba. Bersedekah tidak hanya disaat kita berkecukupan (memiliki harta) saja, akan tetapi di waktu kita sedang kesulitan (kekurangan harta) pun kita diwajibkan untuk bersedekah.

Seberapapun dan dalam bentuk apapun. Karena Sedekah tidak harus menggunakan harta, bisa dengan tenaga, pikiran, bahkan senyum pun bisa menjadi sedekah asal kita melakukannya dengan niat ikhlas meraih ridha Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

InsyaAllah kesehatan dan keberkahan tetap dilimpahkan kepada kita semua serta senantiasa menjadi hamba Allah yang selalu bersyukur dan memiliki hati yang terbaik, bersih dan ikhlas dalam berbuat kebaikan serta Allah Subhanahu Wa Ta'ala menerima taubat dan memberi ampunan atas dosa-dosa kita. Aamiin Yaa Robbal Aalamiin

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian, oleh Ferry Is Mirza (fim) Wartawan Utama PWI Dewan Pers, refrensi tafsir Alquran dan alhadits serta mahaj salaf, Ahad 8 Sya'ban 1445 H, 18 Februari 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarakatuhu 

ALLAH Menolak 4 Kali Permohonan Penduduk Neraka

Allah Ta’ala telah mempersiapkan dan menjanjikan untuk orang-orang yang beriman dan beramal saleh sebuah ganjaran yang sangat indah berupa surgaNya. 

Allah Ta’ala berfirman, “Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai- sungai. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. At-Taubah: 72)

Allah Ta’ala juga telah menjanjikan bagi orang-orang kafir dan munafik sebuah azab serta siksaan yang pedih berupa nerakaNya. 

Di antara dalilnya Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang orang yang kafir, harta benda dan anak-anak mereka sedikit pun tidak dapat menolak (siksa) Allah pada mereka. Dan mereka itu adalah bahan bakar api neraka.” (QS. Ali Imran: 10)

Sehingga, telah jelas balasan bagi orang- orang beriman dan telah jelas pula balasan bagi orang- orang kafir. Surga bagi mereka yang beriman dan neraka bagi mereka yang kafir kepada Allah dan berbuat berdosa. Dan semuanya telah dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. 

Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya tidak satu hal pun yang mendekatkan kalian ke surga, melainkan telah aku perintahkan kalian untuk mengerjakannya. Dan tidak ada satu pun yang mendekatkan kalian ke neraka, melainkan aku telah melarang hal itu.” (Silsilah Al-Ahaadits Ash-Shahihah 2866)

Sebagai hambaNya, menjauhkan diri dari neraka menjadi hal yang harus kita usahakan. Di dalam Al-Qur’an, terdapat pelajaran yang amat berharga. Di dalam Al-Qur’an, setidaknya Allah Ta’ala menyebutkan empat permohonan penduduk neraka. Simaklah firman- firman Allah Ta’ala tentang permohonan mereka.

“Ya Rabb kami, keluarkanlah kami daripadanya (neraka) (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.” Allah berfirman, “Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku.” (QS. Al-Mu’minun: 107-108)

Di dalam ayat ini, penduduk neraka meminta dan memohon kepada Allah Ta’ala agar dikeluarkan dari neraka. Karena saking beratnya siksa dan azab neraka. Dalam hadis Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda tentang azab penduduk neraka yang paling ringan.

“Sesungguhnya azab yang paling rendah dari penduduk neraka adalah seseorang memakai kedua sandalnya dari neraka. Otaknya pun melepuh karena panasnya kedua sandalnya.” (HR. Muslim no. 361)

Sehingga, pantaslah mereka meminta kepada Allah Ta’ala agar dikeluarkan dari neraka. Karena saking dahsyatnya azab neraka. 

Akan tetapi, Allah menjawab permohonan mereka dengan firmanNya : “Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku.” (QS. Al-Mu’minun: 108)

“Mereka berseru, ‘Hai (Malaikat) Malik, biarlah Rabbmu membunuh kami saja.’ Dia menjawab, ‘Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini).’ Sesungguhnya Kami benar-benar telah membawa kebenaran kepada kamu, tetapi kebanyakan di antara kamu benci pada kebenaran itu.” (QS. Az-Zukhruf: 77-78)

Inilah permohonan penduduk neraka. Setelah mereka memohon kepada Allah agar dikeluarkan dari neraka dan permohonan mereka tertolak, mereka pun mencoba untuk meminta kepada Malaikat Malik, agar Allah mematikan mereka dan tidak lagi merasakan azab yang pedih. Namun, jawaban dari Malaikat Malik justru mengecewakan dan menyakitkan mereka. “Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini).” (QS. Az-Zukhruf: 77)

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Malaikat Malik menjawab permintaan mereka setelah seribu tahun lamanya.” (Jami’ul Bayan ‘An Ta’wili Ayil Qur’an karya Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thabari, 21: 645)

“Dan orang-orang yang berada dalam neraka berkata kepada penjaga- penjaga neraka Jahanam, ‘Mohonkanlah kepada Rabbmu supaya Dia meringankan azab dari kami sehari saja.’ Penjaga Jahanam berkata, ‘Apakah belum datang kepada kamu rasul-rasulmu dengan membawa keterangan-keterangan?’ Mereka menjawab, ‘Benar, sudah datang.’ Penjaga-penjaga Jahanam berkata, ‘Berdoalah kamu.’ Dan doa orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka.” (QS. Ghafir: 49-50)

Penduduk neraka meminta kepada penjaga Jahanam agar Allah Ta’ala meringankan azab mereka sehari saja. Mirisnya, permintaan itu pun juga tertolak. Betapa tersiksanya mereka, para penduduk neraka. Allah Ta’ala berfirman menceritakan siksaan yang akan mereka peroleh kelak di neraka, “Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan nanah.” (QS. An-Naba: 24-25)

“Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (QS. Al-Kahfi: 29)

Setelah mereka merasakan azab di atas, mereka pun melihat penduduk surga yang penuh akan kenikmatan. Segala sesuatu yang penduduk surga inginkan, mereka dapatkan. 

Allah Ta’ala berfirman, “Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas dan piala- piala. Dan di dalam surga itu, terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata. Dan kamu kekal di dalamnya.” (QS. Az-Zukhruf: 71)

Penduduk neraka pun ingin mendapatkan seperti yang penduduk surga inginkan, sehingga penduduk neraka menyeru dan meminta kepada penduduk surga. 

Allah Ta’ala berfirman, “Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga, ‘Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah direzekikan Allah kepadamu.’ Mereka (penghuni surga) menjawab, ‘Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir." (QS. Al-A’raf: 50)

Seluruh permohonan dan permintaan penghuni neraka tertolak. Hal ini bisa menjadi pelajaran untuk kita. Terutama bagi orang-orang yang mengatakan “Tidak mengapa kita berbuat dosa, mungkin kita hanya satu atau dua hari saja di neraka.” Subhanallah !! Sekuat apa tubuh kita untuk menahan azabnya neraka. Inilah statement orang- orang Yahudi terdahulu. 

Allah Ta’ala berfirman, “Dan mereka berkata, ‘Kami sekali kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja.’ Katakanlah, ‘Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janjiNya ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?" (QS. Al-Baqarah: 80)

Ketahuilah sehari di dalam neraka sama dengan seribu tahun di dunia, “Sesungguhnya sehari di sisi Rabbmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS. Al-Hajj: 47)

Hal ini menjadi bahan renungan bagi kita, mengingat betapa pedih dan menderitanya para penduduk neraka. Demikianlah yang Allah kisahkan tentang mereka para penghuni neraka di dalam Al-Qur’an.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian, oleh Ferry Is Mirza (fim) Wartawan Utama PWI Dewan Pers, refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Sabtu 7 Sya'ban 1445 H, 17 Februari 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarakatuhu 

Mensyukuri Nikmat Allah atas Keamanan Bangsa Kita

Melihat sikon saudara saudara kita di Palestina saat ini  sungguh menderita dan sangat memilukan. Sebagai seorang muslim, semestinya kita juga ikut berempati secara mendalam atas ujian berat yang mereka alami. Empati dapat kita wujudkan dengan bantuan materiil berupa donasi dan imateriel berupa doa- doa yang senantiasa kita mohonkan kepada Allah Ta’ala untuk mereka.

Berkaca dari tragedi Gaza-Rafah di Palestina yang –qadarullah-- hingga kini masih belum berujung tersebut, menjadi penting pula bagi kita untuk muhasabah diri. 

Betapa besar karunia Allah Ta’ala yang diberikan kepada kita, berupa keamanan bangsa dan negara, di mana penghuninya merupakan manusia manusia dengan segala perbedaan suku, agama, ras, dan golongan. Namun, dengan kasih sayang Allah Ta’ala, semua dapat _menyatu dalam satu kesatuan bangsa, bahasa dan tanah air Indonesia._

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Kita kini sedang dihadapkan dalam sebuah prosesi kontestasi politik yang sarat akan potensi perpecahan. Disadari atau tidak, perbedaan sudut pandang dalam berpolitik telah banyak menjadikan saudara sekandung saling bermusuhan, keluarga semula bahagia menjadi berantakan, dan konflik sosial yang tak berkesudahan hanya karena beda pilihan.

Sungguh, suatu perkara yang sangat kecil yang tidak layak menjadi alasan kita untuk saling bermusuhan. Padahal, dalam Islam, kita diajarkan bahwa persaudaraan itu merupakan sebuah keniscayaan. Terlebih persaudaraan sesama muslim yang tak pernah putus selama orang tersebut masih merupakan muslim yang beriman.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Janganlah kalian saling mendengki ! Janganlah saling _tanahusy_ (menyakiti dalam jual beli) ! Janganlah saling benci ! Janganlah saling membelakangi (mendiamkan) ! Dan janganlah menjual di atas jualan saudaranya! Jadilah hamba Allah yang bersaudara ! Seorang muslim adalah saudara untuk muslim lainnya. Karenanya, ia tidak boleh berbuat zalim, menelantarkan, berdusta, dan menghina yang lain. Takwa itu di sini -beliau memberi isyarat ke dadanya tiga kali-. Cukuplah seseorang berdosa jika ia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya itu haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR. Muslim 2564)

Kenikmatan berupa keamanan bangsa ini semestinya kita syukuri dengan cara menjaganya agar senantiasa dalam koridor ketentuan syar’i. Hadits di atas jelas menuntun kita untuk bersatu dan saling menjaga kerukunan satu sama lain, serta saling menghormati. Demikianlah, wujud konkret dari rasa syukur tersebut. Karena, semakin kita pandai bersyukur atas segala nikmat tersebut, maka Allah Ta’ala pun akan semakin menambah karuniaNya kepada kita.

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Akan tetapi, jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka pasti azabKu sangat berat.’” (QS. Ibrahim: 07)

Perhatikanlah Ayat di atas semakin menegaskan bahwa syukur merupakan syarat mutlak ditambahkannya rezeki untuk kita. Rezeki yang tak semua umat dapat memperolehnya. Rezeki yang diimpi- impikan oleh saudara- saudara kita muslimin yang tertindas seperti di Palestina, Syiria, Afghanistan, dan belahan bumi lainnya. Rezeki itu berupa keamanan bangsa dan negara. Jauh dari konflik sosial yang berkepanjangan, serta mendapatkan kesempatan untuk terus berkembang.

Sebaliknya, kufur akan mendatangkan azab Allah yang sungguh amat berat. Kita telah melalui berbagai musibah penjajahan sejak zaman sebelum kemerdekaan. Mendengar dan membaca sejarah yang ada, sungguh zaman di mana mayoritas usia produktif benar-benar dimanfaatkan untuk kepentingan penjajah, masa depan terasa suram, dan nyawa tak penting untuk dipertimbangkan.

Alhamdulillah, semua penderitaan tersebut berakhir dengan kemerdekaan. Sebuah karunia yang tak ternilai yang kadangkala baru akan terasa apabila seseorang dihadapkan kembali pada musibah yang mengancam kemerdekaan dan kebebasannya.

Mensyukuri Karunia Allah

Dalam konteks karunia Allah berupa keamanan bangsa, kita jangan pernah luput untuk bersyukur. Jangan pernah pula mencoba untuk memancing datangnya murka Allah Ta’ala dengan berlaku kufur.

Saling mengompori dengan sengaja untuk memecah belah umat, menjadi contoh sikap yang benar- benar menunjukkan kekufuran yang dapat mengundang azab Allah Ta’ala. Janganlah karena perbedaan pandang khususnya pandangan politik saat ini di antara kita, kemudian menjadikan alasan tersebut sebagai dalil pembenaran untuk saling mencaci, memfitnah, menzalimi satu sama lain, bahkan berujung pada kematian tanpa hak. Wal’iyadzu billah.

Marilah sejenak merenung. Kita hidup di sebuah negara yang sangat heterogen. Berbagai kepercayaan dan dogma diakui di negeri ini. Ratusan bahasa dan suku bangsa serta beragam ideologi politik sosial ekonomi senantiasa eksis di tengah-tengah kehidupan kita. Hal itu telah berlangsung berpuluh puluh tahun lamanya. Tidak ada konflik sosial yang permanen yang bertahan lama hanya karena perbedaan tersebut.

Nyatanya, sejak era nenek moyang kita dahulu hingga pada zaman yang penuh dengan fitnah ini, kita masih mendapatkan perlindungan dari Allah Ta’ala berupa rasa persatuan dan kesatuan bangsa yang selalu dapat terjaga baik. Ingat, semua karunia ini ada atas kehendak dan izin dari Allah Ta’ala.

“Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman: 3)

Merindukan pemimpin yang adil

Memang, kita masih merindukan dan mengharapkan bangsa yang kaya akan karunia Allah Ta’ala. Dari limpahan kekayaan sumber daya alam ini, rakyatnya jauh lebih sejahtera. Kita menginginkan pemimpin yang adil, yang taat, yang berpegang teguh pada syariat Allah Wa Ta’ala.

Namun, jangan lupa, kita pun tidak boleh luput dari kesadaran bahwa upaya mewujudkan seorang pemimpin dengan kriteria ideal tersebut hanya akan terwujud apabila masing- masing individu umat memprioritaskan pendidikan, pengasuhan, dan pengajaran keluarga untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Serta memperdalam ilmu agama sebagai bekal akhirat, menjadi prioritas utama. Dengan demikian, dari individu keluarga yang telah terdidik secara Islam tersebut, barulah kemudian lahir seorang pemimpin yang adil.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Di antara hikmah Allah Ta’ala dalam keputusanNya memilih para raja, pemimpin, dan pelindung umat manusia adalah sama dengan amalan rakyatnya. Bahkan, perbuatan rakyat seakan-akan adalah cerminan dari pemimpin dan penguasa mereka. Jika rakyat lurus, maka akan lurus juga penguasa mereka. Jika rakyat adil, maka akan adil pula penguasa mereka. Namun, jika rakyat berbuat zalim, maka penguasa mereka akan ikut berbuat zalim.” (Miftah Daaris Sa’adah, 2: 177-178)

Orang yang memahami bagaimana sesungguhnya sikap terbaik dalam menghadapi suatu persoalan cenderung akan lebih tenang dalam bersikap dan bertutur kata. Tidak terkecuali terhadap persoalan potensi perpecahan di masa- masa yang sarat akan potensi perpecahan seperti saat sebelum dan sesudah Pemilu saat ini.

Pemahaman yang dimaksud tentu saja merujuk pada bagaimana ajaran Islam yang sesungguhnya membimbing kita dalam menyikapi berbagai persoalan kehidupan. Terkhusus dalam menentukan sikap dalam menghadapi dinamika hubungan sosial masyarakat yang seharusnya dijaga sebagai bentuk rasa syukur kita terhadap nikmat keamanan bangsa. Maka, sungguh kita telah dituntun untuk menentukan sikap yang benar.

Sekali lagi, semakin kita mendorong diri untuk memperdalam ilmu agama, maka semakin tenang pula diri kita dalam menyikapi segala problematika kehidupan, khususnya dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. Akhirnya, kita dapat mewujudkan kedamaian dan keamanan antar sesama dengan menghindari segala potensi konflik sebagai bukti konkret rasa syukur kita terhadap karunia keamanan bangsa yang dianugerahkan oleh Allah Ta’ala.

InsyaAllah, Allah Wa Ta’ala senantiasa memberikan keberkahan bagi negeri kita tercinta ini berupa kedamaian, keamanan, kesejahteraan dan kemakmuran. Sebagaimana doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam,

“Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian.” (QS. Al-Baqarah: 126)

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian oleh Ferry Is Mirza (fim) Wartawan Utama PWI Dewan Pers, refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Jumat 6 Sya'ban 1445 H, 16 Februari 2024

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Sayangi Orangtua Kita, Jangan Abai

Menyebut “Orang Tua” pasti kita langsung teringat Ibu Ayah kita, ada juga yang menyebut Ibu Bapak. Kasih sayang mereka begitu luar biasa. Sejak kita lahir hingga dewasa seperti sekarang ini. Tak pernah Lelah merawat dan mendidik dari bayi sampai tumbuh dewasa. Tak pernah bosan menasehati jika kita membuat kesalahan. Tak pernah lelah merawat kita saat sakit. Tak henti-hentinya mendo’akan dalam setiap sholatnya. 

Tak pernah lelah mencari nafkah untuk mencukupi segala kebutuhan kita, menyekolahkan kita setinggi-tingginya agar bisa menjadi kebanggaan mereka kelak dan masih banyak lagi kasih sayang orang tua kita yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Selama sembilan bulan ibu mengandung dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah. Kemudian menyusui selama dua tahun lamanya. 

Malam hari saat enak enaknya tidur, tiba- tiba kita merengek minta ASI atau mungkin popok kita basah. Belum lagi kalau kita sakit, siang malam kita merengek untuk terus minta digendong. Tidur pun tetap minta digendong tanpa mau tahu kalau Ibu kita sudah sangat lelah dan mengantuk. 

Namun demi anaknya yang sangat disayangi, Ibu tanpa pamrih melakukan semua itu semata- mata agar anaknya merasa nyaman dan aman. Benar saja jika ada pernyataan “Surga Di Bawah Telapak Kaki Ibu”. Karena jasa- jasanya yang begitu besar.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman yang artinya : "Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu." (QS. Luqman 14)

Ibu kita adalah wanita luar biasa yang telah dikirim Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk mengandung, melahirkan, merawat dan membesarkan kita di dunia ini. Ayah kita adalah sosok paling tangguh yang dikirimkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk menjaga kita, mencarikan nafkah untuk kita, serta memenuhi segala kebutuhan hidup dan pendidikan kita. Tanpa Ibu dan Ayah, kita tidak akan pernah menikmati indahnya dunia yang fana ini.

Mulai saat ini, kalau kita masih menganggap ibu dan ayah kita cerewet, itu karena mereka sangat menyayangi kita. Mereka selalu ingin yang terbaik untuk kita. Mereka tidak mau anaknya terjerumus pada hal-hal yang tidak baik. 

Sayangi kedua orang tua kita selagi masih ada kesempatan. Kehadiran kita di rumah sangat berarti bagi mereka dibandingkan kita hanya mengirim uang saat kita telah bekerja dan berada jauh dari orang tua kita kelak. 

Namun jika diantara kita ada yang kurang beruntung (orang tuanya sudah dipanggil oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala) maka doa’kan mereka agar senantiasa diberi kubur yang lapang, dijauhkan dari siksa kubur dan dimudahkan segala kehidupannya di alam kubur.

Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam Al- Qur'an, yang artinya : “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua- duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku ! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” (QS. Al-Isra 23-24)

Bersyukurlah bagi kita yang masih memiliki kedua orang tua yang lengkap. Jangan pernah menyakiti hati mereka. Jangan pernah menyia- nyiakan keberadaan mereka. Dengarkan selalu nasehatnya. Karena apapun itu nasehat orang tua adalah yang terbaik untuk kita selagi masih berada di jalur kebenaran.

InsyaAllah kesehatan dan keberkahan tetap dilimpahkan kepada kita semua serta senantiasa menjadi hamba Allah yang selalu bersyukur dan memiliki hati yang terbaik, bersih dan ikhlas dalam berbuat kebaikan serta Allah Subhanahu Wa Ta'ala menerima taubat dan memberikan ampunan atas dosa-dosa kita. Aamiin Yaa Robbal Aalamiin

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian, oleh Ferry Is Mirza (fim) Wartawan Utama PWI Dewan Pers, refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Kamis 5 Sya'ban 1445 H, 15 Februari 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarakatuhu 

Dzalim dan Sombong

Penulis mohon maaf, karena agak siang baru menulis EPCDH yang biasanya ba'da subuh. Ini lantaran tadi harus menjawab telpon dan japri dari beberapa sahabat terkait hasil sementara Pemilu. Sekali lagi maaf ya....

Allah berfirman, “Sesungguhnya mereka itu (orang- orang kafir) apabila dikatakan kepada mereka ‘laa ilaha illallah’, mereka pun menyombongkan diri. Mereka pun mengatakan, ‘Apakah kami harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kami demi mengikuti seorang penyair yang gila?’” (QS. Ash-Shaffat: 35-36)

Ayat ini menunjukkan kepada kita bahwa sesungguhnya orang-orang musyrik yang didakwahi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengetahui kandungan dan konsekuensi dari kalimat tauhid laa ilaha illallah. Yaitu, wajibnya menyingkirkan segala bentuk syirik dan peribadatan kepada selain Allah. Oleh sebab itulah, mereka menolak dakwah tauhid. 

(Syekh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah dalam Qurratu ‘Uyun Al-Muwahhidin, hal. 7)

Suatu hal yang sudah dimaklumi bahwa Allah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepadaNya. Ibadah kepada Allah adalah dengan tunduk kepada perintah dan laranganNya. Ibadah kepada Allah menuntut hamba memurnikan ibadahnya kepada Allah semata dan meninggalkan syirik. Inilah seruan setiap rasul yang Allah utus kepada manusia. 

Allah berfirman, “Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap kaum seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36)

Ibadah kepada Allah adalah bertauhid, sedangkan menjauhi thaghut adalah dengan berlepas diri dari syirik dan pelakunya. Inilah ajaran Islam dan keadilan tertinggi di alam semesta. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Hak Allah atas para hamba adalah hendaknya mereka beribadah kepadaNya dan tidak mempersekutukan denganNya sesuatu apa pun.” (HR. Bukhari  Muslim)

Ibadah kepada Allah dibangun di atas sikap tunduk dan merendahkan diri kepada Allah dengan disertai pengagungan kepadaNya, penuh cinta, takut, dan harap kepadaNya. Inilah ibadah yang wajib ditujukan kepada Allah, dan tidak boleh dipalingkan kepada selainNya. 

Allah berfirman, “Dan tidaklah mereka diperintahkan, kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan untukNya agama dengan hanif (lurus) …” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Di dalam ibadah inilah, akan tercapai ketentraman dan kebahagiaan hamba. Sebab, itulah tujuan penciptaan dirinya di alam dunia ini. 

Allah berfirman, “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepadaKu.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Allah berfirman, “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri imannya dengan kezaliman, maka bagi mereka itulah keamanan dan mereka itulah yang diberi petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82)

Akan tetapi, ternyata tidak sedikit manusia justru menentang tauhid ini dan memusuhinya. Padahal, tauhid inilah sebab kebahagiaan hidup mereka. Mereka lebih mendahulukan hawa nafsu dan perasaannya di atas wahyu dan bimbingan Allah, Rabb Pencipta alam semesta. Mereka menolak kebenaran dan meremehkan orang yang menyeru kepada tauhid. Sebagaimana dikisahkan dalam ayat di atas bahwa orang-orang musyrik menggelari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai seorang penyair yang gila. Padahal, beliau bukanlah tukang syair apalagi orang gila!

Karena itulah, Allah pun menyebut orang yang tidak tunduk beribadah dan berdoa kepadaNya sebagai orang-orang yang sombong. 

Allah berfirman, “Dan Rabb kalian berfirman, ‘Berdoalah kepadaKu, niscaya Aku kabulkan. Sesungguhnya orang- orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepadaKu pasti akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina.’” (QS. Ghafir: 60)

Demikianlah keadaan orang yang menentang perintah Allah. Tidaklah berlebihan jika perilakunya disebut sebagai kesombongan. Sebagaimana Iblis yang menolak perintah Allah karena enggan dan istikbar (kesombongan). Karena itu pula, salah satu bentuk kekafiran perusak iman adalah kufur iba’ wal istikbar (karena enggan dan kesombongan).

Kesombongan itulah yang telah membinasakan Fir’aun dan Qarun. Sombong dengan kekuasaan ataupun sombong dengan harta dan kekayaan. Mereka lupa bahwa kenikmatan yang mereka peroleh adalah titipan dari Allah untuk menguji hamba-hambaNya. Apakah mereka pandai bersyukur kepada Allah dengannya ataukah justru kufur dan mengingkari ajaran dan petunjukNya?! Hal ini mengingatkan kita kepada nasihat Abu Hazim rahimahullah, “Setiap nikmat yang tidak semakin mendekatkan diri kepada Allah, maka itu adalah malapetaka.”

Demikian pula, ilmu merupakan nikmat bagi kemanusiaan. Apabila manusia mengikuti petunjuk Allah dan bimbinganNya, niscaya mereka akan bahagia.

Allah berfirman, “Maka, barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya dia tidak akan sesat dan tidak pula celaka.” (QS. Thaha: 123)

Dari sini, kita mengetahui bahwa sebab kesengsaraan manusia adalah ketika mereka berpaling dari petunjuk Allah dan mencampakkan Kitab Allah dari hidup dan kebudayaan mereka.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda, “Sesungguhnya Allah akan memuliakan dengan sebab Kitab ini (Al-Qur’an) beberapa kaum dan akan merendahkan dengannya beberapa kaum yang lain.” (HR. Muslim)

Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu berkata, “Kami adalah suatu kaum yang telah Allah muliakan dengan Islam. Maka, kapan saja kami mencari kemuliaan dengan selain cara Islam, pasti Allah akan hinakan kami.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak)

Begitu pula, datangnya Rasul di tengah manusia adalah nikmat agung yang tidak boleh disepelekan. Petunjuk beliau adalah jalan keselamatan dari kehancuran dan malapetaka. 

Allah berfirman, “Dan barangsiapa yang menentang Rasul itu setelah jelas baginya petunjuk, dan dia mengikuti selain jalan orang-orang beriman, niscaya Kami biarkan dia terombang-ambing dalam kesesatan yang dia pilih dan Kami pun akan memasukkannya ke dalam neraka Jahanam. Dan sesungguhnya Jahanam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’: 115)

Untuk itulah saudaraku yang dirahmati Allah, merupakan kebutuhan besar bagi kita kaum muslimin untuk terus belajar dan mengenali ajaran Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dengan mengikuti ajaran dan petunjuk beliaulah, kita akan meraih kecintaan Allah dan ampunanNya. 

Allah berfirman, “Katakanlah, ‘Jika kalian mengaku mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.’” (QS. Ali ‘Imran: 31)

Karena itu, Imam Malik rahimahullah berkata, “As-Sunnah (ajaran Nabi) itu laksana perahu Nabi Nuh. Barangsiapa menaikinya, maka dia akan selamat. Dan barangsiapa yang tidak mau ikut naik di atasnya, maka dia akan tenggelam/binasa.”

Allah berfirman, “Dan sungguh Kami telah mengutus pada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36)

Ayat ini mengandung perintah beribadah kepada Allah semata dan meninggalkan sesembahan selainNya. Tauhid inilah tujuan diciptakannya manusia, misi utama dakwah para rasul dan muatan pokok seluruh kitab yang Allah turunkan. (Ibthal At-Tandid hal 9)

Allah berfirman, “Katakanlah, ‘Inilah jalanku. Aku mengajak menuju Allah di atas bashirah/ilmu yang nyata. Inilah jalanku dan orang-orang yang mengikutiku." (QS. Yusuf: 108)

Di antara dalil yang menunjukkan pentingnya dakwah tauhid ini adalah firman Allah,

“Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.” (QS. Al-’Ashr: 1-3)

Allah juga berfirman, “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri imannya dengan kezaliman (syirik); mereka itulah orang yang diberikan keamanan dan mereka itulah orang yang akan diberi petunjuk.” (QS  Al-An’am: 82)

Allah juga berfirman, “Maka, barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal saleh dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apa pun.” (QS. Al-Kahfi: 110)

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Catatan Kamis Subuh. 15 Februari 2024 @namiragrahasby

Hitungan Suara Cepat Bikin Pemilih Tak Percaya

oleh Ferry Is Mirza (fim) Wartawan Utama PWI Dewan Pers, refrensi dari berbagai sumber

ALHAMDULILLAH RABU 14/2/24 kemarin pagi pukul 08.30 WIB penulis jalan kaki dari rumah di Blok Ai ke TPS 10 Perumahan Puri Indah, Sidoarjo untuk menunaikan kewajiban memberikan suara Pilpres dan Pileg. 

Belum banyak warga yang datang ke TPS. Usai menandatangani daftar pemilih dan mendapat 5 lembar surat suara dari petugas KPPS, penulis duduk antri menunggu bilik tempat mencoblos kosong --ada 4 bilik--, kurang dari lima menit penulis langsung menggunakan hak suara mencoblos sesuai pilihan untuk Capres-Cawapres, DPD dan DPR RI, Prov, Kabupaten.

Pukul 14.10 hasil perhitungan suara dari TPS 10 sudah dishare di WAG. Hasilnya untuk Pilpres sungguh mengejutkan buat penulis. Paslon 01 dapat 56 suara, 02 dapat 123 suara dan 03 dapat 49 suara.

Kenapa penulis katakan "sungguh mengejutkan" hasilnya ? Lantaran, prediksi penulis --berdasar amatan sehari hari-- tetangga dan warga di sekitar tempat tinggal penulis adalah kaum mukmin.

Setelah tahu seperti itu hasilnya, penulis bergegas untuk hijrah sementara ke rumah adik di Namira Graha kawasan Surabaya Utara.

Selang beberapa saat,    menjelang sore, masuk puluhan japri di WA dari beberapa sahabat. Isinya bertanya tentang hasil hitungan suara (quick count) yang menyebutkan Paslon 02 unggul atas 01 dan 03.

Bahkan salah-seorang    berkata dengan nada gusar dan geram, "Bang Ferry kok bisa begini. Ini kecurangan terstruktur masif sistematis yang penguasa diseign. Penguasa dzalim, mal'un (rusak tidak benar)," ujar Mustofa Nabhan yang tokonya di kawasan Panggung, Surabaya.

Masih banyak telpon dari beberapa sahabat bernada sama komentarnya. Semua penulis jawab dengan kata, "Sabar sabar sabar sabar. Perhitungan belum selesai."

Penulis bukan pengamat politik, dan bukan surveyor. Namun, melihat hasil quick count yang di tayangkan --beberapa jam-- pasca coblosan Rabu kemarin, terasa sekali adanya aroma KECURANGAN. 

Inilah kehawatiran penulis yang beberapa bulan sebelumnya terpendam. Tampak sekali sudah diatur --terstruktur, masif, sistematis--. Hasil yang muncul di quick count seakan sama dengan hasil survey yang diumumkan oleh berbagai lembaga survey jauh sebelum Pilpres kemarin. 

Sebagai orang beriman, tentu kita patut legawa menerima keadaan. Tetapi, sungguh berat rasanya akal sehat menelan kenyataan pahit ini.  Kesenjangan perbedaan hasil antara 25% dengan 50% lebih, sangat mengusik kewajaran dan keadilan dalam penghitungan suara.

Muncul pertanyaan  dari pengamat dan pendukung yang seakan tidak percaya dengan fakta Rabu kemarin dan Kamis dini hari ini. 

Terbukti TSM. Makanya sejak awal si Jok selalu optimis "1 putaran". Kenapa harus 1 putaran ?? Karena andai terjadi 2 putaran, maka akan ada peluang pendukung Paslon 03 suaranya pindah ke 01. "Dan itu yang dicegah sejak awal dengan segala cara kecurangan oleh rezim"

Mereka menanyakan,: "Pak Anies, kok jauh sekali perbedaan angka hasil pemungutan suaranya ?" 

Pak Anies menjawab, "tenang", semua belum selesai". Kita tunggu hasil "real count" dari KPU yang sesungguhnya.  

Melihat fenomena ini, sungguh kita patut berharap akan muncul pihak-pihak yang melaksanakan ajaran Rasulullah Shalallahu Alayhi Wasallam yang mengatakan : "Apabila kamu melihat kemungkaran, cegahlah dengan tanganmu, apabila tidak mampu, cegah dengan lisan /ucapanmu, dan bila tidak mampu, dengan hatimu; dan inilah selemah-lemah iman". 

InsyaAllah segera ada pembuktian dari pihak pihak yang bertekad melaksanakan "amar ma'ruf nahi munkar', sehingga kita benar- benar menerima dan merasakan keadilan  bernegara dan bermasyarakat, dalam memilih pemimpin yang amanah !

InsyaAllah real-count akan berbicara menentukan segala galanya. Perubahan Indonesia Berkeadilan  Makmur Sejahtera. AMIN....

Kebenaran bisa disalahkan tapi tidak bisa dikalahkan. Nasrun minallah, wa fathun qariib.

fimdalimunthe55@gmail.com @namiragraha

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian, oleh Ferry Is Mirza (fim) Wartawan Utama PWI Dewan Pers, refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Rabu 4 Sya'ban 1445 H, 14 Februari 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarakatuhu

1 dari 6 Hak Sesama Muslim adalah Saling meNasihati

NASIHAT adalah suatu hal yang sarat akan ajaran agama Islam. Agama Islam sangat masyhur terhadap keistimewaannya berupa nasihat. Sejatinya nasihat tidak hanya dibutuhkan oleh hati hati yang lalai atau hati-hati yang sudah mulai merunduk kepada dosa dan maksiat. Nasihat juga dibutuhkan oleh jiwa- jiwa yang mulai berpaling dari Allah dan RasulNya, juga sebagai pengingat untuk senantiasa mengamalkan amalan-amalan saleh dan meninggalkan maksiat. Bahkan, nasihat menjadi hal yang sangat ditekankan dalam agama. 

Allah Ta’ala berfirman, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar- benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, nasihat- menasihati supaya menaati kebenaran, dan nasihat- menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengkategorikan nasihat termasuk dari enam hal yang menjadi hak sesama muslim. Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

“Hak seorang muslim terhadap seorang muslim ada enam perkara.” Lalu, beliau ditanya, “Apa enam perkara itu, wahai Rasulullah ?” Jawab beliau, “Bila engkau bertemu dengannya, ucapkankanlah salam kepadanya. Bila dia mengundangmu, penuhilah undangannya. Bila dia meminta nasihat, berilah dia nasihat. Bila dia bersin lalu dia membaca tahmid, doakanlah semoga dia memperoleh rahmat. Bila dia sakit, kunjungilah dia. Dan bila dia meninggal dunia, ikutlah mengantar jenazahnya ke kubur.” (HR. Muslim 4023)

Sesungguhnya nasihat adalah perangai teragung dari keimanan. Terlihat jelas bahwa orang-orang yang beriman sangat cinta terhadap nasihat sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan dalam surah Al-‘Ashr. Sebaliknya, orang- orang kafir tidak suka terhadap nasihat. 

Allah Ta’ala berfirman menghikayatkan perkataan Nabi Shalih ‘alaihissalam, “Dan aku telah memberi nasihat kepada kalian, tetapi kalian tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat.” (QS. Al-A’raf: 79)

Nasihat adalah karakteristik orang-orang yang mulia. Karena orang-orang yang mulia pasti mencintai sebuah nasihat. Nasihat merupakan bukti dari sebuah kejujuran, ketulusan, dan bukti dari sebuah cinta. Karena jika seseorang mengetahui sebuah kebaikan, dia ingin orang lain mengetahui dan melakukan kebaikan yang serupa. 

Nabi Shallallahu ‘aAlaihi Wasallam bersabda, “Tidaklah beriman salah seorang dari kalian (dengan keimanan yang sempurna) sampai dia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari 12)

Fitrah orang beriman adalah menyukai nasihat

Hal ini merupakan fitrah dari orang yang beriman. Karena orang yang beriman akan mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. Ketika dia mengetahui sebuah kebaikan, maka tentu dia pun senang tatkala saudaranya mengetahui kebaikan yang sama. Sebaliknya orang yang rusak fitrahnya, ia tidak akan menyukai nasihat. Bahkan, sulit baginya untuk menerima nasihat. Sehingga, kewajiban kita untuk menasihatinya. Kalau ia tidak ingin menerima nasihat, maka kita tidak lagi menasihatinya. 

Allah Ta’ala berfirman; “Oleh sebab itu, berikanlah peringatan jika peringatan itu bermanfaat.” (QS. Al ‘Ala: 9)

Sebagian ulama menafsirkan  dengan syarthiyyah. Sehingga, maknanya adalah berikanlah manfaat jika peringatan itu bermanfaat. Jika peringatan itu tidak bermanfaat, maka jangan berikan kembali peringatan atau nasihat tersebut. Namun, sejatinya manfaat itu akan kembali kepada orang yang menasihati, baik nasihat itu diterima ataupun tidak. (Tafsir Juz ‘Amma, hal.164 karya Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin)

Nasihat merupakan sebuah lambang dari kasih sayang. Sebagaimana orang tua yang sayang dan cinta kepada anak- anaknya, tentu ia akan menasihati anaknya untuk senantiasa melakukan kebajikan dan meninggalkan kemaksiatan. Tidak membiarkan anak- anaknya tenggelam di dalam dosa dan maksiat. Suami yang cinta terhadap istrinya, ia akan senantiasa memberikan arahan dan nasihat terhadap istrinya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda kepada Malik bin Huwairits ketika hendak pulang ke kampungnya,

“Kembalilah kepada keluarga kalian dan tinggallah bersama mereka. Ajarilah mereka dan perintahkan (untuk salat).” (HR. Bukhari 631)

Nasihat juga merupakan tanda seseorang memperoleh taufik dari Allah Ta’ala. Di antara tanda-tanda seseorang mendapatkan taufik adalah seseorang berusaha untuk memberikan nasihat. Di antaranya juga adalah seseorang menerima nasihat. 

Dalam menerima nasihat, manusia terbagi menjadi empat tingkatan: Pertama: Menasihati dan menerima nasihat. Dan ini adalah tingkatan yang paling utama. Kedua: Tidak menasihati dan tidak menerima nasihat. Dan ini adalah tingkatan yang paling buruk. Ketiga: Tidak menasihati dan menerima nasihat. Keempat: Menasihati dan tidak menerima nasihat. 

Dan nasihat merupakan hakikat dari agama yang sesungguhnya. Karena agama Islam dibangun di atas nasihat. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Agama itu adalah nasihat.” (HR. Muslim no. 55)

Dalil-dalil bahwasanya para nabi dan rasul memiliki karakter penasihat

Oleh karena itu, para nabi dan rasul memiliki karakter sebagai “penasihat”. Allah Ta’ala mengabarkan tentang Nabi Nuh ‘alaihis salam tatkala berbicara dengan kaumnya. 

Allah berfirman, “Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Rabbku. Dan aku memberi nasihat kepadamu. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-A’raf: 62)

Allah Ta’ala juga berfirman tentang Nabi Hud ‘alaihis salam, “Aku menyampaikan amanat-amanat Rabbku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang terpercaya bagimu.” (QS. Al-A’raf: 68)

Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Shalih ‘alaihis salam, “Maka, Shalih meninggalkan mereka seraya berkata, ‘Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Rabbku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat.'” (QS. Al-A’raf: 79)

Dalil-dalil dari sahabat Nabi tentang nasihat

Para sahabat radhiyallahu ‘anhum juga berbaiat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk menunaikan nasihat kepada kaum muslimin. Sebagaimana dalam hadis Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

“Aku telah membai’at Rasulullah untuk menegakkan salat, menunaikan zakat, dan menasihati kepada setiap muslim.” (HR. Bukhari 524 dan Muslim 56)

Dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku mendatangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, kemudian aku berkata, ‘Aku membai’at engkau untuk Islam.’ Lalu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberi syarat, ‘Dan menasihati kepada setiap muslim.’ Maka, aku membai’at beliau untuk perkara itu.” (HR. Bukhari no. 58)

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang nasihat. Mengingat betapa agungnya kedudukan nasihat dalam agama, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menafsirkan agama dengan nasihat, karena nasihat mencakup agama. Nabi Shallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Agama itu adalah nasihat.”

fimdalimunthe55@gmail.com #edisipemilu

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian, oleh Ferry Is Mirza (fim) Wartawan Utama PWI Dewan Pers, refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Selasa 3 Sya'ban 1445 H, 13 Februari 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarakatuhu

Tenang, Hanya Ada Dalam Jaminan Allah

KETENANGAN sangat dirindukan oleh manusia. Banyak manusia berupaya menjangkau ujung ujung dunia berharap hidup tenang. Namun kebanyakan gagal hidup tenang meski sudah ngumpet di tempat tenang. Apalagi masa tenang --seperti sekarang karena terkait Pemilu--, yang makin membuat hati tak tenang. Ya gak ? Mengapa demikian ?

Karena ketenangan itu berada di hati bukan fisik. Fisik, misalnya tempat yang tenang dan damai hanya membantu mengkondisikan saja. Selama hati tak tenang maka mau berada di Antartika yang sangat sangat tenang tanpa manusia lain pun tetap tak bisa tenang.

Sementara ketenangan hati itu hanya berasal dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dengan cara mengingat Allah. Mengingat Allah pada hati, lisan dan amal. Mengingat Allah dalam hati yang melahirkan lisan yang sesuai syariat Allah. Juga melahirkan amal yang sesuai perintah dan larangan Allah. Itulah dzikir yang benar.

Dalam Surah Ar-Ra’d Ayat 28 Allah Ta'ala berfirman ; "(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram."

Jika hidup kita benar. Hati beriman yang selalu menuju Allah dan lisan yang aman sesuai syariat Allah. Kemudian amal kita secara keseluruhan sesuai dengan perintah Allah. Maka hidup kita insyaallah dijamin oleh Allah menjadi tenang.

Namun jika hidup kita berantakan. Hati ga mau tunduk kepada perintah Allah. Takabur dan sombong. Gak mau taat kepada syariat Allah. Hati yang licik menghalalkan segala cara agar menang. Penuh dengan intrik yang keji, culas, manipulatif, dusta, dan segala keburukan untuk menipu rakyat dan menghancurkan lawan politik. Maka hidup kita pasti tidak tenang. Penuh kekhawatiran. Penuh ketakutan. Penuh kesombongan. Penuh kebencian. Meskipun dalam masa tenang. 

Apalagi jika selama ini kita pun mengkianati Allah, Rasul dan orang beriman. Dengan menjauhkan syariat Allah dari kehidupan umat Islam. Membenci dan memfitnah para da'i yang Mukhlis dengan berbagai label radikal dll agar umat menjauhi mereka. Agar Islam kaffah jauh dari kehidupan. Maka pastinya hidup kita akan dimurkai oleh Allah. 

Masa tenang hanya akan menghasilkan ketenangan jika kita bener bener taat total kepada Allah. Beriman, taat dan berupaya terus menapaki ketaatan hingga Istiqomah dan berujung pada Husnul khatimah. Pada saat itulah Allah menyambut kita seperti dalam firmanNya dalam Surah al-Fajr Ayat 27-28:

"Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya."

Dalam zubdatut tafsir dikatakan : (Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas) Puas dengan pahala yang Allah berikan kepadamu (lagi diridhaiNya) Diridhai di sisiNya. (Zubdatut Tafsir)

Mau hidup tenang ? Jaga ibadah, ngaji, dzikir dan beramal kebaikan dengan sabar, sadaqah, senyum, menolong yang lemah, meminta dan memberi maaf

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian, oleh Ferry Is Mirza (fim) Wartawan Utama PWI Dewan Pers, refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Senin 2 Sya'ban 1445 H, 12 Februari 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarakatuhu

Jagalah Shalat karena Tiang Agama dan Kunci Semua Amalan yang Pertama Dihisab

“Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaroka wa Ta’ala  mengatakan, ’Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah ?’ Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti itu.”

Dalam riwayat lainnya, ”Kemudian zakat akan (diperhitungkan) seperti itu. Kemudian amalan lainnya akan dihisab seperti itu pula.”

(HR. Abu Daud 864, Ahmad 2: 425, Hakim 1: 262, Baihaqi, 2: 386 Al Hakim mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih dan tidak dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim, penilaian shahih ini disepakati oleh Adz Dzahabi)

Pelajaran yang terdapat dalam Hadits

Shalat adalah tiang Islam. Islam seseorang tidaklah tegak kecuali dengan shalat. Shalat adalah amalan yang pertama kali akan dihisab. Amalan seseorang bisa dinilai baik buruknya dinilai dari shalatnya.

Sholat sunnah akan menyempurnakan shalat wajib. Perkara terakhir yang hilang dari manusia adalah shalat.

Shalat adalah akhir wasiat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Barang siapa yang berani meremehkan sholat maka dia dengan yang lainnya akan lebih berani meremehkannya (Umar bin Khotob radhiallahu anhu)

Imam Ahmad –rahimahullah- juga mengatakan perkataan yang serupa, “Setiap orang yang meremehkan perkara shalat, berarti telah meremehkan agama. Seseorang memiliki bagian dalam Islam sebanding dengan penjagaannya terhadap shalat lima waktu. Seseorang yang dikatakan semangat dalam Islam adalah orang yang betul-betul memperhatikan shalat lima waktu. Kenalilah dirimu, wahai hamba Allah. Waspadalah ! Janganlah engkau menemui Allah, sedangkan engkau tidak memiliki bagian dalam Islam. Kadar Islam dalam hatimu, sesuai dengan kadar shalat dalam hatimu.”..

Tema hadist yang berkaitan dengan Al-Quran

Allah membuka amalan seorang muslim dengan shalat dan mengakhirinya pula dengan shalat. Ini juga yang menunjukkan ditekankannya amalan shalat.

“Sesungguhnya beruntunglah orang- orang yang beriman, (yaitu) orang orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang- orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang- orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang- orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat- amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang- orang yang memelihara shalatnya.” (QS. Al Mu’minun: 1-9)

Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan umatnya untuk memerintahkan keluarga mereka supaya menunaikan shalat.

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha : 132)

Marilah jaga keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah Ta'ala dengan istiqamah menunaikan shalat fardhu lima waktu dan sholat sunnah. Serta amalan ibadah lainnya.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian, oleh Ferry Is Mirza (fim) Wartawan Utama PWI Dewan Pers 3170, refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Ahad 1 Sya'ban 1445 H, 11 Februari 2024

Assalammualaykum Warahmatallahi Wabarakatuhu 

Menjaga Ukhuwah Umat Wajib Bersatu

Di tanah Air, ukhuwah islamiyah tampak masih belum cukup kuat dan mudah goyah. Momen Pemilu dan Pilpres seperti saat ini, misalnya, masih sering memunculkan konflik, khususnya di akar rumput. Konflik ini seakan memutus tali persaudaraan masyarakat yang sebelumnya damai- damai saja. 

Tentu semua ini ironis dan bertolak belakang dengan nas-nas al-Quran maupun al-Hadits yang menyatakan bahwa kaum Muslim bersaudara. Mereka bahkan ibarat satu tubuh.

Alhasil, di sinilah seruan global “It’s Time to Be One Ummah (Inilah Saatnya Umat Bersatu)” menjadi amat relevan dan urgen saat ini.

Umat Islam harus selalu menyadari bahwa menjaga persatuan umat dan memelihara ukhuwah islamiyah adalah kewajiban setiap Muslim. Karena itu lalai atau bahkan merusak jalinan persatuan umat dan ukhuwah islamiyah adalah dosa, sebagaimana meninggalkan bentuk kewajiban-kewajiban yang lain. 

Kewajiban menjaga persatuan umat dan ukhuwah islamiyah ini didasarkan pada sejumlah dalil al-Quran maupun as-Sunnah. 

Pertama: Dalil al-Quran. Di antaranya adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala berikut: "Sungguh kaum Mukmin itu bersaudara. Karena itu damaikanlah di antara dua saudara kalian…" (QS. al-Hujurat : 10)

Dari ayat di atas tersurat bahwa siapapun, asalkan Mukmin, adalah bersaudara. Sebabnya, dasar ukhuwah (persaudaraan) adalah kesamaan akidah. Ayat ini menghendaki ukhuwah kaum Mukmin harus benar-benar kuat, bahkan lebih kuat daripada persaudaraan karena nasab. Persaudaraan nasab bisa terputus karena perbedaan agama. Sebaliknya, ukhuwah islamiyah tidak terputus karena perbedaan nasab. Bahkan persaudaraan nasab dianggap tidak ada jika kosong dari persaudaraan (akidah) Islam (Ash-Shabuni, Shafwah at-Tafaasir, 3/217)

Dalam ayat lain, Allah Subhanahu Wa Ta'ala juga berfirman: "Berpeganglah kalian semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah kalian bercerai-berai..." (QS Ali Imran : 103)

Imam Ibnu Katsir menyatakan bahwa tali Allah (habl Allâh) adalah al-Quran yang diturunkan dari langit ke bumi. Siapapun yang berpegang teguh pada al-Quran berarti ia berjalan di atas jalan lurus. Ayat tersebut merupakan perintah Allah Subhanahu Wa Ta'ala kepada mereka untuk berpegang pada al-jamâ‘ah (persatuan) dan melarang mereka dari tafarruq (bercerai- berai). Dari sini terang sekali bahwa keterceraiberaian tersebut disebabkan Islam tidak dijadikan sebagai pegangan dalam mengatur kehidupan (Ibn Katsir, Tafsîr al-Qur'ân al-'Azhîm, I/477)

Agar kaum Muslim tidak tercerai-berai dari Islam sebagai jalan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, al-Quran menegaskan:

"Yang diperintahkan ini adalah jalanku yang lurus. Karena itu ikutilah jalan tersebut dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan lain, karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalanNya. Yang demikian adalah diperintahkan Allah kepada kalian agar kalian bertakwa." (QS. al-An‘am : 153)

Ayat di atas dengan terang menunjukkan bahwa jika umat Islam tidak benar- benar mengikuti jalan Islam, malah justru mengikuti jalan-jalan yang bertolak belakang dengan Islam, niscaya jalan- jalan yang bukan berasal dari Islam tersebut akan menceraiberaikan mereka dari jalan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Itulah sebetulnya yang, disadari atau tidak, dialami kaum Muslim saat ini saat mereka memilih sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) sebagai jalan hidup mereka. 

Kedua: Dalil as-Sunnah. Rasulullah  Shalallahu Alayhi Wasallam antara lain bersabda: "Mukmin dengan Mukmin lainnya bagaikan satu bangunan. Sebagiannya menguatkan sebagian lainnya." (HR Bukhari, at-Tirmidzi, an-Nasa'i dan Ahmad)

Sebaliknya, banyak hadis yang melarang kaum Muslim untuk menyerukan perpecahan atas dasar 'ashabiyah. Di antaranya sabda Nabi Shalallahu Alayhi Wasallam berikut : 

"Tidak termasuk golongan kami orang yang menyerukan 'ashabiyah. Tidak termasuk golong kami orang yang berperang atas dasar 'ashabiyah. Tidak termasuk golongan kami orang yang mati di atas dasar 'ashabiyah." (HR Abu Dawud)

Khilafah Pemersatu Umat

Persatuan umat Islam yang wajib itu tidak akan terwujud kecuali dalam institusi Khilafah. Karena itu menegakkan kembali Khilafah adalah wajib. Ini sesuai dengan kaidah syariah: ”Mâ lâ yatimmu al-wâjib illâ bihi fahuwa wâjib" (Selama suatu kewajiban tidak sempurna pelaksanaannya karena sesuatu perkara, maka sesuatu tersebut wajib adanya). 

Generasi terbaik umat ini, yaitu para Sahabat, telah berijmak akan kewajiban menegakkan Khilafah ini. Imam Al-Haitsami menyatakan, ”Ketahuilah, para Sahabat ra. telah berijmak (bersepakat) bahwa mengangkat imam (khalifah) setelah zaman nubuwwah (kenabian) berakhir adalah wajib. Bahkan mereka menjadikan itu sebagai kewajiban terpenting. Terbukti mereka lebih menyibukkan diri dengan kewajiban tersebut dengan menunda penguburan jenazah Rasulullah Shalallahu Alayhi Wasallam.” (Al-Haitsami, Ash-Shawâ'iq al-Muhriqah, hlm.17)

Menurut Imam al-Qurthubi, tidak ada perbedaan pendapat mengenai kewajiban tersebut (mengangkat seorang khalifah atau menegakkan Khilafah) di kalangan umat dan para imam mazhab (Al-Qurthubi, Tafsîr al-Qurthubî, 1/264)

Bahkan syariah menegaskan di tengah kaum Muslim hanya boleh ada seorang khalifah saja pada satu waktu bagi seluruh kaum Muslim sedunia. Dasarnya antara lain sabda Nabi Shalallahu Alayhi Wasallam :

"Jika dua orang dibaiat sebagai khalifah, maka yang kedua harus diperangi." (HR Muslim)

Menurut Imam an-Nawawi, berdasarkan hadits ini akad Khilafah tidak boleh diberikan kepada dua orang (An-Nawawi, Syarh an-Nawawi ‘alâ Muslim, 6/326)

Kesatuan Khilafah ini penting agar umat tidak terpecah-belah dan tercerai-berai seperti saat ini. Karena itulah Dr. Mushthafa Hilmi dalam kitabnya, Nizhâm al-Khilâfah fî al-Fikri al-Islâmî, menyatakan, “Persatuan umat itu mengharuskan mereka dihimpun dalam satu sistem pemerintahan, yaitu Khilafah.” 

Penegakan Khilafah dan pengangkatan seorang khalifah merupakan kunci pemenuhan berbagai kemaslahatan umat manusia sedunia. Khilafah juga menjadi salah pilar penting agama Islam. Tanpa Khilafah, syariah Islam secara kâffah tidak bisa ditegakkan secara sempurna. Khilafah dan Khalifah juga merupakan kunci bagi perwujudan persatuan hakiki seluruh umat Islam sedunia. 

Dengan semua itu wajar jika menegakkan Khilafah dan mengangkat seorang khalifah dinilai sebagai kewajiban agama yang paling agung dan aktivitas taqarrub kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang paling utama (Lihat: Dhiya’ ad-Din ar-Rais, Al-Islâm wa al-Khilâfah, hlm 99; Ibn Taimiyah, As- Siyâsah asy- Syar‘iyyah hlm 161)

Alhasil, mari kita jadikan insitusi pemerintahan Islam global pemersatu umat sedunia ini, yakni Khilafah ‘alaa minhaaj an-nubuwwah, sebagai agenda bersama yang wajib diperjuangkan oleh seluruh komponen umat Islam sedunia. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman : "Sungguh umat kalian ini adalah satu umat. Aku adalah Tuhan kalian. Karena itu bertakwalah kalian (kepada-Ku)." (QS. al-Mu’minun : 52)

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian, oleh Ferry Is Mirza (fim) Wartawan Utama PWI Dewan Pers 3170, refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Kamis 27 Rajab 1445 H, 8 Februari 2024

Assalamu'alaikum warahmatallahi wabarakatuhu

Dengan Ghirah Isra Miraj' Mengubah Diri dan Menjauhi Perbuatan Tak Terpuji

KAMIS HARI INI bertepatan dengan peringatan Isra Miraj'. Sepatutnya kita meneladani ajaran Rasulullah Shalallahu Alayhi Wasallam sebagai utusan Allah Subhanahu Wa Ta'ala Yang Maha Segalanya Maha Pengasih lagi Penyayang.

JIKA kita tahu apa yang ingin kita capai dalam hidup, maka kita akan lebih terinspirasi untuk berubah menjadi lebih baik.

Kehidupan sosial senantiasa bersifat dinamis, karena itu selalu berubah dan berganti. Agar perubahan dan pergantian itu sesuai dengan tuntunan Al-Quran, maka setiap diri orang muslim harus berusaha mengarahkannya pada perubahan yang terpuji.

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri" (QS. Ar Ra'du : 11)

Islam juga agama yang menghendaki perubahan, mengeluarkan umat manusia dari zaman kegelapan dan kedzaliman menuju kehidupan yang terang-beneran.

"Alif Lam Ra (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang- benderang dengan izin Tuhan, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa, Maha Terpuji" (QS. Ibrahim : 1)

"Larisnya dagangan kita tidak mengurangi jatah rezeki orang lain, larisnya dagangan orang lain pun tidak mengurangi jatah rezeki kita meski yang kita jual sama jenisnya."

Maka lenyapkan rasa iri dan dengki dalam hati. “Sesungguhnya Allaah Ta'ala meletakkan kekuatan orang beriman di dalam hatinya, bukan pada anggota tubuhnya. Tidakkah Anda memperhatikan orang tua yang sudah lemah fisiknya tapi masih mampu berpuasa di siang yang sangat panas dan bangun di malam hari untuk melakukan shalat malam? Padahal banyak orang-orang yang masih muda lagi kuat fisiknya tidak sanggup untuk melaksanakannya.” (Syumaith bin 'Ajlan Rahimahullaah).

Menjelang kematiannya, sahabatnya bertanya Kenapa anda menangis ? “Aku menangis bukan karena takut mati atau karena kecintaanku kepada dunia. Akan tetapi, yang membuatku menangis adalah kesedihanku karena aku tidak bisa lagi berpuasa dan shalat malam.” (Amir bin ‘Abdi Qais Rahimahullaah)

“Hindarilah oleh kalian kekenyangan karena terlalu banyak makan dan minum, sesungguhnya hal itu dapat merusak tubuh, menimbulkan penyakit dan membuat malas untuk beribadah.”.(Umar bin al-Khattab Rodhiyallaahu Anhu)

Sekarang marilah kita berdoa dan bertaubat. InsyaAllah dengan niat baik ini Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberikan usia barakah, sehat wal afiya, kelancaran dalam segala urusan kita... 

Keberkahan dan keluasan rezeki kita. Dijaga dari segala marabahaya. Dijaga aqidah kita beserta keluarga dan anak cucu.

Dan ditutup umur kita semua dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin Yaa Robbal Aalamiin.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian, oleh Ferry Is Mirza (fim) Wartawan Utama PWI Dewan Pers, refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Rabu 26 Rajab 1445 H, 7 Februari 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarakatuhu

Meraih Ridha ALLAH dengan Empat Hal

Tanda tanda akhir zaman kini sudah tampak. Yakni, kita jumpai semakin sedikit kebaikan, semakin banyak kebathilan dan kemungkaran, semakin banyak yang menentang kebenaran, dan banyak fitnah yang menyesatkan, fitnah syubhat, keraguan, berpaling dari kebenaran, fitnah syahwat kekuasaan dan condongnya manusia cinta kepada dunia.

Politik itu persoalan kekuasaan. Begitulah pandangan rakyat ketika dihadapkan dengan urusan politik di masa sekarang menjelang Pilpres dan Pileg. Berbagai cara mereka lakukan. Mulai dari cara persuasif, simpatik sampai dengan cara-cara represif, culas nan curang. Mulai dari yang malu malu kucing sampai yang terang- terangan. Saling sikut, saling jegal dan saling sindir. Masing-masing berusaha menonjolkan diri beradu strategi demi duduk di kursi kekuasaan. Negara yang semula menjunjung tinggi "demokrasi" terdegradasi menjadi "demi kursi".

Ketika syahwat kekuasaan sudah berbicara, kapabilitas intelektual, etika dan kompetensi Capres dan Cawapres menjadi urusan belakangan, yang penting  dapat meraih kekuasaan.

Padahal, sungguh, jabatan itu bukan untuk diperebutkan. Amat berat pertanggung jawaban orang-orang yang berada di lingkar kekuasaan. Jika berani bermain-main dengan jabatan, yang merata bukan keadilan dan kesejahteraan, tetapi malah ketimpangan dan kemiskinan bagi rakyat. Karena jabatan yang mereka pegang adalah urusan hajat hidup umat. Sedikit saja salah mengambil kebijakan, bisa berakibat ratusan juta jiwa terdzalimi.

Andai kursi jabatan yang mereka perebutkan itu adalah kursi listrik yang menyengat, niscaya mereka tak akan ribut. Andai mereka tahu bahwa keadilan seorang pemimpin lebih baik dari ibadah setahun, karena keadilannya dirasakan lebih dari ribuan orang, niscaya mereka akan berhati hati. Andai mereka tahu jika berbuat zalim sehari saja, bisa mengakibatkan banyak rakyatnya tersiksa, niscaya mereka akan mundur teratur.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Akan datang suatu masa, di mana orang yang istiqamah bersabar (berpegang teguh) pada agamanya seperti orang yang sedang menggenggam bara api.” 

(HR. At-Tirmidzi 2260, hadits dari Anas bin Malik, lihat Shahiihul Jaami’ ash-Shaghiir 8002)

Al Hafidz Abu Naim dalam Hilyatul Aulya dari Hatim al Asham menyatakan, "Barangsiapa yang istiqamah berada dalam empat hal, maka ia akan mendapat ridha Allah. Yakni tsiqah kepada Allah, tawakkal, ikhlas, dan ma'firat. Dan segala sesuatunya akan sempurna dengan ma'rifat kepada Allah." (Fashlu al Khitab, Fi Zuhud, war Raqaaiq wal Adab, Juz 2)

Adapun sikap yang pertama adalah Tsiqah (percaya) kepada Allah Azza wa Jalla, artinya membenarkan apa-apa yang diperintah, dikabarkan, dan dijanjikan Allah Azza wa Jalla kepada kita. Karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla adalah sebaik-baik perkataan, sebaik-baik penepat janji, dan Dia tidak pernah sedikitpun menyalahi akan janjinya. 

Firman Allah Azza wa Jalla, "Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, mereka akan Kami masukkan ke dalam surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal  di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari Allah?" (QS. An Nisa: 122)

Kemudian sikap yang kedua adalah Tawakkal kepada Allah Azza wa Jalla. Tawakal kepada Allah Azza wa Jalla adalah sesuatu yang dituntut selain kita melakukan usaha sebagai sebuah kausalitas. Tawakkal bukan sikap pasrah. Tawakkal adalah merupakan sikap keyakinan hati, keimanan, bahwa hanya Allah Azza wa Jalla satu-satunya Dzat yang layak dijadikan sandaran, dan penentu atas segala keberhasilan yang kita usahakan. 

Allah Azza wa Jalla berfirman, "Dan hanya kepada Allah kalian bertawakkal, jika kalian orang-orang yang beriman." (QS. Al Maidah: 23)

Kemudian sikap yang ketiga adalah Ikhlas. Sikap ikhlas ini  dituntut dalam segala perkataan, perbuatan, dan serangkaian amal ibadah lainnya. Hanya kepada Allah Azza wa Jalla segala perkataan dan berbuatan kita persembahkan. 

Allah  Azza wa Jalla berfirman, "Maka beribadahlah kalian kepada Allah dengan penuh keikhlasan, baginya agama ini, walaupun orang-orang kafir membenci". (QS. Ghaafir: 14)

Dan yang terakhir, yang ke empat adalah Ma’rifat kepada Allah Azza wa Jalla. Ma'rifat kepada Allah Azza wa Jalla, yakni segala  pengetahuan dan wawasan kita yang meniadakan kebodohan. Siapa saja yang memiliki pengetahuan yang mendalam akan berbeda dengan orang yang bodoh. Siapa yang mengetahui tidak seperti orang yang tidak mengetahui. Orang berilmu berbeda dengan orang yang tidak berilmu. 

Allah Azza wa Jalla berfirman; "Katakanlah, apakah sama orang-orang yang mengetahhui dengan orang-orang yang tidak mengetahui ? Sesungguhnya hanyalah orang yang bepengetahuan yang akan mengambil pelajaran." (QS. Az Zumar: 9)

InsyaAllah, Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayahNya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa tsiqah kepada Allah, tawakkal, ikhlas, dan ma'firat untuk meraih ridhaNya. Aamiin Yaa Rabb.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian, oleh Ferry Is Mirza (fim) Wartawan Utama PWI Dewan Pers, refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Selasa 25 Rajab 1445 H, 6 Februari 2024

Assalammualaykum Warrahmatallahi Wabarakatuhu

Kendalikan Nafsu, Agar Tak Terjerumus ke Neraka

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah mengatakan : “Hawa nafsu adalah kecondongan jiwa kepada sesuatu yang selaras dengan keinginannya.” 

Asy-Sya’bi rahimahullah berkata, “Hawa nafsu dinamakan _al-hawa_ karena bisa menjerumuskan pemiliknya ke dalam Neraka.” 

Orang yang _ittiba'ul hawa_ (memperturutkan hawa nafsu) dengan menghalalkan segala cara melakukan keculasan, kecurangan, korupsi, kolusi dan nepotisme hakikatnya mencari kenikmatan semu dan kepuasan sesaat di dunia, tanpa berpikir panjang. Akibatnya harus rela kehilangan kenikmatan yang hakiki, baik di dunia maupun di akhirat...

Apakah hawa nafsu itu tercela ? Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah menjelaskan dalam kitab tersebut bahwa hawa nafsu diciptakan ada pada diri manusia guna menjaga kelangsungan hidupnya. Sebab, kalaulah tidak ada nafsu makan, minum dan menikah, tentulah manusia akan mati dan punah, karena tidak makan, minum dan menikah. Hawa nafsu mendorong manusia meraih perkara yang diinginkannya, sedangkan marah mencegahnya dari perkara yang mengganggunya dalam kehidupannya. Maka tidak selayaknya hawa nafsu dicela atau dipuji secara mutlak tanpa pengecualian. Nafsu yang diperbolehkan adalah selama nafsu tersebut tidak menyelisihi kebenaran...

Dalam menjalani kehidupan, hawa nafsu yang terpuji ibarat teman perjalanan bagi kita, sedangkan hawa nafsu yang tercela adalah musuh kita...

Setelah umat Islam berhasil memenangkan peperangan hingga menjadikan Makkah dan Madinah sebagai basisnya umat Islam, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengatakan kepada para sahabat bahwa saat ini umat Islam telah kembali dari jihad kecil dan akan menuju jihad besar. Kemudian para sahabat bertanya apakah yang dimaksud dengan jihad besar itu, dan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengatakan jihad besar itu adalah jihad melawan hawa nafsu,

“Kita telah kembali dari jihad kecil dan menuju jihad besar, para sahabat bertanya, apakah jihad besar itu. Berkata; seorang hamba memerangi hawa nafsunya.” (HR. Baihaqi (373)

Nafsu yang ada pada diri kita harus mampu kita kendalikan dengan senantiasa berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla, shalat, memohon pertolongan dan petunjuk dariNya ke jalan yang benar dan diridhaiNya...

Allah Azza wa Jalla mencela _ittiba’ul hawa_ (mengikuti hawa nafsu) di beberapa ayat yang banyak dalam Al-Qur`an, di antaranya adalah firmanNya,

“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?” (QS. Al-Furqaan: 43)

Allah Azza wa Jalla berfirman, “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmuNya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah membiarkannya sesat. Maka mengapa kalian tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jaatsiyah: 23)

Allah Azza wa Jalla berfirman, “Maka jika mereka tidak menjawab tantanganmu ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka belaka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Qashash: 50)

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayahNya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa mengendalikan hawa nafsu dari kenikmatan sesaat agar merasakan kenikmatan hakiki beribadah kepadanyaNya untuk meraih ridhaNya. Aamiin Ya Rabb.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian, oleh Ferry Is Mirza (fim), refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Kamis 20 Rajab 1445 H, 1 Februari 20024

Assallammualaykum Warahmatullahi Wabarakatuhu

Rezeki, Jodoh dan Semua Tercatat di Lauhul Mahfuzh

Apakah telah tercatat bahwa saya akan menikah dengan si Fulan tertentu misalnya? 

Adakah rezeki itu ditentukan atau tergantung dengan usaha dan kepayahan seseorang ? Apakah dalilnya ?

Asy-syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjawab : “Sejak Allah ‘Azza Wa Jalla menciptakan pena, segala sesuatu sampai hari kiamat sudah tercatat di Lauhul Mahfuzh. Sebab, saat pertama kali menciptakan pena, Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman kepada pena, “Tulislah!” Pena bertanya, “Wahai Rabbku, apakah yang harus aku tulis ?”

Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman, “Tulislah apa saja yang akan terjadi.” Berjalanlah pena pada saat itu menuliskan apa yang akan terjadi sampai hari kiamat.

Ada kabar yang pasti dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bahwa apabila telah berlalu empat bulan dari usia janin dalam rahim ibunya, Allah _‘azza wa jalla_ mengutus seorang malaikat yang akan meniupkan ruh pada si janin dan menuliskan rezeki, ajal, amal, dan sengsara atau bahagianya.

Rezeki sudah tercatat, tidak bertambah dan tidak berkurang. Akan tetapi, Allah _‘azza wa jalla_ menjadikan sebab-sebab yang dapat menambah dan mengurangi rezeki. Diantara sebabnya adalah seseorang bekerja untuk mencari rezeki, sebagaimana Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman, “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah untuk kalian, maka berjalanlah di penjurunya (untuk berusaha) dan makanlah dari rezeki yang Allah karuniakan dan hanya kepadaNya (kalian) kembali setelah dibangkitkan.” (QS. al-Mulk: 15)

Temasuk sebab pula adalah menyambung hubungan rahim (silaturahim) dalam bentuk birrul walidain (berbuat baik kepada kedua orang tua) dan menyambung hubungan dengan kerabat. 

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Siapa yang suka dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya dia menyambung rahimnya (silaturahim).”

Temasuk sebab beroleh rezeki adalah bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘Azza Wa Jalla janjikan dalam firmanNya, “Siapa yang bertakwa kepada Allah, Allah akan jadikan baginya jalan keluar dan Allah akan beri rezeki dari arah yang tidak dia sangka.” (QS. ath-Thalaq: 2-3)

Namun janganlah dikatakan bahwa rezeki sudah tercatat dan sudah ditentukan sehingga kita tidak perlu melakukan sebab-sebab (upaya) yang bisa menyampaikan kepada rezeki tersebut. Sebab, sikap seperti itu termasuk kelemahan. Sikap yang cerdas dan menunjukkan kekokohan adalah kita berusaha menempuh sebab yang mengantarkan menuju rezeki kita dan melakukan hal yang bermanfaat dalam urusan agama dan dunia.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Orang yang cerdas adalah yang menundukkan jiwanya dan beramal untuk persiapan kehidupan setelah mati. Adapun orang yang lemah adalah yang mengikuti keinginan hawa nafsunya lantas mengharapkan dari Allah angan- angannya.”

Sebagaimana rezeki telah tercatat dan ditakdirkan dengan sebab-sebabnya, demikian pula jodoh. Ia telah tercatat dan ditakdirkan dengan sebab-sebabnya. Setiap orang telah tercatat pasangan hidupnya, telah ditentukan dengan siapa dia akan menikah. Tidaklah tersembunyi bagi Allah ‘azza wa jalla sesuatu pun yang ada di bumi dan yang ada di langit.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian, oleh Ferry Is Mirza (fim), refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Rabu 19 Rajab 1445 H, 31 Januari 2024

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Berserah Hanya kepada Allah

Di dalam lubuk hati, bisa saja kita menyimpan kekecewaan atau bahkan menyalahkan diri kita sendiri karena tidak mampu mengerjakan apa yang sudah kita rencanakan. 

"Ya Allah, aku memohon kepadaMu jiwa yang merasa tenang kepadaMu, yang yakin akan bertemu denganMu, yang ridha dengan ketetapanMu, dan yang merasa cukup dengan pemberianMu.” (HR. Thabrani)

Maka dari itu, sebaiknya kita mengatur ulang rencana yang kita buat, jalankan secara perlahan tapi pasti, agar kita tidak gelisah terus-menerus.

inna ma'al-'usri yusra. "Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (QS. Al Insyira :6)

Di dalam Al-Qur'an terdapat petunjuk, termasuk juga surat penenang hati bagi seseorang yang sedang merasakan kegelisahan dalam hidupnya.

Allazina amanụ wa tatma 'innu qulubuhum bizikrillah, ala bizikrillahi tatma 'innul-qulub"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." (QS. Ar Ra'ad : 28)

InsyaAllah dengan niat baik ini Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberikan kelancaran dalam segala urusan kita... 

Keberkahan dalam rezeki kita... Dijaga dari segala marabahaya... Dijaga aqidah kita beserta keluarga dan anak cucu dari segala aliran dan ajaran yang menyimpang...

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian, oleh Ferry Is Mirza (fim), refrensi tafsir Alquran dan alhadits, Selasa 18 Rajab 1445 H, 30 Januari 2024

Assallammualaykum Warahmatullahi Wabarakatuhu

Istikamah Tidak Mudah

Seorang muslim dituntut untuk beristikamah dalam menjalankan dan mengamalkan syariat agama Islam. 

Allah Ta’ala berfirman, “Maka, tetaplah (di jalan yang benar), sebagaimana engkau (Nabi Muhammad) telah diperintahkan. Begitu pula, orang yang bertobat bersamamu. Janganlah kamu melampaui batas! Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hud : 112)

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala memerintahkan NabiNya agar istikamah. Yakni, dengan mengamalkan perintah dan menjauhi larangan. Perintah ini adalah perintah yang cukup memberatkan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata,

“Tidak ada satu ayat pun yang turun kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang lebih memberatkan dan menyulitkan beliau, melainkan ayat ini.” 

(Lihat Tafsir Al-Qurthubiy surah Hud ayat 112 dan Tafsir Al-Baghawiy dalam ayat yang sama)

Hal ini dikarenakan beratnya perkata istikamah. Untuk tetap tegar dan teguh di atas syariat Allah ini, bukanlah suatu hal yang mudah. Saking beratnya perintah ini, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebelumnya tidak memiliki uban. Tatkala turun ayat ini, beliau pun menjadi beruban. Dari sahabat Abdullah bin ‘Abbas, beliau bercerita,

“Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu berkata, “Wahai Rasulullah, engkau telah beruban.” Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Aku dibuat beruban oleh surah Hud, surah Al-Waqi’ah, surah Al-Mursalat, ‘Amma yatasa’alun (surah An-Naba), dan Idzasy syamsu kuwwirat (surah At-Takwir).” (Diriwayatkan  At- Tirmidzi 3297 disahihkan oleh Syekh Al-Albani)

Dikarenakan dalam surah-surah tersebut terdapat penyebutan tentang kaum-kaum terdahulu yang Allah timpakan azabNya kepada mereka, begitu pun tentang hari kiamat, dan perintah untuk beristikamah. Hal-hal inilah yang memberatkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. (Lihat Tuhfatul Ahwadziy Syarah Sunan At-Tirmidzi)

Penghalang-penghalang istikamah

Karena begitu beratnya perkara istikamah ini, yaitu untuk tetap tegar dan teguh di atas agama ini dengan menjalankan ketaatan dan meninggalkan larangan, maka istikamah terdapat banyak penghalangnya. Berikut ini di antara penghalang-penghalang istikamah yang harus dihindari:

Bersandar kepada rahmat Allah Ta’ala

Maksudnya, kebanyakan orang yang sulit untuk istikamah dikarenakan mereka bersandar kepada rahmat Allah Ta’ala dalam melakukan perbuatan dosa. Sehingga, mereka pun semakin jauh dari kata istikamah dan tenggelam dalam perbuatan dosa. 

Allah Ta’ala berfirman, “Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepadaNya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang- orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 56)

Allah firmankan bahwa rahmat Allah dekat dengan orang yang baik. Apakah orang-orang yang berbuat dosa pantas dikatakan sebagai orang-orang yang berbuat baik ?

Mereka hanya berharap kepada rahmat Allah Ta’ala dan tidak takut terhadap azab Allah. Yang seharusnya adalah rasa takut dan berharap akan rahmat Allah senantiasa berjalan beriringan dan keduanya tidak dapat dipisahkan. Maka, tidak bisa seseorang berbuat dosa dengan alasan karena rahmat Allah begitu luas. Tentu ini pemahaman yang keliru dan ini termasuk dari penghalang istikamah.

Mengikuti bisikan setan

Setan senantiasa membisikkan kepada hamba-hamba Allah Ta’ala agar tidak beristikamah. Inilah yang dikatakan oleh kepalanya setan, yaitu Iblis, kepada Allah,

“Ia (Iblis) menjawab, “Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalanMu yang lurus. Kemudian, pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al-A’raf: 16-17)

Ini sudah menjadi janji Iblis kepada Allah Ta’ala. Bahwa Iblis akan menyesatkan hamba hambaNya. 

Allah Ta’ala juga berfirman dalam ayat yang lain, “(Iblis) berkata, “Demi kemuliaanMu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang terpilih (karena keikhlasannya) di antara mereka.”   

Allah berfirman, “Maka, yang benar (adalah sumpahKu) dan hanya kebenaran itulah yang Aku katakan. Aku pasti akan memenuhi (neraka) Jahanam denganmu dan orang yang mengikutimu di antara mereka semuanya.” (QS. Shad: 85)

Sehingga, sebagai hamba Allah Ta’ala, kita harus berhati- hati. Jangan sampai termasuk dari pengikut bisikan- bisikan setan dan juga iblis. Karena mengikuti bisikan mereka merupakan penghalang untuk beristikamah.

Meremehkan dosa

Di antara penghalang untuk istikamah adalah seseorang meremehkan dosa. Sehingga, ia terjatuh ke dalam dosa tersebut. 

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Jauhilah oleh kalian sifat meremehkan dosa ! Karena dosa- dosa itu tidaklah berkumpul pada seseorang, melainkan akan membinasakannya.” 

(Diriwayatkan oleh Ahmad, 1: 402. Disahihkan oleh Al-Albani dalam At- Targhib  2470)

Dengan sebab dosa, seseorang dapat terhalang dari ibadah. Dengan sebab dosa, seseorang dapat terhalang dari mengerjakan kebajikan dan takwa. Dengan sebab dosa, seseorang dapat terhalang dari istikamah. Maka, berusahalah untuk menjauhi dosa-dosa yang Allah Ta’ala dan RasulNya Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah larang.

Lemah semangat dan panjang angan-angan

Seseorang yang lemah semangat dan panjang angan-angan akan sulit untuk istikamah. Sebagian orang ada yang hanya berangan-angan untuk beramal. Namun, ia tidak bergerak untuk beramal dan mencoba untuk istikamah. Ia tenggelam di dalam taswif (menunda- nunda) amalan dan tenggelam di dalam angan-angannya. Dalam sebuah syair dikatakan,

"Wahai orang-orang yang sibuk dengan dunianya. Sungguh ia telah tertipu dengan panjangnya angan- angan.

Kematian akan datang kepadanya secara tiba-tiba. Kubur pun akan menjadi perbendaharaan amalnya." [1]

Tentu masih banyak lagi penghalang- penghalang istikamah. Setidaknya keempat hal di atas yang benar-benar harus dihindari agar kita tetap istikamah. Karena istikamah bukan hal mudah, maka perlu adanya usaha lebih untuk bisa istikamah.

Tips agar tetap istikamah

Di antara tips yang diajarkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam agar tetap istikamah yaitu, tetaplah beramal walaupun sedikit. Karena yang terpenting adalah bukan banyaknya amal, namun yang terpenting adalah tetap beramal. Nabi Shallalahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

“Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah yang konsisten, walaupun sedikit.” (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari 5523 dan Muslim 783. Dan ini lafaz Imam Muslim)

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga mengajarkan doa agar tetap istikamah di atas agama ini,

“Ya Allah, yang membolak-balikkan hati. Teguhkanlah hati kami di atas agamamu.” (Lihat Shahih Al-Adabul Mufrad 253 karya Syekh Al-Albani rahimahullah)

Inilah sedikit tips yang bisa dilakukan agar bisa tetap istikamah. Mengingat ganjaran istikamah sangatlah besar. 

Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih. Dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS. Fusshilat: 30)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah (wafat th. 728 H) pernah berkata, “Puncak karamah (bagi seorang hamba) adalah tetap teguh dengan keistikamahan.” 

(Lihat kitab Al-Furqan Baina Aulia’irrahman wa Aulia’issyaithan karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah 187)

Hal yang serupa dikatakan juga oleh murid beliau Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah (wafat th. 751 H) dalam kitab beliau Madarijus Salikin (2: 106).

Kendati istikamah bukanlah hal yang mudah untuk dijaga, namun ganjaran terhadap istikamah amatlah besar dan begitu menggembirakan. Semoga hal ini bisa menjadi pendorong semangat untuk tetap beramal dan tetap istikamah dalam menjalankan agama ini.

fimdalimunthe55@gmail.com

Catatan kaki: [1] Dikatakan ini merupakan syair dari Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu.

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian, oleh Ferry Is Mirza (fim) DM, refrensi tafsir alquran dan alhadits, Senin 17 Rajab 1445, 29 Januari 2024

Assalamualaykum Warahmatullahi Wabarakatuhu

Katakan Cukup dan Nikmatnya Bersyukur

Kata yang paling sulit kita ucapkan barangkali adalah kata “cukup”. Kapankah kita bisa berkata cukup ?

Hampir semua pegawai merasa gajinya belum sepadan dengan kerja kerasnya. Pengusaha hampir selalu merasa pendapatan perusahaannya masih di bawah target. Pejabat menganggap bahwa masa jabatannya masih kurang, sehingga berupaya untuk melanggengkan jabatannya dengan menghalalkan segala cara... 

Semua merasa kurang dan kurang. Kapankah kita bisa berkata cukup ? “Cukup” bukanlah soal berapa jumlahnya. “Cukup” adalah persoalan kepuasan hati. "Cukup” hanya bisa diucapkan oleh orang yang mampu bersyukur... 

Saudaraku... Tak perlu takut berkata “cukup”. Mengucapkan kata “cukup” bukan berarti kita berhenti berusaha dan berkarya. "Cukup” jangan diartikan sebagai kondisi stagnasi, atau merasa pesimis, atau kecewa atau mandeg dan berpuas diri. Mengucapkan kata “cukup“ membuat kita melihat apa yang telah kita terima, bukan apa yang belum kita dapatkan...

Jangan biarkan kerakusan, ketamakan manusia membuat kita sulit berkata “cukup”. Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada pada diri kita hari ini dan seterusnya, dengan begitu kita menjadi orang yang pandai bersyukur...

Saudaraku ... Seringkali kita berkeluh kesah atas segala ketetapan dan pemberian Allah Azza Wa Jalla, sedikit sekali yang bersyukur. 

Allah Azza Wa Jalla berfirman, "Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan roh ciptaanNya ke dalam tubuhnya dan Dia menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati bagimu, tetapi sedikit sekali kamu bersyukur." (QS. As-Sajdah: 9)

Saudaraku... Demikianlah tabiat manusia, memang sedikit sekali yang bersyukur, Allah Azza Wa Jalla mengingatkan kepada kita bahwa kelengkapan seluruh anggota tubuh kita yang Allah Azza Wa Jalla ciptakan hendaknya kita bersyukur, nikmat sehat sehingga mampu beribadah dan aktifitas, belum lagi curahan rejeki yang begitu banyak, tapi ternyata memang sedikit sekali yang bersyukur...

Allah Azza Wa Jalla yang Maha Rahman, mengulang ulang kalimat mulia ini hampir 31 kali dalam Al Qur'an Surat Ar Rahman, tidakkah kita merasa diingatkan dengan itu, artinya dengan segala apapun yang terjadi wajibnya untuk menghindari kufur nikmat. 

Allah Azza Wa Jalla berfirman, "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan ?" (QS. Ar-Rahman: 77)

"Dan segala nikmat yang ada padamu datangnya dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepadaNyalah kamu meminta pertolongan." (QS. An-Nahl: 53)

"Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar benar Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. An-Nahl: 18)

Saudaraku... Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang  mengingatkan kita betapa penting dan wajibnya mensyukuri nikmat itu,

"Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Nabi Shallallahu ’Alaihi Wasallam bersabda: “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR Bukhari 5933)

Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan: “Kenikmatan adalah keadaan yang baik. Ada yang mengatakan, kenikmatan adalah manfaat yang dilakukan dengan bentuk melakukan kebaikan untuk orang lain.” (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari 5933)

Saudaraku... Ibnu Baththaal rahimahullah mengatakan: “Makna hadits ini, bahwa seseorang tidaklah menjadi orang yang longgar punya waktu luang sehingga dia tercukupi kebutuhannya dan sehat badannya. Barangsiapa dua perkara itu ada padanya, maka hendaklah dia berusaha agar tidak tertipu, yaitu meninggalkan syukur kepada Allah Azza Wa Jalla terhadap nikmat yang telah Allah Azza Wa Jalla berikan kepadanya. Dan termasuk syukur kepada Allah Azza Wa Jalla adalah melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-laranganNya. Barangsiapa melalaikan hal itu, maka dia adalah orang yang tertipu.”

Saudaraku... Hidup nikmat itu bukan soal angka melainkan soal rasa. Nikmat itu akan datang bila kita mengikatnya dengan rasa syukur. Bersyukur dalam segala hal, kita akan bahagia dalam setiap keadaan...

Saudaraku... Syukur adalah cara yang paling bijak untuk merasa lebih meski dalam serba kekurangan dan serba keterbatasan. Bersyukurlah atas apa yang kita miliki, kita tak akan pernah khawatir dengan apa yang belum kita miliki. Dalam kondisi apapun, Allah Azza Wa Jalla akan menghadirkan kenikmatan dan kebahagiaan...

InsyaAllah, Allah Azza Wa Jalla mengkaruniakan hidayahNya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa bersyukur atas setiap ketetapan dan pemberian Allah Azza Wa Jalla untuk meraih ridhaNya. Aamiin Yaa Rabb.....

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian, oleh Ferry Is Mirza (fim) DM, Wartawan Utama PWI Dewan Pers 3170, referensi tafsir alquran dan alhadits, Jumat 14 Rajab 1445 H, 26 Januari 2024

Dekat Allah dan Bersyukur denganMerawat Keberkahan

Surah Az Zumar Ayat 66 : Balil laaha fa'bud wa kum minash syaakiriin. "Karena itu, hendaklah Allah saja yang engkau sembah dan hendaklah engkau termasuk orang yang bersyukur."

"ALLAH  menguji hambaNya dengan pemberian. Barangsiapa ridha kepada pemberianNya,  Allah akan memberkahinya. Dan barangsiapa tidak ridha,  Allah tidak akan memberkahinya.” (H.R. Ahmad).

Sabda Nabi Muhammad Shalallahu Alayhi Wasallam  menjelaskan tentang pentingnya merawat keberkahan. Adalah sebagai ikhtiar untuk menakar dan mendidik diri dalam mempertahankan nilai-nilai kebaikan. 

Berkah dalah bertambahnya kebaikan. Berkah, tidak selalu identik dengan jumlah. Berkah di sini lebih ditekankan pada adanya ketenangan hati, kejernihan fikir dan kebahagiaan lain yang tidak bisa dikonversikan dengan angka atau jumlah. 

Itulah sebabnya,  berkah tidak selalu milik orang kaya. Kurang mampu yang bersyukur, bisa jadi adalah bentuk lain dari keberkahan. 

Sebab, dengan begitu, bisa jadi, dan memang terbukti dalam banyak kasus bahwa kekayaan justru bisa membuat seseorang sombong. Kesombongan  tersebut justu  kemudian mengundang murka Allah.

Keberkahan melekat pada nilai-nilai kebaikan yang konsisten dan terus- menerus mengalami peningkatan. Ada tiga cara istimewa untuk merawat keberkahan.

Pertama... adalah dekat dengan Allah. Keberkahan menyapa siapa saja yang mengoptimalkan kedekatannya dengan Sang Pencipta. 

Kedua... dengan Istiqamah. Keistiqamahan menjadi jembatan dalam memelihara keberkahan.

Ketiga... adalah Sabar. Kesabaran menjadi resep elegan dalam menjaga keberkahan. Sabar berarti berlapang dada menerima segala ketentuan yang diberikan olehNya. Bersahaja melindungi keimanan dan ketakwaan agar senantiasa terpatri hanya untukNya. Kokoh dalam mempertahankan jiwa dan raga pada jalanNya.  

InsyaAllah, ALLAH ridha menganugerahkan kepada kita semua : Kesehatan, keselamatan, rahmat (kasih sayangNya), berkah (bertambahnya kebaikan), ampunan atas dosa-dosa kita, umur panjang dan rezeki halal serta kemudahan kemudahan mengarungi kehidupan...

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian, oleh Ferry Is Mirza (fim) DM, Wartawan Utama PWI, Dewan Pers 3170, referensi tafsir alquran dan alhadits, Kamis 13 Rajab 1445 H, 25 Januari 2024

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Pertemuan dan Perpisahan

Dalam kehidupan yang kita jalani, ada banyak sekali babak dan fase hidup yang kita alami. Di antaranya adalah pertemuan dan perpisahan. Ketika kita menjumpai pertemuan, kita juga akan mengakhiri dengan perpisahan. Entah berpisah karena urusan dunia (safar, pindah) atau karena sudah tutup usia (wafat).

Ada empat keadaan terkait kondisi pertemuan dan perpisahan sebagaimana diterangkan dalam firman Allah Ta’ala maupun sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Bagi seorang mukmin hendaknya memperhatikan keempat hal ini.

Keadaan pertama: Mereka yang bertemu di dunia, namun tidak berjumpa di akhirat

Mereka inilah golongan orang-orang kafir dan musyrik. Allah Ta’ala telah berfiman, “Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak- anaknya, dan isterinya dan saudaranya, dan kaum familinya yang melindunginya (di dunia). Dan orang- orang di atas bumi seluruhnya kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya.” (QS. Al-Ma’arij: 11-14)

Lantaran saking takutnya ia pada hari itu, Allah Ta’ala menyebutkan tentang orang-orang kafir bahwa ia berangan- angan untuk menebus dirinya dari azab yang pedih dengan anak- anaknya, atau dengan istrinya, atau dengan bapak dan ibunya dan kerabat- kerabatnya yang lain, asalkan ia bisa selamat dari azab Allah Ta’ala. Bahkan, ia rela semuanya masuk neraka asalkan dirinya bisa selamat. (Tafsir Ath-Thabari, 23: 606)

Ayat ini sebagai gambaran ketika pertemuan itu didasarkan atas kekufuran dan kemaksiatan kepada Allah Ta’ala, mereka hanya bertemu di dunia dan berpisah di akhirat, bahkan rela untuk menggadaikan keluarga yang sangat ia cintai di dunia. Seorang anak menggadaikan ayah dan ibunya. Orang tua saling menggadaikan anaknya. Seorang suami menggadaikan istrinya dan seorang istri menggadaikan suaminya. Tiada petemuan yang kekal di antara mereka, kecuali di dunia.

Keadaan kedua: Mereka yang tidak pernah bertemu di dunia, namun akan bersua di akhirat

Mereka adalah orang-orang yang beriman. Mereka akan bertemu dan bersua dengan para Nabi, para shidiqin, para syuhada`, dan orang-orang saleh, meskipun di dunia mereka tidak pernah bertemu.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan barangsiapa yang menaati Allah dan RasulNya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang- orang yang mati syahid, dan orang- orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa`: 69)

Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu berkata, “Yakni dengan berkumpul bersama mereka dalam surga yang penuh dengan kenikmatan dan kesenangan.” 

Keadaan ketiga: Mereka bertemu di dunia dan akan bermusuhan di akhirat

Mereka adalah golongan yang menyandarkan pertemuan dan persahabatan di dunia untuk sekedar bersenang-senang, berfoya-foya, hanya saling mengajak perihal dunia, harta, tahta, dan selainnya. Mereka tidak mengingatkan untuk beribadah dan beramal saleh. 

Allah Ta’ala telah memberi kabar dan peringatan untuk mereka dalam firmanNya, “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67)

Ayat di atas menjelaskan bahwa orang-orang yang berteman akrab dalam kemaksiatan kepada Allah di dunia, sebagian dari mereka akan berlepas diri dari sebagian yang lain di hari kiamat. Padahal mereka di dunia saling mencintai dan mengasihi. Akan tetapi, di akhirat justru saling berlawanan. Demikianlah jika menyandarkan pertemuan tanpa dasar ketakwaan. Sebaliknya, orang- orang yang bersahabat atas dasar takwa kepada Allah, maka persahabatan mereka tetap langgeng di dunia dan akhirat. (Tafsir Muyassar, 1: 494)

Segala pertemuan yang tidak didasari saling menasihati dalam kebaikan, ketakwaan, dan amal saleh akan berakhir pada permusuhan. Seorang anak akan menuntut bapak ibunya karena tidak di ajari untuk mengenal Allah dan syariatnya. Seorang istri akan menggugat suaminya karena hanya sibuk kerja tanpa memberikan arahan agama. Seorang teman akan saling menjatuhkan sahabatnya karena tidak pernah mengajak kepada amal saleh.

Keadaan keempat: Mereka bertemu di dunia dan bertaut di akhirat

Mereka adalah orang orang yang sewaktu hidup di dunia saling mengingatkan dan menasihati tentang kebaikan. Bersama- sama mengerjakan ketaatan dan amal saleh. Beriman kepada Allah dan RasulNya dengan benar. Mereka saling mencintai dan mengasihi atas dasar keimanan dan ketakwaan. Ketika salah satu dari mereka jatuh dalam keburukan dan lalai dari Allah, mereka pun saling menasihati. Sehingga kelak Allah akan mempertemukan mereka di tempat yang lebih baik, yaitu di surgaNya.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thur: 21)

Ayat ini adalah bentuk pemuliaan Allah Ta’ala terhadap orang-orang yang beriman. Bahkan, tatkala seseorang telah masuk surga, akan tetapi ternyata anak-anaknya atau orang tuanya berada beberapa derajat surga di bawahnya, maka di antara bentuk pemuliaan terhadap mereka adalah Allah akan setarakan derajat mereka. (lihat At-Tibyan fi Aqsam Al-Quran li Ibnu Al-Qayyim, hal. 276)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga menerangkan mengenai tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat di mana tiada naungan selain dariNya. 

Di antara golongan tersebut adalah, “Dua orang yang saling mencintai karena Allah. Mereka berkumpul dan berpisah dengan sebab cinta karena Allah.” (HR. Bukhari  Muslim)

InsyaAllah pertemuan kita dengan keluarga, kerabat dan sahabat bukanlah pertemuan sesaat yang tiada lagi pertemuan setelahnya. Kita memohon agar dikumpulkan kembali di akhirat dengan selamat. Aamiin..... 

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian, oleh Ferry Is Mirza (fim) DM, Wartawan Utama PWI Dewan Pers 3170, refrensi tafsir alquran dan alhadits, Rabu 12 Rajab 1445 H, 24 Januari 2024

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bila Tauhid Hilang

Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu penolong.” (QS. Al-Ma’idah: 72)

Tatkala tauhid adalah sebab utama keselamatan dan kunci kebahagiaan, maka kehilangan tauhid merupakan musibah dan petaka terbesar bagi seorang hamba. Oleh sebab itu, Khalilur Rahman, Ibrahim ‘alaihis salam berdoa kepada Allah untuk diselamatkan dari jurang kemusyrikan. 

Allah menceritakan doa beliau dalam firman-Nya, “Jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari menyembah patung.” (QS. Ibrahim: 35)

Tatkala tauhid merupakan sebab utama keselamatan dan kunci kebahagiaan, maka melalaikan dakwah tauhid adalah sebab utama kegagalan dakwah. Karenanya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam -dan para rasul yang lain- menjadikan dakwah tauhid sebagai misi utama dan tugas pokok mereka di atas muka bumi ini. 

Allah Ta’ala berfirman “Tidaklah Kami mengutus sebelum kamu seorang rasul pun, melainkan kami wahyukan kepada mereka bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Aku. Maka, sembahlah Aku saja.” (QS. Al-Anbiya’: 25)

Memprioritaskan dakwah tauhid adalah sebuah keniscayaan. Karena meninggalkan atau melalaikan dakwah tauhid akan berujung kepada kehancuran. Mereka yang memandang sebelah mata kepada dakwah tauhid, atau mereka yang menganggap dakwah tauhid telah ketinggalan zaman dan tidak memberikan solusi konkret bagi problem-problem kekinian, seolah-olah mereka ingin mengatakan bahwa kejayaan Islam dan kesuksesan umat bisa diraih tanpa pemurnian tauhid dan pembenahan akidah?!

Syekh Khalid bin Abdurrahman Asy-Syayi’ hafizhahullah berkata, “Perkara yang pertama kali diperintahkan kepada (Nabi) Al-Mushthofa Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yaitu untuk memberikan peringatan dari syirik. Padahal, kaum musyrikin kala itu juga berlumuran dengan perbuatan zina, meminum khamar, kezaliman, dan berbagai bentuk pelanggaran. Meskipun demikian, beliau memulai dakwahnya dengan ajakan kepada tauhid dan peringatan dari syirik. Beliau terus melakukan hal itu selama 13 tahun. Sampai-sampai salat yang sedemikian agung pun tidak diwajibkan, kecuali setelah 10 tahun beliau diutus. Hal ini menjelaskan tentang urgensi tauhid dan kewajiban memberikan perhatian besar terhadapnya. Ia merupakan perkara terpenting dan paling utama yang diperhatikan oleh seluruh nabi dan rasul…” 

(lihat ta’liq beliau dalam Mukhtashar Sirati An-Nabi Wa Sirati Ash-habihi Al-‘Asyrati karya Abdul Ghani Al-Maqdisi, hal. 59-60)

Ibarat sebuah bangunan, maka tauhid adalah pondasi dan pilar-pilar penegak kehidupan. Tanpa tauhid, tidak akan tegak bangunan kehidupan. Dan tanpa tauhid, tidak akan tegak masyarakat Islam. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ’anhuma, beliau menuturkan bahwa tatkala Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengutus Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ’anhu ke negeri Yaman, maka beliau berpesan kepadanya,

“Sesungguhnya engkau akan mendatangi sekelompok orang dari kalangan Ahli Kitab, maka jadikanlah perkara pertama yang kamu serukan kepada mereka adalah syahadat laa ilaha illallah.” Dalam sebagian riwayat disebutkan, “Supaya mereka mentauhidkan Allah.” (HR. Bukhari  Muslim)

Oleh sebab itu, sangatlah mengherankan apabila sebagian orang yang mendakwakan diri sebagai pejuang dakwah Islam (orang-orang yang meneriakkan penegakan syariat Islam), namun di sisi lain mereka sangat meremehkan arti penting tauhid dan akidah. Padahal, tauhid inilah yang menentukan diterima atau tidaknya amal- amal manusia.

Allah Ta’ala berfirman, “Maka, barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal saleh dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apa pun.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Sebesar apa pun amal ketaatan yang dilakukan oleh seorang hamba (atau sebuah masyarakat), akan tetapi jika tidak dilandasi tauhid dan keimanan yang benar, maka itu tidak ada nilai dan harganya. Ia akan lenyap begitu saja, terbuang sia-sia bersama dengan keringat yang mereka kucurkan, bersama dengan waktu yang mereka habiskan, bersama dengan tetesan darah yang mereka tumpahkan. Sia-sia tanpa makna !

Allah Ta’ala berfirman, “Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu, ‘Jika kamu berbuat syirik, maka lenyaplah seluruh amalmu dan kamu pasti termasuk golongan orang-orang yang merugi.‘” (QS. Az-Zumar: 65)

Allah Ta’ala juga berfirman, “Dan Kami hadapkan apa yang dahulu mereka amalkan, lalu Kami jadikan ia bagaikan debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)

Tidakkah kita ingat ucapan emas Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ’anhuma ketika beliau mendengar ada sebagian orang yang tidak beriman terhadap takdir, sementara mengimani takdir adalah bagian tak terpisahkan dari tauhid? Beliau mengatakan, “Demi Zat yang jiwa Ibnu ‘Umar berada di tangan-Nya, seandainya ada salah seorang di antara mereka yang memiliki emas sebesar gunung Uhud, lalu dia infakkan, maka Allah tidak akan menerima hal itu dari mereka, kecuali apabila mereka mengimani takdir.” (HR. Muslim)

Tidakkah kita ingat sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang meriwayatkan dari Rabbnya, di mana Allah Ta’ala berfirman,

“Aku adalah Zat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang di dalamnya dia mempersekutukan Aku dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkan dia dan syiriknya itu.” (HR. Muslim)

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian, oleh Ferry Is Mirza (fim) DM, Wartawan Utama PWI Dewan Pers 3170, refrensi tafsir alquran dan alhadits, Selasa 11 Rajab 1445 H, 23 Januari 2024

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Makna Ayat “Tangan Allah di Atas Tangan Mereka”

Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Nabi Muhammad), (pada hakikatnya) mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka.” (QS. Al-Fath: 10)

Ayat ini adalah salah satu dalil yang menunjukkan bahwa Allah Ta’ala memiliki sifat tangan. Namun, tangan Allah adalah tangan yang layak bagi-Nya, tidak sama dengan tangan makhluk. Dan tidak boleh mendeskripsikan atau membayangkan bagaimana bentuk tangan Allah.

Sifat Tangan Allah Wa Ta’ala

Dalil-dalil Al Qur’an serta hadits yang menunjukkannya sangat banyak sekali. Dalil-dalil Al-Qur’an yang menunjukkan sifat tangan bagi Allah di antaranya adalah firman Allah Ta’ala, “Dan orang-orang Yahudi berkata, “Tangan Allah terbelenggu.” Sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. Padahal kedua tangan Allah terbuka lebar, Dia memberi rezeki sebagaimana Dia kehendaki.” (QS. Al-Maidah: 64)

Allah Ta’ala berfirman, “Wahai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan tanganKu (yaitu Adam). Apakah kamu menyombongkan diri atau kamu (merasa) termasuk golongan yang (lebih) tinggi?” (QS. Shad: 75)

Allah Ta’ala berfirman, “Dan mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman tanganNya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kananNya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Az-Zumar: 67)

Allah Ta’ala berfirman, “Mahasuci Allah yang di tanganNya lah (segala) kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Mulk: 1)_l

Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah, “Siapakah yang di tanganNya berada kekuasaan segala sesuatu. Dia melindungi, dan tidak ada yang dapat dilindungi dari (azabNya), jika kamu mengetahui?” (QS. Al-Mukminun:88)

Allah Ta’ala berfirman, “Dan tidakkah mereka melihat bahwa Kami telah menciptakan hewan ternak untuk mereka, yaitu sebagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan tangan-tangan Kami, lalu mereka menguasainya?” (QS. Yasin: 71)

Adapun dalil-dalil dari hadits lebih banyak lagi. Di antaranya, hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, bahwa Nabi Shallallahu ’Alaihi Wasallam bersabda, “Tangan kanan Ar-Rahman penuh dengan karunia yang tak akan pernah berkurang karena siang maupun malam. Tahukah kalian, apa saja yang telah diberikanNya sejak diciptakannya langit dan bumi? Sesungguhnya dengan semua itu, karunia yang ada di tangan kananNya tidak berkurang. Dan ‘ArsyNya berada di atas air. Dan tanganNya yang lain terdapat timbangan yang terkadang naik dan terkadang turun.” (HR. Bukhari 4684, Muslim 993)

Hadits dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ’anhu, bahwa Nabi Shallallahu ’Alaihi Wasallam bersabda, “Pada hari kiamat, bumi bagaikan sekeping roti. Kemudian Allah Al-Jabbar membolak-baliknya dengan tangan-Nya sebagaimana salah seorang di antara kalian bisa memutar-mutar rotinya dalam perjalanan safar. Untuk diberikan kepada para penghuni surga (di padang mahsyar).” (HR. Bukhari no. 6520, Muslim no. 2793)

Hadits dari Abu Musa radhiyallahu ’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam bersabda, “Sungguh, Allah membentangkan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima tobat dari hamba yang bermaksiat di siang hari. Dan Allah membentangkan tangan-Nya pada siang hari untuk menerima tobat dari hamba yang bermaksiat di malam hari. Sampai matahari terbit dari barat.” (HR. Muslim no. 2759)

Dan ini adalah akidah para sahabat Nabi, akidah para salaf, dan imam Ahlussunnah, tidak ada khilaf di antara mereka.

Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah mengatakan, “Para ulama sepakat bahwa Allah ‘azza wa jalla mendengar dan melihat. Dan Allah Ta’ala memiliki dua tangan yang terbuka lebar.” (Risalah ila Ahlits Tsughur, hal. 225)

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Allah Maha Mendengar, dan Allah memiliki dua tangan berdasarkan ayat (yang artinya), “Bahkan kedua tanganNya terbuka lebar.” (QS. Al-Maidah: 64) Dan kedua tangan Allah adalah kanan, berdasarkan firmanNya (yang artinya), “Dan langit- langit dilipat oleh Allah dengan tangan kananNya.” (QS. Az-Zumar: 67) (Thabaqat Al-Hanabilah, 1: 282)

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah mengatakan, “Hati manusia ada di antara jari-jemari Allah, Allah menciptakan Nabi Adam dengan tanganNya. Setiap hadis yang menyebutkan semisal ini, maka itulah akidahku.” (Ibthalut Ta’wilat, karya Abu Ya’la hal. 45)

Ibnu Khuzaimah rahimahullah mengatakan, “Bab penyebutan dalil-dalil yang menetapkan sifat tangan bagi Allah jalla wa ‘ala, dan penjelasan bahwa Allah punya dua tangan sebagaimana telah diriwayatkan kepada kami (dari para salaf) dalam dalil-dalil yang muhkam (jelas).” (Kitabut Tauhid, 1: 118)

Ibnu Bathah rahimahullah mengatakan, “Bab mengimani bahwa Allah ‘azza wa jalla memiliki dua tangan, dan kedua tangan Allah itu kanan.” (Al-Ibanah Al-Kubra, 7:  295)

Ibnu Rusyd rahimahullah mengatakan, “Tidak ada ikhtilaf di antara ulama tentang bolehnya mengatakan secara mutlak bahwa Allah Ta’ala punya dua tangan, punya wajah, dan punya dua mata. Karena memang Allah Ta’ala sebutkan demikian tentang diriNya di dalam Al Qur’an.” (Al-Bayan wat Tahshil, 16: 401)

Akidah Ahlussunnah itu sederhana. Apa yang ada dalam Al Qur’an dan hadis yang sahih, kita yakini apa adanya tanpa menambah dan mengurangi.

Menyamakan Allah dengan makhluk tentu terlarang. Namun, meyakini sebagaimana yang disebutkan Al Qur’an dan As-Sunnah dan pemahaman salafus shalih bukanlah menyamakan Allah dengan makhluk. Nu’aim bin Hammad rahimahullah mengatakan,

“Siapa saja yang menyamakan Allah dengan makhlukNya, maka ia kufur. Siapa saja yang menolak menetapkan sifat yang Allah tetapkan untuk diriNya, maka dia kufur. Namun, menetapkan sifat yang Allah tetapkan untuk diriNya atau ditetapkan oleh RasulNya, bukanlah menyamakan Allah dengan makhluk.” (Syarah Ushul I’tiqad Ahlissunnah, karya Al-Lalikai, 3: 532)

Adapun makna ayat di atas, adalah tentang Bai’atur Ridhwan. Allah memuji para sahabat yang berbai’at kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Namun, bukan berarti tangan Allah menempel di atas tangan para sahabat. Allah Ta’ala istiwa di atas Arsy, di atas seluruh makhluk-Nya. Maka tentu tangan Allah di atas tangan mereka. Namun Allah sebutkan demikian sebagai bentuk pujian dan dukungan kepada mereka.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Firman Allah Ta’ala (yang artinya), “tangan Allah di atas tangan mereka”, ayat ini juga tetap dipahami secara zahir dan secara hakiki. Karena tangan Allah Ta’ala tentu di atas tangan para sahabat yang berbai’at. Karena tangan Allah adalah sifat Allah, dan Allah ada di atas ‘Arsy, di atas orang-orang yang berbai’at. Sehingga tentu tangan Allah di atas tangan mereka.” (Al-Qawa’idul Mutsla, hal. 74)

Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan makna ayat ini, “Tangan Allah di atas tangan mereka ketika bai’at. Karena dengan berbai’at kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, mereka sama saja berbai’at kepada Allah.” (Tafsir Ath Thabari, 22: 209)

Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan, “Maksudnya, Allah hadir bersama mereka (para sahabat), mendengar perkataan mereka, dan melihat kedudukan mereka. Dan Allah mengetahui isi hati mereka dan perbuatan badan mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3: 199)

Kesimpulannya, ayat ini merupakan salah satu dalil yang menunjukkan bahwa Allah Ta’ala memiliki sifat tangan. Namun, tangan Allah adalah tangan yang layak bagiNya, tidak sama dengan tangan makhluk. Dan ayat ini sekaligus menunjukkan pujian dan dukungan kepada para sahabat yang berbai’at kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam Bai’atur Ridhwan.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian, oleh Ferry Is Mirza (Fim) DM, Wartawan Utama PWI Dewan Pers 3170, referensi tafsir alquran dan alhadits, Senin 10 Rajab 1445 H, 22 Jan 2024

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Hakekat Harta

“Dari Mutharrif dari Bapaknya  “Aku pernah menemui Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika sedang membaca surat alhakumutakasur, beliau bersabda: “Anak manusia mengucapkan: “Hartaku, hartaku”, kemudian beliau bersabda: “Wahai anak manusia, Apakah kamu memiliki dari hartamu melainkan yang kamu telah makan lalu habis, atau yang kamu telah pakai lalu rusak, atau yang telah kamu sedekahkan maka itu yang tersisa”. (HR. Muslim 211)

Dalam riwayat Muslim yang lain ada tambahan sebagai penjelas, setelah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjelaskan tiga fungsi harta tadi, beliau bersabda “Dan selain itu maka dia akan sirna dan dia tinggalkan untuk manusia.” (HR. Muslim)

Beberapa pelajaran yang terdapat dalam Hadits

Harta menjadi milik abadi Ketika di infakkan dalam kebaikan dengan motif mencari ridho Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Nah bila demikian halnya kita patut berbangga, dengan harta yang dimiliki.

Mengapa kita mesti berbangga-bangga, sedangkan harta yang bermanfaat jika tidak digunakan dalam kebaikan. Semua yang digunakan selain untuk jalan kebaikan, tentu akan sirna dan sia-sia.

Seharusnya yang kita banggakan adalah bagaimana iman yang diterjemahkan dalam aksi nyata. bagaimana ketakwaan kita di sisi Allah, bagaimana kita bisa amanat dalam menggunakan harta titipan ilahi.

Masing masing orang mempunyai amalan special ada yang masuk surga lewat pintu sholat

Ada pula yang melalui pintu puasa, dzikir, wirid dan yang lebih spesial melalui pintu Sedekah. Harta yang disedekahkan itulah yang bisa menyelamatkan orang dari siksa kubur dan azab neraka. 

Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang berkaitan dengan tema hadits tersebut adalah:

"Berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.” (QS. Al Hadiid: 7) 

"Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh." (QS. Al-Munafiqun : 10)

Dan Allah Subhanahu Wa Ta'ala Maha Tahu yang sebenarnya. Allaahumma innii a'uudzu bika an usyrika bika wa anaa a'lam, wa astagh-firuka limaa laa a'lam

Subhanaka Allahuma wabihamdika ashadu alla ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik... 

“Maha suci Engkau yaa Allah, dan segala puji bagiMu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepadaMu”.

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ta’ala ‘anhu, bahwa Nabi Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda, “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasûlullâh Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda,

"Barangsiapa mengajak (manusia) kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa mengajak (manusia) kepada kesesatan maka ia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun. (HR. Muslim)

Dakwah di jalan Allâh Azza Wa Jalla merupakan amal yang sangat mulia, ketaatan yang besar dan ibadah yang tinggi kedudukannya di sisi Allâh Subhanahu Wa Ta’ala.

Allâh Azza wa Jalla berfirman: "Dan hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang- orang yang beruntung." (QS.Ali-Imran :104)

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. RENUNGAN AHAD MALAM SEBELUM TIDUR

Nak dengarkan pesan bapak & ibu. Kejarlah cita-citamu yang kau inginkan, Engkau mau menjadi dokter, silahkan.

Engkau mau menjadi pilot, silahkan. Engkau mau menjadi arsitek, silahkan. Engkau mau jadi guru,

petani, pedagang atau apapun. Silahkan nak, Bapak dan Ibu akan selalu mendukungmu selama itu baik. Tapi satu nak yang perlu kau ingat...

Bapak dan ibu tak akan pernah bangga meskipun engkau memiliki berderet gelar atau menjadi pejabat tinggi sekalipun, namun jika engkau tidak bertaqwa dan buta tentang akhirat.

Dan sebaliknya, kami akan tetap bangga meski engkau menjadi orang biasa, jika engkau menjadi orang yang baik dan bertaqwa kepada Allah.

Karena kami tahu, bahwa kelak ketika bapak dan ibu sudah tiada, hanya doa- doamu yang kami butuhkan dan kami harapkan.

Karena kami sadar, bahwa setinggi apapun ilmu dan pangkatmu jika tidak di iringi dengan ketaqwaan kepada Allah, maka itu kelak akan sia-sia bahkan menjadi bencana.

Karena kami berharap, bahwa kesuksesan sejati adalah ketika engkau dapat melangkahkan kakimu di surga. Bukan seberapa sukses kau meraih cita-cita dunia,

Sebab gelar doktermu takkan mampu memperpanjang umurmu. Gelar arsitekmu takkan mampu membangun megah dalam kuburmu.

Gelar pilotmu takkan mampu terbangkan pesawat dengan cepat dari kejaran para malaikat maut, 

Gelar presidenmu takkan mampu mengendalikan keranda mayat yang kelak akan mengusungmu. 

Dan pada saatnya engkau akan sadar nak,.. Bahwa pangkat, jabatan, dan gelar semua yg kau raih dan yg melekat padamu, pada akhirnya semua itu tidak berguna lagi, ketika jasadmu di masukkan kedalam kubur, dan yg bernilai hanyalah amal.

Maka dari itu nak, jangan lalai dengan sederet gelar dan prestasi yg kau raih, ingatlah dunia adalah persinggahan dan akhirat adalah tujuan utama kita.

Selamat berjuang nak, Hanya ini yg dapat bapak dan ibu pesankan untukmu, semoga kelak engkau bahagia di dunia dan akhiratmu.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian, oleh Ferry Is Mirza (FIM) DM, Wartawan Utama PWI Dewan Pers 3170, refrensi tafsir alquran dan alhadits, Ahad 9 Rajab 1445 H, 21 Januari 2024

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Warisan Kebaikkan Manfaatnya Terus Mengalir Hingga Akhirat

Tanamlah kebaikan kapanpun, dimanapun dan kepada siapapun. Karena setiap benih yang ditanam pasti akan tumbuh dan memberikan hasil pada saatnya. Tinggalkan warisan terbaik yang akan terus mengalir manfaatnya bagi Anda walau sudah berada di alam kubur dan di akhirat nanti. "Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)." (QS. Ar-Rahman: 60) 

Kalau tidak memahami suatu permasalahan dengan baik dan benar, sebaiknya tidak membahasnya agar tidak menambah dosa dan kesalahan. Lebih baik membahas masalah yang kita kuasai saja agar berguna bagi khalayak follower kita. 

Diantara nasehat emas dan bahkan mutiara dari Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah adalah: "Mengeluarkan orang dari Sunnah itu adalah berat". (riwayat Abu Bakar bin Al-Khallal rahimahullah shahih dalam As-Sunnah 1/373, 513) 

Maksudnya, jangan mudah menuduh seseorang telah keluar dari Sunnah dan bahkan menuduhnya sebagai ahli bid'ah jika orang tersebut masih meyakini prinsip- prinsip akidah Islam. 

Ingat, menuduh dan bahkan memvonis sesat itu adalah perkara besar dan dahsyat..! Sudah siapkah kita untuk bertanggung jawab di hadapan Allah atas tuduhan tersebut..?!

Berbicara tentang kelompok dalam Islam tidak akan pernah tuntas karena semua merasa paling benar dan menuduh yang lain tersesat.

"Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing- masing). (QS.Al-Mukminun 53) 

Ada sebuah ayat Al-Qur'an yang perlu selalu kita baca dan renungkan secara rutin dan terus menerus disertai muhasabah, koreksi dan mawas diri, yaitu ayat berikut ini;

"Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa". (QS. An-Najm : 32) 

Hanya Allah Yang Maha Tahu siapa yang terbaik diantara kita di SisiNya. Fokuslah mencari keburukan diri sendiri dan kemudian memperbaikinya. Bukan fokus mencari keburukan orang lain sehingga lupa dan bahkan tidak menyadari keburukan diri sendiri.

Tentang Diriku. Daku hanyalah seorang hamba yang miskin papa di hadapanNya, dosa-dosaku teramat sangat banyak, amal ketaatanku teramat sangat sedikit, hatiku selalu berbolak-balik, perjalananku cukup jauh, bekalku belum mencukupi, ajalku telah dekat, harapanku Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang berkenan mengasihi lagi menyayangiku..

Ayat Harapanku. ”Katakanlah: "Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa- dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar : 53)

Ya Allah, ampunilah semua kejahilan hamba dan bimbinglah hamba istiqomah di jalanMu yang lurus.

Kita semua adalah Muslim. Hendaklah kita saling mengingatkan dan saling menasehati serta saling mendoakan. Dan kita berharap bahwa kita semua sama-sama masuk Jannah.

Hamba Allah yang selalu berharap petunjuk, ampunan dan kasih sayangNya, juga selalu berdoa dan berharap mati husnul khotimah diatas Islam.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian, oleh Ferry Is Mirza (FIM) DM, Wartawan Utama PWI Dewan Pers 3170, referensi tafsir alquran dan alhadits, Sabtu 8 Rajab 1445 H, 20 Januari 2024

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Jangan Tinggalkan Shalat Hanya Karena Urusan Dunia

Biasanya yang melalaikan shalat itu disebabkan sibuk dengan harta, kerajaan, kekuasaan dan sibuk berdagang. Jika keadaannya demikian, maka ia akan dikumpulkan bersama Qorun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Kholaf.

Dari Abdullah bin Amr bin Al ‘Ash, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah menceritakan tentang shalat pada suatu hari di mana beliau bersabda,

"Siapa yang menjaga shalat, maka ia akan mendapatkan cahaya, petunjuk, keselamatan pada hari kiamat. Siapa yang tidak menjaganya, maka ia tidak mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan kelak. Nantinya di hari kiamat, ia akan dikumpulkan bersama Qorun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Kholaf.” (HR. Ahmad 2: 169 Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hadits ini hasan)

Disebutkan empat orang di atas karena mereka adalah para pembesar orang kafir. Ada faedah yang mengagumkan dari hadits di atas. Orang yang meninggalkan shalat biasa sibuk dengan harta, kerajaan, kekuasaan, dan berdagang.

Siapa yang sibuk dengan harta sehingga melalaikan shalatnya, maka ia akan dikumpulkan bersama Qorun.

Siapa yang sibuk dengan kerajaannya sehingga melalaikan shalatnya, maka ia akan dikumpulkan bersama Fir’aun.

Siapa yang sibuk dengan kekuasaan sehingga melalaikan shalat, maka ia akan dikumpulkan bersama Haman (menterinya Fir’aun).

Siapa yang sibuk dengan berdagang sehingga melalaikan shalat, maka ia akan dikumpulkan bersama Ubay bin Kholaf. 

InsyaAllah, Allah memperbaiki iman kita dan terus memudahkan kita menjaga shalat lima waktu.

Referensi : Ash Shalah wa Hukmu Tarikiha, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar Al Imam Ahmad, cetakan pertama, tahun 1426 H, hal. 37-38.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Catatan Jumat Petang 19 Jan 2024

Nada Dering HP di Dalam Masjid

Tempat terbaik dan yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala di atas muka bumi adalah masjid. Tempat berkumpulnya kebaikan dan tempat dilaksanakannya ketaatan. Masjid merupakan rumah Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang dikhususkan dan diizinkan untuk digunakan sebagai tempat berzikir, didirikannya salat, tempat untuk menuntut ilmu, dan tempat keluarnya hidayah, serta kebaikan. 

Masjid juga merupakan tempat berkumpulnya orang- orang mukmin dan orang-orang yang bertakwa, serta hamba Allah yang takut dengan datangnya hari kebangkitan. Takut dengan hari dimana hati ini mudah berguncang. 

Allah Ta’ala berfirman “Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut namaNya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan salat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Meraka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karuniaNya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendakiNya tanpa batas” (QS. An-Nur: 36-38)

Sejatinya, keberadaan kita di masjid dapat menenangkan hati, menentramkan jiwa, melepas rasa lelah, dan memperkuat ikatan hamba kepada Rabb-nya. Betapa besar pengaruhnya dan betapa besar pula manfaat serta faedahnya, sehingga masjid itu menjadi penyejuk mata bagi kaum muslimin. Masjid dapat menenangkan hati mereka dan merupakan kelezatan bagi jiwa-jiwa mereka.

Terdapat dalil yang sangat banyak dari Al-Quran dan As-Sunnah terkait keutamaan membangun dan menjaga masjid. Hal ini menunjukkan keutamaan dan kemuliaan yang tinggi tentang pentingnya perhatian terhadap kebersihan dan kemakmuran masjid dengan menggunakannya dalam hal ketaatan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta (tetap) menegakkan salat, menunaikan zakat dan tidak takut kecuali hanya kepada Allah. Maka mudah mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. At-Taubah: 18)

Nada dering HP

Perhatian dan kecintaan kaum muslimin terhadap masjid sangatlah besar. Sayangnya, ada suatu kesalahan yang terjadi pada sebagian kaum muslimin saat mereka berada di masjid. Hal tersebut adalah memperdengarkan nada dering (ring tone) HP yang mengandung musik di dalam masjid. Tentunya hal tersebut mengganggu dan menghilangkan kekhusyukan kaum muslimin ketika melaksanakan salat atau pun beribadah di dalam masjid.

Jika kita tanya seseorang di beberapa puluh tahun yang lalu, “Apakah mungkin akan datang suatu hari dimana musik diperdengarkan di dalam masjid ?” Maka orang tersebut pasti akan berkata, “Ini adalah salah satu contoh khayalan yang tidak mungkin terjadi di masjid !”

Sungguh miris apa yang menimpa umat Islam saat ini. Nada dering musik ini terus berdengung di dalam rumah-rumah Allah. Dimanakah letak kesucian masjid ? Bagaimana kita meletakkan kedudukan masjid di hati kita? Mengapa kita tidak memikirkan hak orang lain yang salat? Dimana letak pengagungan terhadap syiar-syiar Allah jika kita terus melakukan hal ini secara berulang ulang ? Sedangkan orang yang membawa HP sangat dimungkinkan untuk mematikan HP-nya setiap kali masuk ke masjid. Bisa juga menjadikan HP-nya dalam mode silent.

Namun sangat disayangkan, sebagian orang akhirnya tidak perhatian dan tidak menghormati hal tersebut. Sehingga saat nada deringnya menyala, orang lain yang salat secara terus menerus mendengarkan musik di sepanjang salatnya. Padahal saat itu mereka sedang berdoa dan berzikir kepada Allah. Bagaimana mungkin saat seorang sedang berzikir dan bertasbih, suara nada dering musik ini bersahut sahutan dengan volume keras di dalam masjid ? Sedangkan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

“Seorang Muslim itu adalah saudara bagi Muslim yang lain, tidak boleh menzaliminya dan tidak boleh menelantarkannya” (HR. Muslim 2564)

Tidakkah kita takut dengan doa orang yang terzalimi ? Dimana doa mereka dikabulkan oleh Allah. Termasuk jika orang yang terzalimi tersebut mendoakan keburukan bagi yang menzaliminya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

“Dan berhati-hatilah terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah” (HR. Bukhari-Muslim)

Sesungguhnya masjid itu memiliki kehormatan. Wajib hukumnya menghormati orang orang yang salat di dalamnya. Kita tahu bahwa mengangkat suara untuk membaca Al-Quran di dalam masjid saja dilarang. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan Abu Sa’id Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

“Rasulallah ketika itu sedang beriktikaf di dalam masjid. Lalu beliau mendengar para sahabat mengangkat suara membaca Al-Quran, maka beliau pun menyingkap tirainya dan berkata, ‘Sesungguhnya setiap dari kalian sedang bermunajat kepada Rabb nya, maka janganlah kalian saling mengganggu dan janganlah kalian saling meninggikan suara di dalam membaca Al-Quran  atau bisa juga Rasulallah berkata : di dalam salat." (Diriwayatkan Imam Ahmad - Abu Daud)

Maka bagaimana lagi hukumnya dengan memperdengarkan suara nada dering musik ini.

Fenomena seperti ini menunjukkan lemahnya iman, kurangnya pemahaman terhadap agama, dan minimnya pengagungan terhadap masjid. Sudah sepantasnya bagi pengguna HP untuk memanfaatkan hanya dalam rangka ketaatan kepada Allah. Dimana salah satunya adalah tidak memperdengarkan nada dering di dalam masjid.

Selain itu juga, ulama menjelaskan bahwa keberadaan musik di HP hukumnya haram dalam segala keadaan. Maka sudah sepantasnya untuk memilih nada dering dan suara notifikasi selain musik. Jangan sampai nada dering tersebut dapat berbunyi di dalam masjid yang mulia dan memiliki kehormatan. Oleh karena itu, sudah selayaknya bagi kita untuk lebih berhati- hati dari apa apa yang mendatangkan laknat Allah Ta’ala.

Seharusnya yang dilakukan ketika hendak memasuki masjid adalah membaca doa, “Dengan menyebut nama Allah dan semoga selawat dan salam tercurahkan kepada Rasulullah. Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Agung, dengan wajahNya Yang Mulia dan kekuasaanNya yang abadi, dari setan yang terkutuk. Ya Allah, bukalah pintu- pintu rahmatMu untukku.”

Setelah itu, menonaktifkan handphone yang kita miliki. Masuki masjid dengan penuh rasa pengagungan. Buang jauh-jauh nada dering musik itu agar tidak terdengar di masjid. Barang siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah Ta’ala, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.

InsyaAllah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala memperbaiki keadaan dan memberikan taufik kepada kita semua, sehingga kita menjadi hamba-hamba Allah yang menghormati masjid. Kita mohon kepada Allah agar menghindarkan kita dari hal-hal yang dapat mengantarkan kita kepada laknat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Aamiin yaa robbal ‘alaamiin.

Referensi: Kitab Ta’dzim as-salaat (Memuliakan Salat), karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr Hafidzahumallah.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian, oleh Ferry Is Mirza (FIM) DM, Wartawan Utama PWI Dewan Pers 3170, referensi tafsir alquran dan alhadits, Jumat 7 Rajab 1445 H, 19 Januari 2024

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Mendidik Anak Libatkanlah Allah

Di antara bentuk keimanan yang kuat seorang hamba adalah ketika ia senantiasa menyandarkan segala sesuatunya kepada Allah. Ia yakin bahwa dia adalah seorang hamba yang lemah, tidak memiliki daya dan upaya, serta senantiasa membutuhkan pertolongan Allah.

Mari lihat firman Allah di dalam Al-Qur’an tentang ucapan seorang mukmin yang hakiki. Allah berfirman,

“Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat hamba-hambaNya.” (QS. Al-Mu’min: 44)

Bahkan, seorang mukmin diminta untuk senantiasa mengikrarkan setiap harinya, minimal 17 kali, bahwa ia akan selalu menyandarkan dirinya kepada Sang Pencipta, dengan membaca dalam setiap salatnya,

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)

Ikrar ini selalu diulang. Tujuannya adalah agar mengingatkan jati diri seorang hamba yang tak bisa lepas dari Sang Khaliq. Sebaliknya, ketika ia menjauh dan tidak menyandarkan kepada Allah dalam urusannya, maka sejatinya ia adalah seorang yang sombong. Hal ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah dalam Al-Qur’an,

“Ketahuilah ! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.” (QS. Al-‘Alaq: 6-7)

Di antara bentuk penyandaran diri seorang hamba kepada Allah adalah dengan senantiasa berdoa. Ia bermunajat, yang merupakan bentuk melibatkan Allah dalam segala urusannya.

Maka, tak heran ketika Allah menggandengkan antara kesombongan dengan orang orang yang enggan berdoa kepadaNya. Karena, ketika seseorang itu meninggalkan bermunajat kepada Allah, secara tidak langsung dia merasa tidak butuh kepada pertolonganNya dan itulah inti kecongkakan.

Allah berfirman, “Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang- orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.'” (QS. Al-Mu’min: 60)

Dan diantara hal yang paling penting seorang hamba melibatkan Allah adalah dalam pendidikan anak. Mengapa demikian? Hal itu karena beberapa hal, di antaranya:

Pertama, hidayah di tangan Allah, sedangkan orangtua tidak memiliki hak memberikan hidayah dan taufik untuk sang buah hati.

Kedua, seorang ayah dan ibu yang sangat lemah dalam membersamai dan mengawasi sang anak.

Ketiga, zaman yang penuh dengan godaan dan kemaksiatan, yang sulit dibendung apalagi dengan semakin canggihnya teknologi di era sekarang.

Oleh karenanya, orangtua harus senantiasa melibatkan Allah dalam pendidikan buah hati mereka. Dan wahai Ayah Bunda, jangan lelah untuk mendoakan buah hati anda. Karena doa merupakan kunci kesuksesan segala sesuatu. Begitu juga, ia kunci kesuksesan untuk menjadikan buah hati anda tumbuh menjadi anak yang saleh. Disisi lain, doa anda sangatlah mustajab. Hal ini sebagaimana yang pernah Nabi sabdakan dalam suatu hadits yang dibawakan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Nabi Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda

“Ada tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi, yaitu doa orangtua, doa orang yang bepergian (safar), dan doa orang yang terzalimi.” (HR. Abu Daud 1536, Ibnu Majah 3862, dan Tirmidzi 1905 Al-Hafizh Abu Thahir)

Berikut adalah macam-macam doa yang bisa dipanjatkan agar Allah memberikan keturunan yang saleh, gemar untuk berbuat kebaikan, serta dijauhkan dari keburukan :

Pertama: Doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam agar mendapatkan anak yang saleh dan saleha

“Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS.Ash-Shaffat: 100)

Kedua: Doa Nabi Zakariya ‘alaihissalam agar mendapatkan anak yang saleh, “Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (QS. Ali Imron: 38)

Ketiga: Doa ‘Ibadurrahman (hamba Allah yang beriman) agar mendapatkan anak yang saleh,

“Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, istri-istri kami, dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)

Keempat: Doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam agar mempunyai anak yang rajin menegakan salat,

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang- orang yang tetap mendirikan salat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40)

Kelima: Doa Nabi Muhammad Shalallahu Alayhi Wasallam untuk sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma agar ia menjadi seorang yang ‘alim,

“Ya Allah, berilah kepahaman kepadanya dalam urusan agama dan ajarkan takwil (tafsir Al-Qur’an).”

Keenam: Doa agar Allah selalu memperbaiki keadaan keturunan, “Wahai Rabbku, ilhamkanlah padaku untuk bersyukur atas nikmatmu yang telah Engkau karuniakan padaku, juga pada orang tuaku. Dan ilhamkanlah padaku untuk melakukan amal saleh yang Engkau ridai. Dan perbaikilah keturunanku.” (QS. Al-Ahqaf: 15)

Ketujuh: Doa agar anak terhindar dari ‘ain, “Aku menyerahkan perlindunganmu dengan Kalimat Allah yang sempurna dari segala gangguan setan, binatang melata/serangga, dan segala pengaruh mata jahat. Wahai Tuhanku, turunkan keberkahanMu pada anak ini. Jangan izinkan sesuatu membuatnya celaka.” (Imam Nawawi kitab Al-Adzkar)

Kedelapan: Doa Nabi untuk seorang pemuda yang memiliki keinginan untuk melakukan zina, maka ia pun mendoakannya dengan meletakkan tangannya kepada lelaki tersebut, agar Allah menjauhkan sang pemuda dari perbuatan nista, “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya."

Kesembilan: Doa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada Anas agar dimudahkan memiliki banyak anak dan harta.

“Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya, serta berkahilah apa yang Engkau karuniakan padanya.” (HR. Bukhari 6334 Muslim 2480)

Kesepuluh: Doa Nabi Ibrahim agar keturunan dijauhkan dari perbuatan syirik, “Jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (QS. Ibrahim: 35)

Inilah di antara doa- doa yang terdapat dalam Al-Qur’an maupun hadits, dan masih banyak lagi contoh doa yang bisa dipanjatkan untuk sang buah hati tercinta.

InsyaAllah, Allah Ta’ala mengkaruniakan kepada setiap orang tua anak yang saleh dan bermanfaat untuk agama dan bangsa.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian, oleh Ferry Is Mirza (FIM) DM, Wartawan Utama PWI Dewan Pers 3170, referensi tafsir alquran dan alhadits, Kamis 6 Rajab 1445 H, 18 Januari 2024

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Jauhi RIYA' agar Tak Dilempar ke Neraka, Ihlas Amal Diterima

Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan Ulama bahwa ikhlas dan mutâba’ah (mengikuti tuntunan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam) merupakan dua syarat diterimanya amal seorang Mukmin. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

"Maha suci Allâh yang di tanganNyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun."(QS. Al-Mulk :1-2) 

Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata, yang lebih baik amalnya yaitu yang lebih ikhlas dan lebih benar. Suatu amal tidak akan diterima sehingga menjadi amal yang ikhlas dan benar. Ikhlas, jika amal itu karena Allâh Azza wa Jalla, dan benar, jika amal itu di atas Sunnah (ajaran Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam)." (Tafsir al-Baghawi, 1/175)

Rasûlullâh Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, "Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla tidak akan menerima dari semua jenis amalan kecuali yang murni untukNya dan untuk mencari wajahNya." (HR.An-Nasâ’i, 3140. Silsilah Ash-Shahîhah, 52;  Ahkâmul Janâiz, hlm. 63) 

Oleh karena itu, sangat amat penting untuk memperhatikan, apakah amal kita memenuhi dua syarat ini ?

RIYA PERUSAK IKHLAS

Banyak hal yang dapat merusakkan ikhlas, sehingga ibadah seseorang menjadi sia-sia, tanpa pahala. Perusak ikhlas itu antara lain adalah riya, dan riya termasuk dosa besar sebagaimana dinyatakan oleh Imam adz-Dzahabi rahimahullah di dalam kitab al-Kabâ-ir.

MAKNA RIYA

Riya diambil dari kata ru’yah (melihat), secara bahasa riya artinya memperlihatkan kepada orang lain sesuatu yang berbeda dengan yang ada padanya.

Adapun menurut istilah syara’ (agama), maka para ulama memberikan definisi- definisi yang berbeda, namun intinya sama. Yaitu: Seorang hamba yang melakukan ibadah yang seharusnya untuk mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla, tetapi dia tidak meniatkannya untuk Allâh Azza wa Jalla, bahkan untuk tujuan duniawi.

Al-‘Izz bin Abdus Salam rahimahullah mengatakan, riya adalah menampakkan amal ibadah untuk meraih tujuan dunia, mungkin mencari manfaat duniawi, atau pengagungan, atau penghormatan." (Qawa’idul Ahkâm 1/147) 

Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, hakekat riya’ adalah mencari apa yang ada di dunia dengan ibadah, asalnya mencari kedudukan di hati manusia." (Tafsir al-Qurthubi 20/212) 

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, riya’ adalah menampakkan ibadah karena niat dilihat manusia, lalu  mereka akan memuji pelaku ibadah tersebut." (Fathul Bari 11/136) 

BAHAYA RIYA’

Riya’ merupakan dosa besar dan memiliki berbagai bahaya- bahaya, antara lain:

1. Menggugurkan Pahala Amal. Allâh Azza wa Jalla berfirman : "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut- nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allâh dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu batu itu menjadi bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allâh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (QS Al-Baqarah :264) 

Rasûlullâh Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, "Allâh Tabâraka wa Ta’âlâ berfirman, Aku paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa beramal dengan suatu amalan, dia menyekutukan selain Aku bersamaKu pada amalan itu, Aku tinggalkan dia dan sekutunya." (HR. Muslim,  2985) 

2. Sifat Munafik. Seseorang yang beribadah bukan karena Allâh Azza wa Jalla, tetapi agar diketahui oleh manusia, seperti orang yang shalat ketika bersama mereka, namun ketika sendirian, dia tidak shalat. Ini termasuk kemunafikan.

Allâh Azza wa Jalla berfirman: "Sesungguhnya orang- orang munafik itu menipu Allâh, dan Allâh akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allâh kecuali sedikit sekali." (QS. An-Nisa’ :142) 

3. Kecelakaan Besar bagi Orang-orang yang Riya’. Allâh Azza wa Jalla berfirman: "Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang- orang yang lalai dari shalatnya, orang- orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna." (QS. Al-Ma’un : 4-7) 

4. Pertama kali yang Diadili Dilemparkan ke Neraka Orang- orang yang Riya’. Rasûlullâh Shallallahu Alaihi Wasallam juga telah memperingatkan dengan sangat keras dari riya’.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata: Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: Sesungguhnya manusia pertama kali yang akan diputuskan (pengadilannya) pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang mati syahid. Dia didatangkan, Allâh menyebutkan nikmat nikmatNya kepadanya dan dia mengakuinya. Allâh bertanya: Apa yang telah engkau lakukan pada nikmat nikmat Ku itu? Dia menjawab: Aku berperang untukMu sehingga aku mati syahid. Allâh berkata: Engkau dusta. Tetapi engkau berperang agar dikatakan seorang pemberani dan dahulu (di dunia) telah dikatakan. Lalu diperintahkan mengenai orang tersebut, kemudian dia diseret di atas wajahnya, sehingga dilemparkan di dalam neraka.

Dan seorang laki-laki yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya. Dan dia membaca Al-Qur’an. Dia didatangkan, Allâh menyebutkan nikmat nikmatNya kepadanya dan dia mengakuinya. Allâh bertanya: Apa yang telah engkau lakukan pada nikmat nikmat Ku itu? Dia menjawab: Aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya, dan aku membaca Al-Qur’an untukMu. Allâh berkata: Engkau dusta. Tetapi engkau mempelajari ilmu agar dikatakan seorang yang alim, engkau membaca Al-Qur’an agar dikatakan seorang qaari dan dahulu (di dunia) telah dikatakan. Lalu diperintahkan mengenai orang tersebut, kemudian dia diseret di atas wajahnya, sehingga dilemparkan di dalam neraka.

Dan seorang laki-laki yang Allâh luaskan rezekinya, dan Allâh juga memberikan berbagai macam harta benda. Dia didatangkan, Allâh menyebutkan nikmat nikmatNya kepadanya dan dia mengakuinya. Allâh bertanya: Apa yang telah engkau lakukan pada nikmat- nikmatKu itu? Dia menjawab: Aku tidak meninggalkan satu jalanpun yang Engkau menyukai infaq padanya kecuali aku berinfaq padanya untukMu. Allâh berkata: Engkau dusta. Tetapi engkau melakukannya agar dikatakan seorang dermawan dan dahulu (di dunia) telah dikatakan. Lalu diperintahkan mengenai orang tersebut, kemudian dia diseret di atas wajahnya, sehingga dilemparkan di dalam neraka." (HR. Muslim 1905) 

Setelah kita mengetahui bahaya riya ini, maka marilah kita bersihkan hati dan amal kita dari perkara lainnya yang dapat merusak amal ibadah. Dan kita memohon keikhlasan kepada Allâh, sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian, oleh Ferry Is Mirza (FIM) Wartawan Utama PWI Dewan Pers 3170, refrensi tafsir alquran dan alhadits, Rabu 5 Rajab 1445 H, 17 Januari 2024

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Meraih Sukses dengan Takwa dan Tawakkal

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, tempat bersandar seluruh makhluk. Tidak ada yang berhak disembah melainkan Allah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu Alayhi Wasallam, keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Jalan meraih sukses dengan pasti adalah dengan bertakwa dan bertawakkal pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. 

Ayat yang bisa menjadi renungan bagi kita bersama adalah firman Allah Ta’ala, "Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)

HAKEKAT TAWAKKAL

Tawakkal berasal dari kata wukul, artinya menyerahkan/ mempercayakan. Seperti dalam kalimat disebutkan, aku menyerahkan urusanku pada fulan. Sedangkan yang dimaksud dengan tawakkal adalah berkaitan dengan keyakinan."

Berdasarkan keterangan dari Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah, hakekat tawakkal adalah benarnya penyandaran hati pada Allah Azza Wa Jalla untuk meraih berbagai kemaslahatan dan menghilangkan bahaya baik dalam urusan dunia maupun akhirat, menyerahkan semua urusan kepadaNya serta meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa ‘tidak ada yang memberi, menghalangi, mendatangkan bahaya, dan mendatangkan manfaat kecuali Allah semata’."

KEUTAMAAN TAWAKKAL

Pertama: Tawakkal sebab diperolehnya rizki. Ibnu Rajab mengatakan, Tawakkal adalah seutama-utama sebab untuk memperoleh rizki." 

Sebagaimana Allah Ta’ala sebutkan dalam firmanNya, "Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Tholaq: 3)

Kedua: Diberi kecukupan oleh Allah. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah membaca surat Ath Tholaq ayat 3 kepada Abu Dzar Al Ghifariy. Lalu beliau berkata padanya,

"Seandainya semua manusia mengambil nasehat ini, itu sudah akan mencukupi mereka.” 

Yaitu seandainya manusia betul-betul bertakwa dan bertawakkal, maka sungguh Allah akan mencukupi urusan dunia dan agama mereka."

Ibnu Jarir Ath Thobari rahimahullah ketika menjelaskan surat Ath Tholaq ayat 3 mengatakan, Barangsiapa yang bertakwa pada Allah dengan menjalankan perintahNya dan menyandarkan hatinya padaNya, maka Allah akan memberi kecukupan bagiNya.”

Al Qurtubhi rahimahullah menjelaskan pula tentang surat Ath Tholaq ayat 3 dengan mengatakan, Barangsiapa yang menyandarkan dirinya pada Allah, maka Allah akan beri kecukupan pada urusannya.”

Asy Syaukani rahimahullah menjelaskan, Barangsiapa menyerahkan urusannya pada Allah, maka Allah akan berikan kecukupan pada urusannya.”

Syaikh As Sa’di rahimahullah menjelaskan pula, Barangsiapa yang menyandarkan diri pasa Allah dalam urusan dunia maupun agama untuk meraih manfaat dan terlepas dari kemudhorotan, dan ia pun menyerahkan urusannya pada Allah, maka Allah yang akan mencukupi urusannya. Jika urusan tersebut diserahkan pada Allah Yang Maha Mencukupi (Al Ghoni), Yang Maha Kuat (Al Qowi), Yang Maha Perkasa (AL Aziz) dan Maha Penyayang (Ar Rohim), maka hasilnya pun akan baik dari cara-cara lain. Namun kadang hasil tidak datang saat itu juga, namun diakhirkan sesuai dengan waktu yang pas.” 

Masya Allah suatu keutamaan yang sangat luar biasa sekali dari orang yang bertawakkal.

Ketiga: Masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab. Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, "Tujuh puluh ribu orang dari umatku akan masuk surga tanpa hisab. Mereka adalah orang-orang yang tidak minta diruqyah, tidak beranggapan sial dan mereka selalu bertawakkal pada Rabbnya.”

MEREALISASIKAN TAWAKKAL

Dalam merealisasikan tawakkal tidaklah menafikan melakukan usaha dengan melakukan berbagai sebab yang Allah Ta’ala tentukan. Mengambil sunnah ini sudah menjadi sunnatullah (ketetapan Allah yang mesti dijalankan). Allah Ta’ala memerintahkan untuk melakukan usaha disertai dengan bertawakkal padaNya,” demikian penuturan Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah selanjutnya."

Jadi intinya, dari penjelasan beliau ini dalam merealisasikan tawakkal haruslah terpenuhi dua unsur: Bersandarnya hati pada Allah dan Melakukan usaha.

Inilah cara merealisasikan tawakkal dengan benar. Tidak sebagaimana anggapan sebagian orang yang menyangka bahwa tawakkal hanyalah menyandarkan hati pada Allah, tanpa melakukan usaha atau melakukan usaha namun tidak maksimal. Tawakkal tidaklah demikian.

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah mengatakan, “Usaha dengan anggota badan dalam melakukan sebab adalah suatu bentuk ketaatan pada Allah. Sedangkan bersandarnya hati pada Allah adalah termasuk keimanan.”

TAWAKKAL HARUSLAH DENGAN USAHA

Berikut di antara dalil yang menunjukkan bahwa tawakkal tidak mesti meninggalkan usaha. Namun haruslah dengan melakukan usaha yang maksimal.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Catatan Jelang Suruq. Selasa 4 Rajab 1445H, 16 Januari 2024

Untuk Saudaraku Seiman

Mari kita tanya diri masing-masing dan jawablah dari hati yang paling terdalam. Pelecehan surat Al Maidah pada era pemimpin siapa...? Al Qur'an dibaca dengan langgam Jawa di era pemimpin siapa....?

Islam Nusantara lahir di era pemimpin siapa....? Adzan di permasalahkan di era pemimpin siapa...?

Khutbah dan ceramah di masjid di atur pemerintah, di era pemimpin siapa...? Ormas islam dibubarkan di era pemimpin siapa...?

Mantan koruptor masih bisa jadi wakil rakyat di era pemimpin siapa....? Dana haji dipinjam negara era pemimpin siapa...?

Dana BPJS dipakai untuk insfraktuktur di era pemimpin siapa....? Kyai dan Habib diintimidasi di era siapa...?

Pekerja asing /TKA merajarela di era pemimpin siapa...? Harus minta ma'af kepada PKI di era pemimpin siapa...?

Ulama dicekal pengajiannya di era pemimpin siapa.....? Kolom agama di KTP akan dihapus, di era pemimpin siapa....?

Kyai dan ustadz harus disertifikasi, di era pemimpin siapa...? Bilang kalau politik harus dipisahkan dari agama di era pemimpin siapa...?

Di masjid tidak boleh bicara politik di era pemimpin siapa...? Narapidana dipotong masa tahanannya di era pemimpin siapa..? Dan masih ada yang belum disebutkan.

Hal ini barulah pertama kali terjadi di negeri kita sejak merdeka 78 tahun yang lalu.

Tidakkah kita menangis dan bersedih diperlakukan seperti ini, di negeri kita sendiri..??? Coba renungkan dengan saksama. Ini kenyataan dan bukan mengada ada.

Pertanyaannya bagi yang merasa orang ISLAM. Masihkah kita terus begini atau mau perubahan..???

Dan SEMUA INI tidak ada paksaan, cuma tolong direnungkan dengan akal sehat dan minta petunjuk kepada ALLAH untuk yang tebaik. BUKA MATA BUKA TELINGA. INSYAALAH KITA SEMUA DIBERI HIDAYAH ALLAH

fimdalimunthe5.5@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian, oleh Ferry Is Mirza (FIM) Wartawan Utama PWI Dewan Pers 3170, Selasa 4 Rajab 1445 H, 16 Jan 2024

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

5 Menit yang Lebih Baik dari Dunia Seisinya dan 4 Tahapan Proses Tahajjud

Qotadah, Seorang Tabi'in, rahimahullah berkata, "Dulu dikatakan : Orang munafik tidaklah bangun untuk sholat malam.

Yakni orang munafik tidak sanggup untuk melakukan sholat malam karena tidak ada orang yang melihatnya.

Di antara tanda kejujuran dan keimanan adalah sholat malam. Syeikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin rahimahullah berkata,

"Dunia lebih hina di sisi Allah daripada bangkai anak kambing. Oleh karena itulah apabila seseorang melakukan sholat 2 rakaat sunnah Shubuh, maka sholatnya tersebut jauh lebih baik dari dunia dan seisinya. 

Dua rakaat ini lebih baik dari seluruh dunia semenjak diciptakannya hingga kelak ia akan lenyap. Berapakah waktu yang dibutuhkan untuk sholat ini ?

Lima menit saja sudah termasuk dengan wudhu. Lima menit yang dapat menyamai nilai dunia seluruhnya dari awal hingga akhirnya.

Sesungguhnya dunia sama sekali tidak ada nilainya di sisi Allah." (Syarah Al-Kafi Asy-Syafiyyah 4/268)

PAKSAKAN diri untuk Tahajjud, suka atau tidak, ringan ataupun berat... Paksakan diri untuk bangun tengah malam menjelang subuh... Beberapa bentuk paksaan akan berubah menjadi 'KEBIASAAN'.

Kita akan merasaa aneh jika tidak TAHAJUD, kita akan terbiasa bangun saat jam tahajud, walau tanpa alarm. Lanjutkan. Kebiasaan yang terius dilakukan akan berubah menjadi 'KEBUTUHAN'.

Di tahap ini sudah mulai tumbuh benih- benih cinta TAHAJUD, Akan merasa rugi jika tidak tahajud...

Pada tahap ini TAHAJUD sudah menjadi candu. sholat tahajjud berlama lama adalah 'KENIKMATAN'. Sedangkan ketika terlewat tidak tahajud akan membuat diri resah.

Yang perlu kita lakukan adalah 'istiqamah' dan mengajak sebangak banyaknya orang untuk TAHAJJUD agar mereka pun dapat merasakan nikmatnya BERTAHAJUD. Ada ditahap manakah kita ?

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian, oleh Ferry Is Mirza (FIM), Wartawan Utama PWI Dewan Pers 3170, referensi tafsir alquran dan alhadits, Senin 3 Rajab 1445 H, 15 Jan 2024

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Pahala Amal Sholeh Dunia Akhirat

Sebagian orang beranggapan bahwa pahala amal sholeh hanya akan dirasakan di akhirat.. Begitu pula akibat buruk dari dosa hanya akan dirasakan di hari kiamat.

Padahal sebenarnya, AMAL SHOLEH seorang mukmin akan mendatangkan kebaikan, baik ketika di dunia maupun saat di akhiratnya.

Begitu pula KEMAKSIATAN akan mendatangkan keburukan, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti.

Renungkanlah dua firman Allah berikut ini: "Barangsiapa melakukan amal sholeh -baik lelaki maupun perempuan- dalam keadaan beriman, maka pasti Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di dunia), dan akan Kami beri balasan (di akhirat) dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan" (QS. an Nahl : 97)

“Barangsiapa berpaling dari peringatanKu, maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit (di dunia), dan pada hari kiamat nanti Kami akan mengumpulkannya dalam keadaan buta” (QS Thaha : 124)

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian, oleh Ferry Is Mirza (FIM) DM, Wartawan Utama PWI Dewan Pers 3170, referensi tafsir alquran dan alhadits, Ahad 02 Rajab 1445 H, 14 Jan 2024

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Setiap Muslim Wajib Mengikuti Dalil

Segala puji hanya bagi Allah, shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu Alayhi Wasallam dan keluarganya, para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan.

Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu” (QS. Muhammad: 33)

Allah Ta'ala juga berfirman: “Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang” (Qs. At Taghabun: 12)

Allah Ta’ala juga berfirman: “Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa: 59)

Ayat-ayat ini menegaskan wajibnya kita sebagai hamba Allah untuk mengikuti dalil, yaitu firman Allah dan sabda RasulNya. Syaikh Abdurrahman As Sa’di menjelaskan: “Allah Ta’ala memerintahkan kaum mu’minin dengan suatu perkara yang membuat iman menjadi sempurna, dan bisa mewujudkan kebahagiaan bagi mereka di dunia dan akhirat, yaitu: menaati Allah dan menaati RasulNya dalam perkara-perkara pokok agama maupun dalam perkara cabangnya. Taat artinya menjalankan setiap apa yang diperintahkan dan menjauhi segala apa yang dilarang sesuai dengan tuntunannya dengan penuh keikhlasan dan pengikutan yang sempurna” (Taisir Karimirrahman, 789).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menyatakan, “sudah menjadi kewajiban bagi setiap hamba dalam agamanya untuk mengikuti firman Allah Ta’ala dan sabda RasulNya, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dan mengiktuti para Khulafa Ar Rasyidin yaitu para sahabat sepeninggal beliau, dan juga mengikuti para tabi’in yang mengikuti mereka dengan ihsan” (Fathu Rabbil Bariyyah, 7)

Karena itulah Allah Ta’ala mengutus Rasulallah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dengan membawa petunjuk dari Allah. Dan Allah telah mewajibkan seluruh manusia untuk beriman kepada beliau, secara lahir dan batin. 

Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah (wahai Muhammad): “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat- kalimatNya (kitab- kitabNya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk“ (QS. Al A’raf: 158)

Maka barangsiapa yang tidak mau taat kepada dalil, seolah ia tidak beriman bahwasanya Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah utusan Allah dan seolah ia tidak mengimani bahwa apa yang dibawa oleh beliau adalah petunjuk dari Allah Ta’ala.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga bersabda; “Wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunnahku dan sunnah khulafa ar rasyidin sepeninggalku. Peganglah ia erat- erat, gigitlah dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada- adakan karena setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. At Tirmidzi 2676 hadits ini shahih)

Maka wajib bagi setiap hamba untuk taat dan patuh kepada sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang shahihah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Sunnah ini, jika shahih, maka semua kaum Muslimin bersepakat bahwa wajib untuk mengikutinya” (Majmu’ Al Fatawa, 19/85, dinukil dari Ushul Fiqh inda Ahlisunnah 120)

Seorang hamba yang enggan untuk taat kepada sabda RasulNya juga terancam untuk ditimpa fitnah (keburukan) dan adzab yang pedih.

Allah Ta’ala berfirman “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih” (QS. An Nuur: 63)

Wahai hamba Allah! Takutlah engkau akan fitnah dan adzab Allah, tundukkanlah jiwamu untuk patuh dan taat kepada Allah dan RasulNya.

Dan tidak halal bagi seorang Mukmin, ketika disampaikan kepadanya firman Allah dan sabda RasulNya, ia memiliki pilihan yang lain yang bukan berasal dari keduanya. 

Allah Ta’ala berfirman: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (Qs. Al Ahzab: 36)

Bahkan andaikan ‘pilihan yang lain‘ tersebut berasal dari para ulama, tidak halal diambil ketika berhadapan dengan firman Allah dan sabda RasulNya. Imam Asy Syafi’i rahimahullah juga berkata:

“Para ulama bersepakat bahwa jika seseorang sudah dijelaskan padanya sunnah Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam tidak boleh ia meninggalkan sunnah demi membela pendapat siapapun” 

(Diriwayatkan oleh Ibnul Qayyim dalam Al I’lam 2/361. Dinukil dari Ashl Sifah Shalatin Nabi, 28 )

Wahai hamba Allah, ikutilah dalil, taatilah firman Allah dan sunnah RasulNya, sesuai dengan apa yang dipahami para sahabat Nabi dan orang-orang yang mengikuti mereka. Niscaya anda berada dalam petunjuk yang benar. 

Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: "Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk…‘” (QS. An Nuur: 54)

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian, oleh Ferry Is Mirza DM Wartawan Utama PWI Dewan Pers 3170, refrensi tafsir alquran dan alhadits, Sabtu 01 Rajab 1445 H, 13 Jan 2024

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

SEGERALAH BERTAUBAT

Setiap hamba pasti pernah terjerumus dalam dosa, ada yang dosa kecil maupun dosa besar. 

Memang demikianlah manusia banyak berbuat kesalahan dan kadang mengulangi kesalahan tidak hanya sekali namun berkali- kali. 

Tapi yang sebaik- baiknya adalah yang selalu bertaubat. Rasulullah bersabda: “Setiap manusia pasti banyak berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang sering bertaubat” (HR. Tirmidzi 2499

Allah akan selalu menerima taubat hambaNya, tapi bukan berarti terus- menerus mengulangi kesalahan. 

Berusahalah istiqamah dalam kebaikan lalu tidak mengulangi kesalahan lagi. Allah Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni murninya).” (QS. At Tahrim: 8)

Maka seharusnya kita sebagai manusia yang banyak melakukan dosa dan maksiat untuk selalu bertaubat kepada Allah dan jangan berputus asa dari rahmat Allah.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, “Katakanlah: “Hai hamba-hambaKu yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa- dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar: 53)

InsyaAllah, Allah memberi taufik dan hidayah agar kita menjadi hamba yang senantiasa bertaubat.

Demikian semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk berbuat kebajikan. Yang selalu mengharap ampunan dari ROBBnya. Barokalloh fiikum

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy.  Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian, oleh Ferry Is Mirza DM Wartawan Utama PWI Dewan Pers 3170, referensi tafsir alquran dan alhadits, Jumat 30 Jumadil Akhir 1445 H, 12 Januari 2024

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Faedah Tauhid dan Akidah

JUM'AT MUBARAKH. Alhamdulillah, tiada habisnya nikmat yang Allah curahkan kepada kita untuk kita puji. Begitu besar rahmat dan kasih sayangNya kepada para hamba. Di antara nikmat agung yang Allah berikan kepada kita adalah petunjuk tentang membangun akidah dan keyakinan dalam kehidupan.

Allah berfirman, “(Allah) Yang menciptakan kematian dan kehidupan dalam rangka menguji kalian, siapakah di antara kalian yang terbaik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)

Ayat ini sering kita dengar. Begitu indah dan merdu. Sebuah ayat yang menyimpan pelajaran-pelajaran berharga bagi kehidupan manusia. Allah menjelaskan kepada kita bahwa tujuan penciptaan kehidupan dan kematian adalah untuk menguji manusia. Mereka yang berhasil melalui ujian ini adalah yang mempersembahkan amal terbaik. Yaitu, yang paling ikhlas dan paling sesuai dengan sunah (tuntunan) Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Kita pun sering mendengar atau membaca ayat, “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepadaKu.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ayat ini pun demikian akrab di telinga kita. Sebuah panduan dan pedoman bagi manusia agar kembali ke jalan Allah, menghamba kepadaNya, dan tunduk kepada perintah dan laranganNya.

Seorang ulama pembaharu di masanya, Abul Abbas Al-Harrani rahimahullah, menjelaskan bahwa hakikat ibadah itu mencakup segala bentuk ucapan dan perbuatan yang diridhai dan dicintai oleh Allah, baik berupa sesuatu yang lahir/tampak maupun suatu hal yang bersifat batin/di dalam hati. Segala bentuk amal dan ketaatan tidak akan diterima oleh Allah, kecuali apabila dibangun di atas pondasi akidah yang benar, yaitu akidah tauhid, pemurnian ibadah kepada Allah semata. Tanpa tauhid, maka amal apa pun tidak akan diterima, bahkan sia-sia dan mendatangkan malapetaka bagi hamba di akhirat kelak.

Allah berfirman, “Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum kamu, jika kamu mempersekutukan Allah (berbuat syirik) pasti akan lenyap seluruh amalmu dan benar-benar kamu akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.’” (QS. Az-Zumar: 65)

Tauhid inilah pondasi dan asas agama yang setiap muslim wajib untuk tunduk beribadah kepada Allah dan memurnikan amal ketaatan untukNya semata. Bukan karena Allah membutuhkan amal dan ibadah kita, tetapi karena tauhid dan keikhlasan itulah kunci kebahagiaan kita. Tauhid inilah kewajiban terbesar manusia kepada Rabb dan Penciptanya.

Allah berfirman, “Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian, Yang menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 21)

Seorang ahli tafsir, Imam Al-Baghawi rahimahullah, menukil penjelasan sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma bahwa setiap kata “ibadah” dalam Al-Qur’an (yang diperintahkan untuk ditujukan kepada Allah), maka itu maksudnya adalah tauhid. Sungguh keterangan yang sangat penting dan berharga bagi kita.

Hakikat tauhid ialah beribadah kepada Allah semata dan meninggalkan syirik. Inilah hak Allah atas setiap hamba yang Allah ciptakan. Sebagaimana disebutkan dalam hadits sahih, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

“Sesungguhnya hak Allah atas hamba adalah mereka beribadah kepadaNya dan tidak mempersekutukan denganNya sesuatu apa pun.” (HR. Bukhari Muslim)

Kita semuanya adalah ciptaan Allah. Hanya Allah yang mengatur segenap alam semesta dan memberikan rezeki kepada kita. Allah tidak membiarkan kita hidup dalam kesia-siaan dan tanpa arahan yang jelas. Allah telah mengutus kepada kita seorang Rasul, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Barangsiapa yang taat kepada beliau, maka dia akan masuk surga. Dan barangsiapa durhaka kepadanya, maka dia terancam masuk ke dalam neraka.

Allah berfirman, “Dan barangsiapa yang menentang Rasul itu setelah jelas baginya petunjuk dan dia mengikuti selain jalan orang-orang beriman, maka Kami akan biarkan dia terombang-ambing dalam kesesatan yang dia pilih, dan Kami akan memasukkannya ke dalam neraka Jahanam. Dan sungguh Jahanam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’: 115)

Allah juga berfirman, “Dan barangsiapa yang taat kepada Rasul itu, maka sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.” (QS. An-Nisa’: 80)

Inilah akidah besar dan keyakinan kokoh yang berupaya untuk dihancurkan dan dirusak oleh musuh- musuh dakwah tauhid. Sebuah keyakinan yang menanamkan pokok keimanan dan benih amal saleh ke dalam hati setiap muslim. Bahwa ketaatan dan kebaikan yang dilakukan ini harus sesuai dengan aturan Islam dan petunjuk Nabi akhir zaman Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Sebagian ulama terdahulu mengatakan dalam kalimat yang ringkas, tetapi sangat dalam maknanya, bahwa risalah (ajaran) Islam ini berasal dari Allah. Kewajiban Rasul adalah menyampaikannya, sedangkan tugas kita adalah tunduk dan pasrah menjalankannya. “Minallahir risalah, wa ‘alarrasulil balagh, wa ‘alaina at-taslim.” Kepasrahan kepada ajaran Islam adalah kunci kebaikan dan pintu kebahagiaan. Suatu perkara yang sangat diperangi dan ditolak oleh Iblis dan bala tentaranya di alam dunia.

Lihatlah, bagaimana Iblis enggan dan menyombongkan diri di hadapan Allah. Ia menolak tunduk kepada perintah Allah. Ia lebih mengedepankan hawa nafsu dan dangkalnya logika. Oleh sebab itu, para ulama menyebutkan bahwa di antara sebab utama munculnya fitnah (kerusakan) berupa syubhat (kerancuan) pemikiran adalah “taqdimur ra’yi ‘alan naqli”, yaitu mendahulukan pendapat akal di atas dalil naqli (wahyu) dari Allah. Sebagaimana akar munculnya fitnah syahwat (kesenangan) terhadap berbagai perkara yang diharamkan ialah “taqdimul hawa ‘alal ‘aqli”,yaitu lebih mendahulukan hawa nafsu di atas akal sehat.

Iblis dan bala tentaranya berusaha menyesatkan manusia dari jalan hidayah melalui dua celah. Yaitu, dengan berlebih-lebihan (ekstrim) atau dengan sikap meremehkan dan menyepelekan. Mereka tidak peduli dari celah mana seorang hamba itu akan tersesat dan binasa. Yang jelas, ia selalu mengajak pengikutnya untuk bersama-sama menjadi penghuni neraka. Iblis pun telah bersumpah di hadapan Allah dengan menyebutkan kemuliaanNya untuk bekerja keras menyesatkan manusia.

Karena itulah, Allah selalu memperingatkan manusia bahwa setan (Iblis) itu adalah musuhnya, maka wajib untuk menjadikan setan itu sebagai musuh. 

Semua orang yakin bahwa setan adalah musuh kita, tetapi banyak orang yang justru menjadikan setan sebagai teman dan pembimbing perjalanan hidupnya. Ia tidak mau patuh kepada perintah dan larangan Rabbnya. Oleh sebab itu, Allah menyebut di dalam Al-Qur’an bahwa orang-orang kafir itu, penolong mereka adalah thaghut. Dan Iblis merupakan gembongnya thaghut yang justru mengeluarkan mereka dari cahaya menuju berlapis kegelapan.

Ibnul Qayyim rahimahullah menggambarkan kondisi banyak manusia, “Mereka berlari meninggalkan penghambaan yang mereka tercipta untuknya. Maka, mereka pun terjebak dalam perbudakan kepada hawa nafsu dan setan.”

Marilah kita berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah. Mintalah pertolongan kepada Allah. Mintalah petunjuk dan bimbinganNya. Sebagaimana dalam doa yang selalu dibaca oleh umat Islam di dalam salatnya, “ihdinash shirathal mustaqim”. Ya Allah, tunjukilah kami untuk bisa berjalan di atas jalan yang lurus ini

Wahai Allah, Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas ketaatan kepadaMu, Wahai Allah Zat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami untuk taat kepadaMu. Ya Allah, bantulah kami dalam berzikir, bersyukur, dan beribadah dengan baik kepadaMu.

Hak Allah atas hamba

Di antara perkara paling wajib yang harus diketahui oleh seorang muslim adalah apa-apa yang menjadi hak Allah atas segenap manusia. Hal ini adalah perkara yang sangat jelas dan gamblang di dalam syariat para Rasul dari masa ke masa hingga Rasul yang terakhir.

Allah berfirman, “Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl : 36)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya hak Allah atas para hamba adalah hendaknya mereka beribadah kepadaNya dan tidak mempersekutukan denganNya sesuatu apa pun.” (HR. Bukhari Muslim)

Beribadah kepada Allah dan meninggalkan syirik merupakan hak Allah atas segenap hamba. Inilah kewajiban terbesar di dalam hidup bani Adam. 

Allah berfirman, “Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian, yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 21)

Imam Al-Baghawi rahimahullah menukil tafsiran dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ’anhuma bahwa setiap perintah beribadah kepada Allah di dalam Al-Qur’an, maka maknanya adalah mentauhidkanNya.

Syekh Muhammad At-Tamimi rahimahullah berkata, “Perkara terbesar yang diperintahkan oleh Allah adalah tauhid, yaitu meng-esa-kan Allah dalam beribadah.”

Allah berfirman, “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepadaKu.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Allah berfirman, “Dan tidaklah Kami mengutus seorang rasul pun sebelum kamu (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang benar selain Aku, maka sembahlah Aku (saja).” (QS. Al-Anbiya’: 25)

Karena hanya Allah yang menciptakan kita, maka hanya Allah pula yang berhak untuk diibadahi. Menujukan ibadah kepada selain Allah adalah kezaliman yang paling besar. 

Allah berfirman, “Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah, benar-benar Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang orang zalim itu penolong.” (QS. Al-Ma’idah: 72)

Menujukan ibadah kepada selain Allah, apakah itu doa, sembelihan, nazar, istighatsah, dan sebagainya, adalah penghancur amal kebaikan. 

Allah berfirman, “Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum kamu, ‘Jika kamu berbuat syirik, pasti lenyap semua amalmu dan benar- benar kamu akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.’” (QS. Az-Zumar: 65)

Oleh sebab itu, syirik menjadi keharaman paling besar dan dosa besar yang paling berat. 

Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepadaNya dan masih mengampuni dosa-dosa di bawah itu bagi siapa saja yang dikehendakiNya.” (QS. An-Nisa’: 48)

Amal kebaikan tidak akan diterima oleh Allah, kecuali apabila bersih dari syirik. Allah berfirman, “Maka, barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal saleh dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apa pun.” (QS. Al-Kahfi: 110)

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian, oleh Ferry Is Mirza DM Wartawan Utama PWI Dewan Pers 3170, referensi tafsir alquran dan alhadits, Kamis 29 Jumadil Akhir 1445 H, 11 Jan 24

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Agama Islam Bukan Warisan Nenek Moyang

Agama Islam bukanlah agama yang diwariskan dari nenek moyang atau dari kedua orangtua kepada anak-anaknya. Sudah terlalu banyak bukti bahwa Islam adalah agama fitrah yang sesuai dengan fitrah manusia.

Allah Ta’ala berfirman, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS. Ar-Ruum: 30)

Al-Qurthubi membawakan makna fitrah dalam tafsir, yaitu bermakna Islam. Beliau berkata: “Maknanya yaitu Islam, Ini sejak Allah menciptakan nabi Adam dan seluruh manusia” (tafsir Qurthubi)

Islam Ada Sejak Zaman Nabi Adam

Perlu diketahui terkait tafsir Al-Qurthubi bahwa memang agama Islam itu sudah ada sejak zaman Nabi Adam, karena pengertian Islam secara umum adalah sebagaimana tersebut, “Islam adalah berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkanNya, tunduk dan patuh kepadaNya dengan ketaatan, dan berlepas diri dari perbuatan syirik dan para pelakunya” (Utsul Tsalatsah Syaikh At-Tamimi)

Semua Nabi dan Rasul Mendakwahkan Tauhid

Karenanya semua dakwah nabi dan para Rasul sama yaitu mendakwahkan tauhid dan berlepas dari kesyirikan. 

Allah berfirman, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut’” (QS. An-Nahl: 36)

Setelah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diutus dengan Islam dalam pengertian lebih khusus yaitu syariat Islam Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Setelah beliau diutus semua agama harus mengikuti syariat Islam beliau. Beliau menjelaskan seandainya Nabi Musa hidup di zaman beliau maka harus mengikuti beliau. 

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Seandainya Musa ‘alaihissalam masih hidup niscaya tidak diperkenan baginya melainkan dia harus mengikutiku” (HR. Ahmad)

Agama Islam Bukan Warisan

Agama Islam bukan warisan tetapi karena hidayah yang Allah berikan kepada yang dikehendaki sesuai dengan ilmu dan hikmah Allah. Buktinya ;  Ada orang yang orangtuanya Islam tetapi setelah baligh /dewasa ia malah murtad dan sebaliknya ada yang kedua orangtuanya non-muslim kemudian mendapat hidayah dan menjadi Islam.

Nabi Nuh mempunyai anak yang tidak ikut agama nabi Nuh dan Nabi Nuh tidak bisa mewariskan kepada semua anaknya.

Nabi Ibrahim tidak mendapatkan warisan ajaran bapaknya dan semua kaumnya yang menyembah berhala.

Sebagai bukti keadilan Allah, semua anak dilahirkan di atas fitrah yaitu agama Islam. Meskipun kedua orang tuanya bukan Islam. 

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Setiap manusia dilahirkan ibunya di atas fitrah. Kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi” (HR. Muslim)

Orang Tua yang Menjadikan Berbeda Agama?

Orangtua mereka yang memberi “cap” agama selain Islam. Ini hanya “cap” saja sampai mereka baligh. Jika sebelum baligh / dewasa mereka meninggal maka sebagai bukti keadilan Allah, mereka masuk surga semuanya. Karena memang mereka belum baligh dan belum bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Mereka dalam asuhan Nabi Ibrahim di surga sebagaimana dalam hadits berikut.

“Orang tua di bawah pohon adalah Ibrahim. Sedangkan anak-anak kecil yang ada di sekitarnya adalah anak-anak umat manusia (yang mati sebelum baligh).”

Pendapat ulama yang lainnya bahwa anak- anak yang belum baligh akan diuji lagi oleh Allah kelak sebagaimana orang buta, tuli dan orang yang memang tidak sampai ajaran Islam pada mereka sama sekali. Adapun jika telah baligh, mereka sudah bisa berpikir dan merenung serta sudah bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Mereka sudah bisa memilih dan membedakan mana yang baik dan buruk. Sangat jelas ajaran agama Islam adalah yang paling sesuai dengan fitrah dan logika manusia. Jika mencari agama selain Islam, maka akan merugi. 

Allah berfirman, “Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (QS. Ali Imran: 85)

Tidak Bisa Memilih Islam Sejak Lahir

Sebagian orang protes dengan ketidakadilan bahwa orang-orang yang lahir dari orang tua dan tempat yang bukan beragama Islam maka dia otomatis tidak beragama Islam (tidak mewarisi Islam). Tidak demmikian, banyak yang keadaannya demikian tetapi bisa beragama Islam dan mendapatkan hidayah. Kemudian mengapa mereka hanya protes pada agama saja. Mengapa tidak protes dengan orang yang lahir ada yang pintar, ada yang bodoh. Ada yang lahir di keluarga kaya, ada juga yang lahir di keluarga miskin.

Yang benar adalah semuanya sudah ditetapkan dalam takdir Allah dan sesuai dengan ilmu serta hikmah Allah. Kita sebagai manusia dan hambaNya sangat tidak layak bertanya-tanya “Mengapa Allah takdirkan ini, mengapa tidak Allah takdirkan itu.” Karena kita hanya hamba dan kitalah yang akan ditanya (diminta pertanggung jawaban) atas perbuatan kita sedangkan Allah tidak ditanya.

Allah berfirman, “Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat Nya dan merekalah yang akan ditanyai” (Al-Anbiya`: 23)

Tentu sangat tidak layak seorang pembantu / budak ketika disuruh majikannya kemudian protes, mengapa ia harus melakukan hal tersebut. Apalagi dengan Rabb pencipta, tentu sangat tidak layak.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian, oleh Ferry Is Mirza DM Wartawan Utama PWI Dewan Pers 3170, refrensi tafsir alquran dan alhadits, Rabu 28 Jumadil Akhir 1445 H, 10 Januari 2024

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu

Untuk Apa Kita Diciptakan ?

SEGALA PUJI BAGI ALLAHU RABBI pencipta semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu Alayhi Wasallam, kepada keluarga, para sahabat dan yang mengikutinya dengan baik hingga hari pembalasan kelak. 

Masih ada segelintir orang yang dalam dirinya muncul pertanyaan : Untuk Apa Kita Diciptakan ? Bahkan belum menemukan jawaban dari pertanyaan itu hingga berpuluh-puluh tahun lamanya. Lalu sampai sampai menanyakan pula, “Kenapa kita harus beribadah ?” 

Saudaraku … Inilah Tujuan Kita Hidup Di Dunia Ini. Allah Ta’ala sudah menjelaskan dengan sangat gamblangnya di dalam Al Qur’an apa yang menjadi tujuan kita hidup di muka bumi ini. 

Cobalah kita membuka lembaran- lembaran Al Qur’an dan kita jumpai pada surat Adz Dzariyat ayat 56. 

Allah Ta’ala berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaKu.” (QS. Adz Dzariyat: 56)

Saudaraku … Jadi, Allah tidaklah membiarkan kita begitu saja. Bukanlah Allah hanya memerintahkan kita untuk makan, minum, melepas lelah, tidur, mencari sesuap nasi untuk keberlangsungan hidup. Ingatlah, bukan hanya dengan tujuan seperti ini Allah menciptakan kita. Tetapi ada tujuan besar di balik itu semua yaitu agar setiap hamba dapat beribadah kepadaNya. 

Allah Ta’ala berfirman ; “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al Mu’minun 115)

Ibnu Qoyyim Al Jauziyah mengatakan, “Apakah kalian diciptakan tanpa ada maksud dan hikmah, tidak untuk beribadah kepada Allah, dan juga tanpa ada balasan dariNya.” (Madaarijus Salikin, 1/98) 

Jadi beribadah kepada Allah adalah tujuan diciptakannya jin, manusia dan seluruh makhluk. Makhluk tidak mungkin diciptakan begitu saja tanpa diperintah dan tanpa dilarang. 

Allah Ta’ala berfirman, “Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. Al Qiyamah: 36)

Bukan Berarti Allah Butuh pada Kita, Justru Kita yang Butuh Beribdah pada Allah. Saudaraku, setelah kita mengetahui tujuan hidup kita di dunia ini, perlu diketahui pula bahwa jika Allah memerintahkan kita untuk beribadah kepadaNya, bukan berarti Allah butuh pada kita. Sesungguhnya Allah tidak menghendaki sedikit pun rezeki dari makhlukNya dan Dia pula tidak menghendaki agar hamba memberi makan padaNya. 

Allah lah yang Maha Pemberi Rizki. Perhatikan ayat selanjutnya, kelanjutan surat Adz Dzariyat ayat 56. 

Allah Ta’ala berfirman, “Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari makhluk dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan padaKu. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz Dzariyat: 57-58)

Jadi, justru kita yang butuh pada Allah. Justru kita yang butuh melakukan ibadah kepadaNya.

Saudaraku … InsyaAllah kita dapat memperhatikan perkataan yang sangat indah dari ulama Robbani, Ibnul Qoyyim rahimahullah tatkala beliau menjelaskan surat Adz Dzariyaat ayat 56-57.

Beliau rahimahullah mengatakan, “Dalam ayat tersebut Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia tidaklah menciptakan jin dan manusia karena butuh pada mereka, bukan untuk mendapatkan keuntungan dari makhluk tersebut. Akan tetapi, Allah Ta’ala Allah menciptakan mereka justru dalam rangka berderma dan berbuat baik pada mereka, yaitu supaya mereka beribadah kepada Allah, lalu mereka pun nantinya akan mendapatkan keuntungan. Semua keuntungan pun akan kembali kepada mereka. 

Hal ini sama halnya dengan perkataan seseorang, “Jika engkau berbuat baik, maka semua kebaikan tersebut akan kembali padamu.” Jadi, barangsiapa melakukan amalan sholeh, maka itu akan kembali untuk dirinya sendiri.” (Thoriqul Hijrotain 222)

Jelaslah bahwa sebenarnya kita lah yang butuh pada ibadah kepadaNya karena balasan dari ibadah tersebut akan kembali lagi kepada kita.

Apa Makna Ibadah ?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Dalam ibadah itu terkandung mengenal, mencintai, dan tunduk kepada Allah. Bahkan dalam ibadah terkandung segala yang Allah cintai dan ridhai. Titik sentral dan yang paling urgent dalam segala yang ada adalah di hati yaitu berupa keimanan, mengenal dan mencintai Allah, takut dan bertaubat padaNya, bertawakkal padaNya, serta ridha terhadap hukumNya. 

Di antara bentuk ibadah adalah shalat, dzikir, do’a, dan membaca Al Qur’an.” (Majmu’ Al Fatawa, 32/232)

Tidak Semua Makhluk Merealisasikan Tujuan Penciptaan Ini. Perlu diketahui bahwa irodah (kehendak) Allah itu ada dua macam.

Pertama adalah irodah diniyyah, yaitu setiap sesuatu yang diperintahkan oleh Allah berupa amalan sholeh. Namun orang- orang kafir dan fajir (ahli maksiat) melanggar perintah ini. Seperti ini disebut dengan irodah diniyyah, namun amalannya dicintai dan diridhai. Irodah seperti ini bisa terealisir dan bisa pula tidak terealisir.

Kedua adalah irodah kauniyyah, yaitu segala sesuatu yang Allah takdirkan dan kehendaki, namun Allah tidaklah memerintahkannya. Contohnya adalah perkara-perkara mubah dan bentuk maksiat. Perkara- perkara semacam ini tidak Allah perintahkan dan tidak pula diridhai. Allah tidaklah memerintahkan makhlukNya berbuat kejelekan, Dia tidak meridhoi kekafiran, walaupun Allah menghendaki, menakdirkan, dan menciptakannya. Dalam hal ini, setiap yang Dia kehendaki pasti terlaksana dan yang tidak Dia kehendaki tidak akan terwujud. 

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaKu.” (QS. Adz Dzariyat: 56)

Marilah kita memohon kepada Allah, agar menunjuki kita sekalian dan seluruh kaum muslimin kepada perkataan dan amalan yang Dia cintai dan ridhai. Tidak ada daya untuk melakukan ketaatan dan tidak ada kekuatan untuk meninggalkan yang haram melainkan dengan pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian, oleh Ferry Is Mirza DM Wartawan Utama PWI Dewan Pers 3170, refrensi tafsir alquran dan alhadits, Selasa 27 Jumadil Akhir 1445 H, 9 Januari 2024

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu

Musibah, Ujian atau Azab ?

PERTANYAAN seperti judul EPCDH di atas sering ditanyakan oleh sebagian kaum muslimin ketika tertimpa musibah. Mereka menanyakan, Apakah musibah ini ujian yang dapat meningkatkan derajat, ataukah azab atas dosa-dosa selama ini ?

Jawabannya adalah, secara umum kita tidak bisa memastikan dengan benar-benar pasti bahwa apa yang Allah Ta’ala turunkan ini merupakan ujian yang meningkatkan derajat atau azab akibat dosa dosa kita. Karena semua atas kehendakNYA dan hanya Allah Ta'ala Yang Maha Tahu atas segalanya. 

Akan tetapi, kita bisa mengetahui dari indikasi-indikasi tertentu, yaitu bagaimana seorang hamba menghadapi musibah tersebut.

TANDA-TANDA MUSIBAH UJIAN ATAU AZAB

Perhatikanlah hadits berikut, Rasulullah Shallallahu Alahi Wasallam bersabda, "Sesungguhnya pahala yang besar didapatkan melalui cobaan yang besar pula. Apabila Allah Ta’ala mencintai seseorang, maka Allah akan memberikan cobaan kepadanya. Barangsiapa yang rida, maka Allah akan meridainya. Dan barangsiapa yang murka (tidak menerimanya), maka Allah murka kepadanya.” (HR. At-Tirmidzi)

Jadi indikasinya adalah bagaimanakah sikap hamba tersebut dalam menyikapi musibah yang dia hadapi. Apabila dia rida, maka Allah Ta’ala akan rida padanya. Apabila dia murka dan tidak terima dengan musibah yang merupakan takdir dan perbuatan Allah, maka Allah pun murka kepadanya.

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Rahimahullah "Tanda bala (musibah) sebagai hukuman dan sebagai pembalasan adalah orang tersebut tidak bersabar, bahkan bersedih dan mengeluh kepada makhluk. Tanda bala (musibah) sebagai penebus dan penghapus kesalahan adalah kesabaran yang indah tanpa mengeluh, tidak bersedih dan tidak gelisah, serta tidak merasa berat ketika melaksanakan perintah dan ketaatan. Tanda bala  (musibah) sebagai pengangkat derajat adalah adanya rida, merasa cocok/sesuai (atas takdir Allah), dan merasa tenang jiwanya serta tunduk patuh terhadap takdir hingga hilangnya musibah tersebut” (At Tabaqatul Kubra As-Sya’rani, hal. 193)

SELALU HUSNUZAN KEPADA ALLAH DAN MENGAMBIL PELAJARAN ATAS SETIAP MUSIBAH

Hendaknya kita husnuzan dengan Allah Ta’ala agar kita selalu rida dengan apa yang Allah takdirkan kepada kita. Apa yang Allah takdirkan, itulah yang terbaik bagi kita.

Dalam sebuah hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman, "Aku sesuai dengan persangkaan hambaKu.” (HR. Bukhari).

Salah satu cara agar kita selalu husnudzan kepada Allah bahwa musibah ini adalah takdir terbaik bagi kita yaitu dengan meyakini bahwa Allah akan memberikan ujian bagi hamba yang Allah cintai.

Rasulullah Shallallahu Alahi Wasallam bersabda, "Apabila Allah mencintai seseorang, maka Allah akan memberikan cobaan kepadanya. Barangsiapa yang rida (menerimanya), maka Allah akan meridainya. Dan barangsiapa yang murka (tidak menerimanya), maka Allah murka kepadanya.” (HR. At-Tirmidzi)

Ujian yang disegerakan di dunia juga tanda kebaikan dari Allah Ta’ala. Rasulullah Shallallahu Alahi Wasallam bersabda, "Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukuman di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang dia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi).

Renungkan pula perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah berikut ini, "Musibah yang mendekatkanmu kepada Allah lebih baik dari nikmat yang membuatmu lupa kepada Allah.” (Tasliyah Ahlil Mashaa-ib, hal. 227)

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian oleh Ferry Is Mirza DM Wartawan Utama Dewan Pers 3170, referensi tafsir alquran dan alhadits, Sabtu 24 Jumadil Akhir 1445 H, 6 Jan 2024

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Sebelas Penghapus Amalan Kebaikan

KETIKA KITA mengerjakan suatu ibadah dan amal kebaikan, tujuannya adalah untuk mendapatkan ridha dan pahala dari Allah Ta’ala.  Semoga dengan pahala yang kita harapkan tersebut, dapat menjadikan rahmat dan tiket untuk masuk ke dalam surgaNya. Namun, harus kita sadari, pahami, dan waspadai bahwa ada amalan-amalan (perbuatan) yang bisa membuat pahala- pahala yang kita kumpulkan menjadi hilang, musnah tak tersisa. Di antara hal yang dapat menghilangkan pahala seseorang, bahkan seluruh amal kebaikannya adalah sebagai berikut :

Pertama, murtad (keluar dari agama Islam)

Siapa saja yang keluar dan agama Islam atau mengganti agamanya menjadi agama lain, maka seluruh amal dan pahala yang ia kerjakan sebelumnya menjadi terhapus dan tak bernilai di hadapan Allah Ta’ala. Di akhirat kelak, ia akan dimasukan ke dalam neraka dan kekal di dalamnya.

Allah Ta’ala berfirman, “Barangsiapa di antara kalian yang murtad dari agamanya kemudian mati dalam keadaan kafir, maka mereka itulah orang-orang yang terhapus amalannya di dunia dan akhirat. Dan mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal berada di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 217)

Kedua, syirik

Menyekutukan Allah dengan berbagai model dan bentuknya merupakan bentuk kezaliman yang paling besar dan penghinaan kepada Allah Ta’ala. Bahkan, orang yang mati membawa dosa syirik tidak akan diampuni oleh Allah jika belum bertobat darinya. Allah Ta’ala berfirman, ”Seandainya mereka menyekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 88)

Di antara kesyirikan yang banyak terjadi di masyarakat kita adalah mendatangi dukun, peramal, tukang sihir, atau memakai jimat. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal dan bertanya kepadanya tentang suatu perkara, maka salatnya tidak akan diterima selama 40 hari.” (HR. Muslim)

Dalam sabda yang lain, “Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal dan dia membenarkan ucapannya, maka dia berarti telah kufur pada Al-Qur’an yang telah diturunkan pada Muhammad.” (HR. Ahmad). Dalam riwayat lain disebutkan, “Barangsiapa yang menggantungkan tamimah (jimat), maka ia telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad, 4: 156. Lihat As-Silsilah Ash-Shahiha 492)

Ketiga, riya’ dan sum’ah

Riya’ adalah memperlihatkan suatu amal ibadah agar dipuji orang lain. Sedangkan sum’ah adalah menceritakan amal ibadah dan kebaikan yang ia kerjakan dengan tujuan agar dipuji. Allah Ta’ala berfirman, “Maka, celakalah bagi orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, orang-orang yang berbuat riya’.” (QS. Al Ma’un: 4-6)

Dalam firman-Nya yang lain, “Seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka, perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadikan ia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petunujuk kepada orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 264)

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Siapa yang memperdengarkan amalannya (kepada orang lain), Allah akan memperdengarkan (bahwa amal tersebut bukan untuk Allah). Dan siapa saja yang ingin mempertontonkan amalnya, maka Allah akan mempertontonkan aibnya (bahwa amalan tersebut bukan untuk Allah).” (HR. Bukhari)

Keempat dan kelima, durhaka kepada kedua orang tua dan mengungkit pemberian

Allah menggandengkan perintah untuk mentauhidkanNya (mengesakanNya) dengan amalan berbakti kepada kedua orang tua, sebagaimana firman-Nya, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik- baiknya.” (QS. Al-Isra: 23)

Durhaka kepada kedua orang tua dapat mengapuskan amal. Selain durhaka, al-mann (mengungkit- ngungkit sedekah), dan al-adza (menyakiti perasaan penerima) juga dapat membatalkan amal dari sedekahnya.

Allah Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut- nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).” (QS. Al-Baqarah: 264)

Demikian juga, yang disampaikan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam riwayat berikut, “Tiga golongan yang Allah tidak terima amal ibadahnya, yang wajib dan yang sunah: anak yang durhaka kepada orang tuanya, orang yang mengungkit-ungkit pemberiannya, dan orang yang mendustakan takdir.” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim As-Sunnah  323 Ath-Thabrani Al-Kabir 7547, sanad yang dihasankan oleh Al-Mundziri dan Syekh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah 1785)

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang durhaka pada kedua orang tuanya, ….” (HR. ‘Abdurrazzaaq 13859; Ahmad 2:203; Ath-Thabaraniy dalam Majma’uz-Zawa’id, 6:257; Al-Khathib, 11:191. Lihat Silsilah Ash-Shahihah  673)

Keenam, meninggalkan salat wajib, terutama salat Asar

Meninggalkan salat fardu (wajib) merupakan dosa besar dan dapat menghapuskan semua amal ibadahnya, baik berupa puasa, zakat, haji, maupun ibadah lainnya. Bahkan, jika ia dalam hari tersebut meninggalkan salat Asar, maka amalnya pada hari itu akan terhapus.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda ; “Yang pertama kali dihisab dari hamba pada hari Kiamat adalah salat. Jika salatnya baik, maka seluruh amalnya menjadi baik baginya, dan jika salatnya jelek, maka menjadi jelek seluruh amalnya.” (HR. Ath Thabrani 1859)

Dalam sabda beliau yang lain, “Bersegeralah kalian melakukan salat Asar! Karena Nabi bersabda, ‘Siapa yang meninggalkan salat Asar, maka gugur amalnya (pada hari itu, pen.).’” (HR. Al-Bukhari  553)

Ketujuh, mengkonsumsi khamr (minuman keras)

Khamr adalah segala yang memabukkan, baik sedikit atau banyak, baik bentuknya cair, gas, atau padat.  Allah telah mengharamkan segala jenis khamr di dunia dan menghalalkannya di surga kelak, sebagai ujian bagi hambaNya, dan melindungi kesehatan manusia itu sendiri.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Siapa yang minum khamr, maka shalatnya tidak diterima selama 40 hari. Jika ia bertaubat, maka Allah terima taubatnya. Jika ia mengulanginya, maka shalatnya tidak diterima selama 40 hari. Jika ia bertaubat, maka Allah terima taubatnya. Jika ia mengulangi, maka shalatnya selama 40 hari tidak Allah terima. Jika ia bertaubat, maka Allah terima taubatnya. Jika ia mengulangi keempat kalinya, Allah tidak menerima taubatnya dan memberinya minuman dari sungai Khabal.”

Ibnu Umar ditanya, “Wahai Abu Abdirrahman, apa itu sungai Khabal?” Dia menjawab ; “Yaitu, sungai dari nanah penduduk neraka.” (HR.At-Tirmidzi 1862). Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga bersabda, “Ada tiga orang yang tidak masuk surga, yaitu orang yang durhaka kepada orang tua, pecandu khamr, dan mengungkit ungkit dalam sedekah.” (HR. An-Nasai 2562)

Kedelapan, memelihara anjing

Memelihara anjing dapat mengurangi pahala seseorang setiap harinya satu qiroth, kecuali anjing untuk menjaga ladang, menjaga ternak, dan berburu. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Barangsiapa memelihara anjing, maka amalan salehnya akan berkurang setiap harinya sebesar satu qirath (satu qirath adalah sebesar gunung Uhud), kecuali anjing untuk menjaga tanaman atau hewan ternak.” (HR. Bukhari dan Muslim). Satu qirath adalah pahala sebesar gunung yang besar sebagaimana ada sahabat yang bertanya kepada Nabi, “Apa itu dua qirath?” Jawab beliau, “Seperti dua gunung yang besar.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kesembilan, bid’ah: mengada-adakan dalam agama

Berbuat suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari Rasulullah dan para sahabatnya, maka amalan tersebut tidak ada nilainya, tiada pahalanya, bahkan pelakunya akan mendapatkan dosa. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Barangsiapa yang beramal tanpa ada perintah dari kami, maka tertolak.” (HR. Muslim)

Jika bid’ah tersebut dilakukan di Madinah, maka selain amalannya tertolak, ia juga akan mendapatkan laknat. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Madinah adalah haram dari ‘Air hingga tempat ini. Siapa yang melakukan bid’ah di dalamnya, maka dia mendapatkan laknat Allah, para malaikatNya, dan seluruh manusia (mukminin). Allah tidak menerima ibadah sunahnya dan wajibnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kesepuluh, bermaksiat ketika sendiri atau sepi, menganggap dosa tersebut legal, dan menceritakannya

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Aku benar-benar tahu sekelompok umatku yang datang para hari kiamat dengan membawa pahala sepenuh gunung Tihamah yang putih, lalu Allah jadikan itu laksana debu yang beterbangan.” Tsauban bertanya, “Wahai Rasulullah, jelaskan siapa mereka agar kami tidak menjadi seperti mereka tanpa disadari.”

Beliau menjawab, “Mereka saudara kalian dan sejenis dengan kalian. Mereka salat malam seperti kalian, tetapi mereka adalah kaum yang apabila bersendirian dengan larangan Allah, maka mereka melanggarnya.” (HR.AbuDawud 4245)

Namun, orang yang menyembunyikan maksiatnya memiliki kemungkinan Allah ampuni selagi tidak membeberkannya kepada manusia. “Setiap umatku diampuni, kecuali orang-orang yang menampakkan. Di antara contoh orang yang menampakkan adalah seseorang berbuat dosa di malam hari, lalu di pagi hari membeberkannya, padahal sudah Allah tutupi. Dia berkata, ‘Hai Fulan, tadi malam aku berbuat ini dan itu.’ Di malam hari, ia ditutupi oleh Rabb-nya. Tetapi, di pagi hari, ia justru menyingkap tutupan Allah tersebut.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Terkadang, seseorang muncul syahwat yang mana mereka dikalahkan olehnya, sehingga ia melakukan maksiat di saat sendirian. Tetapi, orang yang beriman, maka hatinya membenci maksiat dan mengingkarinya, muncul rasa penyesalan dan ia pun bertobat setelahnya. Ia tidak suka orang lain mengetahuinya dan tidak pula membeberkannya kepada siapa pun, kecuali kepada ahli ilmu untuk meminta nasihat.

“Sesungguhnya Allah mendekatkan orang beriman lalu memasang satir yang menutupinya (sehingga tidak dilihat banyak orang), seraya berfirman, ‘Apakah kamu mengakui dosa ini? Apakah kamu mengakui dosa ini?’ Dia menjawab, ‘Ya, wahai Rabb.’ Hingga tatkala ia mengakui dosa-dosanya dan menyangka akan binasa, Allah berfirman, ‘Di dunia, kututupi dosamu. Dan hari ini, kuampuni dosamu.’ Lalu, kitab kebaikannya diberikan kepadanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lainnya, “Ada seorang hamba berbuat dosa lalu ia berkata, ‘Ya Rabbi, aku berbuat dosa, maka ampuni aku.’ Allah menjawab,. ‘HambaKu mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menyiksanya. Kuampuni hambaKu.’ Kemudian, berlalu masa yang Allah kehendaki. Lalu, ia kembali berbuat dosa, lalu berkata, ‘Ya Rabbi, aku berbuat dosa, maka ampuni aku.’ Allah menjawab, ‘HambaKu mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menyiksanya. Kuampuni hambaKu.’ Kemudian, berlalu masa yang Allah kehendaki. Lalu, ia kembali berbuat dosa lalu berkata, ‘Ya Rabbi, aku berbuat dosa, maka ampuni aku.’ Allah menjawab, ‘HambaKu mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menyiksanya. Kuampuni hambaKu (tiga kali), silahkan berbuat sesukanya.’” (HR. Al-Bukhari 7507 dan Muslim 2758)

Sebelas, membunuh

Membunuh seorang muslim tanpa hak dan syariat yang dibenarkan (qishash, rajam, murtad) adalah haram dan termasuk dosa besar. Begitu pula, non muslim (kafir) yang tidak memerangi kaum muslimin juga dilarang untuk dibunuh.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahanam. Ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS. An-Nisa: 93)

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda ; “Barangsiapa membunuh seorang kafir dzimmi, maka dia tidak akan mencium bau surga. Padahal, sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun.” (HR. An-Nasa’i). Dalam sabda yang lain ;  “Siapa yang membunuh orang beriman dengan perasaan gembira, maka Allâh tidak menerima ibadah sunahnya dan wajibnya.” (HR AbuDawud 4270)

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian, oleh Ferry Is Mirza DM Wartawan Utama PWI Dewan Pers 3170, refrensi tafsir alquran dan alhadits, Jumat 23 Jumadil Akhir 1445 H, 5 Jan 2024

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Taubat Nasuha

SELAMA 365 HARI  TAHUN 2023 sudah kita lalui dengan suka duka. Dan tentu ada yang kita sadari atau tidak, diantara waktu pada hari hari itu kita berbuat dosa. 

Nah, senyampang kita masih diberi Allah Ta'ala usia barokah, dan sehat wal afiyaa hingga bisa menapaki awal bulan Januari di tahun baru 2024 Masehi ini, sungguh patut kita bersyukur Alhamdulillah....... 

Selain itu, kita juga perlu bertaubat atas dosa dosa yang kita buat selama setahun lalu, dan berdoa untuk tak berbuat dosa lagi. 

Manusia adalah makhluk yang seringkali berbuat dosa. Namun, ada yang segera memperbaikinya dan ada yang tenggelam dalam kubangan kehinaan. Sebagai seorang mukmin sudah selayaknya kita menjaga perasaan takut kepada Allah dan yakin bahwa Allah Azza Wa Jalla Maha Mengampuni dosa hamba-hambaNya, kemudian bertaubat atas segala dosa.

Allah Azza Wa Jalla berfirman, "Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Wahai hamba-hambaKu yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)

Dengan banyaknya kezaliman manusia kepada diri mereka sendiri berupa perbuatan maksiat, Allah membuka selebar-lebarnya pintu rahmatNya, yakni pengampunan bagi mereka yang bertaubat dengan sungguh-sungguh kepadaNya. 

Allah Azza Wa Jalla berfirman, "Demikian (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka (segera) mengingat Allah lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya. Siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Mereka pun tidak meneruskan apa yang mereka kerjakan (perbuatan dosa itu) sedangkan mereka mengetahuinya.” (QS. Ali Imran: 135)

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, "Wahai anak Adam, seandainya engkau mendatangiku dengan kesalahan seluas bumi dalam keadaan tidak berbuat kesyirikan, Aku (Allah) akan membalasmu dengan seluas bumi ampunan.” (HR. At-Tirmidzi)

Syarat Taubat Nasuha

Para ulama menetapkan syarat sebuah taubat dikatakan sebagai taubat nasuha, yakni :

Pertama, Bersegera meninggalkan dosa. Kedua, Menyesal atas apa yang telah dikerjakan. Ketiga, Bertekad untuk tidak mengulangi kembali kemaksiatan tersebut. Keempat, Jika dosanya berkaitan dengan hak manusia, maka ia harus segera mengembalikannya.

Langkah Taubat Nasuha

Dan jalan untuk taubat nasuha adalah jalan yang tidak mudah dan butuh kesungguhan. Berikut adalah langkah- langkah agar taubat kita benar- benar terhitung sebagai taubat nasuha :

Pertama, Senantiasa merasa diawasi oleh Allah Azza Wa Jalla, baik ketika bersendiri maupun ketika bersama manusia yang lain.

Allah ‘Azza Wajalla berfirman, "Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Kemudian, Dia bersemayam di atas Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya serta apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke sana. Dia bersamamu di mana saja kamu berada. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hadid: 4)

Kedua, Memahami bahaya perbuatan maksiat. Karena setiap dosa akan memberikan efek negatif untuk pelakunya. Seperti perasaan tidak tenang, tidak adanya keberkahan dalam setiap hal yang dikerjakan, selalu was was, dan lain-lain.

Ketiga, Senantiasa mengingat-ingat kematian. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, "Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian.” (HR. At-Tirmidzi, An-Nasa’i, disahihkan oleh Ibnu Hibban)

Keempat, Menjauh dari tempat- tempat dan teman- teman yang mengajak kepada kemaksiatan.

Kelima, Banyak mengingat surga dan neraka. Terlebih ketika menguat dorongan kembali kepada kemaksiatan. Ingatlah bahwa bahan bakar neraka adalah manusia dan bebatuan. 

Allah Azza Wa Jalla berfirman, "Jika kamu tidak (mampu) membuat(nya) dan (pasti) kamu tidak akan (mampu) membuat(nya), takutlah pada api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 24)

Keenam, Mencari teman-teman yang baik, sebagaimana kita dianjurkan untuk menjauhi teman yang bisa kembali mengajak kepada maksiat, maka memiliki teman yang baik akan membantu kita menjaga taubat kita. 

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda "Agama seseorang dilihat dari agama teman dekatnya. Maka, berhati-hatilah ketika memilih teman.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Ketujuh, Memperbaiki semangat dalam mengerjakan kewajiban dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan.

InsyaAllah dengan langkah dan tujuh poin singkat ini bisa menjadikan taubat kita terjaga. Aamiin...... 

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian, oleh Ferry Is Mirza DM Wartawan Utama PWI Dewan Pers 3170, refrensi tafsir alquran dan alhadits, Kamis 22 Jumadil Akhir 1445 H, 4 Jan 2024

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Empat Hal yang Merusak / Menghaguskan Amal

Amalan shaleh kerap dikerjakan oleh kaum muslimin, agar mendapat pahala dan kebaikan dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala

Meski demikian, setiap muslim harus berhati-hati dalam bertindak, karena ada sejumlah perkara yang justru dapat merusak amal salehnya.

Rasulullah pernah menyampaikan : bahwa ada orang yang mengumpulkan pundi pundi pahala selama hidup di dunia ternyata dia menjadi orang paling bangkrut dan rugi di akhirat.

Itulah mengapa kita perlu menjaga amalan kita supaya tidak hangus di akhirat nanti. Yang bisa membuat amalan hangus diantarnya :

1. Riya’ dan Sum’ah : Jika seseorang melakukan amal shalih hanya dengan tujuan supaya dilihat atau didengar oleh orang lain, hanguslah amalannya. Syarat diterimanya amal selain benar harus ikhlas karena Allah semata.

2. Hasad : Hasad atau dengki, merupakan perasaan tidak senang atas kebahagiaan dan nikmat yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala berikan pada orang lain.

Rasulullah Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda : "Hindarilah kamu daripada hasad, karena hasad itu memakan segala amal kebajikan, bagaikan api memakan kayu bakar." (HR Abu Daud)

3. Ujub : Jika seseorang melakukan amal shalih lalu merasa bangga diri dengan amalannya dan meremehkan orang lain, itulah yang dinamakan ujub.

Hadits Nabi : “Tiga penghancur yaitu: kikir yang dipelihara, hawa nafsu yang dituruti dan ujub.”

4. Zalim : Hadits Nabi bahwa orang yang bangkrut adalah : orang yang membawa pahala amal shalih selama di dunia tapi ia banyak menzalimi orang lain, maka pahalanya akan diberikan kepada pihak yang terzalimi sampai pahalanya habis dan dibebankan kepadanya dosa dosa mereka semua.(Neraka yang didapatkan).

Semoga kita selalu dilindungi oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala dari hal hal yang buruk yaitu : perbuatan, perilaku atau tindakan yang tidak baik atau merugikan diri kita sendiri.

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian, oleh Ferry Is Mirza DM Wartawan Utama PWI Dewan Pers 3170, Rabu 21 Jumadil Akhir 1445 H, 03 Januari 2024, referensi tafsir alquran dan alhadits. 

Assalamu'alaikum Warahmatullahi wabarakatuh

Manusia Diciptakan Levelnya Bertingkat Tingkat, Kita yang Mana ?

KETIKA menciptakan manusia, Allah Ta’ala ciptakan dalam kondisi yang berbeda-beda levelnya dan bertingkat-tingkat. Tidak hanya dalam hal rezeki, tetapi juga dalam hal keimanan, ketakwaan, ilmu, fisik, dan sebagainya. 

Allah Ta’ala berfirman, “(Kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Allah, dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali Imran: 163)

Dalam firmanNya yang lain, “Dia melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendakiNya dan menyempitkan(nya). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Asy-Syura: 12)

Tatkala Allah menciptakan manusia, Ia memberikan perbedaan level pada hambaNya. Hal ini merupakan salah satu bentuk keadilan Allah. Dan semua ketetapan Allah pasti ada hikmahnya. Hal ini sebagaimana firmanNya :

“Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba- hambaNya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am: 18). Ada beberapa hikmah bertingkat-tingkatnya level manusia sebagai berikut:

Pertama, agar menyadari bahwa di akhirat manusia pun tidak sama tingkatannya

Allah Ta’ala berfirman, “Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya.” (QS. Al-Isra’: 21)

Hendaknya disadari bahwa tingkatan kehidupan di akhirat jauh berbeda dibandingkan dengan dunia. Ketika dibangkitkan, manusia akan memiliki fisik yang berbeda. Bahkan, sampai di surga dan neraka pun memiliki tingkatan-tingkatan.

Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka.” (QS. An-Nisa’: 145)

Nabi Shallallahu ’Alaihi Wasallam bersabda “Surga itu ada 100  tingkatan, yang dipersiapkan oleh Allah untuk para mujahid di jalan Allah. Jarak antara dua surga yang berdekatan adalah sejauh jarak langit dan bumi. Dan jika kalian meminta kepada Allah, mintalah surga Firdaus. Karena itulah surga yang paling tengah dan paling tinggi, yang di atasnya terdapat ‘Arsy milik Ar-Rahman, darinya pula (Firdaus) bercabang sungai-sungai surga.” (HR. Bukhari)

Kedua, melatih syukur dan sabar

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati, kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan nikmat (kesenangan), maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan musibah (kesusahan), maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)

Allah Ta’ala membuat level manusia tidak sama agar mereka senantiasa bersabar dan bersyukur. Bersabar atas segala kekurangan dan kesusahannya, serta bersyukur atas kelebihan dan kenikmatan yang ia dapatkan.

Terkadang Allah berikan kesempitan kepada seorang hamba, agar ia ingat dan mau kembali kepada Allah. Sehingga ia bermunajat, berdoa, dan bertawakal hanya kepada Allah.

Ketiga, agar saling melengkapi dan memberi manfaat

Allah Ta’ala berfirman, “… dan kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain.” (QS. Az-Zukhruf: 32)

Allah jadikan sebagian orang lebih kaya, lebih pintar, lebih kuat dari yang lain agar saling melengkapi dan memberi manfaat. Jika semua orang kaya dan tidak ada yang miskin, apakah masih ada yang ingin menjadi pembantu, tukang sayur keliling, tukang sampah, tukang bangunan yang bisa memberi bantuan dan manfaat kepada orang kaya? Jika semua orang ingin jadi presiden atau direktur, siapa yang menjadi rakyat atau karyawannya ?

Keempat, bentuk keadilan Allah agar manusia menjadi baik dan benar

Allah Ta’ala berfirman “Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hambaNya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendakiNya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hambaNya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 27)

Sudah menjadi hal umum bahwa kebanyakan orang kaya suka menghambur-hamburkan harta. Berbeda dengan sebagian besar orang miskin yang berusaha menjaga dan menghemat hartanya. Allah juga lebih tahu yang terbaik untuk hambaNya sebagaimana hadis dha’if (tetapi maknanya benar), Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

“Sesungguhnya di antara hambaKu, keimanan barulah menjadi baik jika Allah memberikan kekayaan kepadanya. Seandainya Allah membuat ia miskin, tentu ia akan kufur. Dan di antara hambaKu, keimanan barulah baik jika Allah memberikan kemiskinan kepadanya. Seandainya Allah membuat ia kaya, tentu ia akan kufur.” 

(HR. Abu Nu’aim dalam Hilyah Al-Auliya’, 8: 318 . Lihat juga Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 71)

Ada sebagian manusia yang menjadi tidak beriman dan lupa bersyukur jika ia diberikan kekayaan, kesehatan, atau kelebihan lainnya. Ketika dijadikan kaya, ia lalai dari ibadah, jauh dari ketaatan, dan sibuk dengan urusan dunianya. Sebaliknya, ada sebagian orang yang cocoknya menjadi orang kaya. Ketika ia miskin, malah ia akan mudah mengeluh.

Kelima, kaya dan miskin itu sama-sama ujian

Allah Ta’ala berfirman, “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya’: 35)

Kaya bisa menjadi istridaj (jebakan nikmat yang disegerakan di dunia), sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepadaNya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad, 4: 145)

Dan miskin bisa jadi sebagai hukuman atas dosa yang diperbuat sebagaimana firman Allah Ta’ala,

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)

Mutiara nasihat

Bagi yang Allah berikan kelebihan dari yang lain, hendaknya tidak boleh merasa sombong dan merendahkan orang- orang yang di bawahnya. Sedangkan bagi orang yang Allah berikan kekurangan, maka hendaknya ia mengejar dengan memperbanyak amal.

“Kekasihku, yakni Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan tujuh perkara padaku: 1) beliau memerintahkanku agar mencintai orang miskin dan dekat dengan mereka, 2) beliau memerintahkanku agar melihat orang yang berada di bawahku (dalam masalah harta dan dunia), juga supaya aku tidak memperhatikan orang yang berada di atasku.…” (HR. Ahmad)

Dalam sabda beliau yang lain, “Jika salah seorang di antara kalian melihat orang yang memiliki kelebihan harta dan bentuk (rupa) [al-khalq], maka lihatlah kepada orang yang berada di bawahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta benda kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal perbuatan kalian.” (HR. Muslim)

fimdalimunthe55@gmail.com

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

#No Ferry No Happy. Bismillahirrahmanirrahim. Embun Pagi Cermin Diri Harian, oleh Ferry Is Mirza DM Wartawan Utama PWI Dewan Perss 3170, refrensi dari beberapa sumber, tafsir alquran dan alhadits, Senin 19 Jumadil Akhir 1445 H, 01 Januari 2024

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Perlu Mengetahui, Memahami Fikih Muamalah lalu Menunaikan

Alhamdulillah Senin hari ini mengawali tahun 2024. InsyaAllah kita sekeluarga selalu sehat wal afiyaa dan dalam lindunganNYA serta diberkahi rezekiNYA, aamiin.... 

Di hari pertama tahun Masehi ini, ijinkan saya berbagi dengan tulisan tentang apa dan bagaimana Fikih Muamalah itu. Maaf tulisannya cukup panjang, karena menukil- mengutip  dari beberapa sumber. Dan penulis menyadari sebagai Faqir Ilmi tentu saja bisa ada yang kurang dalam menguraikannya. Untuk itu mohon dipahami dan dimaklumi. Tentu dengan senang dan terbuka hati, penulis menerimanya. 

Sebelum membahas berbagai aspek hukum yang berkaitan dengan fikih mu’amalah, dalam tulisan ini terlebih dahulu akan dibahas tentang pengertian fikih mu’amalah, ruang lingkup pembahasan dan berbagai hal yang terkait dengannya. 

Dengan demikian para pembaca akan mendapatkan pengetahuan dan pemahaman yang memadai dan lebih terstruktur (sistematis) seputar fikih mu’amalah.

Hal ini penting agar seseorang dapat membedakan apakah suatu persoalan masuk dalam dimensi akidah, ibadah ataukah mu’amalah. Sebab masing-masing persoalan tersebut memiliki kekhasan, “aturan main” dan pendekatan yang tidak selalu sama. 

Namun hal ini tidak berarti bahwa ajaran Islam itu terkotak- kotak (dikotomis) antara satu dengan lainnya dan tidak memiliki interkoneksi (keterkaitan antara satu dengan lainnya). Tetapi justru sebaliknya bahwa Islam merupakan ajaran ilahi yang bersifat integral (menyatu) dan komprehensif (mencakup segala aspek kehidupan). 

Oleh sebab itu Islam tidak boleh dilihat hanya dari satu aspek dan menafikan aspek lainnya. Seseorang tidak boleh hanya melihat Islam dari sudut akidah saja dan meninggalkan aspek ibadah dan mu’amalahnya, begitu pula sebaliknya.

Pengertian Fikih Mu’amalah menurut bahasa berarti pemahaman. Istilah fikih dengan pengertian seperti ini seringkali dapat ditemukan dalam ayat maupun hadits Nabi Shallallahu Alayhi Wasallam antara lain:

“Dan tidak sepatutnya bagi mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap- tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pemahaman (pengetahuan) mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah: 122)

Kata fikih dalam pengertian pemahaman juga dapat dijumpai dalam surat al-A’raf ; 179, dan an-Nisa’; 78, dan juga dalam hadits Nabi Shallallahu Alayhi Wasallam

Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasallam bersabda: "Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah akan suatu kebaikan, niscaya Allah akan memberikan kepadanya pemahaman dalam (masalah) agama.” (HR. Bukhari  Muslim)

Adapun pengertian fikih menurut istilah sebagaimana dikemukakan oleh para ulama ialah sebagai berikut;

“Ilmu yang menerangkan hukum- hukum syariat yang bersifat amaliyah (aplikatif) yang diambil dari dalil dalilnya yang terperinci, dan disimpulkan lewat ijtihad yang memerlukan analisa dan perenungan.” Pengertian senada juga dikemukakan oleh ulama’ lainnya, yaitu :

“Ilmu yang dengannya diketahui segala hukum Allah yang berhubungan dengan perbuatan orang mukallaf, berupa hal yang diwajibkan, dilarang, disunnahkan, dimakruhkan, dibolehkan, yang disimpulkan dari al-qur’an dan as-sunnah dan apa saja yang disandarkan oleh syari’ untuk diketahui dari dalil- dalil tertentu, maka apabila hukum itu dapat dikeluarkan (ditentukan/disimpulkan), itulah yang dinamakan fikih .”

Dari kedua istilah tersebut dapat difahami bahwa secara aplikatif, bahwa kata fikih memiliki pengertian yang sama (sinonim) dengan istilah hukum. Hal itu dapat dilihat penggunaannya oleh para ulama ketika membahas persoalan hukum tertentu, seperti; fikih shalat (hukum shalat), fikih zakat (hukum zakat), fikih shiam (hukum puasa) dan lain sebagainya.

Sedangkan pengertian muamalah adalah; segala bentuk kegiatan dan transaksi serta perilaku manusia dalam kehidupannya. Dengan demikian, fiqih muamalah dapat diartikan sebagai pengetahuan tentang kegiatan atau transaksi yang berdasarkan hukum-hukum syariat (yang bersumber dari al-qur’an dan hadits), mengenai perilaku manusia dalam kehidupannya yang diperoleh dari dalil- dalil syari’at secara terperinci.

Dalam pengertian yang lebih rinci, fikih mu’amalah adalah hukum Islam yang mengatur hubungan antara satu individu dengan individu lainnya, yang bertujuan untuk menjaga hak-hak manusia, merealisasikan keadilan, rasa aman, serta terwujudnya keadilan dan persamaan antara individu dalam masyarakat (kemaslahatan) serta menjauhkan segala kemudaratan yang akan menimpa mereka. Prinsip-prinsip (Fikih) Mu’amalah :

a. Pada dasarnya segala bentuk muamalah adalah mubah. “Pada dasarnya (asalnya) pada segala sesuatu (pada persoalan mu’amalah) itu hukumnya mubah, kecuali jika ada dalil yang menunjukkan atas makna lainnya.”

b. Mumalalah dilakukan atas dasar sukarela, tanpa mengandung unsur- unsur paksaan. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh diri kamu sekalian, sesungguhnya Allah adalah maha penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa’: 29)

c. Muamalah dilakukan atas dasar pertimbangan mendatangkan manfaat dan menghindari mudharat dalam bermasyarakat.

“Dari Ubadah bin Shamit; bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasallam menetapkan tidak boleh berbuat kemudharatan dan tidak boleh pula membalas kemudharatan”. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). Dalam kaidah fiqhiyah juga disebutkan; “Kemudharatan harus dihilangkan”

d. Muamalah dilaksanakan dengan memelihara nilai-nilai keadilan, menghindari unsur-unsur penganiayaan dalam pengambilan kesempatan.

“Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan RasulNya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari mengambil riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya”. (QS. Al-Baqarah: 279)

Ruang Lingkup dan Cabang-Cabang Fikih Mu’amalah

Fikih Islam mengatur seluruh aspek kehidupan baik secara vertikal maupun secara horizontal, baik yang berkaitan dengan individu, keluarga, masyarakat, bahkan yang berhubungan dengan negara baik saat damai maupun perang. Karena itu, secara garis besar, para fukaha’ (ulama’ fikih) membagi fikih menjadi dua macam, yaitu: fikih ibadah yang mengatur hubungan manusia secara vertikal dengan Allah dan fikih mu’amalah yang mengatur hubungan sosial antar sesama manusia.

Ruang lingkup fikih muamalah meliputi seluruh kegiatan muamalah manusia berdasarkan hukum- hukum Islam baik berupa perintah maupun larangan- larangan hukum yang terkait dengan hubungan manusia dengan manusia lainnya. 

Sedangkan cabang- cabang fikih mu’amalah antara lain: Pertama: Hukum yang mengatur hubungan antara satu pribadi dengan yang lainnya, baik yang menyangkut aturan sipil, perdagangan, keluarga, gugatan hukum, dan lain sebagainya. 

Contoh yang terkait dengan persoalan ini, antara lain; pembahasan tentang harta, baik dari aspek cara mendapatkan dan mendistribusikannya, maupun dari aspek hakekat dan konsep kepemilikan dalam Islam. Pembahasan tentang akad atau transaksi, hukum keluarga (al-ahwal asy-syakhsiyah) seperti; nikah, talak, hak-hak anak, hukum waris, wasiat, wakaf, dan berbagai hal yang berhubungan dengan hukum murafa’at (gugatan).

Kedua; hukum yang mengatur hubungan pribadi dengan negara (Islam), serta hubungan bilateral antara negara Islam dengan negara lain. Contoh-contoh kitab fikih yang berbicara tentang persoalan ini antara lain; Al-Ahkam as-sulthaniyah oleh Imam al-Mawardi dan Abu Ya’la al-Farra’, As-Siyasah as-Syar’iyyah oleh Ibnu Taimiyah, Ath-Thuruq al-Hukmiyyah oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Al-Kharaj yang ditulis oleh Abu Yusuf dan Yahya bin Adam al-Quraisyi, dan lainnya.

fimdalimunthe55@gmail.com

@terusanvenus, tlogomaskotamalang

●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●

#No Ferry No Happy. 

Bismillahirrahmanirrahim, alhamdulillah memulai 01 Januari tahun 2024

Usia semakin bertambah. Masa di dunia semakin berkurang. Setiap hari selalu berdoa, semoga selalu punya waktu untuk memperbaiki diri. Janganlah menyalahkan waktu yang begitu cepat berlalu.

Tapi lihatlah diri kita sendiri yang terlalu lambat untuk melakukan sesuatu. Terutama memperbaiki diri.

Mari kita saling mendoakan untuk selalu sehat agar bisa bersilaturahmi, menjaga persahabatan persaudaraan tanpa melihat perbedaan.

Selamat Menapaki tahun 2024 dengan suka duka. Semoga berkah Allah selalu berserta kita sekeluarga.

🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳

Arsip desember 2023 (dan sebelumnya)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Utsman bin Affan r.a. dan para istrinya

Kontroversi hadits puasa dan sedekah

Pembahasan tentang Nur Muhammad